Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts

Menjadi Orang Asing

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Islam pada saat kemunculannya dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang orang yang asing itu” (HR. Muslim).

Disebut asing pada awal munculnya agama Islam dipandang wajar. Sebab, pada saat itu Islam diturunkan dalam masyarakat jahiliyah. Masih sedikit orang yang menganut Islam, sehingga dianggap baru bagi orang kebanyakan. Namun bila Islam kembali menjadi asing bahkan di kalangan masyarakat Muslim sendiri yang jumlahnya sudah begitu banyak sekarang ini, patut direnungkan.

Asingnya Islam di kalangan masyarakat yang mengaku Muslim terjadi karena sedikit orang yang benar benar berpegang teguh pada ajaran Islam, tak terkecuali pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. 

Orang orang yang tak teguh pendiriannya menjadikan hari raya sebagai kesempatan bermegah megahan dengan memamerkan kekayaan. Sibuk mempersiapkan berbagai kemeriahan, sehingga shaf shalat berjamaah pun semakin sedikit. 

Juga ada yang kembali melanjutkan berbagai macam kemungkaran, yang sempat ditunda karena katanya menghormati bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, masih ada hamba hamba Allah yang tergolong asing dan beruntung di hari raya. Yaitu, hamba hamba yang istiqamah dalam ajaran Islam di saat banyak orang mulai berpaling. 

Hari raya Idul Fitri dijadikan momen untuk menyambut hari kemenangan, karena dosa dosa telah diampuni dan sudah kembali menjadi suci. 

Selain bertakbir dan melaksanakan shalat Id, orang orang beruntung ini saling berkunjung dan menjalin silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah. Juga saling memaafkan satu sama lain, juga karena Allah. Termasuk juga menjaga ketertiban dalam masyarakat, tak terkecuali tertib dalam berlalu lintas.

Bagaimana dengan saudara  ...? 

Sumber aceh tribun news

Bahaya Meng - Adu Domba

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba” (HR. Muslim).

Sudah sejak daman dahulu kala banyak hal yang akan digunakan oleh orang seseorang dalam rangka untuk mencari keuntungan diri sendiri. mulai cara yang sedikit kotor hingga yang benar - benar jorok dan kotor dan berlebihan termasuk dengan cara mengadu domba antara satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. 

Akibatnya timbul perpecahan antar anggota keluarga, sanak saudara, atau masyarakat dalam satu kampung atau bahkan dalam suatu satu negeri. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh mereka baik pihak perseorangan maupun kelompok yang menginginkan orang lain lemah baik secara fisik , mental maupun materi.

Cara seperti ini banyak digunakan kaum penjajah di masa lampau dan bahkan masa sekarang untuk merebut suatu negeri / kekuasaan atau hasil alam negeri tersebut.

Dalam Kitab Durratun Nasihin juga diingatkan bagaimana bahayanya adu domba. Sebagaimana dikisahkan, seorang budak mendatangi isteri tuannya seraya mengatakan bahwa suaminya tidak menyukainya. Agar disukai, ia disuruh untuk mencukur jenggot suaminya tatkala tertidur. Setelah itu si budak mendatangi si tuannya seraya memberitahukan bahwa isterinya akan membunuhnya tatkala ia tertidur. Kalau tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, disuruh berpura-pura tidur.

Ternyata isteri tuannya benar-benar melaksanakan usul si budak sewaktu suaminya sedang tidur. Lantas suaminya yang sedang berpura-pura tidur merebut pisau yang sedang dipegang isterinya dan membunuhnya. Tak menerima perlakuan tersebut, keluarga isterinya lantas membunuh si suami tersebut. Lantas terjadilah bunuh-membunuh antar keluarga suami dan keluarga isteri.

Dari kisah tersebut dapat difahami betapa berbahayanya adu domba. Sebagai orang mukmin, apalagi di alam kemerdekaan, kita jangan sampai mewarisi siasat kaum penjajah. Bila mewarisi tukang adu domba, sama artinya dengan menuruti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diharamkan masuk surga.

