Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Dunia di akhir-akhir zaman ini

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dunia di akhir-akhir zaman ini, manusia sudah tidak lagi merasa segan dan malu malahan seperti kemarukkan dikerasukkan nafsu diri sendiri jua, luntur iman dan lentur diri terikutan tunjukkan telunjukkan kebodohan, kejahilan, kemunafikan, kemaksiatan dan lain-lain kelakuan diri yg dapat menjerumuskan diri kedalam api kenerakaan.

Ingatlah pesan Nabi Muhammad S.A.W melalui hadis-hadits nya mengenai peristiwa Akhir Zaman...

Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula.

Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman kepada mereka. Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku ?.

Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim (cendikiawan) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)?.

Dari Berbagai sumber 

Mendoakan Kebaikan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
IBNU MAS’UD Radhiyallahu Anhu suatu saat berdagang di sebuah pasar dan menyimpan uang dirham di sorban beliau. Namun saat hendak mengambil uang dirham tersebut beliau tidak mendapatinya, padahal beliau tidak pergi ke mana-mana.

Orang-orang yang berada di sekitar Ibnu Mas’ud pun berdoa,”Ya Allah potonglah tangan pencuri yang telah mengambilnya.” 

Ibnu Mas’ud pun berdoa,”Ya Allah jika pencuri itu melakukan pencurian karena kebutuhan maka berkahilah ia. Namun jika ia melakukannya karena dorongan maksiat maka jadikanlah perbuatannya ini adalah perbuatan yang terakhir.” (Ihya’ Ulumuddin, 9/1671)

Meski orang yang terdzalimi doanya mustajab, Ibnu Mas’ud tidak menggunakannya untuk mendoakan keburukan kepada si pencuri yang telah mendzalimi beliau, bahkan justru berdoa untuk kebaikan si pencuri.

sumber : hidayatullah.com

Pendengaran, Penglihatan, dan Hati

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan ALLAH yang dilengkapi dengan jasad, akal, dan hati. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan ALLAH menciptakan kamu dengan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersukur,” dan beberapa ayat lain yang juga ikut menggambarkan bagaimana ALLAH memberikan kesempurnaan pada penciptaan manusia.

Dengan jasad yang menopang tubuhnya manusia dapat berdiri tegak di atas bumi, hidup dan berkembang biak serta menyelenggarakan kehidupannya dengan makan, minum serta berketurunan. Dengan akalnya manusia berfikir, menyaring informasi dan merekam memori yang dianggap penting bagi kehidupannya. Dengan hatinya manusia merasa, membeda dan membuat pilihan.

Ketiga bekal penciptaan manusia itu pula yang semestinya dijadikan modal untuk ia mengenal dirinya, hakikat penciptaannya di dunia, sebagai makhluk ALLAH yang di antara kaumnya kelak akan menjadi khalifah (pemimpin), entah itu pemimpin di bangsanya, sukunya, keluarganya, atau pemimpin untuk dirinya sendiri.

Untuk mengenal diri sendiri, manusia harus bisa memaksimalkan ketiga modal yang dibekalkan ALLAH tadi. Jasadnya, dengan menjaga dan memelihara kesehatannya. Akalnya, dengan memberi makanan yang sehat baginya dan menjaga kesinambungannya. Hatinya, dengan menjaga dan memeliharanya dari apa-apa saja yang bisa merusak hati itu.

Menjaga dan memelihara kesehatan bagi manusia adalah hal yang pertama harus dilakukan, karena jasad adalah modal dasar. Jasad yang sehat akan memudahkan manusia untuk beraktivitas, untuk melangsungkan kehidupannya, untuk melaksanakan fungsinya apakah dalam masyarakat dan terutama dalam keluarga. Menjaga dan memelihara jasad hendaknya dimulai sejak dari dini, yaitu dengan membiasakan mengkonsumsi makanan yang baik, bergizi dan halal. Karena sumber dari makanan, baik jenis maupun cara mendapatkannya akan berpengaruh pada sari pati pembentukan jasad manusia. Sebagaimana pernah dicontohkan antara seseorang yang terbiasa mengkonsumsi dading sapi dibandingkan dengan seseorang yang terbiasa mengkonsumsi daging babi.

Memberi makanan yang sehat dan menjaga kesinambungan akal adalah hal berikutnya yang harus diperhatikan. Makanan yang sehat bagi akal dimulai dengan membiasakan dan melatih akal untuk berpikir positif, memberi asupan informasi yang seimbang antara pengetahuan dunia dan akhirat agar kesinambungannya pula terpelihara. Pengetahuan dunia akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup di dunia (baik dalam berkelompok ataupun berkeluarga, mencari nafkah dan meningkatkan prestasi) sementara pengetahuan akhirat akan menjadi dasar pelaksanaan ibadah, muamalah, tuntunan akhlak yang berbuah pada keimanan.

Menjaga dan memelihara hati adalah dengan menjauhkan diri dari perbuatan maksiyat, perbuatan yang dibenci ALLAH dan menghiasi hati dengan amalan-amalan dari hal terkecil yang bernilai kebaikan (meski sebesar biji dzarrah) sampai hal terbesar dan mulia yang bisa dilakukan. Pentingnya hati sebagai motor penggerak manusia sangatlah sering disebutkan Rasulullah (SAW) dalam haditsnya,
“Dalam tubuh manusia ada seonggok daging yang apabila baik daging itu maka baik pula manusianya dan apabila rusak daging itu maka rusak pula lah manusianya. Seonggok daging itu adalah hati.”HR. Bukhari – Muslim

“Setiap satu dosa kecil yang engkau kerjakan akan menyebabkan bertambahnya satu titik hitam dalam hatimu, sedemikian pula satu kebaikan sebesar apapun akan membuat hatimu lebih terang sehingga bisa melihat cahaya kebenaran.”HR. Bukhari – Muslim

Menjaga dan memelihara hati yang merupakan motor penggerak manusia, yang menjadi tumpuan dalam membedakan baik dan buruk, dapat dimulai dari hal-hal yang kecil. Tidak berbohong, menjauhkan diri dari yang makruh atau mubah (keduanya adalah hal yang ditengah-tengah/meragukan), menghindari dosa kecil dan tidak berbuat dosa besar, mencari dan memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk berbuat kebaikan, memelihara hak orang lain, menyantuni anak yatim atau fakir miskin, berbuat segala sesuatu hanya karena ALLAH.

“Sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung dari niatnya.” HR. Bukhari – Muslim

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Kejujuran Dan Dusta

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
“Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, jangan berdusta, sebab dusta akan mengarah kepada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari & Muslim).

Sesuatu yang wajib, tentunya berdosa bila tidak dilakukan. Dan jujur adalah wajib. Namun kalau jujur diakui, inilah yang banyak diabaikan dalam hidup ini. Tak terkecuali dalam mencari nafkah, seperti dalam melamar menjadi pegawai negeri.

Sebagaimana lazimnya, menjadi pegawai negeri di negeri kita ini adalah menjadi tempat menafkahi diri dan keluarga seumur hidup. Bahkan, sesudah mati pun, akan diberikan pensiunan untuk anak-anaknya. Ini maknanya bahwa hasil yang dinikmati dari modal ketidakjujuran bisa berlanjut hingga sesudah kematian.

Ini bukan masalah, bagi orang yang telah redup cahaya keimanan di hati. Lebih-lebih pada saat yang sama, banyak orang lain juga melakukannya. Jadi, rujukan perilakunya bukan pada Alquran, tetapi malah pada orang-orang yang tidak jujur.

Namun bagi orang-orang yang hatinya masih diterangi dengan cahaya keimanan, ini masalah besar. Ini masalah yang menghancurkan kehidupan. Pada perbuatan yang demikian terdapat pengkhianatan terhadap hukum Allah, aniaya terhadap orang yang lebih berhak, dan ketidakhalalan menikmati hasil dari perbuatan yang tidak jujur.

Perbedaan pandangan ini telah diingatkan oleh Rasulullah. Katanya, tanda orang tak beriman bisa dilihat dalam caranya memandang dosa. Dosa dipandang sebagai sesuatu yang kecil. Tak ubahnya seeekor lalat yang hinggap di hidungnya. Sedangkan orang beriman memandangnya seperti gunung yang akan jatuh menimpanya.

Wallahu A'lam

Do'a Mohon Kehidupan Yang Baik

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ya Allah , Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah datangnya kesejahteraan, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau yang Esa, tidak ada sekutu bagi Engkau Bagi Engkulah kerajaan dilangit dan dibumi, bagi Engkaulah segala pujian.

"Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatu"

Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang mampu memberi sesutu yang Engkau tolak, dan tidak ada gunanya bagi Engkau kekayaan manusia, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau,

Ya Allah tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, kami tidak menyembah selain Engkau.

Ya Allah, jadikanlah pendengaran kami, pandangan dan kekuatan kami menyenangi jalan petunjuk-Mu dan jadikanlah hawa nafsu kami patuh pada ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Engkau, Ya Allah berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Merengkuh Kenikmatan Dunia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Berbagai kejahatan di dunia ini seringkali dilakukan oleh insan-insan yang mabuk dunia, kejahatan-kejahatan tersebut adalah apa yang mereka jadikan sebagai alat untuk merengkuh kenikmatan dunia, yang memang pada dasarnya dijadikan indah dalam pandangan kita manusia, sebagaimana orang mabuk, perilakunya tentunya tak terkontrol. 

Tak sadar akan apa yang sedang mereka lakukan, serta tentunya tidak akan mampu memikirkan segala dampak baik dan buruknya, baik terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain, termasuk juga lupa mempersiapkan diri dengan bekal untuk menuju hari esok yang abadi di akhirat.

Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih mampu menghindari diri dari terjerumus ke dalam mabuk dunia. Sebab, orang-orang yang beruntung ini masih dianugerahkan pikiran dan hati yang terang dalam memahami dan menghayati segala tingkah dan perilaku orang - orang yang sedang mabuk dunia. 

