Showing posts with label Organisasi. Show all posts
Showing posts with label Organisasi. Show all posts

Berikanlah Upah Kepada Pekerja

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar

Allah telah berfirman : “Ada tiga jenis manusia di mana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat.

Pertama adalah orang yang telah membuat janji akan memberi atas nama-Ku, kemudian tidak memenuhinya.

Kedua, orang yang menjual manusia bebas, lalu memakan uangnya.

Ketiga, orang yang menyewakan seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya” (HR. Imam Bukhari).

Bagaimana perasaan diri kita sendiri bila setelah lelah bekerja seharian, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan, tetapi upahnya tak dibayar ? 

Tentunya sungguh sangat menyakitkan. 

Apalagi pekerjaan yang tak dibayar upahnya itu, satu-satunya sumber nafkah bagi penghidupan keluarga. Wajar sekali kalau orang-orang yang berkhianat tak mau membayar upah para pekerja sebagaimana mestinya, dimusuhi manusia, juga dimusuhi Allah.

Dalam suatu hadits, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan orang-orang yang tak mau membayar upah sebagai orang-orang zalim. Menundanya pun, di saat mampu membayarnya, termasuk kezaliman. Apalagi perbuatan menunda tersebut telah menunda kebutuhan banyak orang.

Dalam Alquran disebutkan, orang-orang yang suka berbuat zalim termasuk orang yang tidak akan mendapat hidayah Allah.

Rasulullah tidak ingin umatnya menjadi korban teraniaya atau menjadi penganiaya, terutama melalui jalur upah. Karena itu, beliau menyuruh untuk membayar upah pada waktunya. 

Sebagaimana sabdanya, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” Apalagi doa-doa orang-orang yang teraniaya, termasuk yang tidak dibayar upahnya, demikian mudah dikabulkan Allah.

Tanda Tanda Kemenangan Makin Dekat

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Kemenangan semakin dekat!!! Allohu akbar!! Kemenangan semakin dekat!!! Allohu akbar!! Tanda Kemenangan Islam Semakin Dekat. semoga Ummat semakin cerdas dan kemenangan Islam semakin dekat.. insya Allah ini adalah abad kemenangan Islam...

Islam sebagaimana yang kita fahami bukan hanya panduan yang mengatur cara hidup yang bersifat individu, melainkan juga sebuah agama yang memberi arah tentang bagaimana kita menata dunia. Oleh karenanya, begitu Rosulullah Muhammad Saw diutus untuk menjadi penyempurna nabi-nabi sebelumnya, Islam secara sangat progresif menebarkan Rahmatnya ke hampir seluruh pelosok dunia (Asia, Afrika dan Eropa-Saat itu benua Amarika dan Australia seolah belum ada denyut nadi peradaban yang cukup signifikan).

Hasilnya Islam telah mampu memposisikan ummatnya sebagai pemimpin di atas umat-umat yang lain, bukan hanya dalam bidang politik, namun juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Usia kejayaan Islam ini akhirnya meredup setelah kira-kira 1000 tahun.

Setelah itu barat melanjutkan apa yang telah dicapai oleh kaum muslimin di bidang ilmu pengetahuan, dan mereka sangat berhasil mengembangkannya menjadi produk-produk tekhnologi yang memiliki nilai guna bagi hajat hidup manusia. Maka sejak abad ke 17 barat telah berhasil mengambil alih kendali dunia berada di bawah genggamannya, bahkan pada Abad ke 20 mereka telah berhasil meletakan dasar bagi pengembangan sains dan tekhnologi yang sangat fenomenal.

Pada periode ini kesenjangan penguasaan sains dan tekhnologi sangat terasa antara barat dan Islam. Indikator paling jelas adalah dalam hal penguasaan tekhnologi perang yang sungguh sangat menganga jaraknya. Lihat saja apa yang terjadi di Palestina, Afganistan, Irak, Libiya dll. Negeri-negeri muslim tersebut nyaris tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti untuk menghadapi berbagai senjata otomatis yang dimiliki oleh negeri-negeri barat.

Namun kini semua terabalik Sungguh sangat mengerikan apa yang sedang terjadi di barat saat ini. Pada saat Eropa dan Amerika sedang dilanda krisis Ekonomi yang begitu dalam, Dunia Arab sedang bergerak mengakhiri rezim diktator menuju era baru yang jauh lebih baik. Mungkin orang akan melihat Timur-tengah sebagai kawasan yang tidak pernah sepi dari gejolak. Yah, memang begitulah faktanya. Mereka adalah negeri-negeri muslim yang antara penguasa dan rakyatnya tidak memiliki cara pandang yang sama tentang bagaimana mengelola negara. Mereka adalah negeri-negeri yang dalam hadis dikatakan sedang dipimpin oleh “Mulkan jabariyyan”, penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak, dan rakyatnya ingin segera menggantinya dengan model kepemimpinan yang dijanjikan dalam hadis sebagai “Khilafah ‘ala minhajinnubuwah”.

Sejauh ini revolusi di Arab membuahkan hasil yang positif. Tunisia mengawali agenda perubahan ini dengan ditandai kemenangan partai En Nahda, sebuah partai berhaluan Islam yang sebelumnya dikategorikan sebagai organisasi terlarang karena dianggap berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin oleh pemerintahan Ben Ali, Kemenangan partai Islam tersebut diteruskan oleh partai Kebebasan dan Keadilan di Mesir (yang juga merupakan partainya Ikhwanul Muslimin). Begitu juga di Libiya, Suriyah, Yordania, Insya Allah tidak lama lagi kita juga akan mendengar kabar baik dari mereka melengkapi keberhasilan saudara mereka di Turki. 

Maka tetaplah pada jalan ini ya Ikhwan, kemenangan itu sudah ada di depan mata…Kejayaan (baru) Islam Semakin dekat. Insya Allah….

Rabithah Alawiyah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Rabithah Alawiyah adalah suatu organisasi massa Islam yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pada umumnya organisasi ini mengimpun WNI keturunan Arab, khususnya yang memiliki keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Organisasi ini berdiri pada tanggal 27 Desember 1928 tidak lama setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Latar belakang

Berdirinya Rabithah Alawiyah, dilatar belakangi dengan terbentuknya perkumpulan Jamiatul Khair di Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Barat. Disamping memiliki perguruan Islam, yang kini menyebar di berbagai daerah, Rabithah Alawiyah juga telah memiliki Panti Asuhan Daarul Aitam di Jakarta (1931), dan kini berkembang ke Pekalongan serta Banda Aceh.

Seperti dikemukakan dalam brosur Rabithah Alawiyah, perkembangan kegiatan masyarakat Alawiyin khususnya keturunan Arab dan keturunan Arab umumnya mengikuti pasang surutnya pergerakan politik di Indonesia. Di antara mereka banyak yang terjun ke bidang politik, bergabung dalam organiasi Partai Arab Indonesia (PAI). Setelah proklamasi kemerdekaan dan PAI dibubarkan, mereka berkiprah di partai-partai politik sesuai hati nurani masing-masing. Sedangkan Rabithah Alawiyah sebagai kelanjutan dari Jamiatul Khair tetap bergerak pada bidang sosial kemasyarakatan.

Tujuan organisasi

Tujuan Arabithah seperti dicetuskan 78 tahun lalu adalah untuk memelihara dan meningkatkan harkat dan martabat umat Islam Indonesia, khususnya keluarga Alawiyin melalui usaha-usaha sosial kemasyarakatan dan pendidikanserta dakwah Islamiyah. Menyadari sepenuhnya pentingnya bidang pendidikan, Rabithah telah melaksanakan program anak asuh yang belajar di tingkat SD, SLTP, SLTA, dan universitas.

Kepengurusan 2006-2011

Dihadiri 35 cabangnya dari berbagai tempat di Indonesia, Rabithah Alawiyah belum lama berselang telah melangsungkan muktamar ke-22 di Jakarta. Organisasi yang menghimpun para habaib ini berdiri sejak Desember 1928 atau 78 tahun lalu, tidak lama setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dikumandangkan.

Dalam kepengurusan selama lima tahun mendatang, muktamar yang dihadiri tidak kurang dari 250 peserta itu, telah memilih Zen Umar Smit sebagai ketua umum dan Muhsin Idrus Alhamid sebagai wakil ketua umum. Mereka didampingi empat wakil ketua, masing-masing Habib Rizieq Shihab, Anis Hadi Assegaf, Ismet Abdullah Alhabsyi, dan Dr Ahmad Alkaff. Sekretaris umumnya adalah Umar Faruk Azzahir dan bendahara Abdulkadir Assegaf

Wallahu A'lam

Memberikan Pemahaman Islam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Persatuan Islam (disingkat Persis) adalah sebuah organisasi Islam di Indonesia. Persis didirikan pada 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok Islam yang berminat dalam pendidikan dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus.

Persis didirikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadits yang shahih. Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang juga dikenal dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam yang hanya bersumber dari Al-Quran dan Hadits (sabda Nabi).