Wallahu A'lam

Sumber Aceh Tribun News

Permasalahan Apakah Yang Kalian Pergunjingkan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al Kisah suatu ketika di sebuah lingkungan Pondok Pesantren, terjadi pergunjingan tentang seorang santri (Si Pulan) yang sangat di sayangi oleh Pengasuhnya. Santri santri yang lain merasa iri hati karena perlakukan istimewa terhadap satu murid itu.. Mereka tak dapat mengerti mengapa Pak Kyai memberi perhatian khusus kepada anak itu. Akhirnya kabar itu terdengar ke telinga pengasuh Pondok Pesantren. Pak Kyai pun menyuruh semua santrinya untuk berkumpul di Aula.

Kyai : “wahai para santri, permasalahan apakah yang kalian pergunjingkan selama ini terhadap Si Pulan”

Santri : “Kyai, selama ini kami semua adalah murid-murid yang tunduk dan patuh pada nasehat kyai, apakah gerangan penyebabnya sehingga Si Pulan mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari kami, kami lebih dahulu mengabdi dan tidak sedikit dari kami yang ilmunya lebih tinggi dari Si Pulan” lalu kenapa Kyai lebih menyayangi si pulan dari pada kami semua…?

Singkat cerita Pak Kyai menyuruh setiap santri membeli ayam untuk kemudian menyembelihnya. Namun Pak Kyai memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Dan sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Ke esokan harinya para santri berkumpul di halaman Pondok Pesantren dengan membawa sebilah pisau dan se ekor ayam.

Kyai : “Baiklah…..!! hari ini aku adakan sayembara” Pergilah kalian ke menapun kalian akan menyembelih ayam itu, dengan syarat pada saat menyembelih ayam itu tidak boleh ada yang mengetahui nya.

Para santri pun menuruti perintah dari Kyai, beberapa saat kemudian Satu demi satu santri kembali ke hadapan Pak Kyai, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Dari muka mereka terlihat wajah sumringah karena telah berhasil menunaikan amanat dari Kyai, namun setelah lama menunggu Si Pulan tak juga datang, para santri pun kembali bertanya tanya ada yang meledek

Santri 1 : “yach…. Masak potong ayam aja lama banget….?”

Santri 2 : “nah terbukti sekarang, Si Pulan tuh gak bisa apa² paling paling dia lupa cara menyembelih ayam..”

Santri 3 : “Gak tau niatnya kaliee…..?”

Santri 4 : “Gue nih.. yang pertama berhasil, pasti gue yang menang…”

Singkat cerita Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda (Si Pulan) itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah yang begitu mudah.

Pak Kyai lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.

Allah SWT maha melihat kemanapun aku pergi
Allah swt maha melihat dimanapun aku bersembunyi.
Tak ada tempat di muka bumi ini tempat bagi ku untuk menghindar
Maaf kan aku Guru, aku kembali tanpa hasil…
Tak dapat aku melaksanakan amanah mu yang begitu mudah meski hanya menyembelih ayam, karena tak kutemui tempat yang Allah SWT tidak dapat melihat perbuatanku.

"Allah...tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi (ilmu dan kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Al Baqarah : 255)

Pak Kyai pun tersenyum seraya menjelaskan kepada para santri yang lain, Si Pulan memiliki Keyakinan yang kuat kepada Allah SWT, selalu menjaga sikap dimanapun dia berada, karena Allah SWT selalu mengawasi siapapun Makhluk-Nya di seluruh alam semesta ini. Di bumi, di bulan, di galaxy lain dimanapun makhluk Nya berada Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Seputar Kisah Isra Mikraj

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Isra mikraj bukan hanya sebentuk cerita yang selesai begitu saja tanpa makna tersisa dengan kembalinya Nabi Muhamad Saw ke bumi. Kisah ini masih banyak menyimpan nilai-nilai yang perlu digali, direnungkan, diteladani kemudian diaktualisasikan dalam ranah nyata sebagai gerakan sadar sejarah dan kebangkitan peradaban umat Islam, khususnya terkait dengan nasib masjid al-Aqsha (tempat berakhirnya Isra) dan penderitaan saudara kita di Palestina yang hari demi semakin menderita akibat kekejaman penjajahan bangsa Israel.