Timbul rasa ngeri sekali ketika kita melihatnya, sehingga takut dan sekligus berusaha untuk tidak terjerumus ke dalamnya, Sedangkan sebagian yang lain, tak sadar telah ikut terperosok ke dalamnya, ikut-ikutan melakukan kejahatan untuk memenuhi keinginan orang-orang yang sedang mabuk dunia.

Bahkan, dalam melakukan kejahatan tak ubahnya perilaku orang-orang kafir, yang saling tolong menolong dalam melakukan kejahatan dan memusuhi kebenaran, Sebagaimana disebutkan dalam Al quran, di antara ciri perilaku orang kafir ialah diberikan peringatan atau tidak, bagi mereka sama saja. hati dan telinga mereka sudah dikunci mati, demikian juga penglihatan mereka dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS. Al Baqarah: 6-7)

Sama sekali tak takut berbuat dosa, karena menganggap dosa bagaikan melihat lalat yang melewati batang hidungnya, Bila sudah merasa seperti ini, siapapun di antara kita yang ikut menjadi bagian dan sekaligus membantu mereka, maka mereka juga termasuk dari golongan tersebut. 

Na’uzubillah :

“Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan tidak percaya akan pertemuan dengan Kami, 
dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, 
disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan" (QS. Yunus: 7-8)

Wallahu A'lam

Perlombaan Yang Bisa Dimenangkan Oleh Semua Orang

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Begitu dahsyat perlombaan merebut hati manusia, sehingga tidak sedikit yang mengalami kekalahan dan kesengsaraan. Seperti kekalahan dalam merebut hati rakyat dan atau masyarakat dalam pemilihan umum, Pemilihan Kepada Desa dan berbagai macam perlombaan lainnya, baik yang berhadiah pangkat , jabatan , harta benda maupun cinta dari seorang wanita, karena tidaklah mungkin semuanya menang.

Namun, tidak demikian dengan perlombaan menuju ampunan Allah.

Bila penduduk dunia ini berlomba menuju ampunan Allah, setiap jengkal bumi ini akan damai. Akan jauh dari pelanggaran, kekalahan, kesengsaraan, dan sejenisnya. Sebab, semakin banyak manusia berpartisipasi dalam menuju ampunan Allah, semakin tercipta rasa persaudaraan antar sesama manusia. Semakin banyak manusia yang merasa dirinya sama dengan orang lain sebagai makhluk Allah.

Semua akan merasa tak punya ilmu, kecuali hanya setetes saja.

Dengan cara demikian, akan hilang kebencian antar sesama, tidak akan timbul keinginan untuk menganiaya orang lain, akan damai dan tentram semua apa yang ada dibumi, tidak akan akan ada pembunuhan. Sebab, setiap orang yang berlomba menuju ampunan Allah Subhanahu Wata'ala faham bahwa kebencian, menganiaya orang lain, membunuh, dan kejahatan lainnya, merupakan sikap dan perbuatan yang menjauhkan diri dari

ampunan Allah Subhanahu Wata'ala

Juga, tak ada kekalahan dalam berlomba menuju ampunan Allah Subhanahu Wata'ala. Kalau melakukan dengan benar, semua akan meraih kemenangan, Apalagi Allah Subhanahu Wata'ala berjanji mengampuni hamba-hambaNya, tanpa membeda-bedakan, status , pangkat , jenis kelamin , jabatan , status sosial bagi mereka yang benar-benar mencari ampunanNya.

Maka 

“Berlomba-lombalah kamu sekalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada yang dikehendakiNya” 

(QS. Al Hadid: 21).

Menggapai Keikhlasan Hati Dari Rahasia Qalbu

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Sahabat Fillah yang Insya Allah selalu dalam bimbingan-NYA…

renungan jelang senja kali ini adalah tentang… “…apakah yang qt lakukan atau perbuat… berniat untuk ke-Ridhaian Allah SWT… ataukah… berniat untuk sebuah keMarah-an dan keKecewa-an…?...”

Allah SWT berfirman… “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. 64 – At Taghabuun : 11]

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS. 57 – Al Hadiid : 22]

dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu… dia berkata… :

saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda… : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya… Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan… Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-NYA… maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-NYA… Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya… atau karena wanita yang ingin dinikahinya… maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan…” [HR. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pun bersabda… : "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) benuk tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati kalian." [HR. Musim]

mudah-mudahan bermanfaat… Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… salam santun fillah…

“Apakah setiap yang qt lakukan atau perbuat… berniat untuk ke-Ridha-an Allah SWT… atau… berniat untuk suatu ke-Marah-an dan ke-Kecewa-an…?”

Alkisah… di sebuah padepokan yang asri… tampak sang Guru sedang santai sambil memandangi kumpulan bunga anggrek… yang tertata artistik… terawat… dan sedang mekar-mekarnya dengan indah…

Pada suatu hari ketika hendak berkelana… di kumpulkanlah seluruh santri-santrinya… kemudian dia berpesan kepada santri-santrinya… "Anak-anakku… guru akan pergi mengunjungi kakek guru… dan saudara-saudara seperguruan lainnya… kalian tetaplah rajin belajar dan berlatih… dan jangan lupa untuk hati-hati merawat tanaman bunga anggrek kesayangan guru ini ya…"

para santri-santri menerima pesan itu dengan patuh…  “berapa lama guru akan meninggalkan kami…?” tanya salah seorang santrinya… “mungkin paling cepat 2 bulan guru baru akan tiba kembali…” jawab sang guru…

Esok harinya para santri secara bergilir dengan teliti memelihara pohon-pohon bunga anggrek tersebut…

Namun…
pada suatu hari… ketika salah seorang santri sedang merapikan… dan menyiram bunga-bunga anggrek kesayangan sang Guru… tanpa sengaja dia menyenggol rak-rak pohon tersebut… “Prang…!!!” bunyi keras mengiringi berjatuhannya pot -pot bunga anggrek… dan tampak beberapa pot pecah berantakan… dan tanaman anggrek pun berserakan di sekitarnya… para santri dengan rasa panik dan ketakutan berusaha membenahi sebisanya… tetapi apa daya… hanya sedikit yang terselamatkan… dan dengan sangat hati-hati… para santri mencoba untuk menata kembali bunga Anggrek yang masih bisa diselamatkan…

Dengan rasa was-was… para santri dia pun menunggu gurunya pulang… untuk meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan oleh sang Guru…

Setelah sang Guru kembali dari perjalanan… maka dikumpulkannya seluruh santri-santrinya… untuk menanyakan khabar dan keadaan para santri-santrinya… setelah selesai acara “temu kangen” antara sang Guru dan santri-santrinya… salah seorang santri berdiri untuk memohon waktu sejenak kepada sang Guru…

“ada apa gerangan santri ku…?” tanya sang Guru…
“Guru… saya ingin meminta ma’af…” kata santri tersebut…
“Lho… ada salah apa gerangan…?” tanya sang Guru kembali…
“Guru… saya mohon ma’af… saya mengaku salah… saya telah mengecewakan Guru… Saya telah menjatuhkan beberapa pot Anggrek kesayangan Guru… dan saya siap menerima hukuman dari Guru… sekali lagi saya mohon ma’af Guru…” jelas santri yang telah memecahkan pot-pot…

dan mendengar kabar itu… sambil tersenyum dan dengan tenang sang Guru yang bijaksana tersebut berkata… :

"Santri-santriku sekalian… Memang bunga anggrek adalah bunga kesayangan Guru… makanya Guru merawatnya dengan baik sehingga berbunga dengan indah… Perlu kalian ketahui… Guru menanam bunga anggrek alasan utamanya adalah… untuk menikmati indahnya warna-warni bunga-bunga anggrek… dan yang lebih utama lagi adalah… untuk merenungkan sekaligus bersyukur atas keindahan ciptaan Allah SWT… selain itu untuk memperindah lingkungan di sekitar sini…  dan INGATLAH BAIK-BAIK… Guru menanam bunga Anggrek tersebut… BUKANLAH DEMI UNTUK KEKECEWAAN dan KEMARAHAN…”

Sambil merubah posisi berdirinya… sang Guru yang bijaksana tersebut melanjutkan nasehatnya… “walaupun Guru menyukai bunga anggrek… tapi Guru tidak terikat akan bunga-bunga itu… untuk itulah Guru tidak perlu marah ataupun kecewa karena anggrek… tetapi pesan Guru… lain kali dalam mengerjakan sesuatu apapun kalian harus ekstra lebih hati-hati… bunga anggrek bisa ditanam lagi… tapi ketidakhati-hatian adalah sikap yang harus selalu diwaspadai… karena bisa berakibat negatif dan berdampak buruk bagi siapa pun…"

Sahabat Fillah… coba qt renungkan perkataan sang Guru yang bijaksana tersebut… “…sungguh benar… ‘bahwa… bukan demi untuk kemarahan dan kekecewaan Guru menanam tanaman anggrek…"

qt pun bisa belajar dari sini…

Sahabat Fillah… pesan Bijak nan Bajik dari kisah tersebut diatas adalah… seandainya amarah dan kekecewaan sedang menguasai kita… cobalah berhenti sejenak dan pikirkanlah…