Organisasi Persatuan Islam telah tersebar di banyak provinsi antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Bengkulu, Riau, Jambi, Gorontalo, dan masih banyak provinsi lain yang sedang dalam proses perintisan. Persis bukan organisasi keagamaan yang berorientasi politik namun lebih fokus terhadap Pendidikan Islam dan Dakwah dan berusaha menegakkan ajaran Islam secara utuh tanpa dicampuri khurafat, syirik, dan bid'ah yang telah banyak menyebar di kalangan awwam orang Islam.

Tokoh Tokoh Persatuan Islam
  • Muhammad Isa Anshary Politikus dan Pejuang Indonesia.
  • Mohammad Natsir Mantan Perdana Menteri Indonesia
  • KH. Ahmad Hassan Teman Debat Soekarno Ketika di Bandung
  • Haji ZamZam Pendiri Persis
  • Haji Mohammad Yunus Pendiri Persis
  • KH.Shidiq Amien Mantan Ketua Umum persis
  • KH.Ikin Shadikin Ulama Terkemuka Persis
  • KH. Usman Sholehudin Ketua Dewan Hisbath
Wallahu A'lam

Islam Di Amerika Serikat Sejak Abad 16

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sejarah Islam di Amerika Serikat bermula sekitar abad ke 16, dimana Estevánico dari Azamor adalah Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Walau begitu, kebanyakan para peneliti di dalam mempelajari kedatangan Muslim di AS lebih memfokuskan pada kedatangan para imigran yang datang dari Timur Tengah pada akhir abad ke 19. Migrasi Muslim ke AS ini berlangsung dalam periode yang berbeda, yang sering disebut "gelombang", sekalipun para ahli tidak selalu sepakat dengan apa yang menyebabkan gelombang ini.

Populasi Muslim di AS telah meningkat dalam seratus tahun terakhir, dimana sebagain besar pertumbuhan ini didorong oleh adanya imigran. Pada 2005, banyak orang dari negara-negara Islam menjadi penduduk AS - hampir 96.000 - setiap tahun dibanding dua dekade sebelumnya. Estevánico dari Azamor mungkin telah menjadi Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Estevanico adalah orang Berber dari Afrika Utara yang menjelajahi Arizona dan New Mexico untuk Kerajaan Spanyol. Estevanico datang ke Amerika sebagai seorang budak penjelajah Spanyol pada abad ke 16, Álvar Núñez Cabeza de Vaca.

Selama tahun 1520-an telah didatangkan budak ke Amerika Utara dari Afrika. Diperkirakan sekitar 500 ribu jiwa dikirim ke daerah ini atau 4,4% dari total 11.328.000 jiwa budak yang ada. Diperkirakan sekitar 50% budak atau tidak kurang dari 200 ribu jiwa budak yang didatangkan berasal dari daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Islam.

Menurut sumber lain, kedatangan paling awal imigran Muslim adalah antara tahun 1875 dan 1912 dari kawasan pedesaan, yang sekarang menjadi Suriah, Yordania, Palestina, dan Israel. Daerah ini dulunya dikenal sebagai Suriah Raya yang diperintah oleh Kekaisaran Ottoman. Setelah Kekaisaran Ottoman runtuh pada Perang Dunia I (PD I), terjadi gelombang kedua imigrasi kaum Muslim dari Timur Tengah, dimana dalam periode ini pula dimulainya kolonialisme Barat di Timur Tengah. Pada tahun 1924, aturan keimigrasian AS disahkan, yang segera membatasi gelombang kedua imigrasi ini dengan memberlakukan "sistem kuota negara asal". Periode imigrasi ketiga terjadi pada 1947 sampai 1960, dimana terjadi peningkatan jumlah Muslim yang datang ke AS, yang kini berasa dari negara-negara di luar Timur Tengah. Gelombang keempat kemudian terjadi pada tahun 1965 disaat Presiden Lyndon Johnson menyokong rancangan undang-undang keimigrasian yang menghapuskan sistem kuota negara asal yang sudah bertaha lama.

Sulit menentukan jumlah pasti Muslim di AS. Konstitusi AS memisahkan antara gereja dengan negara yang tercermin dalam undang-undang Amerika, sehingga formulir Biro Sensus AS tidak memuat pertanyaan tentang agama pada orang yang dicatat di dalamnya. Dinas imigrasi juga tidak mengumpulkan informasi tentang agama para imigran. Banyak masjid di AS tidak memiliki kebijakan keanggotaan resmi, dan mereka jarang mencatat secara akurat jumlah jamaah yang datang. Hasil akhirnya adalah tidak adanya data yang akurat mengenai jumlah Muslim di AS. Menurut sumber yang sama, imigran Asia Tengah-bagian Selatan menempati urutan teratas (33%) dalam jumlah besar komunitas Muslim AS, yang kedua adalah keturunan Afro Amerika (30%), Arab (25%), Afrika (3%), lain-lain 5%, serta Eropa dan Asia Tenggara (masing-masing 2%). Sedangkan menurut Central Intelligence Agency (CIA) Amerika dalam situsnya, jumlah Muslim di AS adalah 1% dari 301.139.947 (perkiraan Juli 2007) penduduk AS, jumlah ini sama dengan jumlah umat Yahudi di AS.

Menurut Lembaga Survey Pew pada tahun 2007, dua pertiga Muslim di AS adalah keturunan asing. Di antara mereka telah bermigrasi ke AS sejak tahun 1990. Sedangkan sepertiga dari Muslim AS adalah penduduk asli yang beralih ke Islam, dan keturunan Afro Amerika. Pada tahun 2005, menurut New York Times, lebih banyak lagi orang dari negara-negara Muslim yang menjadi penduduk AS - hampir 96.000 - setiap tahun dibanding dua dekade sebelumnya.

Sedangkan menurut Council on American-Islamic Relations (CAIR), jemaah masjid Sunni yang diperuntukkan bagi umum di AS berasal dari latar belakang bangsa yang berbeda: Asia Selatan (33%), Afro Amerika (30%), Arab (25%), Eropa (2,1%), Amerika kulit putih (1,6%), Asia Tenggara (1,3%), Karibia (1,2%), Turki Amerika (1,1%), Iran Amerika (0,7%), dan Hispanik/Latin (0,6%)

Sejarah Penyebaran Islam Di Amerika

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Komunitas Muslim pertama berada di Midwest. Di Dakota Utara, kaum Muslim berkumpul untuk salat berjamaah di tahun-tahun pertama era 1900-an; di Indiana, sebuah pusat kegiatan Islam dimulai sejak 1914; dan Cedar Rapids, Iowa, adalah rumah bagi Masjid tertua yang masih digunakan hingga sekarang. Daerborn, Michigan, dipinggiran Detroit, adalah tempat Muslim Sunni dan Syiah dari banyak negara Timur Tengah. Bersama umat Kristen dari Timur Tengah, kaum Muslim Michigan membentuk komunitas Arab-Amerika terbesar di negara ini. Galangan kapal di Quincy, Massachusetts, diluar Boston, menyediakan lapangan kerja bagi imigran Muslim sejak tahun 1800-an. Di New England juga telah dibuat sebuah Islamic Center, yang kini menjadi kompleks Masjid besar untuk beribadah bagi para pelaku bisnis, guru, profesional, serta pedagang dan buruh. Di New York, Islam telah hadir dan muncul selama lebih dari satu abad.

Rumah pertama yang lain bagi imigran Muslim adalah Chicago, Illinois, dimana beberapa orang menyatakan jumlah Muslim yang tinggal disini pada awal 1900-an adalah yang terbanyak di antara kota-kota lain di AS. Lebih dari 40 kelompok Muslim telah berdiri di kawasan Chicago. Di Los Angeles dan San Fransisco, California, juga telah menjadi pusat komunitas Muslim yang besar di AS. Islamic Center di California Selatan adalah salah satu entitas Muslim terbesar di AS. Jumlah Masjid di California juga adalah yang terbanyak di AS, yakni sekitar 227 Masjid di tahun 2001

Di penjara

Penjara bisa jadi adalah penyokong terhadap pertumbuhan Islam di AS. Perkiraan resmi menyatakan bahwa persentase dari narapidana Muslim adalah sekitar 15-29% dapi populasi penjara. Diperkirakan, sekitar 80% dari narapidana berpindah agama ke Islam. Populasi narapidana Muslim telah mencapai 350 ribu jiwa (pada 2003) dengan pertambahan sekitar 30 ribu hingga 40 ribu setiap tahunnya. Kebanyakan narapidana yang berpindah ke Islam adalah keturunan Afrika.

Menurut Dr. Mikhail Waller, golongan Islamis radikal, yang dicurigai oleh pemerintah AS, menjadi perekrut di dalam penjara untuk menjadikan pengikutnya sebagai kader demi mendukung mereka dalam usaha-usaha anti Amerika.

Perekonomian

Pada awalnya, imigran Muslim yang datang ke AS bekerja sebagai budak, tapi kini tidak sedikit yang bekerja sebagai seorang profesional. Pekerjaan lain yang dilakoni oleh Muslim di AS adalah guru, tentara, penjaga toko, sopir taksi, dokter, wiraswasta, buruh, dan pekerjaan lainnya.