Di sisi lain, seyogyanya Isra Mikraj tidak hanya dimaknai bahwa Nabi Kita pernah melakukan perjalanan yang sanggup mengguncang iman seseorang, lalu diperlihatkan tentang betapa agung dan luar biasanya kekuasaan Allah Swt. Lebih dari itu, kalau kita jeli membaca dan merenungkan rentetan momen-momen yang terjadi di tengah-tengah antara Isra dan Mikraj, maka kejadian ini sebetulnya mengandung hikmah dan isyarat Tuhan tentang posisi dan potensi sesungguhnya Nabi Muhamad dan umatnya: betapa Nabi Muhamad dipersiapkan Allah Swt sebagai pemimpin seluruh umat dan pewaris terakhir kenabian dan umatnya di jadikan sebagai umat terbaik.

Perjalanan Isra: dari masjid al-Haram (di Mekah) ke masjid al-Aqsha (di Palestina), kemudian saat di masjid al-Aqsa Nabi didaulat menjadi imam shalat jama\'ah yang makmumnya terdiri dari para Nabi terdahulu, semua ini menunjukan ada proses peralihan estafet kepemimpinan sekaligus pengakuan sadar bahwa Nabi Muhamad merupakan pemegang tongkat kepemimpinan dari generasi terdahulu dan generasi yang akan datang. Shalat jama\'ah ini juga menunjukan bahwa misi dakwah para nabi itu satu yaitu: sama-sama mengajak beriman kepada Allah Swt yang Maha Esa. Kejadian ini juga sebagai tanda bahwa Islam adalah agama samawi penutup. Karena Islam ditahbiskan sebagai agama terakhir, maka sebagai konsekuensi logisnya nilai-nilai Islam dijamin akan selalu relevan dan kompatibel dengan kemajuan zaman.

Awal Mula Isra

Perjalanan spiritual ini terjadi pada saat Nabi dan umat Islam sedang mengalami tekanan psikologis dan fisik yang luar biasa sakit. Selama tiga tahun (mulai 7 Muharam tahun ke-7 - semenjak diangkat jadi Nabi- sampai tahun ke-10) Nabi dan pengikutnya diembargo oleh kaum musyrik Mekah, baik secara ekonomi, maupun sosial-politik. Masa gembira karena berakhirnya embargo tak berlangsung lama, karena enam bulan kemudian, tepatnya bulan Rajab, pamannya, Abu Thalib, pembela setia dan selalu menjaga bahkan memperkuat daya tawar politik Nabi di hadapan kaum musyrikin, wafat. Lima puluh hari kemudian, tepatnya bulan Ramadhan, istri tercintanya Sayidah Khadijah yang selalu setia mensuport, melayani dan mendengar keluh kesah Nabi dengan penuh kasih sayang juga wafat. Lengkaplah sudah kesedihan Nabi. Dua pelindung utamanya telah tiada hampir dalam waktu yang bersamaan. Maka umat Islam menamakan tahun ini sebagai tahun penuh duka (amul huzni).

Tapi kekuatan iman dan keyakinannya akan pertolongan Allah Swt. tidak membuat musibah di atas menggoyahkan perjuangan dakwahnya. Beliau tetap survive! Masih pada tahun kesepuluh dari pengangkatannya sebagai Nabi, tepatnya bulan Syawal, Nabi bersama Zaid bin Haritsah membuat keputusan berani pergi ke Thaif untuk mencari lahan dakwah baru. Tapi tak ada satupun yang mau masuk Islam! Bahkan secara terencana, Nabi dilempari batu dan terluka parah, kedua kakinya berlumuran darah, begitu juga Zaid bin Haritsah, kepalanya berdarah akibat lemparan batu. Tapi yang lebih menyakitkan Nabi adalah sumpah serapah dan caci-maki yang kebablasan dari penduduk Thaif. Nabi akhirnya bersimpuh, mengadu pada Allah Swt, bahwa dirinya begitu lemah tak berdaya:

(Ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Engkau Yang Paling Pengasih, Engkau adalah Tuhannya orang-orang lemah, Engkaulah Tuhanku, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas rahmat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan DzatMu yang menyinari segala kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahanMu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan selain denganMu)

Untuk menghibur, meyakinkan kebenaran visi Nabi dakwah selama ini dan mengingatkan kembali bahwa beliau tidak sendiri dalam berjuang: ada Allah Swt dibelakang Nabi, di perjalankanlah beliau sampai menuju Sidratul Muntaha. Di dalam perjalanan itu Nabi disambut hangat oleh penduduk langit ditunjukan kebesarannya, bahwa kalau di bumi beliau dicaci-maki, maka sebaliknya penduduk langit gegap-gempita menyambutnya. Diperlihatkan pada Nabi betapa segenap jagad raya ini tak ada apa-apanya dihadapan Allah Rabul \'alamin.