"Bukan demi marah dan kecewa qt berkenalan… berteman… bersahabat…"… "Bukan demi marah dan kecewa qt menjadi suami istri…"… "Bukan demi marah dan kecewa qt melahirkan dan mendidik anak…"… dan… “Bukan demi marah dan kecewa qt memutuskan sesuatu untuk segala sesuatunya…”… dengan demikian… Insya Allah sikap toleransilah yang akan muncul… Kemarahan dan kekecewaan akan mencair…

dan kedamaian pun akan menyertai hati serta kehidupan kita… Ketika kita hendak bertengkar dengan kenalan… teman… sahabat… keluaraga… orang rumah… tetangga… hendaklah perlu diingat… perjumpaan yang telah terjadi… bukan demi untuk rasa marah dan kecewa… tapi sudah sepatutnya lah qt untuk mensyukuri… karena dibalik setiap peristiwa dalam hidup qt… ada hikmah yang tersembunyi… ada ilmu Allah yang perlu qt renungkan… Mari kita semua belajar untuk berlapang dada… Insya Allah dalam kehidupan qt akan penuh ketenangan serta kedamaian… mudah-mudahan bermanfaat…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

salam santun fillah…

“RQ / AA” Bekasi…

Apa Urusanmu Dengan Saya

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Urus dirimu sendiri, seperti apa yang harusnya kamu lakukan !!  kejahatan orang lain bukanlah tanggung jawab kita, Dakwahi Diri Sendiri dulu, Baru Orang Lain. Urus dulu keluarga sendiri baru orang lain. Demikianlah ungkapan yang berkembang di tengah umat. “..Benahi diri sendiri dulu, baru orang lain.. benahi keluarga sendiri dulu, baru keluarga orang lain..” seolah menjadi patokan untuk menilai seorang da’i. Mereka berkeyakinan, bahwa sebelum membenahi keluarga dan diri sendiri, maka tidak patut seseorang itu memperbaiki orang lain atau keluarga lain. Tidak ada tanggung jawab terhadap kerusakan orang lain selama diri sendiri masih rusak. Sebagian mereka bahkan merasa tidak bertanggungjawab atas dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, bahwa kerusakan serta kejahatan orang lain bukanlah tanggungjawab mereka.

Demikianlah kaum muslimin diselewengkan oleh syetan. Padahal alim ulama menjelaskan, bahwa berdasarkan Al Qur’an, ada lima tugas yang diemban oleh setiap diri umat Muhammad SAW, yaitu:

1. Tanggungjawab atas diri sendiri, firman Allah, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim 6) Setiap manusia dituntut untuk memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan keimanan serta ketaatannya kepada Allah, agar terhindar dari api neraka.

2. Tanggung jawab Keluarga. Firman Allah. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim 6) Selain diri sendiri, seorang mukmin juga bertanggungjawab menjauhkan keluarganya dari murka Allah, dan membawa mereka kepada ridha-Nya.

3. Tanggung jawab atas kaum kerabat dan sahabat dekat. Allah berfirman, “Dan peringatilah keluargamu dan kaum kerabatmu.” (QS. Asy syu’ara 214) Setiap mukmin bertanggungjawab untuk mengajak kaum kerabat dan saudara-saudaranya mentaati Allah.

4. Tanggungjawab atas sesama muslim di daerah. Allah berfirman, “Dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) “ibu negeri” (Mekkah) dan (orang-orang)yang di luar lingkungannya.” (QS. Al-An’am 92) Setiap mukmin pun dituntut utuk memberi peringatan dan menyampaikan agama kepada penduduk di sekitarnya dan di luar lingkungannya.

5. Tanggungjawab seluruh manusia. Firman Allah. “Kalian sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran 110)

Terakhir adalah tanggung jawab sebagai Khoiru Umat, yaitu sebaik-baik umat yang dipilih oleh Allah untuk menemui manusia untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menyelamatkan mereka dari murka Allah Ta’ala.

Kelima tanggungjawab tersebut adalah tanggung jawab setiap muslim, dan untuk menunaikannya tidak terikat, oleh salah satu diantara yang lima tersebut. Ketidak sempurnaan pada diri tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap keluarga. Dan ketidak sempurnaan pada keluarga tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap kaum kerabat. Dan ketidaksempurnaan terhadap kaum kerabat, tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap sesama muslim lainnya, demikian seterusnya.

Adalah keliru, jika seseorang menyaksikan kemungkaran di hadapannya, kemudian dia tidak mencegah dengan alasan bahwa ia atau keluarganya belum sepenuhnya baik. Tidak demikian. Ia tetap dituntut meramar ma’ruf nahi mungkar jika kesempatan itu ada di hadapannya, meskipun ia belum sepenuhnya baik.

Hal ini telah banyak dijelaskan melalui perjalanan Nabi SAW, beliau tidak membatasi dakwahnya kepada orang lain. Ketika ahli keluarganya sendiri, yaitu kaum Quraisy dan Bani Hasyim justru menolak ajakan beliau terhadap Isklam. Beliau terus mendakwahi manusia, orang terdekat maupun jauh, meskipun paman-pamannya, kaum kerabatnya, dan orang sekitarnya justru menolak ajakan beliau saw.

Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika Nabi saw mogok dakwah hanya karena beralasan akan mengurusi keluarganya dulu yang belun menerima Islam? Atau mengurusi kaum Quraisy dulu dan meninggalkan kaum yang lainnya? Tentu Islam tidak akan berkembang. Bisa jadi Islam hanya sampai pada diri Nabi saw saja. Dan kita sendiri tidak akan mengenal Islam.

Demikian juga untuk menyampaikan kebenaran Islam, seseorang tidak mesti menunggu dirinya menjadi baik, atau menunggu keluarga mejadi baik, atau kamu menjadi baik. Kapanpun seseorang berkesempatan untuk menjalankan dakwah ilallah maka pada saat itu ia mesti menyampaikannya.

Dari Anas ra., bahwa Rasulullah saw bersabda “Laa Ilaaha Illallaah selalu bermanfaat bagi siapapun yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya “. Sahabat bertanya “ya Rasulullah apakah yang dimaksud dengan mengabaikan hak-haknya?” jawab beliau,”kemaksiatan kepada Allah yang dilakukan secara terang terangan, tetapi tidak di ubah olehnya. (Al Ashbahani – At Tharghib)

Jika membenci kemaksiatan dengan hati adalah derajat terendah, maka tingkat yang utama adalah kesempurnaan dakwah sebagai kesempurnaan iman. Dari hadits diatas, dapat di ketahui bahwa meninggalnya amar ma’ruf nahi mungkar atau menunda nundanya akan menybabkan laknat dan murka Allah dan apabila umat Muhammad saw meninggalkan tugas ini maka mereka akan ditimpa berbagai musibah bencana kehinaan dan terjauh dari pertolongan Allah

Meninggalnya amar ma’ruf hanya karena kita belum mengamalkan yang ma’ruf tersebut, akan membuat yang ma’ruf tersebut semakin ditinggalkan oleh umat. Dan meninggalkan nahi mungkar hanya karena kita belum meninggalkan yang mungkar tersebut akan membuat kemungkaran tersebut semakin merajalela.

Untuk menegakkan dakwah maka tidak mesti memandang dulu bagaimana keluargana, bagaimana tetangganya, bagaimana orang kampungnya dan sebagainya. Kemudian ia menolak berdakwah karena ia merasa keluarganya belum benar , tetangganya belum benar, tetangganya belum benar dan sebagainya

Peringatan bagi para dai firman Allah

“Sangat besar murka kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” QS. Ash Shaff 3)

Adalah peringatan bagi dai yang sama sekali tidak berminat untuk mengamalkan apa yang di dakwahkan bukan bagi orang terhalang untuk mengamalkan apa yang di sampaikannya dan ayat tersebut bukan bermakna larangan untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Ketika diri sendiri belum bisa mengamalkan apa yang dia nasehatkan kerena suatu udzur ia tetap menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaaikan, ia tetap harus mengajak kepada sesuat yang bermanfaat bagi pelakunya da menjauhkan sesuatu yang berbahaya dari pelakunya.

Penekanan ayat diatas adalah kepada para dai agar intropeksi pada diri nya sendiri atas apa yang ia dakwahkan. Bukan seorang mad’u yang mengkritik seorang dai yang mengingatkannya. Bukan dalil bagi seorang murid untuk mengkritik gurunya, sehingga ia enggan menerima nasehat-nasehat kebaikan dari guru nya tersebut

Mendakwahkan suatu amalan yang belum kita amalkan dan kita tetap berniat dan berusaha untuk mengamalkannya, sedangkan amalan tersebut sangat penting untuk sampaikan maka tidaklah berdosa kita untuk menyampaikannya bahkan ia tetap di tuntut untuk menyampaikannya. Maka apakah berdosa jika seorang mengajarkan di majelisnya masalah haji sedangkan ia belum melaksanakan haji begitu juga dengan masalah zakat, waris mu’alamah nikah dan sebagainya.

Dari Anas ra. ia berkata, kami bertanya, “Ya Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW. bersabda, “Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.” (HR. Thabrani).

Inilah jalan hidup umat, Allah berfirman :

Katakanlah, Inilah jalan (hidup)ku, (yaitu) mengajak (manusia) kepada Allah di atas ketetapan hati, (sebagai tugas) aku dan orang-oang yang mengikutiku” (QS. Yusuf 108)

Wallahu A'lam

Sebaik baik Jihad

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim” (HR. Abu Daud).

Begitu luas bumi ciptaan Allah ini yang sebenarnya bisa digunakan untuk menempatkan kata-kata yang benar. Namun, kadangkala untuk berkata benar seakan-akan sudah begitu sempit tempatnya, sehingga mencari tempat-tempat tertentu, seperti tempat-tempat ibadah saja.

Sedangkan tempat-tempat lain, tak terkecuali kantor-kantor untuk mengurus kepentingan umat, tak jarang dijadikan tempat berlangsungnya ketidak-benaran, Lebih-lebih bila dikuasai oleh para penguasa yang zalim. dan yang lebih mengenaskan lagi sudah tidak ada lagi keberanian dari umat islam untuk menyuarakan kebenaran , ketakutan bagai tikus yang hendak diterkam kucing.