Karena dalam Islam perbuatan riba diharamkan oleh agama, sebagian Muslim merasa kesulitan ketika harus mendanai dan mengembangkan usahanya. Sebagian besar lembaga keuangan dan perbankan di AS masih bersifat konvensional, dimana mereka menerapkan sistem berbunga. Namun sejak beberapa tahun lalu, sebagian lembaga keuangan dan korporasi mulai mencari cara untuk membantu Muslim AS. Beberapa program pendanaan lokal ala Islam baru-baru ini telah dimulai atau sedang dalam tahap perencanaan :

Korporasi Pengembangan Komunitas Phillips (Phillips Community Development Corp.) maupun Badan Pengembangan Komunitas Minneapolis (Minneapolis Community Development Corp.), masing-masing telah memberi dana bagi pemiliki usaha Islam dengan biaya administrasi sebagai pengganti bunga.

Konsorsium Minneapolis dari Para Pengembang Komunitas (Minneapolis Consortium of Community Developers) telah menyediakan dua pendanaan berdasarkan biaya untuk usaha-usaha Islami sebagai proses awal. Delsan Auto Dealer, tempat usaha mobil bekas miliki seorang Somalia, menyediakan pendanaan bebas bunga kepada pelanggannya. Kelompok Twin Cities sedang berupaya untuk membentuk perserikatan kredit secara Islam. Bank-bank seperti Wells Fargo & Co. dan University Bank tengah mencari jalan bagaimana mereka bisa membantu usaha Islam.

Organisasi

Ada banyak organisasi Islam di AS , Kelompok yang paling besar adalah American Society of Muslims (ASM atau Masyarakat Muslim Amerika), pengganti Nation of Islam, yang lebih dikenal sebagai Black Muslim. Kelompok ini dipimpin oleh Warith Deen Mohammed. Tidak begitu jelas berapa Muslim Amerika yang mengikuti kelompok ini. Kepercayaan kelompok ini juga berbeda dengan kepercayaan Islam pada umumnya, mereka tidak mengenali Muhammad adalah Rasul Allah yang terakhir.

Kelompok terbesar kedua adalah Islamic Society of North America (ISNA atau Masyarakat Islam Amerika Utara). ISNA adalah suatu asosiasi organisasi-organisasi Muslim dan perorangan untuk mempresentasikan Islam. Kelompok ini dibuat oleh imigran, beberapa etnis Kaukasia dan sekelompok kecil Afro Amerika yang masuk Islam. Jumlah anggotanya baru-baru ini mungkin telah melampaui ASM. Konvensi tahunan ISNA mungkin adalah pertemuan Muslim paling besar di AS. Organisasi ini telah dikritik karena menyebarkan ajaran Wahabi dan karena memiliki hubungan dengan terorisme.

Kelompok terbesar ketiga adalah Islamic Circle of North America (ICNA atau Lingkaran Islam Amerika Utara). ICNA adalah kelompok Islam yang tidak memandang kesukuan, terbuka bagi semua, dan mandiri. Kelompok ini dibentuk oleh imigran, Amerika kult putih, dan Afro Amerika yang masuk Islam. Kelompok ini sedang tumbuh, dan juga bisa lebih besar dari ASM disaat sekarang. Divisi mudanya adalah Young Muslims atau Muslim Muda.

Islamic Supreme Council of America (ISCA atau Dewan Tertinggi Muslim Amerika) mewakili banyak Muslim AS. Tujuannya adalah menyediakan solusi-solusi bagi Muslim Amerika, yang berlandaskan hukum Islam. ISCA bekerja keras untuk mengintegrasikan ajaran Islam dalam memecahkan isu-isu zaman demi memelihara keyakinan Islam di tengah masyarakat yang sekuler.

Islamic Assembly of North America (IANA Himpunan Islam Amerika Utara), adalah suatu organisasi Muslim terkemuka di AS. Menurut situs mereka, di antara sasaran IANA adalah "mengkoordinir dan mempersatukan usaha-usaha dari dakwah yang berbeda, mengorientasikan organisasi (Islam) di Amerika Utara atau mengarahkan umat Muslim untuk bertahan pada metodologi Islam". Untuk mencapai sasarannya, IANA menggunakan sejumlah alat, metode, konvensi, rapat anggota, lembaga, institusi, akademi berorientasi dakwah, dan lain-lain.

Muslim Students' Association (MSA atau Asosiasi Pelajar-pelajar Muslim), adalah suatu kelompok yang diperuntukkan bagi pelajar Islam di perguruan tinggi Kanada dan Amerika Serikat. MSA juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti pengumpulan dana untuk tunawisma selama Ramadhan.

Islamic Information Center (IIC atau Pusat Informasi Islam) adalah organisasi yang dibentuk untuk memberi informasi kepada publik, sebagian besar melalui media, seputar Islam dan umat Muslim.

Politik

Organisasi politik Islam di AS berkepentingan untuk mengakomodasi kepentingan Muslim disana. Organisasi seperti American Muslim Council aktif terlibat menegakkan hak asasi dan hak warga negara bagi setiap orang Amerika.

Council on American-Islamic Relations (CAIR atau Dewan Hubungan Islam-Amerika), adalah organisasi Islam paling besar yang mengakomodasi kepentingan Muslim di AS. CAIR menggambarkan organisasinya sebagai organisasi yang moderat di DPR Amerika dan arena politik Amerika. CAIR juga mengutuk semua aksi terorisme, dan sedang bekerjasama dengan Gedung Putih mengenai isu-isu keselamatan dan politik luar negeri. CAIR adalah lembaga pembela hak-hak warga Muslim AS yang paling besar dan mempunyai 35 kantor. Selain memiliki advokasi terhadap kaum Muslim juga meningkatkan pemahaman Islam, mendorong tanya jawab, melindungi kebebasan-kebebasan sipil, memberdayakan Islam di Amerika, dan membangun kesatuan dan mempromosikan keadilan dan saling pengertian.

Muslim Public Affair Council (MPAC atau Dewan Permasalahan Masyarakat Islam), adalah suatu jawatan pelayanan bagi masyarakat Muslim Amerika. Berpusat di Los Angeles, California dan memiliki cabang di Washington, DC. MPAC didirikan pada 1988. Tujuan orgaisasi ini adalah untuk memperkenalkan identitas Muslim Amerika, mengembangkan suatu organisasi yang aktif, dan juga pelatihan bagi generasi masa depan baik pria dan wanita untuk berbagai visi. MPAC juga bekerja untuk memperkenalkan Islam dan Muslim secara akurat melalui media massa, mendidik masyarakat Amerika mengenai Islam, persahabatan dengan masyarakat yang berbeda dan menjalin hubungan dengan para pembuat dan pengambil keputusan (pemerintah).

American Islamic Congress, adalah organisasi kecil dan moderat yang memperkenalkan pluralisme. Free Muslims Coalition, dibentuk untuk menghapus dukungan terhadap Islam radikal dan terorisme serta memperkuat institusi yang demokratis di Timur Tengah dan Dunia Islam dengan mendukung usaha reformasi Islam.


Hizbullah (Lebanon)

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hizbullah ( ‮حزب الله‬ ) "Partai Allah / Golongan Allah" adalah organisasi Politik dan Paramiliter dari kelompok Islam Syiah didirikan pada tahun 1982 yang berbasis di Libanon. mempunyai pengaruh besar dalam politik Libanon dengan memberikan pelayanan sosial, mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit, membuka daerah pertanian serta perlayanan lainnya untuk ribuan warga Shia'a Libanon dan dianggap sebagai cermin gerakan perlawanan di bagian besar dunia Arab dan Muslim dunia. Namun demikian, kelompok ini dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Israel, Kanada, dan Australia.

Pada awalnya para pemimpin Hizbullah mengatakan bahwa gerakan ini bukanlah sebagai sebuah organisasi, oleh karena itu tidak mempunyai kartu anggota, hiraki kepemimpinan dan struktur organisasi yang jelas.

Beberapa organisasi yang memakai nama Hizbullah

Hizbullah : sebuah partai politik dan milisi Syi'ah yang berperan penting dalam mengusir Israel dari Lebanon. Oleh Israel, AS, Britania Raya, Belanda, Australia dan Kanada dinyatakan sebagai organisasi teroris.

Hizbullah dari Turki : adalah sebuah kelompok Sunni Kurdi di Turki.

Hizbullah di Irak, adalah sebuah partai politik yang merupakan bagian dari Aliansi Irak Bersatu. Di masa pemerintahan Saddam Hussein kelompok ini melakukan perlawanan dari basis-basisnya di daerah berawa-rawa di Irak selatan.

Gerakan Hizbullah di Irak : partai politik yang juga merupakan komponen dari Aliansi Irak Bersatu.

Hizbullah Revolusioner Kurdi : sebuah kelompok Islam Kurdi Irak yang didirikan pada 1983 dan dibubarkan pada 2002.

Hizbullah : sebuah partai politik dan gerakan spiritual di Iran

Hizballah Al-Hijaz : organisasi Syi'ah yang beroperasi di Arab Saudi, Lebanon, Kuwait dan Bahrain

HIzbullah: laskar rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, yang salah satu anggotanya adalah Ali Moertopo. Belakangan melebur ke dalam Tentara Islam Indonesia (TII)

Hizbullah : kelompok Islam garis keras di Surakarta

Tidak diketahui pasti apakah diantara mereka adalah berasal dari induk yang sama atau tidak, yang pasti mereka berjuang untuk aqidah yang mereka yakini. namun menurut beberapa sumber yang menyatakan bahwa mereka masih memiliki hubungan meskipun secara tidak terang - terangan. 
 