Menurut saya, demi memperkuat keyakinan keimanan sampai pada tahap tertinggi, kejadian Isra Mikraj adalah keniscayaan bagi seseorang yang dipersiapkan akan dijadikan pemimpin seluruh alam. Dengan kejadian ini Nabi tidak hanya iman kepada Allah secara teori tapi juga disertai data empiris. Maka penghayatan dan pengakuan keimanan Nabi pada al-Khaliq adalah yang tertinggi diantara makhluk Allah Swt.

Sementara bagi muslimin hikmahnya adalah bahwa kejadian ini sebagai ujian atas keteguhan iman mereka: percayakan mereka dengan kejadian Isra dan Mikraj? Mungkinkah Mekah-Palestina (-+1500 k.m) plus ke Sidratul Muntaha ditempuh dalam sepenggal malam? Padahal masa itu Mekah-Palestina kalau ditempuh dengan menggunakan onta tidak kurang dari satu bulan lamanya. Menanggapi kejadian ini, menurut Ibnu Katsir, sikap orang Islam terbelah dua, ada yang kembali murtad, dan ada yang malah semakin tebal imannya.

Pro Kontra Seputar Isra Mikraj

Detail kejadian seputar Isra Mikraj, baik menyangkut tanggal, bulan dan apakah diperjalankannya Nabi dengan jasadnya atau hanya ruhnya saja dan kejadian lainnya memang masih menyisakan pro-kontra. Tapi dalam konteks keimanan, asal kita masih percaya bahwa pernah ada prosesi Isra, maka perdebatan ini tidak menggangu keimanan kita. Artinya yang paling penting adalah memetik substansi dan makna yang bisa kita terapkan dalam hidup kita. Beberapa isu yang akan diangkat di sini hanya sebagai pengayaan wacana dan pengetahuan saja.

Betulkah Isra terjadi pada bulan Rajab tanggal 27?

Menurut Ibn Ishaq, Isra terjadi tahun ke-10 (dari sejak diangkat jadi Nabi). Menurut az-Zuhri dan \'Urwah kejadianya setahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Menurut Ismail as-Sudi terjadinya enam bulan sebelum hijrah. Sedang menurut al-Hafidz Abd. Ghani bin Surur al-Muqadasi Isra Mikraj terjadi pada tanggal 27 bulan rajab. Dan pendapat terakhir ini yang diambil oleh umat Islam sekarang dan dirayakan.

Apakah Isra dan Mikraj Nabi dilakukan dengan ruh saja atau sekaligus dengan jasad?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra Mikraj dilakukan dengan tubuh dan ruh Nabi. Justru disinilah letak mukjizatnya. Selain itu kalimat bi\'abdihi yang terdapat dalam surat al-Isra semakin mengukuhkan bahwa kejadian itu dilakukan dengan ruh dan jasa Nabi. Karena dalam al-Qur\'an dan leksikal Arab kata abdun, selalu menunjuk pada ruh dan jasad secara bersamaan.

Kenapa harus ke Baitul Maqdis dulu, tidak langsung saja dari Haram ke Sidratul Muntaha?

Ini menujukan bahwa Baitul Maqdis sangat penting posisinya dalam agama Islam. Ia adalah kiblat pertama umat Islam. Kurang lebih 13 tahun lamanya Nabi Shalat menghadap Baitul Maqdis. Ia adalah salah satu dari 3 masjid yang wajib dikunjungi ketika kita bernazar untuk menziarahinya. Pahala beribadah di sana sama dengan 500x lipat beribadah ditempat lain (selain masjid al-Haram dan masjid Madinah). Masjid al-Aqsha juga adalah tempat para nabi dikuburkan, sehingga Imam Syafi\'i, suatu ketika pernah berkata, "saya sangat suka beri\'tikaf di masjid ini, lebih dari masjid manapun," kemudian ketika ditanyakan alasannya, beliau menjawab, "disinilah tempat berkumpul dan dikuburkannya beberapa Nabi."

Bagaimana hukum orang yang tidak mempercayai Isra Mikraj?