"bukankah Allah yang seharusnya kalian takuti..?" al ayat

Di sekitar penguasa zalim, kebenaran seringkali lebih suka dimodifikasi menjadi apa yang paling menguntungkan mereka, terutama di hadapan penguasa zalim, orang-orang berilmu pun bisa “dibengkokkan” kelurusannya dan kehilangan marwahnya. Sebab, tidak sedikit orang yang berilmu tunduk untuk dimanfaatkan sebagai tameng pelindung kepentingan penguasa zalim. Juga tidak sedikit juga orang berilmu bekerja membenarkan keinginan penguasa, meskipun untuk hal-hal yang sebenarnya diketahui tidak benar. Itulah pengkhianatan besar terhadap ilmu sekaligus pengingkaran hati nurani yang sangat parah. Akibatnya, ketidak-benaran, ketidak-adilan, dan berbagai macam kejahatan lainnya merajalela dan berlangsung lama.

Padahal begitu besar penghargaan yang disiapkan untuk orang-orang yang mau “meluruskan” penguasa yang zalim, Akan diberikan pahala jihad, sesuatu pemberian yang sebenarnya sangat dinanti-nantikan oleh setiap manusia (beriman). Namun tawaran ini seringkali tenggelam dalam alam ketidaksadaran dan tidak sedikit  orang yang tergoda dan menjadi bengkok karena yang terasa lebih menyilaukan mata adalah harta dunia. Padahal terlepas dari ada-tidaknya tawaran itu, setiap orang wajib mempertanggungjawabkan ilmunya,dan hendaknya mereka mengatakan yang benar dan membenarkan kata-katanya.

Wallahu A'lam

Dari Tenaga Hingga Nyawa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dunia yang sengaja dijadikan indah dalam pandangan manusia, selalu menjadi rebutan bernafsu siang dan malam. Sampai-sampai ada yang memilih cara-cara yang tidak diridhai Allah untuk memuaskan hasrat merengkuh dunia dengan segala cara (menghalalkan segala cara). Karena itu, setiap orang diberikan tugas untuk memberi peringatan satu sama lain. Meskipun demikian, setelah memberi peringatan berkali-kali tidak ada perubahan, sebahagian orang merasa pasrah. Malah, ada yang memilih berhenti melakukannya. (sungguh jauh dari keteguhan hati yang seharusnya dimiliki oleh setiap aktivis dakwah)


Padahal kalau membuka kembali lembaran demi lembaran sejarah perjuangan Rasulullah, sungguh bukan suatu yang mudah menyampaikan peringatan. Beliau berjuang dengan apa yang dimiliki, mulai dari tenaga harta dan bahkan hingga nyawa. Satu orang demi satu orang beliau upayakan agar mau mendengarkan kebenaran yang disampaikannya. Tidak sedikit juga rintangan dan ancaman dihadapinya. Hingga akhirnya, apa yang disampaikannya mendapat sambutan orang banyak hingga kini....?

Sungguh suatu keberhasilan yang sangat mengesankan.

Kisah keberhasilan besar tersebut sepatutnya menggugah dan menginspirasi setiap orang untuk terus berusaha. Apalagi tidak akan pernah ada peringatan yang terbuang. Kalaupun tidak bermanfaat untuk merubah perilaku orang lain, peringatan akan bermanfaat sebagai pengingat bagi diri kita sendiri. Lebih-lebih Allah telah mengingatkan juga bahwa tugas manusia menyampaikan saja, adapun beriman atau tidak adalah terserah kepada masing - masing yang menerima.

Dan dijamin, setiap peringatan akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan bagi orang-orang yang ingkar, diperingatkan atau tidak, sama saja tidak akan mau berubah. Ukuran ini bisa menjadi alat penilai bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan orang lain: termasuk orang-orang yang mudah dan mau menerima peringatan kita atau kepada mereka yang memang tidak mau menerima peringatan dan atau golongan orang yang ingkar

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz Dzariyat: 55).

Wallahu A'lam

Shalat Taubat Bagi Pelaku Maksiat

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya yang berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman.

Allah adalah Tuhan semesta alam. Dia-lah penguasa langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dia menetapkan takdir bagi semua makhluk-Nya dan menetapkan syariat yang harus mereka jalankan. Dia menetapkan perintah dan larangan yang harus dipatuhi, dan juga menyiapkan balasan bagi keduanya. Siapa yang taat mendapat pahala sedangkan yang bermaksiat mendapat siksa. Sesungguhnya sejak awal Allah menciptakan manusia menyertakan kelemahan dalam diri mereka. Lemah untuk melaksanakan berbagai perintah Allah yang sangat banyak dan lemah dalam meninggalkan semua larangan karena banyaknya sarana yang memikat dan menarik. Orang yang merasa dirinya sempurna dan hebat, tidak akan mau bertaubat kepada Allah, karena merasa dirinya orang suci yang tidak memiliki dosa. Karenanya Allah berfirman:

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. Al Najm: 32)

Sesungguhnya taubat adalah kebutuhan seorang hamba yang memahami kewajibannya dan kelemahan dirinya dalam melaksanakan seluruh kewajiban tersebut. Maka banyak sekali kita dapatkan dari ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menganjurkan dan memotifasi seorang mukmin untuk bertaubat. Di antaranya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لاَ يُخْزِي اللهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya." (QS. At-Tahrim: 8)

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

أَفَلاَ يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Maidah : 74)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

"Sungguh Allah 'Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk merima taubat pelaku dosa di siang hari, dan akan membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat pelaku dosa di malam hari." (HR. Imam Muslim)

Diriwayatkan dari Rifa'ah Al-Juhni, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ مِنْ اللَّيْلِ نِصْفُهُ أَوْ ثُلُثَاهُ قَالَ لَا يَسْأَلَنَّ عِبَادِي غَيْرِي مَنْ يَدْعُنِي أَسْتَجِبْ لَهُ مَنْ يَسْأَلْنِي أُعْطِهِ مَنْ يَسْتَغْفِرْنِي أَغْفِرْ لَهُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

"Sungguh Allah akan memberi tangguh, sehingga berlalu setengah atau sepertiga malam, lalu berfirman: 'hambaku tidak meminta kepada selain-Ku, maka siapa saja yang berdoa kepada-Ku pasti kan Ku kabulkan, siapa saja yang meminta kepadaku pasti kan kupenuhi permintaannya, siapa saja yang memohon ampun pada-ku pasti kan kuampuni sehingga terbit faja'." (HR. Imam muslim dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

"Sungguh Allah sangat gembira dengan taubat hambanya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi senangnya seorang hamba yang bepergian dengan kendaraannya di sebuah negeri yang gersang, lalu kendaraannya tadi hilang, padahal bekal makan dan minumnya berada di atasnya, lalu ia patah harapan untuk mendapatkannya, lalu ia berteduh di bawah pohon dengan diliputi kekecewaan. Ketika seperti itu, tiba-tiba kendaraannya berdiri di sampingnya, lalu ia pegang tali kendalinya, kemudian berkata dengan gembiranya : "Ya Allah, Engkau adalah hambaku sedangkan akku adalah tuhan-Mu!! Dia telah melakukan kesalahan karena terlalu gembira." (HR. Muslim)

Sebenarnya ia ingin berkata: "Ya Allah, Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu", tapi lidahnya terbalik seperti di atas karena kegembiraan yang luar biasa. Maka Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ

"Seandainya kalian semua melakukan kesalahan (dosa), sehingga dosa kalian mencapai setinggi langit, kemudian kalian bertaubat pasti Allah akan mengampuni kalian." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Shahihah: 2/604)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Misykah dan shahih sunan Ibni Majah)

. . . Sesungguhnya taubat adalah kebutuhan seorang hamba yang memahami kewajibannya dan kelemahan dirinya dalam melaksanakan seluruh kewajiban. . .

Syarat Pokok Taubat

Sementara syarat pokok bagi orang yang bertaubat: Pertama, benar-benar menyesali perbuatan maksiatnya. Kedua, meninggalkan kemaksiatan yang telah dikerjakannya. Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya jika kesempatan serupa datang kepadanya. Keempat, memperbanyak istighfar (meminta ampunan) kepada Allah Ta'ala. Kelima, mengikutinya dengan amal-amal shalih dengan harapan supaya amal kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukannya.

Disyariatkannya Shalat Taubat

Dengan rahmat Allah yang luas, Dia menjadikan perbuatan dosa sebagai titik tolak untuk mendapatkan ridha-Nya. Yaitu dengan bertaubat kepada-Nya. Bahkan Dia menjadikan kegiatan taubat dari dosa sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Karenanya, Dia Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan satu amal utama dalam Islam yang bisa dijadikan sarana oleh seorang mudznid (orang yang berdosa) dalam mengharap agar diterima taubatnya, yakni shalat taubat.

Empat Imam Madhab bersepakat atas disyariatkannya shalat taubat. Dasarnya adalah hadits dari Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

"Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya."

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [QS. Ali Imran: 1365]." (HR. Abu Dawud no. 1521. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Penulis Shahih Fiqih Sunnah dalam megomentari hadits di atas, "Dalam sanadnya terdapat kelemahan, hanya saja ayat tersebut menguatkan maknanya. Di samping itu, hadits ini juga dishahihkan oleh sebagian ulama." (Shahih Fiqih Sunnah: 2/95)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, lalu berdiri shalat dua rakaat atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu' dalam shalatnya, kemudian beristighfar (meminta ampun) kepada Allah 'Azza wa Jalla , pasti Allah megampuninya." (Para pentahqiq al-Musnad mengatakan: Isnadnya hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkannya dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 3398). Wallahu Ta'ala A'lam. 

[voa-islam.com]

Bertaubat Dan Minta Maaf

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Makna memberi maaf sebenarnya ialah engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. sedangkan makna meminta maaf adalah dalam dirimu ada hak orang lain dan atau engkau mempunyai hutang kepada orang lain, maka kamu harus melunasinya

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).