Amerika Serikat dan Eropa Barat menyebut Hizbullah sebagai kekuatan radikal, ekstrim atau bahkan teroris berlabel Islam Syiah. Hizbullah dianggap duri dalam daging Libanon. 

Pada awalnya para pemimpin Hizbullah mengatakan bahwa gerakan ini bukanlah sebagai sebuah organisasi, oleh karena itu tidak mempunyai kartu anggota, hiraki kepemimpinan dan struktur organisasi yang jelas. Sejarah kelahiran Hizbullah memiliki kaitan erat dengan revolusi Islam di Iran, di bawah pimpinan Ruhullah Al Musawi Khomaini pada tahun 1979. Semenjak tahun 1982 Hizbullah mulai mendapatkan legalitas dalam memberikan perlawanan terhadap penjajah Israel di Lebanon. Pada tahun 1985 Hizbullah secara resmi mendukung Revolusi Islam di Lebanon. Strategi politik dan militer Hizbullah pun dinilai sukses, terbukti dengan hengkangnya Zionis dari tanah Lebanon, pada tahun 2000.

Asal Mula Hizbullah

Berdirinya organisasi Hizbullah tidak terlepas dari paham Syi’ah, yang berkiblat ke Madrasah Ad-diniyah Najaf dan partai dakwah Islam yang diketuai oleh Muhammad Baqir As-Sadr di Irak. Lembaga ini telah mencetak generasi-generasi militan Syi’ah di Lebanon. Satu diantaranya adalah Musa As-Sadr, pendiri Harakah AMAL (Batalyon Perlawanan Lebanon) yang saat ini dipimpin oleh Nabih Berre yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Lebanon.

Ketika kancah perpolitikan Lebanon mulai nampak keruh pada tahun 1978, As-shadr tiba-tiba menghilang dari kancah perpolitikan. Bersamaan dengan itu muncullah nama Muhammad Husain Fadlullah sebagai figur di dunia pendidikan dan politik, yang secara tidak langsung memengaruhi kondisi perpolitikan di Lebanon. Namanya kian mencuat seiring dengan berdirinya Hizbullah. Bahkan ia sempat dinobatkan sebagai pimpinan spiritual Hizbullah. Akan tetapi ia menolaknya. Namun tak seorangpun memungkiri kiprah Fadlullah dalam memajukan Hizbullah, baik dalam bidang politik maupun militer.

Para Petinggi Partai

Hizbullah tidak menerapkan sistem kepemimpinan yang jelas hingga tahun 1989. Kebijakan-kebijakan yang diambil biasanya dilakukan dengan cara mufakat. Pemilihan pimpinan tertinggi pertama baru digelar pada tahun 1989, dan terpilihlah Shubhi Thufaili, sebagai pimpinan Hizbullah untuk masa jabatan 1989-1991. Kemudian, terpilihlah Syekh Abbas Al Musawi, yang masa jabatannya tak lebih dari sembilan bulan. Setelah Abbas Al Musawi, diangkatlah Hasan Nashrullah sebagai ketua Hizbullah sejak tahun 1992 hingga sekarang.

Penopang Kekuatan

Aktivitas Hizbullah lebih dominan dilakukan di daerah yang mayoritas berpenduduk Syi’ah, seperti pinggiran kota selatan Beirut, daerah lembah Bekaa dan wilayah Selatan Lebanon. Dukungan juga datang dari penduduk sekitar tiga kawasan tersebut. Pada umumnya yayasan Hizbullah merupakan perpanjangan tangan dari yayasan “Um” di Iran. Kegiatannya berkonsentrasi dalam bidang sosial kemasyarakatan, dan salah satunya adalah memdirikan Channel Televisi Al Manar.

Hubungan dengan Iran

Berdasarkan pernyatan sikap Hizbullah, pada tanggal 16 Februari 1985, ditegaskan bahwa, “Hizbullah akan mematuhi perintah pemimpin yang bijaksana dan menjunjung tinggi keadilan dalam bentuk Wilayatul Faqih dibawah pimpinan Ruhullah Ayatullah Al Khomaini, sang pencetus lahirnya Revousi Islam dan pelopor kebangkitan Islam”.

Para petinggi Hizbullah menyatakan bahwa hubungan kelompoknya dengan Iran berawal dari pemahaman yang sama, yaitu aliran Syi’ah. Mereka menjadikan para pemimpin Syi’ah di Iran sebagai rujukan dalam masalah agama dan politik. Namun setelah wafatnya Ayyatullah Khomeini, muncul banyak pendapat yang menolak sistem kepemimpinan ala Khomeini. Hal ini membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih tajam dalam mengambil setiap kebijakan. Sekalipun demikian, Hizbullah tetap menjadikan Iran sebagai kiblat politik dan budaya. Maka wajar apabila Hizbullah lalu mendapatkan sokongan materi dari Iran, disamping bantuan lain yang didapat dari iuran anggota.

Keterlibatan Hizbullah dengan Palestina

Hizbullah bukanlah Lebanon. Posisinya mungkin hampir sama persis dengan para pendukung dan pengusung Syiah di semua negara. Walaupun selalu mengobar-ngobarkan semangat peperangan terhadap Israel di media, namun catatan sejarah menunjukkan bahwa Hizbullah tidak pernah bentrok secara langsung dengan Israel. Bahkan ketika tragedi Gaza meletus tahun 2009 yang menewaskan sekitar 1500 orang Palestina, Hizbullah menyatakan bahwa mereka tidak ada kaitannya sama sekali dengan Hamas atau Gaza.

Walaupun disebut-sebut sebagai organisasi teroris, sampai sekarang, Hizbullah tetap aktif dan berkembang secara tentram dan damai di Lebanon. (berbagaisumber)
 
Wallahu A'lam

Gerakan Jihad Islam Palestina

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Gerakan Jihad Islam Palestina adalah organisasi perlawanan Palestina yang dituduh sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris , Jepang , Kanada dan australia. Tujuan adalah pemusnahan negara Israel dan Palestina dengan penggantian sebuah negara baru yang disebutnya sebagai Negara Islam.

Gerakan Jihad Islam Palestina adalah kelompok militan kecil di negara tersebut. Dibentuk tahun 1970an, gerakan ini telah sering menyerang Israel yang menewaskan ratusan orang. Misi mereka adalah memerdekakan Palestina dari tangan penjajah zionis. Oleh beberapa negara, Gerakan Jihad Islam dianggap kelompok teroris.

Banyak faksi yang berjuang untuk kemerdekaan Palestina. Meskipun berbeda ideologi dan cara berjuang – hampir semua faksi yang ada di Palestina memiliki sayap militer – yang di gunakan untuk menyerang Israel.

Adakalanya faksi-faksi pejuang yang ada di Palestina terlibat adu senjata sesama mereka, terutama antara Hamas dan Fatah. Tapi sewaktu agresi militer Israel ke Gaza, bisa dikatakan hampir semua faksi dengan sayap militernya turut berjuang melawan agresi militer Israel.

Berbeda dengan Hamas, Jihad Islami menolak untuk ikut dan berpartisipasi dalam Pemilu yang di adakan di Palestina. Secara ideologi perjuangan mereka lebih merujuk ke perjuangan Usama bin Laden dengan Al-Qaida nya. Seperti halnya Hamas, Jihad Islami juga memiliki sayap militer yang dinamakan Brigade Al-Quds. Sayap militer Jihad Islami telah menyatakan bertanggung jawab atas berbagai serangan serangan di Israel, termasuk serangan “bom syahid” ke wilayah Israel.


Brigade Al Quds


Brigade Al Quds 2

Brigade Al Quds 3
Brigade Al-Quds telah memiliki kemampuan mengembangkan peralatan tempur dan juga proyektil bom yang sama persis dengan roket Katyusha yang dimiliki oleh Hizbullah Libanon.

Pejuang Terkemuka

Sheikh Abdullah Ramadan Shallah - pendiri, dan saat ini Sekretaris Jenderal, tinggal di Damaskus
Fathi Shaqaqi - pendiri, telah meninggal karena dibunuh.
Mahmoud Tawalbe - pemimpin senior di Jenin, tewas selama Operasi Defensive Shield oleh IDF Caterpillar
Mahmoud Seader - Pemimpin di Hebron
Hanadi Jaradat - wanita pelaku bom bunuh diri di restoran Maxim
Tamer Khuweir - berusia 15 tahun, pelaku bom bunuh diri
Mohammed Dadouh - komandan senior di Gaza, meninggal karena bom roket oleh Israel pada tanggal 21 Mei 2006
Mahmoud al-Majzoub - anggota dari Dewan Shura, tewas oleh bom mobil pada 26 Mei 2006.
Husam Jaradat - Terbunuh di tempat pengungsian Jenin pada 30 Agustus 2006.
Ayman al-Fayed - komandan senior dari Jalur Gaza, terbunuh bersama dengan keluarganya dalam ledakan di kamp pengungsi Burei pada tanggal 16 Februari 2008.
Ziad Abu-Tir - anggota senior sayap militer telah tewas dalam sebuah serangan udara Israel di Khan Younis daerah pada tanggal 29 Desember 2008.