Ulama dalam hal ini membedakan antara hukum tidak mempercayai Isra dan hukum tidak mempercayai Mikraj. Bagi orang yang tidak mempercayai Isra, hukumnya kafir karena kejadian itu sudah di nash dalam al-Qur\'an dengan sangat gamblang dan tak menerima lagi kemungkinan takwil (qat\'iyu ats-tsubut wa ad-dilalah). Sementara orang yang tidak mempercayai Mikraj hukumnya fasik. Kenapa? Karena kejadian mikraj hanya berdasarkan pada al-Qur\'an (an-Najm:13-18) yang tidak tegas dilalahnya (qat\'iyu ats-tsubut wa zdhani ad-dilalah) dan berdasarkan hadis-hadis sahih tapi tidak sampai pada derajat mutawatir.

Hikmah Isra Mikraj Dalam Konteks Kekinian

Pertama, setiap kita memperingati Isra Mikraj hendaknya jangan hanya diposisikan sebagai telah terjadinya sebuah kisah luar biasa belaka, tetapi mesti diletakan dalam konteks perenungan untuk diambil hikmah dan semangatnya, kemudian dijadikan sebagai pemicu kebangkitan peradaban umat Islam.

Kedua, Peringatan Kejadian ini hendaknya memicu semangat persatuan, konsolidasi dan solidaritas umat Islam diseluruh dunia, khususnya untuk membantu rakyat Palestina terlepas dari penderitaan yang sekarang ini memasuki babak baru yang sangat menyedihkan dan memalukan, yaitu perang saudara antara Hamas dan Fatah. Tidak ada yang menguntungkan dari pertikaian ini kecuali membuat rakyat Palestina makin menderita. Pada saat yang sama dibelahan dunia Islam lain perang saudara di Irak, Afganistan, Sudan dan lainnya juga masih panas berkecamuk. Masih belum cukupkah bagi kita untuk segera bangun dan bangkit mengejar ketertinggalan hampir disemua bidang ini?

Ketiga, Hal penting lain dari Isra Mikraj adalah diwajibkannya menunaikan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Tidak seperti puasa, haji, zakat dan ibadah lainnya yang kesemuanya diwajibkan dibumi melalui wahyu via Malaikat Jibril, shalat diwajibkan langsung oleh Allah Swt saat Nabi masih dilangit. Ini menunjukan betapa posisi shalat punya nilai khusus dimata Allah Swt. Shalat adalah media mikraj muslim pada Allh Swt. Maka tak heran shalat yang baik, yang berkualitas, yang dibarengi kebersihan jiwa akan sanggup menciptakan kondisi sosial yang kondusif, karena bisa mencegah berbagai bentuk kemunkaran. Jadi Islam saja, shalat saja tidak cukup untuk mencegah kemunkaran, korupsi, nepotisme, kekerasan, tapi harus dibarengi perenungan, kebersihan jiwa, aktualisasi dan keikhlasan. Intinya, tekad setiap individu muslim untuk berusaha menciptakan shalat berkualitas sangatlah penting dalam sistem tarbiyah kejiwaan kita. Karena efek jangka panjangnya dapat mengontrol perilaku sosial umat Islam.

Dari tetangga sebelah 

Wallahu 'alam bi as-Ashawab

Merindukan Mati Syahid

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.

Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.

Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"

Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."

Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)

Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."

Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."

Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.

Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Dari MMS

Karena Laporannya Dipotong

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar- syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.

Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. ”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”

Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”

”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.

Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut de-ngan memutarbalikkan berita.

Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”

Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”

Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”

Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

Menggapai Keikhlasan Hati Dari Rahasia Qalbu

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Sahabat Fillah yang Insya Allah selalu dalam bimbingan-NYA…

renungan jelang senja kali ini adalah tentang… “…apakah yang qt lakukan atau perbuat… berniat untuk ke-Ridhaian Allah SWT… ataukah… berniat untuk sebuah keMarah-an dan keKecewa-an…?...”