Belajar Memaafkan Dari Rasulullah

Setelah pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dihadapan orang-orang yang selama ini gigih memusuhinya, Rasulullah berkata : “Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka: “Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah.” Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: “Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas.” Begitu luruh jiwa Nabi, karena dengan ucapan itu kepada kaum Quraisy dan kepada seluruh penduduk Makkah, beliau telah memberikan amnesty (ampunan) umum. Padahal saat itu nyata mereka tergantung hanya di ujung bibirnya dan kepada wewenangnya atas ribuan bala tentara Muslim yang bersenjata lengkap yang ada bersamanya. Mereka dapat mengikis habis penduduk Makkah dalam sekejap hanya tinggal menurut perintah dari Nabi.

Dengan pengampunan dan pemberi maaf itu, jiwa Nabi telah melampaui kebesaran yang dimilikinya, melampaui rasa dengki dan dendam di hati, menunjukkan bahwa beliau bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Beliau bukan seorang tiran, yang mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. 

Padahal Nabi mengenal betul, kejahatan orang-orang yang diampuninya itu. Siapa-siapa di antara mereka yang berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya para pengikutnya. Mereka melemparinya dengan kotoran bahkan dengan batu saat mengajak manusia ke jalan Allah. Begitu pemaafnya Rasulullah sekalipun itu kepada orang yang selalu menebar permusuhan, meneror dan mengancam keselamatannya. Rasulullah begitu pemaaf, Tuhan juga Maha mengampuni kesalahan hamba-Nya. 

Lantas apakah kita manusia susah dan atau sulit serta tidak mau memberikan ma’af  serta terus menerus dalam kebencian , kedengkian dan permusuhan ?

Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf “menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. 

Allah swt berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah mendzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya Aisyah yang juga istri Nabi. Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22).

Lantas bagaimana jika seandainya kita ingin meminta maaf kepada seseorang namun seseorang tersebut telah meninggal dunia...? Apakah Allah Mengampuni Kita Jika Kita Tidak Sempat Meminta Maaf Kepada Orang yang Sudah Meninggal ?

Kalau tidak sempat meminta maaf karena yang bersangkutan telah meninggal dunia, atau sebab lain, Anda mendoakannya merupakan salah satu cara yang semoga dapat meluluhkan hati yang teraniaya sehingga tidak menuntut. 

Hal itu bisa juga dilakukan dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan memperbanyak membaca istighfar dan memperbanyak amal shalih dan kebajikan sambil berdoa sebagaimana diajarkan Nabi Saw, yaitu, “Ya Allah, sesungguhnya ada dosa yang aku lakukan terhadap-Mu dan ada juga terhadap hamba-hamba-Mu. Apa yang terhadap-Mu kumohonkan kiranya Engkau ampuni, dan apa yang terhadap hamba-hamba-Mu kumohon kiranya Engkau ambil dariku.” 

Khusus kepada yang bersangkutan disini admin mengambil dasar sama halnya seperti hutang piutang, dimana jika kita memiliki hutang kepada seseorang sampai seseorang tersebut meninggal dunia maka haq harta tersebut adalah kemudian akan jatuh kepada ahli warisnya (keluarganya , baik istri , ayah , anak , saudara atau mereka yang masih dalam lingkaran muhrim).

Meskipun nantinya tidak otomatis menghapus dan atau mendapatkan ampunan dari yang bersangkutan (karena tidak ada dosa turunan)  setidaknya kita telah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya dan mengakui segala khilaf dan dosa yang pernah kita lakukan. dan barang siapa yang bersungguh sungguh bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan jeleknya Insya Allah , Allah Maha Penerima Taubat. 

Selain itu hal tersebut juga dapat mempererat tali silaturahmi yang mungkin dimasa sebelumnya terputus karena kesalahan antar keluarga , sehingga nantinya diharapkan ukhuwah islamiyah akan kembali terjaga setelah adanya pengakuan dan permohonan maaf yang tulus.

Wallaahu A’lam.

Ya Allah, sesungguhnya ada dosa yang aku lakukan terhadap-Mu dan ada juga terhadap hamba-hamba-Mu.

Apa yang terhadap-Mu kumohonkan kiranya Engkau ampuni, dan apa yang terhadap hamba-hamba-Mu kumohon kiranya Engkau ambil dariku,

Ya AllahTerimalah Taubatku dan Ampunilah Diriku, Engkau Maha Penerima Taubat  Engkaulah Sebaik - baiknya Pemberi Ampunan 

Kalau ada pendapat yang lebih berilmu…. tentu akan sangat bermaafat bagi kita semua…. silahkan mengomentarinya… menambahkannya… mengkoreksinya….

Paling Berat Dan Paling Ringan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW., "Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam ?"

Nabi bersabda, "Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Sementara yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur." (HR. Ahmad Bazzar)

Yang menarik untuk kita ungkap dari hadits tersebut adalah mengapa posisi kejujuran jauh lebih berat dilakukan dibandingkan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain) ? Padahal sejarah mencatat, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW. rela berkorban menerima siksaan, baik secara fisik maupun psikis, sebagai akibat dari keberanian mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagai contoh, seorang budak Habsyi, Bilal bin Rabbah RA. yang dilempar di atas padang pasir yang sangat terik, merelakan dadanya ditindih dengan batu. Sumayyah binti Khayyath, istri Yasir RA., yang juga tercatat sebagai wanita pertama yang syahid dalam Islam mengikhlaskan untuk dipanggang hingga meningggal karena tidak mau kembali dari agama Islam kepada agama nenek moyang mereka.

Yang perlu digarisbawahi adalah dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh Sumayyah binti Khayyath, Bilal bin Rabbah, dan para sahabat nabi yang lain, tentu saja tidak lahir dengan spontan. Ada proses yang panjang yang mereka lewati sampai pada akhimya muncul kejujuran untuk mengakui bahwa Allah SWT. dan Muhammad SAW. sebagai Tuhan dan nabi mereka. Kejujuran itu mereka ungkapkan dengan dua kalimat syahadat.

Mengucapkan dua kalimat syahadat menuntut kejujuran dan keikhlasan. Ia bukan sekadar formalitas untuk menjadi Muslim, tetapi lebih jauh dan dalam adalah sebagai bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang dalam untuk menerima Islam sebagai sistem hidup. Bila seorang Muslim jujur dalam menerima syahadat ini, tidak akan terjadi penolakan terhadap hukum-hukum yang Allah sudah tetapkan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan Laa ilaaha illallah kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga." (HR. Bukhari)

Artinya, mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan amalan yang mudah untuk dilakukan. Yang sulit adalah menumbuhkan kejujuran dan keikhlasan ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Untuk memperkuat argumentasi bahwa kejujuran merupakan amalan yang paling berat dalam beragama Islam adalah karena kejujuran adalah kunci dari segala kebaikan. Artinya, ketika seseorang sudah bisa berlaku jujur, ia akan menjadi orang baik. Sebaliknya, jika seseorang sudah nyaman berada dalam ketidakjujuran, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan terjerembab dalam kemaksiatan dan keterpurukan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat yang baru masuk Islam. Sebelumnya ia dikenal sebagai ahli maksiat; berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Rasulullah memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong !"

Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini. Namun ternyata, implikasinya begitu luar biasa karena mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa ia selalu teringat pada nasihat Rasulullah SAW. Sementara untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah SAW.

Kisah di atas memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya sebuah kejujuran. Rasulullah SAW. sudah bisa memprediksi kalau seseorang mempunyai sifat khianat, tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, ia akan jatuh dalam perbuatan dosa dan tenggelam dalam keterpurukan. Apalagi kalau sifat khianat, tidak jujur, dan gemar berdusta ini dilakukan secara kolektif oleh para pemegang kekuasaan di sebuah negara, sudah dapat dipastikan negara tersebut akan terjerembab ke dalam jurang keterpurukan yang luar biasa dahsyatnya. Apa yang dikhawatirkan Rasulullah ternyata sedang menimpa hampir seluruh lapisan masyarakat saat ini.

Diseluruh Dunia dan bukan hanya Indonesia sedang dirundung krisis multidimensi; krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis politik, dan berbagi krisis lainnya. Krisis multidimensi inilah yang menyebabkan bangsa bangsa terpuruk. Salah satu sumber keterpurukan tersebut adalah sifat tidak amanah, tidak jujur, dan gemar berdusta yang sudah mendarah daging dan berurat akar pada sebagian anak bangsa.

Sifat tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, curang, dan sifat rakus, diduga telah merasuki segala ranah kehidupan, mulai institusi negeri, swasta, hingga rakyat jelata. Lebih memprihatinkan lagi seolah telah menjadi tradisi. Dipicu oleh materi, terutama yang bernama uang, membuat orang sukar berpikir jernih dan berkata jujur. Institusi yang seharusnya bersih dan berwibawa, dicederai oknum di dalamnya, seakan terbenam dalam "permainan kotor", membuat kepercayaan publik kian memudar.

Di kalangan birokrat, gratifikasi telah membuat beberapa pejabat publik gamang mengutamakan nasib publik. Ada tradisi seolah hal lumrah, pegawai di lapangan, kalau tak ada "uang rokok", ajuan pembuatan KTP atau administrasi lebih sering jalan di tempat dari yang semestinya.

Di kalangan swasta, oknum kontraktor "biasa" mengerjakan projek jauh di bawah spek yang disepakati, akibatnya banyak bangunan roboh dengan umur jauh diperkirakan. Kontraktor beralasan, semua ini dilakukan untuk menutupi "biaya siluman" yang mesti dikeluarkan sebelumnya.

Kehidupan rakyat jelata pun turut terkontaminasi. Beberapa pedagang di pasar suka nakal mengoplos barang bagus dengan barang bermutu rendah, "bermain-main" dengan timbangan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani memperjualbelikan ayam tiren atau mencampurkan daging celeng untuk dijual tanpa lagi mempersoalkan halal-haram atau benar-salah.