Islam Agama Terbesar Kedua Di Rusia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Islam adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar 21 - 28 juta penduduk atau 15 - 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk. Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga kian membaik dibanding masa Komunis dahulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.

Sejarah Muslim pertama di wilayah Rusia adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas penaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam. Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan yang lama, melebar ke seawal pada saat penaklukan kawasan Volga Tengah pada abad ke-16, yang membawa orang Tatar dan Orang Turki di Volga Tengah ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18 dan ke-19, penaklukan Rusia di Caucasus Utara membawa orang-orang Muslim dari kawasan Dagestan, Chechen, Circassia, Ingush, dan lain-lain ke dalam negara Rusia.

Kievan Rus juga telah dapat kesempatan untuk memeluk Islam dari misionaris Volga Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur menerima agama Kristen. Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar.

Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar) juga mayoritas dihuni oleh orang islam.

Masjid

Secara resmi jumlah masjid di Rusia mencapai 4750 masjid, namun jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan terus bertambah. Di Dagestan saja terdapat antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia dengan jumlah pemeluk Islam yang melebihi 1 juta orang terdapat 20 komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000 masjid di Rusia.

Organisasi

Menurut data register negara, kini telah tercatat 3345 organisasi keagamaan Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-organisasi keagamaan Muslim terdaftar di daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan jumlah organisasi keagamaan Muslim di daerah lainnya lebih kecil. Mayoritas Muslim di Rusia adalah Pengikut Sunni. Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu Mazhab Syafii di Kaukasus Utara dan Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.

Tiga organisasi Muslim menurut status dewan federal (pusat) adalah :
  1. Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa). Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan ini memimpin 1,686 komunitas.
  2. Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan mempersatukan 522 komunitas.
  3. Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.

Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara Muslim di Rusia dan Indonesia telah meningkat karena pekerjaan yang baik dan usaha yang dilakukan oleh Dubes Indonesia Bapak Hamid Awaludin dan diplomat M. Aji Surya dan Enjay Diana

Dari Berbagai Sumber : Wallahu A'lam

Republik Islam Afganistan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Republik Islam Afganistan (افغانستان) adalah sebuah negara di Asia Tengah.Afganistan berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di selatan dan timur, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan di utara, dan Republik Rakyat Cina di ujung timur. Afganistan juga berbatasan dengan Kashmir, wilayah yang dipersengketakan oleh India dan Pakistan. Pada kurun waktu antara tergulingnya rezim pemerintahan Taliban pada 2001 dan Loya jirga (sidang majelis Musyawarah Tradisional) tahun 2004, dunia Barat menyebut negara ini dengan nama Negara Islam Transisi Afganistan.

Afganistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia , Sekitar 99 persen warga Afghanistan adalah Muslim, dari mereka, 80-85% adalah Sunni Mazhab Hanafi, sedangkan 15-20% adalah Syi'ah, mayoritas dari mereka adalah Imamiyah bersama dengan sejumlah kecil Ismailiyah. Ada juga pengaruh yang kuat tasawuf di kalangan Sunni dan komunitas Syiah.

Afganistan adalah sebuah negara di persimpangan Asia Umumnya dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah, kadang-kadang dianggap berasal dari sebuah blok regional baik di Asia Selatan atau Timur Tengah, karena memiliki hubungan budaya, etno-linguistik, dan geografis dengan sebagian besar tetangganya. Afghanistan harfiah diterjemahkan menjadi 'tanah Afghan', tetapi kebanyakan dari nama-nama lainnya telah diterapkan pada lokasi umum di masa lalu. Nama Afghanistan berasal dari Afghanistan kata. Para Pushtuns tampaknya telah mulai menggunakan istilah Afghanistan sebagai nama untuk diri mereka sendiri dari periode Islam seterusnya.


Awal sejarah

Pada akhir abad ke-7, orang-orang Arab Umayyah masuk ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Afghanistan setelah mengalahkan tegas Sassanians di Nihawand. Setelah kekalahan ini kolosal, yang terakhir kaisar Sassania, Yazdegerd III, yang menjadi buronan diburu, melarikan diri ke timur jauh ke Asia Tengah. Dalam mengejar Yazdegerd, rute Arab yang dipilih untuk masuk kawasan itu dari Iran utara-timur[1] dan selanjutnya ke Herat di mana mereka ditempatkan sebagian besar pasukan mereka sebelum maju ke Afghanistan timur. Orang-orang Arab yang diberikan upaya besar terhadap menyebarkan Islam di kalangan penduduk setempat.

Sejumlah besar penduduk wilayah yang terdiri dari Afghanistan utara menerima Islam melalui upaya misionaris Umayyah terutama di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul-Malik dan Umar bin Abdul-Aziz. Selama masa pemerintahan Al-Mu'tashim, Islam pada umumnya dipraktekkan di antara sebagian besar penduduk wilayah ini dan akhirnya di bawah Yakub Laith-i Saffari, Islam sejauh ini, yang mendominasi agama Kabul bersama dengan kota-kota besar lainnya di Afganistan modern. Sisa-sisa kehadiran Shahi di perbatasan Afghanistan timur diusir oleh Mahmud dari Ghazni selama tahun 998 dan 1030.

Ada pandangan banyak, tentang asal usul nama Afghanistan, sebagian besar dari mereka yang murni spekulatif seperti dapat dilihat di bawah ini :

Makhzan-i-Afghni oleh Nematullah ditulis pada tahun 1612 Masehi, jejak asal Afghanistan atau Pakhtun dari super-Patriark Abraham ke satu bernama Raja Talut atau Saul. Ini menyatakan bahwa Saul memiliki seorang putra Irmia (Jeremia), yang memiliki seorang putra yang disebut Afghana. Setelah kematian Raja Saul, Afghana dibesarkan oleh David, dan kemudian dipromosikan ke perintah kepala tentara selama pemerintahan Raja Salomo. Keturunan dari Afghana dikalikan banyak sekali, dan kemudian disebut Bani Israel. Pada abad keenam SM, Bakhtunnasar, atau Nebukadnezar raja Babul, menyerang Yehuda dan diasingkan keturunan Afghana untuk Ghor terletak di pusat dari apa yang sekarang Afghanistan. Dalam perjalanan waktu, komunitas diasingkan datang harus ditangani sebagai Afghanistan setelah nama nenek moyang mereka, dan negara tersebut mendapat nama sebagai Afghanistan. Pandangan tradisional memiliki banyak perbedaan sejarah, dan karena itu tidak diterima oleh para ilmuwan modern --- yang pemohon terakhir untuk hipotesis Bani-Israel yang Raverty Walikota (The Pathan, 1958, Olaf Caroe).

Versi lain dari legenda Pashtun tempat Afghana, nenek moyang eponymous mengaku dari Afghanistan atau Pushtuns, sebagai Muslim kontemporer Nabi Muhammad. Setelah mendengar tentang iman baru Islam, Qais dari Aryana perjalanan ke Madinah untuk melihat Nabi Muhammad muslim, dan kembali ke Aryana sebagai seorang Muslim. Abdur Rasyid Qais konon memiliki banyak putra, salah satunya adalah Afghana. Afghana, pada gilirannya, memiliki empat anak yang berangkat ke timur untuk mendirikan garis keturunan masing-masing. Putra pertama pergi ke Swat, yang kedua ke Lahore dan India, yang ketiga untuk Multan, dan yang terakhir ke Quetta. Legenda ini adalah salah satu dari cerita tradisional di kalangan kaum Pashtun berkenaan dengan asal usul mereka yang berbeda. Sekali lagi, inilah Afghana legendaris yang dinyatakan telah diberi nama Pushtuns mereka saat ini. Perlu dicatat bahwa Afghanistan legenda ini dipisahkan dari Afghana kali Salomo oleh setidaknya 11 abad.

Dr H.W. Bellew, dalam bukunya An Enquiry ke Etnografi Afghanistan, percaya bahwa nama Afghanistan berasal dari istilah Latin Alban, digunakan oleh Armenia sebagai Alwan atau Alwan, yang mengacu pada pendaki gunung, dan dalam kasus karakter Armenia transliterasi, akan diucapkan sebagai Aghvan atau Aghwan. Untuk Persia, hal ini lebih lanjut akan diubah untuk Aoghan, Avghan, dan Afghanistan sebagai referensi ke dataran tinggi atau "pendaki gunung" dari dataran tinggi Iran timur.

Beberapa orang berpendapat bahwa nama itu berasal dari "Abagan" (yaitu tanpa Allah) yang istilah Persia dinyatakan telah diciptakan untuk Pushtuns untuk menggambarkan mereka sebagai Godless atau non-percaya. Hal ini menyatakan bahwa Abagan kata antonym dari kata Bagan (= percaya pada Tuhan) hanya sebagai kata apolitis adalah antonim dari politik dalam bahasa Inggris. Ada juga beberapa orang yang link "Afghanistan" untuk kata Uzbekistan "Avagan" kata berarti "asli". Yang lain percaya bahwa nama berasal dari bahasa Sanskerta upa-ganah, kata yang berarti "suku bersekutu".