Allah SWT berfirman… “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. 64 – At Taghabuun : 11]

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS. 57 – Al Hadiid : 22]

dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu… dia berkata… :

saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda… : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya… Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan… Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-NYA… maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-NYA… Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya… atau karena wanita yang ingin dinikahinya… maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan…” [HR. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pun bersabda… : "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) benuk tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati kalian." [HR. Musim]

mudah-mudahan bermanfaat… Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… salam santun fillah…

“Apakah setiap yang qt lakukan atau perbuat… berniat untuk ke-Ridha-an Allah SWT… atau… berniat untuk suatu ke-Marah-an dan ke-Kecewa-an…?”

Alkisah… di sebuah padepokan yang asri… tampak sang Guru sedang santai sambil memandangi kumpulan bunga anggrek… yang tertata artistik… terawat… dan sedang mekar-mekarnya dengan indah…

Pada suatu hari ketika hendak berkelana… di kumpulkanlah seluruh santri-santrinya… kemudian dia berpesan kepada santri-santrinya… "Anak-anakku… guru akan pergi mengunjungi kakek guru… dan saudara-saudara seperguruan lainnya… kalian tetaplah rajin belajar dan berlatih… dan jangan lupa untuk hati-hati merawat tanaman bunga anggrek kesayangan guru ini ya…"

para santri-santri menerima pesan itu dengan patuh…  “berapa lama guru akan meninggalkan kami…?” tanya salah seorang santrinya… “mungkin paling cepat 2 bulan guru baru akan tiba kembali…” jawab sang guru…

Esok harinya para santri secara bergilir dengan teliti memelihara pohon-pohon bunga anggrek tersebut…

Namun…
pada suatu hari… ketika salah seorang santri sedang merapikan… dan menyiram bunga-bunga anggrek kesayangan sang Guru… tanpa sengaja dia menyenggol rak-rak pohon tersebut… “Prang…!!!” bunyi keras mengiringi berjatuhannya pot -pot bunga anggrek… dan tampak beberapa pot pecah berantakan… dan tanaman anggrek pun berserakan di sekitarnya… para santri dengan rasa panik dan ketakutan berusaha membenahi sebisanya… tetapi apa daya… hanya sedikit yang terselamatkan… dan dengan sangat hati-hati… para santri mencoba untuk menata kembali bunga Anggrek yang masih bisa diselamatkan…

Dengan rasa was-was… para santri dia pun menunggu gurunya pulang… untuk meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan oleh sang Guru…

Setelah sang Guru kembali dari perjalanan… maka dikumpulkannya seluruh santri-santrinya… untuk menanyakan khabar dan keadaan para santri-santrinya… setelah selesai acara “temu kangen” antara sang Guru dan santri-santrinya… salah seorang santri berdiri untuk memohon waktu sejenak kepada sang Guru…

“ada apa gerangan santri ku…?” tanya sang Guru…
“Guru… saya ingin meminta ma’af…” kata santri tersebut…
“Lho… ada salah apa gerangan…?” tanya sang Guru kembali…
“Guru… saya mohon ma’af… saya mengaku salah… saya telah mengecewakan Guru… Saya telah menjatuhkan beberapa pot Anggrek kesayangan Guru… dan saya siap menerima hukuman dari Guru… sekali lagi saya mohon ma’af Guru…” jelas santri yang telah memecahkan pot-pot…

dan mendengar kabar itu… sambil tersenyum dan dengan tenang sang Guru yang bijaksana tersebut berkata… :

"Santri-santriku sekalian… Memang bunga anggrek adalah bunga kesayangan Guru… makanya Guru merawatnya dengan baik sehingga berbunga dengan indah… Perlu kalian ketahui… Guru menanam bunga anggrek alasan utamanya adalah… untuk menikmati indahnya warna-warni bunga-bunga anggrek… dan yang lebih utama lagi adalah… untuk merenungkan sekaligus bersyukur atas keindahan ciptaan Allah SWT… selain itu untuk memperindah lingkungan di sekitar sini…  dan INGATLAH BAIK-BAIK… Guru menanam bunga Anggrek tersebut… BUKANLAH DEMI UNTUK KEKECEWAAN dan KEMARAHAN…”

Sambil merubah posisi berdirinya… sang Guru yang bijaksana tersebut melanjutkan nasehatnya… “walaupun Guru menyukai bunga anggrek… tapi Guru tidak terikat akan bunga-bunga itu… untuk itulah Guru tidak perlu marah ataupun kecewa karena anggrek… tetapi pesan Guru… lain kali dalam mengerjakan sesuatu apapun kalian harus ekstra lebih hati-hati… bunga anggrek bisa ditanam lagi… tapi ketidakhati-hatian adalah sikap yang harus selalu diwaspadai… karena bisa berakibat negatif dan berdampak buruk bagi siapa pun…"