Gurita ketidakjujuran kolektif yang disinyalir menjadi penyebab bangsa-bangsa didunia dan tidak hanya di Indonesia selalu berada dalam keterpurukan yang mustinya itulah yang harus kita putus sekarang juga. Hal itu tentu saja harus dilakukan mulai dari lingkungan terkecil. Mulai dari diri kita, keluarga, tetangga, lingkungan tempat kerja, dan seterusnya

Perubahan besar biasanya diawali dari hal-hal kecil, namun ... acapkali hal tersebut hanya akan menjadi isapan jempol semata, dan hanya akan berjalan beberapa waktu saja, dan seperti itulah adanya, manusia adalah umat yang satu dan satu sama lain saling mempengaruhi, apa yang orang lakukan di jawa , di sumatra, dikalimantan dan atau bahkan dinegara lain akan saling mempengaruhi, dan tidak bisa tidak terutama dimasa dan era globalisasi seperti sekarang ini.

Bersatu ......!! atau tetap seperti sediakala....! dan biarlah....... ?

Damai Dan Tentram Menuju Ampunan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Berlomba-lombalah kamu sekalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada yang dikehendakiNya” (QS. Al Hadid: 21).

Begitu dahsyat perlombaan merebut hati manusia, sehingga tidak sedikit yang mengalami kekalahan dan kesengsaraan. Seperti kekalahan dalam merebut hati rakyat dalam pemilihan umum. Tak mungkin semuanya menang. Namun, tidak demikian dengan perlombaan menuju ampunan Allah.

Bila penduduk dunia ini berlomba menuju ampunan Allah, setiap jengkal bumi ini akan damai. Akan jauh dari pelanggaran, kekalahan, kesengsaraan, dan sejenisnya. Sebab, semakin banyak manusia berpartisipasi dalam menuju ampunan Allah, semakin tercipta rasa persaudaraan antar sesama manusia. Semakin banyak manusia yang merasa dirinya sama dengan orang lain sebagai makhluk Allah. Semua akan merasa tak punya ilmu, kecuali hanya setetes saja.

Dengan cara demikian, akan hilang kebencian antar sesama. Tak akan timbul keinginan untuk menganiaya orang lain. Akan tak ada pembunuhan. Sebab, setiap orang yang berlomba menuju ampunan Allah faham bahwa kebencian, menganiaya orang lain, membunuh, dan kejahatan lainnya, merupakan sikap dan perbuatan yang menjauhkan diri dari ampunan Allah.

Juga, tak ada kekalahan dalam berlomba menuju ampunan Allah. Kalau melakukan dengan benar, semua akan meraih kemenangan. Apalagi Allah berjanji mengampuni hamba-hambaNya, tanpa membeda-bedakan, yang benar-benar mencari ampunanNya.

Wallahu A'lam

Mengepung Dunia Dengan Kebaikan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Mengepung dunia dengan kebaikan, Disaat Dunia dikepung oleh kejahatan , Mengepung dunia dengan kegembiraan, Disaat dunia penuh dengan Kedukaan , Mengepung dunia dengan Rahmat dan kasih sayang, Disaat dunia penuh dengan musibah dan ujian , Mengepung dunia dengan perdamaian , Disaat dunia penuh dengan peperangan

Saling serang dan saling merobohkan antara dua pihak yang bermusuhan adalah hal yang wajar. Keduanya saling menjalankan taktik dan strateginya. Sementara itu mungkin ada pihak yang mendapatkan medan dan posisi yang lebih baik dan menguntungkan, sehingga dapat mengepung lawannya dan dengan begini diharapkan mereka dapat mematahkan kekuatan lawan. Demikian yang terjadi di dunia permusuhan atau peperangan.

Namun diantara bangsa manusia dan bangsa syaithan yang berperang, agaknya pihak syaithanlah yang mungkin mendapat kesempatan atau saat yang lebih baik. Syaithan mendapatkan posisi yang sedemikian rupa, sehingga mungkin mereka dapat mengepung manusia. Sasaran yang di anggap empuk oleh syaithan itu dikepung dari segala penjuru dan arah. Bila dari arah yang satu gagal, dari arah yang lain mungkin berhasil. Demikian seterusnya, seribu arah telah dikuasai syaithan, segala posisi telah ditempatkan senjata dan bala tentara untuk menyerbu manusia. Gagal yang satu, lainya maju. Dua gagal yang lian tetap menyerang. Berapapun hasil yang mereka dapatkan mereka tidak pernah puas dan akan selalau menggempur manusia dengan segala bisikan dan tipu muslihatnya.

Menurut tekad dan janji syaithan diwaktu pertama kali dikutuk Allah. Dikarenakan sikapnya yang menantang perintah Allah tidak mau menyemah kepada Adam dahulu , dia akan masuk neraka , maka syaithan bertekad akan mengepung anak cucu Adam. Tekad dan janji syaithan itu di ucapkan kepada Allah, setelah permohonan syaithan supaya siksa yang akan diterimanya ditangguhkan sampia hari kiamat, ternyata permohonan itu dapat diterima oleh Allah. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh syaithan untuk menggoda manusia agar masuk neraka bersama mereka.

iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (Qs 7:16)

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(QS 7:17)

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wata'ala menerangkan dendam kesumat iblis kepada Adam dan anak cucunya. Oleh karena Allah Subhanahu Wata'ala telah menghukum dia akibat keangkuhan dan kesombongannya, maka dia bersumpah dan akan berusaha sekuat tenaga menggoda untuk menyesatkan pula anak cucu Adam a.s. blis akan berusaha mencegah dan menghalang-halangi anak cucu Adam a.s. menempuh jalan yang lurus, jalan yang hak, jalan yang diridai Allah Subhanahu Wata'ala, jalan yang akan menyampaikan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Banyak orang yang member penafsiran bahwa menggoda dari depan adalah untuk urusan akherat, dari arah belakang untuk urusan dunia, dari arah kiri untuk urusan dosa dan dari arah kanan untuk urusan agama. Ibnu Abi Talhah berkata (dari Ibnu Abbas), bahwa dari arah muka artinya untuk urusan dunia, dari belakang artinya untuk urusan akherat, dari arah kanan untuk urusan kebaikan dan dari arah kiri untuk urusan keburukan. Dan bermacam-macam lagi tafsiran dari satu dengan yang lain, yaitu syaitan mengepung manusia supaya bersama-sama menjadi kawannya masuk neraka.

Menurut tafsir yang mu’tamad, artinya dari arah depan adalah menggoda kepada manusia supaya lupa akan hari depan, lupa kepada waktu dan umurnya yang sebenarnya semakin berkurang, lupa kalau sesungguhnya semua amal perbuatan akan dihisab dihari kemudian. Padahal dunia ini hanyalah tempat bernaung sekejap saja, tempat rantau yang sebentar, Cuma mampir sebentar saja.

Menggoda dari arah belakang artinya menggoda tentang urusan dunia, yakni dunia yang ditinggalkan dibelakang inilah yang di nomor satukan. Segala waktu, tenaga dan fikiran tercurah kepada urusan dunia. Kemegahan, kemewahan, kebendaan dan harta dunia adalah perkara yang ada dibelakang manusia, sebab semua itu akan ditinggalkan, sebab semua itu akan ditinggalkan. Sedangkan manusia terus maju menuju arah tua dan kematian dan akhirnya dipanggil Allah ke alam baka.

Arah kanan artinya arah yang baik. Usaha dan perbuatan yang baik dari manusia akan digagalkan syaithan . Niat yang baik dan terpuji dicoba untuk diurungkan. Perbuatan yang tampaknya baik akan diwarnai dengan ketidak ikhlasan. Luarnya tampak baik akan tetapi didalam isinya busuk. . Amal perbuatan tampaknya mulia, dinodai dengan ria, sombong dan congkak .

Sebaliknya amal perbuatan manusia yang jelek diwarnai dengan lapisan sutera yang indah gemerlapan. Bid’ah dianggap baik, dan amal yang salah disulap agar di anggap baik dan benar menurut manusia. Jelasnya syaithan menghiasi amal-amal jelek manusia agar kelihatan baik atau seakan akan benar. Lagu pula, manusia diajak berbuat dosa dan maksiat, diajak mendurhakai Allah. Inilah intinya syaithan mengoda dari arah kiri.

Allah Berfirman : Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". (QS 7: 18)

Nah, barang siapa yang tidak kuat pertahanannya, maka akhirnya dia akan tergelincir oleh perdayaan syaithan dan masuk neraka bersama-sama dengan syaithan . hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh syaithan sesuai dengan sumpahnya :”Demi Kebesaran Engkau wahai Tuhan, sesungguhnya saya bakal menyesatkan mereka semuanya. (Qs 38:82)

Imam Fakhrurrazi dalam Tafsir Al-Kabir memberikan pertanyaan retoris. Bagaimanakah manusia bisa selamat dari ancaman setan, karena ia mengepung manusia dari empat penjuru arah mata angin? Bisakah manusia mengalahkan setan yang tak terlihat oleh mata itu?

Menurut Imam Fakhrurrazi, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengalahkan setan, yakni atas dan bawah, yakni saat manusia berdoa dan bersujud kepada Allah. Sementara itu, Imam Asy-Sya’rawi menegaskan, sesungguhnya manusia bisa mengalahkan setan, selama ia senantiasa bersama Allah Subhanahu Wata'ala.

Rasulullah memberikan rahasia kekuatan setan. “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah ketika masuk dan saat makan, maka setan akan berkata kepada sobat-sobatnya, “Kita tidak punya tempat tidur dan tidak bisa makan malam ini.” Sedangkan apabila ia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, “Malam ini kita punya tempat untuk tidur.” Dan apabila tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata, “Kita punya tempat untuk tidur dan kita bisa makan malam ini.” (HR Muslim).