Pandangan lain etimologis adalah bahwa Afghanistan nama jelas berasal dari bahasa Sanskerta Ashvaka atau Ashvakan (qv), yang Assakenoi dari Arrianus. Pandangan ini dikemukakan oleh JW McCrindle dan didukung oleh banyak sarjana modern (termasuk Lassen C, S. Martin, Uskup, Crooks, W. Crooke, JC Vidyalnar, MR Singh, P. Smith, NL Dey, Dr JL Kamboj, S Kirpal Singh. dan beberapa orang lainnya). Dalam bahasa Sanskerta, kata ashva (Iran Aspa, assa Prakrit) berarti "kuda", dan ashvaka (assaka Prakrit) berarti "penunggang kuda". Pra-Kristen kali tahu orang-orang timur Afghanistan sebagai Ashvakas (penunggang kuda), karena mereka mengangkat berkembang biak denda kuda dan memiliki reputasi untuk menyediakan pasukan kavaleri ahli. Kelima-abad-SM India tatabahasa Panini panggilan mereka Ashvayana dan Ashvakayana. Penulis klasik menggunakan setara Aspasios masing-masing (atau Aspasii, Hippasii) dan Assakenois (atau Assaceni / Assacani, Asscenus). Para Aspasios / Assakenois (= Ashvakas = pasukan kavaleri) yang dinyatakan sebagai nama lain untuk Kambojas karena karakteristik berkuda mereka (lihat Daftar etimologi nama negara).

Bagian terakhir dari nama Afghanistan berasal dari kata Persia stan (negara atau tanah). Para Afghanland kata bahasa Inggris yang muncul dalam berbagai perjanjian antara Qajar-Persia dan Inggris berurusan dengan tanah Timur kerajaan Persia (modern Afganistan) yang diadopsi oleh Afghanistan dan menjadi Afghanistan.

Sebelum dipanggil 'Afghanistan, wilayah itu sudah pergi melalui perubahan beberapa nama dalam sejarah panjang sekitar 5000 tahun. Salah satu nama yang paling kuno, menurut sejarawan dan sarjana, Ariana - pengucapan Yunani kuno Aryanam Avestan Vaeja atau Sanskerta "Aryavarta", Tanah bangsa Arya. Hari ini Lama-Persia, dan Avestan ekspresi yang diawetkan dalam nama Iran dan itu adalah dicatat dalam nama maskapai penerbangan nasional Afghanistan, Ariana Airlines. Istilah 'Ariana Afghanistan masih populer di kalangan pembicara Persia di negeri ini.

Berabad-abad kemudian, Afganistan adalah bagian dari Khorasan Raya, dan karenanya diakui dengan nama Khurasan (bersama dengan daerah berpusat di sekitar Merv dan Neishabur), yang dalam Pahlevi berarti "Tanah Timur" (خاور زمین ).

Afghanistan ada pada titik perhubungan-unik di mana banyak peradaban Eurasia telah berinteraksi dan sering bertempur dan merupakan situs penting dari aktivitas sejarah awal. Melalui usia, wilayah ini dikenal sebagai Afghanistan telah diserang oleh sejumlah orang, termasuk Arya, Media, Persia, Yunani, Mauryans, Kushan, Sassaniyah, Arab, Turki, Inggris, dan Soviet, namun jarang memiliki kelompok-kelompok ini berhasil untuk melakukan kontrol penuh atas wilayah tersebut.

Periode terpanjang stabilitas di Afghanistan antara tahun 1933 dan 1973, ketika negara itu di bawah kekuasaan Raja Zahir Shah. Namun, pada tahun 1973, yang Zahir kakak ipar, Sardar Mohammed Daoud melancarkan kudeta tak berdarah. Daoud dan seluruh keluarganya dibunuh pada tahun 1978 ketika Partai Rakyat Demokratik komunis Afghanistan melancarkan kudeta yang dikenal sebagai Revolusi Saur Besar dan mengambil alih pemerintah.

Amerika Serikat dan sekutu aksi militer untuk mendukung oposisi setelah 11 September, 2001 Serangan Teroris dipaksa kejatuhan Taliban. Pada akhir 2001, pemimpin utama dari kelompok oposisi Afghanistan dan diaspora bertemu di Bonn, dan menyetujui rencana untuk perumusan struktur pemerintahan baru yang mengakibatkan pelantikan Hamid Karzai sebagai Ketua Otoritas Interim Afganistan (AIA) pada Desember 2001. Setelah Loya Jirga nasional pada tahun 2002, Karzai terpilih sebagai presiden.

Pada tanggal 3 Maret dan 25 Maret 2002, serangkaian gempa bumi melanda Afghanistan, dengan hilangnya ribuan rumah dan lebih dari 1800 nyawa. Lebih dari 4000 orang lainnya luka-luka. Gempa bumi terjadi di Provinsi Samangan (3 Maret) dan Provinsi Baghlan (25 Maret). Yang terakhir adalah lebih buruk dari dua, dan menyebabkan sebagian besar korban. Otoritas internasional membantu pemerintah Afghanistan dalam menghadapi situasi.

Afghanistan saat ini dipimpin oleh presiden Hamid Karzai, yang terpilih pada Oktober 2004. Sebelum pemilihan, Karzai memimpin negara setelah telah terpilih oleh administrasi Amerika Serikat 'Presiden Bush untuk kepala pemerintah sementara, setelah jatuhnya Taliban. Kabinet saat ini termasuk anggota dari Aliansi Utara Afghanistan, dan campuran dari daerah dan kelompok etnis lainnya yang terbentuk dari pemerintahan transisi oleh Loya jirga (dewan agung). Mantan Raja Mohammed Zahir Shah kembali ke negara, tetapi tidak kembali sebagai raja, dan hanya latihan kekuatan seremonial terbatas.

Berdasarkan Perjanjian Bonn Komisi Konstitusi Afganistan didirikan untuk berkonsultasi dengan publik dan merumuskan rancangan konstitusi. Pertemuan loya jirga dari konstitusi diselenggarakan pada bulan Desember 2003, ketika sebuah konstitusi baru diadopsi menciptakan bentuk pemerintahan presiden dengan legislatif bikameral.

Pasukan dan dinas intelijen dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain hadir, beberapa untuk menjaga perdamaian, lainnya ditugaskan memburu sisa-sisa Taliban dan al Qaeda. Sebuah pasukan penjaga perdamaian PBB yang disebut Pasukan Bantuan Keamanan Internasional telah beroperasi di Kabul sejak Desember 2001. NATO mengambil kendali angkatan ini pada 11 Agustus 2003. Beberapa negara tetap di bawah kendali panglima perang.

Politik Afganistan

Kini, sebuah pemerintahan sementara telah didirikan. Diketuai oleh presiden Hamid Karzai, kebanyakan anggotanya dari Aliansi Utara, dan campuran dari daerah dan kelompok etnis lainnya yang terbentuk dari pemerintahan transisi oleh Loya jirga. Mantan raja Zahir Shah yang kembali ke negeri, namun tak dikembalikan lagi sebagai raja dan hanya menjalankan kekuatan seremonial terbatas.

Di bawah Persetujuan Perjanjian Bonn (Bonn Agreement), Komisi Konstitusi Afganistan didirikan untuk berkonsultasi dengan publik dan pembentukan konstitusi draft. Dijadwalkan meluncurkan draft pada 1 September 2003, komisi itu telah meminta penundaan agar mengerjakan konsultasi lebih lanjut. Pertemuan loya jirga (dewan agung) konstitusional diselenggarakan pada Desember 2003 saat konstitusi baru diadopsi yang menciptakan bentuk pemerintahan presiden.

Demografi

Afghanistan merupakan tempat dari sejumlah suku. Namun karena belum adanya pencacah jiwaan yang memadai, sehingga tidak diketahui pasti kondisi sebenarnya. Dan yang tersedia sekarang hanya berdasarkan perkiraan belaka. Berdasarkan catatan dari CIA World FactBook (diperbaharui tanggal 17 Mei 2005), demografi suku di Afghanistan adalah sebagai berikut : Pashto 42%, terpusat di bagian timur dan selatan Afghanistan; Tajik 27% berpusat di bagian utara dan Kabul; Hazara 9% berpusat di Afghanistan tengah termasuk Bamiyan; Uzbek 9%; Aimak4%; Turkmen 3%; Baluchi 2% dan sisanya 4% yang Mencius Wakhidan Kyrgyz.

Ada dua bahasa resmi di Afghanistan yakni Persia Afgani yang sering disebut Dari (50%), dan Pashtun (35%). Beberapa bahasa lainnya yaitu bahasa-bahasa Turkik (Uzbek dan Turkmenistan yang digunakan oleh 11% rakyatnya), dan 30 bahasa-bahasa kecil, terutama Baluchi dan Pashai (4%). Banyak orang Afganistan yang mampu menggunakan dua bahasa atau lebih.

Menurut agama orang Afganistan kebanyakan adalah Muslim Sunni (80%), Muslim Syi'ah (19%), dan lainnya (1%).

