Menunggu Kematian

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (dan membalasnya)’’’ (QS. al-Jumu’ah: 8).

Berada dalam kelompok ramai seringkali membuat kita merasa kuat. Bahkan sebahagian kekuatan besar itu kadangkala digunakan untuk menzalimi orang lain. Padahal kenyataan membuktikan, tidak akan selamanya manusia berada dalam kelompok besarnya, karena perlahan namun pasti akan menuju masa-masa sendiri, yaitu mati. 

Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Tiap-tiap umat memiliki ajal, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula mempercepatkannya (QS. al A’raaf: 34).

Menurut Rasulullah, tiga perkara yang akan mengikuti mayat dan dua di antaranya akan pulang. Hanya satu saja yang akan bersamanya dalam kubur. Perkara tersebut ialah: kaum kerabat, harta benda dan amalannya. Semua kaum kerabat dan harta bendanya akan pulang, manakala yang kekal bersamanya ialah amalannya (HR. Imam Bukhari). 

Itulah yang menemani kesendirian kita. Namun, apa jadinya bila amalan bernilai kosong. Lebih-lebih sewaktu di dunia terus hanyut dalam arus orang-orang yang suka menimbulkan kezaliman terhadap orang lain.

Oleh karena itu, penting memanfaatkan kesempatan-kesempatan sewaktu di dunia agar tidak sendiri di alam kubur. Dan, sebaik-baik dorongan untuk itu ialah merasa seolah-olah akan segera merasakan kesendirian yang panjang karena kematian akan tiba. 

Semua yang dilakukan sebaiknya dianggap yang terakhir, karena hal itu akan mendorong kita untuk melakukan yang terbaik. 

Sumber : Aceh tribun news

Kematian Yang Misterius

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Yang mengikuti mayit ada tiga : 1. keluarga, 2. kekayaan dan 3. amalnya, maka yang dua kembali yaitu keluarga dan kekayaannya, dan yang tetap tinggal padanya satu, yaitu amal perbuatannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tak seorang pun mampu memastikan tentang berapa lama dirinya akan menyusuri perjalanan hidup di dunia ini. Tidak juga mampu mengetahui mengapa sebahagian orang diberikan kesempatan hidup yang lama, sedangkan sebahagian yang lain diberikan kesempatan hidup singkat. 

Juga tak ada yang tahu pasti di mana langkahnya akan terhenti sebagai langkah terakhir.

Sebahagian insan mengakhiri langkahnya ketika sedang mengalami kejayaan. Di saat harta melimpah ruah dan kesehatan sedang memuncak, tiba-tiba terhenti tanpa diduga-duga Ajal datang. 

Sebagian yang lain harus mengalami penderitaan sakit menahun atau dirundung kemiskinan semiskin-miskinnya. Lantas, siapakah yang lebih baik di antaranya, juga tak ada yang tahu pasti. Namun yang pasti, dua-duanya akan berakhir dengan menjadi mayit.

Ketika menjadi mayit, perbedaan besar kecilnya keluarga dan kekayaan bukan lagi ukuran. Hidup yang pernah dialami dengan berbagai ukuran kekayaan atau kemiskinan, akan menjadi sejarah. 

Yang menjadi ukuran sekarang adalah apa yang akan menyusul atau ikut serta bersama mayit. Itulah amal perbuatan. Ini juga misteri bagi orang lain, juga bagi diri sendiri.

Sebab, seseorang yang dilihat orang lain baik dari luar, belum tentu demikian dari dalam. Apalagi tak sedikit kebaikan hanya untuk dinampakkan saja, padahal di antaranya berselemak dengan ketidak-ikhlasan atau kemunafikan.

Demikian juga oleh diri sendiri, yang menyangka diri sangat banyak melakukan kebaikan, tetapi sebenarnya telah hilang bagaikan debu yang berterbangan. Tak ada yang tersisa. Sebab, amalan tidak dijaga dari hal-hal yang memusnahkannya, seperti karena gemar melakukan ghibah. 