Ada sebuah riwayat yang menceritakan pertemuan dua setan. Yang satu berbadan tegap, berpakaian bagus dan berwajah cerah ceria. Sedangkan yang lainnya berbadan kurus, berpakaian compang-camping dan berwajah sedih. “Kenapa keadaanmu begitu menyedihkan? Badanmu kurus kering, pakaianmu compang-camping?” tanya setan pertama. Setan kedua menjawab, “Manusia-manusia yang kuikuti selalu membaca basmalah saat mereka makan, berpakaian, dan ketika memasuki rumahnya. Bagaimana mungkin aku bisa makan enak, berpakaian bagus, dan tinggal di rumah mereka? Kini aku lemah tak punya tenaga untuk menyesatkan mereka.”

“Sungguh menyedihkan keadaanmu. Berbeda jauh denganku, orang-orang yang kuikuti tak pernah menyebut nama Allah, baik saat makan, minum, berpakaian, ataupun saat masuk ke rumahnya. Sehingga, aku punya kekuatan untuk menyesatkan mereka.”

Sesungguhnya, kunci kekuatan setan adalah di saat manusia lupa dan lalai mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat makan, tidur, berpakaian, maupun lainnya, termasuk menjalankan perintah Allah. Dan untuk mengendalikan setan adalah senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.

Bersambung…….. Insya Allah

Hikmah Dan Pelajaran Yang Baik

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kejujuran baik dalam ucapan maupun perbuatan adalah pangkal semua perbuatan baik manusia, tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuranlah yang mendasarinya. Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun kebanyakan mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, kebanyakan mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan.

Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antar pegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapan dan pendiriannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan.

Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman :

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Q.s. Fushshilat: 34-5).

"Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.s. an-Nahl: 125).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi "teman yang setia". Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun A.S agar mendatangi Fir'aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir'aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur'an :

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Q.s. Thaha: 43-4).

Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahwa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka mentaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

Sebenarnya alangkah lebih baik jika kita lebih suka menggunakan sudut pandang give dalam mengartikan dan menjalani setiap kejadian hidup dan kehidupan, karena hidup sebagai seorang hamba Allah Subhanahu Wata'ala sejatinya selalu ingin memberi, membagi keindahan Islam dengan saudara-saudarinya, apapun , dimanapun dan bagaimanapun dan bukannya berfokus terhadap dirinya sendiri seolah dirinya yang paling berat menahan beban perjuangan atau “terjatuh” sendirian dan merasa bahwa setiap mata memicing kepadanya, padahal mungkin di sekitarnya terdapat saudara-saudarinya yang juga berada dalam kondisi yang sama atau bahkan jauh lebih membutuhkan perhatian.

Hanya saja, ia tetap bertahan dalam senyumnya karena ia yakin bahwa senyum itu lebih baik. Ia yakin bahwa Yang Rahiim akan memberikan ganjaran yang besar manakala ia sabar dalam ujian dan ketaatan kepada-Nya. Ia ingin menuntaskan urusannya sendiri dengan hanya bergantung kepada Yang Maha Kuasa, lantas ia tegak berdiri dan berkata ‘Siapa lagi saudara-saudariku yang membutuhkan bantuan...?’ ‘Dengan siapa lagi aku dapat berbagi keindahan Islam hari ini...?’

Wallahu A'lam

Menanam Benih Berjuang Dijalan Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
SEJAK awal perkembangan Islam, langkah fundamental yang diambil oleh Rasulullah Saw untuk membumikan nilai-nilai Islam, adalah mencari lingkungan yang steril dari kontaminasi dan dominasi hukmu al jahiliyyah (hukum jahiliyah), tabarruj Al Jahiliyyah (tatanan sosial yang mengabaikan moral), Zhan Al Jahiliyyah (gaya hidup yang menuhankan materi), hamiyyatul jahiliyyah (kultur jahiliyah) dalam segala dimensinya.

Membangun Islam dalam lingkungan yang tidak kondusif dengan begitu, laksana menanam benih di lahan yang gersang, kering kerontang. Tentu benih yang ditanam tidak akan tumbuh menjadi tanaman yang subur. Bahkan, kemungkinan besar akan layu. Hidup segan, mati tak mau. "Laa yamuutu wa laa yahyaa."

Umar bin Khathab ketika memimpin upacara pemberangkatan para dai ke berbagai belahan dunia: Fii ayyi ardhin taqo’ anta mas’ulun ‘an Islamiha (di bumi manapun anda berdiam, anda memiliki tugas untuk mengIslamkan penduduknya).

Selama 13 tahun Rasulullah Saw dan para sahabatnya berIslam di Makkah, terbukti hanya beberapa gelintir orang yang menyambut seruannya. Itupun, sebagian besar berasal dari kalangan grass root (mustadh’afin)..Karena lingkungan sosial Makkah didominasi kemusyrikan. Penyakit molimo (minum, mencuri, membunuh, main perempuan, berjudi, memakan riba) yang diderita masyarakat sudah pada stadium akut.

Rasulullah Saw bersabda : “Seseorang itu tergantung agama kekasihnya, maka lihatlah kepada siapa ia berteman.” (HR. Ahmad )

Dalam Hadits lain disebutkan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tua lah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu pentingnya sebuah lingkungan (al Biah), sehingga sastra arab mengatakan : “Nahnu ibnul biah.” (kita adalah produk sebuah lingkungan). Ada ungkapan lain yang senada: “Al Jaaru qabla ddar.” (mencari tetangga yang sepaham/sefikrah terlebih dahulu sebelum membangun rumah). Manusia itu diperbudak oleh kebiasaan dimana ia berdiam, kata sastra Arab. Seseorang yang akrab, dekat dan erat dengan penjual minyak wangi, akan terkena bau wangi, seseorang yang dekat dengan pandai besi, akan kecipratan bau besi. Seseorang yang dekat dengan orang-orang pilihan, ia akan terpengaruh oleh mereka.

Jadi, lingkungan yang Islami merupakan hidden curiculum yang akan merekonstruksi/menata ulang struktur kepribadian penghuninya menjadi Islami. Sebaliknya kawasan yang jahili akan membentuk pola pikir dan sikap mental jahiliyah penghuninya pula.

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah, seperti tamsil hujan lebat mengguyur bumi. Maka ada tanah yang bagus menerima air kemudian menumbuhkan tanaman hijau dan rumput yang banyak. Dan ada tanah keras yang bisa menahan air, kemudian Allah berikan manfaatnya bagi manusia, sehingga mereka bisa mengambil air minum, menyirami, dan bercocok tanam. Dan ada lagi hujan yang mengguyur bumi yang licin, tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah tamsil orang yang memahami agama Allah dan petunjuk yang aku diutus Allah dengannya memberi manfaat baginya, maka ia tahu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tamsil orang yang tidak peduli dengan agama Allah dan tidak menerima hidayah Allah dengannya aku diutus.”
(HR. Bukhari, Shahih Al Bukhari 1/28).

Ketika Rasulullah Saw dan para sahabat As Sabiqun Al Awwalun ( angkatan Islam pertama) itu merasakan bumi Makah terlalu sempit menampung idealisme tauhid, Beliau ekspansi dakwah dan mencari basis teritorial lain yang lebih menjanjikan. Sehingga beliau memilih tanah Thaif sebagai alternatif pertama, tetapi respon kaum Thaif tidak menyenangkan. Bahkan beliau dilempari dengan batu. Kemudian mengadakan hijrah ke Habasyah. Namun imigrasi yang kedua ini kurang lebih sama dengan tujuan hijrah pertama. Sekalipun Raja Habsyi cukup toleran, hanya ghulam (seorang pemuda) yang masuk Islam ketika tertarik melihat Rasulullah Saw makan dengan membaca doa.

Baru setelah hijrah ke Madinah terjadi perkembangan spektakuler baik dari segi kaulitas maupun kuantitas kaum Muslimin. Dalam waktu 10 tahun di Madinah, kaum muslim tercatat 10.000 orang. Peristiwa hijrah ini kemudian dijadikan Khalifah Umar bin Khathab sebagai momentum penetapan tahun baru Islam. Sekalipun banyak peristiwa besar yang mendahuluinya, seperti pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abraha untuk menghancurkan Ka’bah dll. Dari sini titik tolak perubahan totalitas kaum muslimin pertama terjadi.

Pelajaran Fundamental Hijrah

Ada beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah ini, dikaitkan “hijrah” modern dengan visi membangunan peradaban Islam ke depan.

Pertama: Reformasi itu dimulai dari level kepemimpinan

Yang perlu diluruskan bahwa hijrah itu tidak identik dengan urbanisasi. Karena hijrah itu menuntut adanya perubahan secara radikal dan total. Dan setiap perubahan itu, berimplikasi sangat jauh. Perubahan itu memerlukan pengorbanan, maka terasa pahit. Apalagi jika seseorang itu telah membangun imperium, kedaulatan, status quo sudah sedemikian kokoh. Dipagari oleh kesetiaan dan hak-hak istimewa. Dalam kondisi demikian, perubahan itu biasanya ditafsirkan dengan instabilitas, anti kemapanan dll.

Dari berbagai teori perubahan, kejatuhan dan kebangunan negara dapat dipahami bahwa perubahan itu akan sukses jika di pelopori dari setiap individu, utamanya kalangan elitis sebuah komunitas. “Taghyiiru khuluqil ummah taabi’un litaghyiiri khuluqil qiyadah,” (perubahan sebuah bangsa berbanding lurus dengan kesiapan berubah di kalangan elit kepemimpinan), kata Ibnu Khaldun. Jika kita getol menyapu lantai rumah, sementara kotoran atapnya dibiarkan menempel, maka lantai akan kotor kembali.