Dari Berbagai Sumber   Wallahu A'lam

Gerakan Mahasiswa Pembebasan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Gerakan Mahasiswa Pembebasan atau disingkat Gema Pembebasan adalah sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus yang bergerak di kalangan mahasiswa untuk menjadikan Ideologi Islam sebagai arus utama pergerakan mahasiswa di Indonesia. Organisasi ini adalah bagian dari gerakan Hizbut Tahrir Indonesia. Dalam setiap kegiatannya selalu menyerukan untuk diterapkannya Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, mengingat Islam (sebagaimana dipahami para aktivis organisasi ini) adalah sebuah ideologi pembebasan yang membebaskan manusia dari segala bentuk dominasi ideologi lain di luar Islam (Kapitalisme, Liberalisme, Komunisme, Sosialisme, dan lain-lain)


Latar belakang

Mahasiswa dengan idealismenya memiliki potensi yang cukup besar dalam proses perubahan sosial dan politik. Akan tetapi selama ini mahasiswa banyak diwarnai oleh berbagai gerakan yang tidak atau kurang berani dalam mengedepankan ideologi Islam.

Oleh karena itu diperlukan sebuah jaringan dakwah kampus se-Indonesia untuk mengkampanyekan pemikiran-pemikiran Islam dan solusi-solusi Islam atas segala permasalahan serta untuk melahirkan kader-kader dakwah mahasiswa yang suatu saat akan terjun ke masyarakat.

Jaringan inilah yang kemudian diberi nama Gerakan Mahasiswa Pembebasan atau disingkat Gema Pembebasan.

Pembentukan

Gema Pembebasan resmi dibentuk pada tanggal 28 Februari 2004 di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Saat itu juga diresmikannya Website Gema Pembebasan dengan alamat yang menjadi salah satu sarana publikasi opini dan ide-ide Gema Pembebasan. Setelah terbentuk, organisasi ini terus menyebar di Indonesia mulai tingkat pusat hingga perguruan tinggi dengan membentuk struktur baku Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Daerah (PD) dan Pengurus Komisariat (PK).

Sebagai organisasi mahasiswa Islam ideologis, Gema Pembebasan memiliki kegiatan antara lain :
  1. Penulisan dan penyebaran artikel serta buletin keislaman
  2. Mengadakan bedah buku
  3. Mengadakan kajian keislaman tematik dan kajian bahasa arab.
  4. Mengadakan outbound dan pelatihan
  5. Mengadakan dialog pemikiran
  6. Mengadakan seminar-seminar keislaman
  7. Menanggapi masalah-masalah yang aktual dengan sudut pandang Islam.
  8. Mengadakan acara bersama dengan Lembaga Dakwah Kampus lainnya.
  9. Mengadakan aksi simpatik pada moment-moment tertentu.

Ikhwan Ash Shafa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ikhwan As-Shafa (اخوان الصفا) Persaudaraan Kemurnian adalah sebuah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basra, Irak -yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah di sekitar abad ke-10 Masehi. Ajaran dan filosofi mereka dijelaskan secara terperinci dalam Ensiklopedia Ikhwan As-Shafa. Banyak cendekiawan Barat dan Islam yang berusaha menyelidiki identitas dari anggota persaudaraan ini, dan kapan mereka aktif.

Ikhwan as-Shafa adalah kumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Kumpulan ini berkembang pada abad ke dua Hijriah di kota Basrah, Iraq. Ikhwan as-Shafa (Brethren of Purity atau The Pure Brethen) adalah nama sekelompok pemikir Muslim rahasia (filosofi-religius) berasal dari sekte Syiah Ismailiyyah yang lahir di tengah-tengah komuniti Sunni sekitar abad ke-4 H/ 10M di Basrah. Tokoh terkemuka sebagai pelopor organisasi ini ialah Ahmad ibnu Abdullah, Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr Al-Busti yang terkenal dengan sebutan Al-Muqaddasi, Zaid ibnu Rifa’ah dan Abu Al-Hasan Ali ibnu Harun Al-Zanjany.

Konsep Pendidikan Ikhwan as-Shafa

Menurut Ikhwan as-Shafa, bahwa perumpamaan orang yang belum dididik dengan ilmu akidah, ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak akan mudah untuk dihilangkan. Organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empirik, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang dapat diketahui di alam ini. Dengan kata lain ilmu yang dihasilkan oleh pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan-bahan informasi yang dikirim oleh pancaindera.

Ikhwan as-Shafa memandang bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dicapai melalui dua cara :

Pertama, dengan cara mengunakan panca indera terhadap objek alam semesta yang bersifat empirik. Ilmu model ini berkaitan dengan tempat dan waktu.

Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Ilmu yang dicapai dengan cara yang kedua ini hanya dapat dicapai oleh manusia, dan tidak dapat dicapai oleh binatang.

Dengan cara yang kedua ini pula manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib. Selain itu Ikhwan as-Shafa menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan dengan cara ini manusia dapat memahami kalimat, bahasa, dan bacaan.

Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.

1. Klasifikasi Ilmu

Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme. Subdivisi pertama (psiko-rasionalisme) meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.

2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa

a. Cara Mendapatkan Ilmu

Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:

1) Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.

2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.

3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir. Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.

Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Pandangan ini lebih dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.

Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.

Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar (kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong).Modal itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh kemajuan teknologi informasi (internet).

Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.

b. Sosok Ideal Guru

Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.

Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:

1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.

2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.

3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.

4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.

3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama

Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.

Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.

Wallahu A'lam 

Dari berbagai sumber

JIL (Jaringan Islam Liberal)

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jaringan Islam Liberal adalah forum intelektual terbuka yang mendiskusikan dan menyebarkan liberalisme Islam di Indonesia. Forum ini bersekretariat di Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu no. 68 H, Jakarta, sebidang tanah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad. Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur an dan sunnah.



Tentang Jaringan Islam Liberal

1. Apa itu Islam liberal?

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

2. Mengapa disebut Islam Liberal?

Nama “Islam liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

3. Mengapa Jaringan Islam Liberal?

Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.

4. Apa misi JIL?

Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.

Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat.

Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

Sumber islamlib.com

Menghidupkan Kembali Jatidiri Dan Peran Ulama

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jelas penting bagi ulama dan umat ini membangun kembali kesadaran kesadaran ideologis dan politis Islam. Dalam hal ini, tentu peran ulama sangatlah besar. Jika ulama sukses menanamkan kesadaran ideologis dan politis Islam pada diri umat, tanpa dikomando ulama pun, umat pasti akan selalu menjatuhkan pilihannya pada Islam, partai Islam maupun syariah Islam. Bahkan umat akan rela dan siap mati untuk itu. Untuk itu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan ulama.

Pertama, meneguhkan kembali jatidiri dan perannya sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya’). Dalam hal ini, peran ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut akidah maupun syariah. Lebih dari itu, bersama umat ulama harus berupaya menerapkan akidah dan syariah Islam itu secara total dalam seluruh aspek kehidupan (ekonomi, politik/pemerintahan, pendidikan, sosial, hukum/peradilan, politik luar negeri dll); bukan hanya dalam tataran spiritual, moral dan ritual belaka. Karena itu, ulama harus selalu terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan Nabi saw. Hal itu tidak mungkin terjadi jika syariah Islam tidak diterapkan oleh negara. Dalam hal ini, negara pasti mau menerapkan syariah Islam jika ada dukungan dan dorongan kuat dari para ulama.

Kedua, menjaga umat dari tindak kejahatan, pembodohan dan penyesatan yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-anteknya melalui gagasan, keyakinan dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam. Karena itu, ulama juga harus mampu menjelaskan kepada umat Islam kerusakan dan kebatilan semua pemikiran dan sistem kufur seperti demokrasi, HAM, nasionalisme, pluralisme, sekularisme dan paham-paham kufur lainnya. Ulama juga harus bisa mengungkap semua niat jahat di balik semua sepak terjang kaum kafir dan antek-anteknya. Ini ditujukan agar umat terjauhkan dari kejahatan musuh-musuh Islam.

Ketiga, menjadi pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Ulama juga harus mampu menyingkap makar dan permusuhan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum Muslim. Dengan ungkapan lain, ulama harus memiliki visi politis-ideologis yang kuat hingga fatwa-fatwa yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada ideologis-politis. Dengan demikian, fatwa-fatwa ulama mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran, bukan malah menjadi sebab malapetaka bagi kaum Muslim. Misalnya, fatwa yang dikeluarkan oleh syaikhul Islam mengenai bolehnya kaum Muslim mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan perundang-undangan Barat pada akhir Kekhilafahan Islam. Fatwa ini tidak hanya keliru, tetapi juga menjadi penyebab kehancuran Khilafah Islamiyah. Fatwa ini muncul karena lemahnya visi politis-ideologis ulama pada saat itu.

Keempat, membina umat agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, umat memiliki kepribadian Islam yang kuat; mereka juga berani mengoreksi penyimpangan masyarakat dan penguasa.

Meneladani Ulama Dulu


Di samping perlu meneladani ulama dari generasi para Sahabat Nabi saw., ulama saat ini perlu meneladani para ulama setelah mereka. Kita, misalnya, bisa belajar dari dua ulama Ahlus-Sunnah, seperti Abu Hanifah dan Ibn Taimiyyah. Sejarah tidak pernah melupakan kedua sosok ulama mulia ini. Sebagaimana diketahui, kaum Muslim mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun, dan akhirnya dibawah pimpinan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem setelah dikuasai pasukan Salib selama 88 tahun. Menurut Dr. Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Zhahara Jîlu Shalahuddin wa Hakadza Adat al-Quds, Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang ‘turun dari langit’ dalam mengangkat keterpurukan umat Islam. Ia adalah produk dan bagian sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat.