Untuk itu, kita dianjurkan untuk senantiasa berusaha membersihkan diri dan beramal dalam menyongsong kematian yang misterius .

Menjadi Orang Asing

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Islam pada saat kemunculannya dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang orang yang asing itu” (HR. Muslim).

Disebut asing pada awal munculnya agama Islam dipandang wajar. Sebab, pada saat itu Islam diturunkan dalam masyarakat jahiliyah. Masih sedikit orang yang menganut Islam, sehingga dianggap baru bagi orang kebanyakan. Namun bila Islam kembali menjadi asing bahkan di kalangan masyarakat Muslim sendiri yang jumlahnya sudah begitu banyak sekarang ini, patut direnungkan.

Asingnya Islam di kalangan masyarakat yang mengaku Muslim terjadi karena sedikit orang yang benar benar berpegang teguh pada ajaran Islam, tak terkecuali pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. 

Orang orang yang tak teguh pendiriannya menjadikan hari raya sebagai kesempatan bermegah megahan dengan memamerkan kekayaan. Sibuk mempersiapkan berbagai kemeriahan, sehingga shaf shalat berjamaah pun semakin sedikit. 

Juga ada yang kembali melanjutkan berbagai macam kemungkaran, yang sempat ditunda karena katanya menghormati bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, masih ada hamba hamba Allah yang tergolong asing dan beruntung di hari raya. Yaitu, hamba hamba yang istiqamah dalam ajaran Islam di saat banyak orang mulai berpaling. 

Hari raya Idul Fitri dijadikan momen untuk menyambut hari kemenangan, karena dosa dosa telah diampuni dan sudah kembali menjadi suci. 

Selain bertakbir dan melaksanakan shalat Id, orang orang beruntung ini saling berkunjung dan menjalin silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah. Juga saling memaafkan satu sama lain, juga karena Allah. Termasuk juga menjaga ketertiban dalam masyarakat, tak terkecuali tertib dalam berlalu lintas.

Bagaimana dengan saudara  ...? 

Sumber aceh tribun news

Semoga Menjadi Pemimpi Yang Amanah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal: 27).

Menjadi pemimpin rakyat banyak selalu berhadapan dengan sisi positif dan negatif yang sama-sama banyak. Banyak pahalanya atau banyak dosanya.

Tentu saja pemimpin yang amanah layak mendapatkan pahala yang jauh lebih banyak ketimbang rakyat biasa. Pasalnya, begitu banyak rakyat yang harus dipikirkan pada saat yang sama. 

Sehingga seorang pemimpin yang bekerja satu hari saja untuk mengurus rakyat dengan amanah disejajarkan dengan seorang rakyat biasa yang bekerja setahun. 

Bahkan, pemimpin yang adil termasuk orang yang akan mendapatkan naungan keteduhan dari Allah saat menempuh alam Mahsyar di akhirat kelak.

Namun pemimpin juga manusia, yang mudah menjadi lemah dan lupa. Terbukti tak sedikit pemimpin yang begitu tergelincir, ketika berhadapan dengan godaan harta. 

Rakyat pun kerap dijadikan sebagai tunggangan saja. Rakyat yang mendukungnya secara langsung atau tak langsung pun dikhianati. 

Karena itu, Rasulullah mengingatkan, “Tiada seorang hamba yang diserahkan kepemimpinan rakyat kepadanya lalu dia mati di hari kematiannya dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya” (Muttafaqun `alaih).

Semoga pemimpin terpilih mampu menjaga amanah-amanah dengan baik, sehingga mendapatkan limpahan pahala dari Allah. 

Kita sebagai rakyat sepatutnya saling membantu dengan mendoakannya, siapa tahu di antara sekian banyak orang yang berdoa, ada yang terkabul.