Sahabat Fillah… coba qt renungkan perkataan sang Guru yang bijaksana tersebut… “…sungguh benar… ‘bahwa… bukan demi untuk kemarahan dan kekecewaan Guru menanam tanaman anggrek…"

qt pun bisa belajar dari sini…

Sahabat Fillah… pesan Bijak nan Bajik dari kisah tersebut diatas adalah… seandainya amarah dan kekecewaan sedang menguasai kita… cobalah berhenti sejenak dan pikirkanlah…

"Bukan demi marah dan kecewa qt berkenalan… berteman… bersahabat…"… "Bukan demi marah dan kecewa qt menjadi suami istri…"… "Bukan demi marah dan kecewa qt melahirkan dan mendidik anak…"… dan… “Bukan demi marah dan kecewa qt memutuskan sesuatu untuk segala sesuatunya…”… dengan demikian… Insya Allah sikap toleransilah yang akan muncul… Kemarahan dan kekecewaan akan mencair…

dan kedamaian pun akan menyertai hati serta kehidupan kita… Ketika kita hendak bertengkar dengan kenalan… teman… sahabat… keluaraga… orang rumah… tetangga… hendaklah perlu diingat… perjumpaan yang telah terjadi… bukan demi untuk rasa marah dan kecewa… tapi sudah sepatutnya lah qt untuk mensyukuri… karena dibalik setiap peristiwa dalam hidup qt… ada hikmah yang tersembunyi… ada ilmu Allah yang perlu qt renungkan… Mari kita semua belajar untuk berlapang dada… Insya Allah dalam kehidupan qt akan penuh ketenangan serta kedamaian… mudah-mudahan bermanfaat…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

salam santun fillah…

“RQ / AA” Bekasi…

Mendo'akan Orang Lain

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Seperti biasa, pada sepertiga malam terakhir, Sayyidah Fathimah — putri kesayangan Rasulullah saw senantiasa melaksanakan shalat tahajud di rumahnya. 

Terkadang, ia menghabiskan malam-malamnya dengan qiamu lail dan doa. Hasan bin Ali, putranya, sering mendengar munajat sang bunda.

Suatu pagi, ketika Sayyidah Fathimah selesai berdoa, Hasan kecil bertanya, "Ya Ummi, dari tadi, aku mendengarkan doamu, tetapi tak satu pun doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri?"

Fathimah menjawab dengan lembut, "Nak, doakan dulu tetanggamu karena ketika para malaikat mendengarkanmu mendoakan tetanggamu, niscaya mereka akan mendoakanmu. 

Adakah yang lebih baik daripada doa para malaikat yang dekat dengan Allah, Tuhan kita?"

"Apabila salah seorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui oleh yang didoakan, para malaikat berkata, "Amin, semoga engkau memperoleh pula sebagaimana yang engkau doakan itu." (HR Muslim dan Abu Dawud)

Dari Muslim dan muslimah sejati

Pencuri Dan Ahli Ibadah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia menjalani pekerjaan sebagai pencuri dan selalu mencuri. Suatu hari, dia terlihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya; “ Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada juga berkatnya untuk aku.”

Tetapi setelah difikirkannya semula, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. Manalah layak pencuri macam aku ini berjalan bersama seorang nabi.” Sejurus kemudian, dia terlihat pula seorang abid berlari-lari mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan dikenali orang. Si pencuri itu berkata di dalam hatinya, “Baik aku berjalan bersama si abid ini. Moga-moga ada juga baiknya untuk aku.”

Lantas si pencuri menghampiri si abid dan meminta kebenaran untuk berjalan bersamanya. akan tetapi si abid justru terkejut dan merasa takut kepada pencuri itu. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rusak segala kebaikan dan amalanku.”

Si abid terus berlari supaya si pencuri tidak ikut, namun Si pencuri tadi terus mengikut si abid karena hendak berjalan bersamanya. Akhirnya mereka berdua sampai kepada Nabi Musa a.s.