Kedua: Komitmen terhadap regenerasi

Kepimpinan yang baik adalah mempersiapkan penggantinya. Penerus dan pewaris perjuangannya. Sebab usia seorang pemimpin umumnya lebih pendek dibandingkan dengan nilai immaterial, misi yang diperjuangkan. Bahkan ummat Muhammad hanya berumur berkisar 60 sampai 70 tahun (HR. Ahmad). Nilai-nilai moral yang tidak secepatnya diwariskan, maka negara, intitusi, akan kurang dinamis dalam merespon perubahan sekitarnya. Yang dimaksud kader disini adalah seseorang yang dididik, disiapkan, disetting, untuk melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam sebuah keluarga, partai, intitusi, lembaga, negara. Oleh karena itu sebelum Rasulullah Saw hijrah, telah mempersiapkan Ali untuk menggantikan tempat tidurnya. Dengan regenerasi maka kesinambungan amal dan transfer nilai akan berjalan dengan baik.

Ketiga: Memperkuat Sandaran Vertikal

Ketika rumah Rasulullah Saw sudah dikepung oleh para algojo dari berbagai kabilah Arab untuk menghabisi nyawanya, beliau tetap memiliki kestabilan jiwa. Hal ini merupakan salah satu buah ketargantungannya (ta’alluq) kepada Al Khaliq yang sudah terlatih selama 13 tahun di Makkah. Bahkan pada malam hari, saat memutuskan berangkat secara rahasia bersama kekasihnya Abu Bakar, beliau membacakan salah satu firman Allah Swt. :

وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدّاً وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدّاً فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ

“Dan Kami adakan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin 36/9).

Setelah itu para algojo itu tidak bisa mendeteksi kepergian Rasulullah Saw. karena dibuat mengantuk oleh Allah. Setelah memasuki rumah beliau merasa terheran-heran, ternyata yang menempati tidur Rasulullah Saw adalah anak pamannya Abu Thalib, Ali kw. Betapa terkejutnya mereka. Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar yang lebih canggih kepada mereka.

Sebuah bangsa yang dibangun tanpa memperhatikan aspek moral, keterlibatan Tuhan maka ucapkanlah taziyah (ucapan terakhir untuk mayit) kepada bengsa itu. Negara yang dibangun dengan mengabaikan peranan Tuhan, laksana membangun istana pasir atau permukaan balon. Negara itu akan keropos, mudah rapuh oleh tangan jahil penghuninya atau oleh konspirasi eksternal.

Keempat: Membangun sinergi dengan pihak lain

Sesungguhnya eksistensi sebuah peradaban sangat didukung oleh ketrampilannya dalam membangun kerjasama dengan pihak lain. Untuk mendukung keberhasilan hijrah, Rasulullah Saw bekerjasama dengan penggembala kambing orang Nasrani (Abdullah) untuk menghilangkan jejak dan rute yang dilewati. Sehingga beliau dan Abu Bakar menaiki Gua Tsur dengan aman. Tanpa sepengetahuan musuh-musuhnya.

Sesungguhnya ajaran Islam menjunjung tinggi kerjama dalam kebaikan dan taqwa. Dan menolak sinergi dalam perbuatan dosa dan permusuhan.Ciri yang paling menonjol akhlaq Islam dengan agama lain adalah menjunjung tinggi kesepahaman dan tidak menghalalkan segala cara. Bertolak belakang dengan sistem politik Machiavelli. “Al ghoyatu tubarrirul wasaa-il” (segala cara ditempuh, demi mencapai tujuan). Maka ada sebuah pameo; “Tidak ada kawan abadi, yang kekal adalah kepentingan.”

Disamping konsep Islam teguh dalam persoalan prinsip, terbuka pula dalam menerima perubahan-perubahan yang bersifat tekhnikal. Rasulullah telah mengajarkan sikap keterbukaan dalam memandang perbedaan. Perbedaan pandangan adalah suatu fitrah. Bahkan dengan beragam perbedaan itu bisa mendewasakan seseorang. Yang penting, mensiasati dan mengelola perbedaan itu agar menjadi produktif. Islam mengajarkan sepakat dalam persoalan prinsip dan toleran dalam perbedaan yang bersifat non prinsip. Oleh karena itu, kita dituntut menyederhanakan perbedaan dan mengedepankan kesepahaman. Dengan kerjasama yang baik antara berbagai komponen komunitas (pemimpin (Rasulullah), generasi tua (Abu Bakar), kalangan pemuda (Ali krw) kesulitan dan tantangan seberat apapun akan mudah diatasi.

Kelima: Pemberdayaan perempuan

Sesungguhnya wanita adalah saudara laki-laki (syaqoiqur Rijal). Dalam Islam laki-laki dan wanita itu satu kesatuan. Bahkan wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Karena dari satu jiwa, maka laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan yang berprestasi akan mendapatkan balasan yang sama.Oleh karena itu Allah memberikan tugas dan kewajiban kepada makhluq-Nya sesuai dengan fungsi kodratinya.

Perempuan yang terdidik dengan baik, memiliki kualitas yang melebihi laki-laki. Asma’ binti Abu Bakar dalam usia belia berhasil mengomandani urusan logistik ketika hijrah. Sekalipun medan yang dilewati terjal, dan nyawanya terancam. Demikianlah perempuan yang berkualitas, mengungguli bidadari. Karena bidadari masuk surga karena takdir. Sedangkan wanita shalihah berhasil karena perjuangan. Ketika masuk surga, menghargai tempat yang dihuni.

Sebaliknya wanita yang dibiarkan bengkok, maka kejahatannya akan melebihi laki-laki. Masih ingatkah kita peristiwa pembedahan dada mayat Hamzah bin Abdul Mutholib, kemudian digigit hatinya. Itulah perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Hindun. Sehingga ketika telah masuh Islam, Rasulullah melihat wajahnya dengan cemberut. Terbayang dengan peristiwa yang memilukan/menyayat hati.

Wanita shalihah lebih baik dari bidadari. Karena wanita shalihah berhasil berkat perjuangannya (mujahadah). Ketika masuk surga, ia menghargai posisi yang ditempatinya. Sedangkan bidadari masuk surga secara cuma-cuma (majjanan). Ia tidak merasakan pentingnya tempat yang dihuni (Hadil Arwah, Ibnul Qayyim Al Jauziyah).

Keenam: Membangun pola kepemimpinan Imamah

Ketika di Gua Tsur Abu Bakar merasa cemas, Rasulullah Saw menghiburnya: Laa tahzan innalloha ma’anaa (Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita). Pada ayat ini beliau menggunakan khithab (pembicaraan) nun jama’ (prular) “ma’anaa”. Disini diambil pelajaran pentingnya berjamaah dalam membangun peradaban.

Berjamaah adalah media yang efektif dan efisien dalam memperkecil konflik. Mengesampingkan perbedaan dan menonjolkan persamaan. Berjamaah adalah fitrah manusia. Dengan berjamaah kita menyadari keterbatasan kita. Keberhasilan kita terwujud didukung oleh pengorbanan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kehadiran kita di bumi ini juga tidak bisa dilepaskan dari kerjasama kedua orang tua kita. Sesungguhnya kita berasal dari percikan-percikan air (qothorot) dan menjadi manusia (fashorot insanan).

Keberhasilan yang dinikmati sendirian, tidak terlalu membahagiakan. Kesusahan yang ditanggung secara kolektif, maka derita menjadi ringan untuk dipikul. Itulah pentingnya kebersamaan. Dan karena kelemahan kita, menuntut adanya kerja sama dengan pihak lain di luar kita. Bahkan menjaga keshalihan kita mustahil terwujud tanpa berjamaah.

Kebenaran tanpa aturan, terkadang dikalahkan oleh kebatilan yang teratur kata Imam Syafii. Dunia ini dikuasai oleh negara Super Power. Namun, yang sedikit kita ketahui, dibalik kekuatan negara adi kuasa itu, terbukti ada kekuatan penekan (jama’atudh dhoghthi) yang diperankan oleh jaringan mafia kejahatan yang terorganisir dengan rapi. Dunia ini dikuasai oleh mafia. Wajar, jika kita menyaksikan media informasi di dunia ini tidak mendidik.

Demikian, beberapa pesan yang bisa dipetik dari hijrah. Yang jelas, “Al Hijratu maadhin ilaa yaumil qiayamah.” (hijrah tetap berlangsung sampai hari kiamat). Baik secara maknawi (hajara, meninggalkan segala bentuk maksiat), pula yang bersifat makani (haajara : meninggalkan lingkungan yang tidak Islami). Ketika Islam belum mendominasi kehidupan. Berbeda dengan haji, hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Sebaliknya, selama Islam belum tegak secara de jure dan de vacto, perintah hijrah bersifat wajib sampai hari kiamat sekalipun tidak memiliki apa-apa dan berangkat harus ditempuh dengan berjalan kaki, memakan urat pohon, tempat yang dituju tidak menjanjikan kehidupan dll, menurut jumhur ulama.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa  : 100).

Allah akan memberikan pertolongan kaum muhajir di tempat yang baru dengan berbagai fasilitas yang menggiurkan. Bakkah (lingkungan yang membuat orang menangis) yang semula ditempati Ibu Hajar dan Ismail, menjadi Makkah Al Mukarromah (tempat yang diberkahi dan dimuliakan). Tempat yang membuat daya tarik spiritual bagi yang pernah mengunjunginya. Gua dikelola oleh ashhabul kahfi menjadi pusat dakwah. Penjara dirubah oleh Yusuf menjadi sarana tarbiyah.

Jika di tempat pertama belum ditemukan janji Allah, maka carilah tempat yang lain. Karena di tempat yang baru ini Allah akan membuktikan jaminan-Nya. Bukankah bumi Allah itu luas?

Jika bahan pembuatan pabrik di perut bumi tertentu habis, carilah bumi yang lain. Insya Allah tempat yang baru akan ditemukan limpahan karunia-Nya.

Wallahu A'lam 

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About