Sumber aceh tribun news

Bukan Teror Tapi Human Eror

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Pengamat Perkotaan Sugiyanto mengatakan kebakaran yang terjadi di Jakarta adalah kesalahan yang dilakukan manusia sendiri. Menurutnya, kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun di ibu kota negara bisa saja disebabkan arus pendek atau lilin sehingga tidak pantas untuk dituduhkan kepada orang per orang.

"Kebakaran itu kan terjadi hampir setiap tahun, penyebabnya beragam, mulai dari korselting listrik sampai lilin. Jadi kalau ada yang bilang itu disengaja, fitnah yang sangat keji, apalagi sampai diarahkan ke Fauzi Bowo," kata Sugiyanto kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/8).

Sebelumnya, Juru Kampanye Joko-Widodo, Dewi Aryani mengaitkan musibah kebakaran yang terjadi belakangan ini dengan pilkada DKI 2012. Menurutnya, kebakaran yang terjadi adalah sebuah usaha teror terhadap pendukung Jokowi-Ahok.

Dewi memiliki alasan khusus di balik pernyataannya itu. Politisi PDIP itu beralasan, kebakaran yang terjadi di Jakarta diklaim sebagai kantong suara Jokowi-Ahok.

"Bencana ini bisa dikategorikan teror bencana mengingat terjadi berurutan dan berada di lokasi-lokasi yang menjadi lumbung suara Jokowi. Sistematis dan terstruktur lokasinya," kata Dewi dalam siaran pers yang diterima JPNN, Kamis (23/8).

Namun Sugiyanto mengatakan, tidak layak menuduh seseorang tanpa disertai bukti. Apalagi kata dia, isu ini sangat riskan. Tuduhan adanya teror itu merupakan bentuk fitnah yang keji.

Karenanya lanjut Sugiyanto, tudingan yang tanpa berdasar ini bisa saja mengarah kepada upaya mengadu domba masyarakat agar ada orang-orang yang diuntungkan dari kerusuhan ini.

"Masyarakat perlu wasapda dan cerdas dalam mengamati isu, bisa jadi itu dilakukan oleh pasukan terlatih. Terlihat ada sekenario adu domba antara pribumi dan non pribumi," ungkapnya

Sumber Jpnn

Tanda Kehancuran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jika kita mau banyak banyak memperhatikan betapa banyak tanda kehancuran kecil maupun besar yang sedang dan akan terjadi terjadi negeri kita ini.

Pertama, sebagaimana disebutkan dalam ayat ayat al quran kehancuran itu bersumber dari sikap manusia yang melupakan Allah di saat diberikan kenikmatan.

Melupakan Allah adalah suatu keangkuhan besar, yang menyebabkan pelakunya terselimuti perasaan seakan-akan segala kenikmatan diraih sebagai hasil usaha sendiri.

Padahal telah diingatkan dari Allah lah sumber segala rezeki.

Yang kedua bersumber dari pemerintahan yang buruk.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “.jika Allah menghendaki kehancuran pada suatu kaum, maka akan dijadikan orang-orang kejam sebagai pemimpin-pemimpin mereka, dan orang-orang jahil akan dijadikan sebagai hakim-hakim mereka, dan harta-harta mereka akan berada di bawah kekuasaan orang-orang bakhil.

Semua ini sangat sering terjadi. Antara lain, hukum begitu mudah diperjualbelikan, pemimpin yang sewenang wenang dan tidak lagi mau memakai hukum dan atau aturan baku yang sejatinya sudah tidak boleh dirubah lagi.

Yang ketiga, meninggalnya para ulama yang banyak terjadi akhir-akhir ini.

Sebagaimana diingatkan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain” (HR. Imam Bukhari).

Wallahu A'lam

Sumber aceh tribun news

Akibat Tidak Mau Mencegah Kemungkaran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Telah disiksa penduduk suatu desa yang didiami delapan belas ribu ahli ibadah yang amal dan perbuatan baiknya seperti amal para Nabi. 

Seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa demikian?” 

Maka Nabi SAW menjawab: “Mereka tidak mau marah karena Allah taala, mereka tidak mau menyeru yang baik dan tidak melarang yang mungkar” (al Hadits).

Semakin modernnya zaman, semakin beragam kemungkaran dilakukan manusia. Bahkan, orang yang mencegah kemungkaran, tak jarang dicemooh. Dianggap sok alim, diancam, dan sejenisnya. Kenyataan ini membuat sebahagian orang yang selama ini ikut membantu mencegah kemungkaran, pasrah pada keadaan. Apa yang terjadi, terjadilah. Tidak mau lagi berusaha aktif mencegahnya, meskipun kemungkaran telah merusak sendi-sendi kehidupan. 

Bahkan bagi sebagian orang, jangankan mencegah kemungkaran orang lain, yang dilakukan anggota keluarga sendiri pun tak mau dicegah (lagi). Akibatnya, kemungkaran semakin merajalela.

Kalau mencermati hadits dari Siti Aisyah ra di atas, betapa besar resiko tak mau mencegah kemungkaran. Orang-orang yang gemar beribadah pun akan ditimpa azab, bila ikut membiarkan kemungkaran berlangsung di lingkungannya. 

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan, orang-orang yang mengetahui adanya kemungkaran tetapi tidak mau mencegahnya, dianggap sebagai sekutu bagi pelaku kemungkaran tersebut. Seperti seseorang yang mengetahui adanya korupsi, tetapi tak mau mencegahnya, akan dianggap sebagai bagian dari koruptor tersebut.

Memang tak mudah mencegah kemungkaran di zaman sekarang. Tak tertutup kemungkinan, pelapor kemungkaran malah balik dituduh sebagai pelaku kemungkaran. Namun demikian, Rasulullah telah memberikan penjelasan tentang tingkatan mencegah kemungkaran. Yaitu, dengan tangan atau kekuasaan, bila memang berkuasa. 

Bila tak mampu, maka dengan lidah. Bila juga tak kuasa, maka wajib mencegahnya dengan hati. Namun diingatkan, mencegah kemungkaran dengan hati atau membencinya, termasuk selemah-lemah iman.

Sumber Aceh Tribun News

Tidak Mau Menerima Ketentuan Dari Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hidup menjadi sangat rumit dan meresahkan manakala seseorang tidak mau menerima ketentuan dari Allah Subhanahu Wata'ala. Sebab, mereka yang demikian tidak akan mau menerima adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. 

Padahal bila sahaja seseorang mau mempercayai dan kemudian mampu memahami adanya takdir mereka akan lebih siap , tenang serta tidak ada kekhawatiran maupun kesedihan dalam menjalani kehidupan, karena mereka akan menyadari bahwa manusia hanya berusaha sahaja sedang Allah Subhananu Wata'ala sahajalah yang menentukan.

Salah satu yang sikap yang merupakan ciri atau yang harus dimiliki oleh orang beriman ialah percaya adanya takdir. Dan di antara takdir itu ialah kematian. Kematian pasti menimpa setiap manusia, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sebagaimana firman Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. 

Allah juga mengingatkan: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa`: 78). Dan bila maut telah tiba, tak ada (manusia) yang bisa memajukan atau mengundurkannya.

Dalam suatu hadits qudsi, Allah mengingatkan siapa saja yang tidak mau menerima ketentuanNya, maka ia dipersilahkan keluar dari bumi Allah. Dan tentunya tak ada yang tidak mau menerima ketentuan Allah, kecuali orang-orang yang ingkar kepada Allah atau kufur. 

Sedangkan orang-orang beriman akan menerima segala ketentuan khususnya musibah dengan mengucapkan: “innalillahi wainna ilaihi raajiuun”, karena sesungguhnya setiap yang datang dari Allah, akan kembali kepada Allah.

Sumber aceh tribun news

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About