Dalam lingkup nasional, sejarah juga tidak bisa melupakan peran ulama. Peristiwa 10 November 1945, misalnya, jelas tidak bisa dilepaskan dari peran KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Bung Tomo saat itu segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna meminta restu bagi dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris.

Akhirnya, ulama maupun umat ini harus kembali menyadari bahwa ‘kekalahan politik’ Islam yang terus-menerus terjadi dan keterpurukan umat ini tidak terlepas dari kelalaian kita untuk terus berjuang menegakkan syariah Islam dalam institusi negara. Itulah Khilafah Islam, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Hanya dengan syariah dan Khilafahlah kita benar-benar akan meraih kemenangan hakiki. Allah SWT berfirman:

Pada hari itu bergembiralah orang-orang Mukmin karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5)
Ulama adalah songgo buwono, penyangga bumi, atau penentu maju tidaknya peradaban justeru karena dia dekat dengan Allah SWT. Peradaban yang semakin maju, modern, dan sekaligus sekuler memunculkan berbagai dampak yang tiada disangka-sangka. Salah satu yang paling esensial adalah penjungkirbalikan tata nilai. Nilai holistik kemanusiaan ketuhanan di masa Rasulullah, Muhammad SAW, menjadi tercerai berai sehingga dengan mudah kita memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat, urusan negara terpisah dengan urusan agama, termasuk urusan ulama dan urusan umaro (pemimpin negara/daerah/kawasan). Pada titik ini, peran agama terreduksi menjadi hanya mengurusi urusan akhirat saja.

 
Raja (Umaro) mengatur urusan dunia, dan wali (ulama) memiliki urusan akhirat. Yang perlu dicatat bahwa pada masa wali songo ini, peran raja subordinat dengan para wali. Sedemikian hingga untuk urusan tertentu seperti suksesi kekuasaan, para keturunan raja ini harus meminta petunjuk dari para wali, untuk seterusnya oleh para wali diteruskan dengan berdo'a kepada Allah SWT untuk meminta wangsit, petunjuk dan hidayah siapa yang cocok menjadi pemimpin.

Kini, semuanya berubah. Terpaan budaya global telah meluluhlantakkan budaya asli Jawa, budaya sukuisme, budaya kita sampai ke yang paling privat di rumah kita. Pada skala massif, peradaban juga berubah, tata nilai berubah, penghayatan kita pada ajaran agama juga berubah, kerajaan berubah menjadi negara dengan kehendaknya yang supersekuler. Kemana arah perubahan itu?

Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa perubahan itu mengarah pada kerusakan. Hukum ini tidak hanya berlaku pada benda, tetapi juga pada aras moral, peradaban kebudayaan. Ini juga sesuai dengan ajaran agama kita bahwa pada saatnya nanti pergelaran alam semesta ini akan digulung, itulah hari akhir. Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) itu pasti akan datang. (Q.s. al-Hijr: 85).

Berbagai perubahan di atas mengharuskan kita untuk beranggapan bahwa suka tidak suka kita juga dituntut untuk merevolusi paradigma kita terhadap fakta, faktor, peran dan fungsi ulama dan umaro. Sehingga masing-masing individu apapun dia berperan akan mampu memposisikan diri sebagai hamba Allah SWT yang ikhlas.

Bukankah ini tugas yang berat namun mulia yang diemban tidak hanya oleh kalangan ulama?? Marilah kita mulai dari sekarang, di sini, di tempat yang mulia ini kita berubah untuk kembali berbenah dan ndandani bangsa dan negara ini. kita memulai perubahan menuju kebaikan bisa datang dari mana saja, dari titik mana saja, dari sudut dan bidang apa saja.

Wallahu A'lam

Dari Berbagai Sumber

Budaya "Wani Piro?" Juga Berlaku Untuk ONH

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sungguh Terlalu ........!!

Kondisi bangsa Indonesia saat ini sungguh sangat menyedihkan. Krisis malu dan harga diri telah menyebabkan bobroknya mental para penguasa yang selalu mengatasnamakan rakyat. Mereka mengeruk keuangan negara dengan proyek-proyek bayangan. Manipulasi data, mark up anggaran hingga pada penyunatan bantuan sudah menjadi budaya di kalangan yang menamakan dirinya dengan sebutan elit ini. Imbasnya adalah kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh teman saya, bahwa para wakil rakyat kita telah benar-benar mewakili rakyat untuk makmur. jadi yang makmur cukup mereka saja, toh mereka kan sudah mewakili seluruh rakyat Indonesia. jika mereka makmur, maka rakyatpun kelihatannya juga sudah makmur.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kedhaliman para penguasa kita adalah andil dari kita juga. Sebenarnya rakyat sendirilah yang menyebabkan munculnya para pemimpin korup dan sewenang-wenang itu. Kenapa demikian ?. Budaya “wani piro?” begitu melekat di hati rakyat Indonesia. Siapa yang berani membayar tinggi maka itulah yang akan dipilihnya meskipun dia tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ironis memang, namun itulah kenyataan. Rakyat kita mungkin terlalu lama sengsara dan menderita, sehingga idealisme dan akal sehat tidak lagi mereka gunakan, yang bergaung dibenak mereka hanyalah uang…uang dan uang. (salah sendiri so... rasakan sendiri....)

Jika proses awalnya saja salah, maka janganlah berharap akan tercipta suatu hasil yang positif. Sejak semula rakyat tidak tulus ikhlas memilih wakil yang tepat yang akan menyuarakan aspirasinya. Receh yang mereka dapatkan di muka harus ditebus oleh anak cucu kita, mereka terpaksa harus menderita bertahun-tahun sebab anggaran yang mestinya digunakan untuk kesejahteraan mereka di garong dan di gasak oleh para copet profesional. Maka kadang terlintas dalam benak penulis, mungkin sebenarnya kitalah yang menyebabkan kesengsaraan anak cucu kita di masa yang akan datang.

Dalam kaidah fiqih dikatakan ” tashorruful Imam Ala Ro’yatihi Manuthun Bil maslahah ” Tindakan seorang imam terhadap rakyatnya haruslah berdasarkan kemaslahatan. Kita semua adalah Imam, setidaknya imam untuk anak cucu kita mendatang dan setidaknya juga kita adalah imam bagi keluarga kecil kita. Jika tindakan yang kita ambil salah sedikit saja, maka bisa jadi hal itu berakibat fatal dalam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita selanjutnya.

Mari mulai dari diri sendiri untuk membangun negeri ini, menghujat sudah tidak diperlukan lagi. Apa yang telah terjadi dimasa lalu adalah ibrah berharga untuk kita di masa depan. Ikhlaskan hati dan tuluskan niat dengan tanpa pamrih dan mengharap imbalan apapun, sebab imbalan Allah sungguh luar biasa. Sucikan hati dan bersihkan niat. Kalam inilah yang harusnya menjadi maskot bagi kita dalam melakukan aktifitas apapun hingga keberkahan dari seluruh penjuru langit dan bumi akan dibuka oleh Allah Subhanahu Wata'ala

Wallahu a’lam

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. Seringin dengan itu semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai ? ideologi peradaban ? dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia. Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni mereka terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban lahir dari perasaan Barat yang subyektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban dunia yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam dominasi peradaban Barat.

Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa warsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan ? mayoritas tetapi secara teknikal minoritas ? runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah mematangkan mereka buka saja secara mental, tapi juga secara intelektual. Dari mereka itulah lahir critical mass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan dan juga telah memperkuat tradisi inteletual melalui pergumulan ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku. Seiring dengan itu juga terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi.

ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondiri umat Islam, terutama kadena ?berserakannya? keadaan cendekiawan muslim, sehingga menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.

Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema ?Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas? yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September ? 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Kemudian para mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafi?i Anwar menghadap Menristek Prof. B.J. Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi beliau bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan B.J. Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.

Tanggal 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru, secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Bahharuddin Jusup Habibie sebagai Ketua Umum ICMI yang pertama. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia, karena itu juga merupakan tugas utama.

Falsafah Dasar ICMI
  1. Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya.
  2. Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu.
  3. Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan – permukaan temu.
  4. Rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukan temu terseut dengan ajaran kitab suci Al-Qur’an.
Prinsip Dasar ICMI


Adapun Prinsip Dasar ICMI yaitu 5 K :
  1. Meningkatkan Kwalitas Berpikir
  2. Meningkatkan Kwalitas Bekerja
  3. Meningkatkan Kwalitas Berkarya
  4. Mneingkatkan Kwalitas Iman dan Taqwa seimbang dengan penguasaan Kwalitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
  5. Meningkatkan Kwalitas Hidup.
Definisi Cendekiawan ICMI

Cendekiawan ICMI adalah siapa saja yang sangat peduli terhadap lingkungan dan tidak tergantung dari tingkat pendidikan ataupun tingkat pembudayaan yang pernah dialami. Cendekiawan ICMI menerima filsafat dasar dan prinsip dasar ICMI.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About