Nabi Musa a.s. berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “ Aku baru saja mendapat wahyu dari Allah Ta'ala supaya memberitahu kamu berdua bahwa segala amalan baik dan buruk kamu telah dimansuhkan oleh Allah.” Maka terkejutlah si abid dan si pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri kerana segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celaka dan dukacitalah si abid kerana segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.

Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun kerjanya mencuri, dia tidak suka akan perbuatannya itu. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rosak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri kerana terpaksa. Oleh itu, setiap kali dia mencuri, dia amat merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya terseksa dan menderita. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.

Si abid pula, amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya, dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun si abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia membuat ibadah. Hingga dia rasa tidak layak bergaul, inikan pula berjalan bersama orang yang hina dan berdosa dia rasa dia hanya layak berjalan bersama para Nabi.

Maha Suci Allah yang mengetahui segala isi hati manusia. Yang tidak melihat akan amalan-amalan lahir tetapi apa yang ada di dalam hati. Yang menilai hamba-Nya mengikut apa yang termampu oleh hamba-Nya dan tidak lebih dari itu. Yang menguji manusia dengan kesusahan dan nikmat untuk mengetahui siapa di kalangan hamba-hamba-Nya yang benar-benar berjiwa hamba dan merasa bahwa Allah itu Tuhannya.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ

وَلَكِنْ

يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

وَأَعْمَالِكُمْ

Wallahu A'lam

Khalifah Telah Gila

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan sholat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwa Umar bin Kaththab sudah gila ?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan sholat Jumaat yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khutbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum sholat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mahu bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya, "Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu, bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan sholat fardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung dari tepung gandum dan kusembah-sembah seperti Tuhan, bila ku lapar ku makan 'Tuhan' ku itu".

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum boleh menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhutbah?

Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Iaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.

Komandor pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghentam kami dari berbagai penjuru. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat sholat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan ghaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tiga kali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melihatnya"

Wallahu A'lam
@@@---------------------------------------------------------@@@

Paling Berat Dan Paling Ringan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW., "Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam ?"

Nabi bersabda, "Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Sementara yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur." (HR. Ahmad Bazzar)

Yang menarik untuk kita ungkap dari hadits tersebut adalah mengapa posisi kejujuran jauh lebih berat dilakukan dibandingkan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain) ? Padahal sejarah mencatat, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW. rela berkorban menerima siksaan, baik secara fisik maupun psikis, sebagai akibat dari keberanian mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagai contoh, seorang budak Habsyi, Bilal bin Rabbah RA. yang dilempar di atas padang pasir yang sangat terik, merelakan dadanya ditindih dengan batu. Sumayyah binti Khayyath, istri Yasir RA., yang juga tercatat sebagai wanita pertama yang syahid dalam Islam mengikhlaskan untuk dipanggang hingga meningggal karena tidak mau kembali dari agama Islam kepada agama nenek moyang mereka.

Yang perlu digarisbawahi adalah dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh Sumayyah binti Khayyath, Bilal bin Rabbah, dan para sahabat nabi yang lain, tentu saja tidak lahir dengan spontan. Ada proses yang panjang yang mereka lewati sampai pada akhimya muncul kejujuran untuk mengakui bahwa Allah SWT. dan Muhammad SAW. sebagai Tuhan dan nabi mereka. Kejujuran itu mereka ungkapkan dengan dua kalimat syahadat.

Mengucapkan dua kalimat syahadat menuntut kejujuran dan keikhlasan. Ia bukan sekadar formalitas untuk menjadi Muslim, tetapi lebih jauh dan dalam adalah sebagai bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang dalam untuk menerima Islam sebagai sistem hidup. Bila seorang Muslim jujur dalam menerima syahadat ini, tidak akan terjadi penolakan terhadap hukum-hukum yang Allah sudah tetapkan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan Laa ilaaha illallah kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga." (HR. Bukhari)

Artinya, mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan amalan yang mudah untuk dilakukan. Yang sulit adalah menumbuhkan kejujuran dan keikhlasan ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Untuk memperkuat argumentasi bahwa kejujuran merupakan amalan yang paling berat dalam beragama Islam adalah karena kejujuran adalah kunci dari segala kebaikan. Artinya, ketika seseorang sudah bisa berlaku jujur, ia akan menjadi orang baik. Sebaliknya, jika seseorang sudah nyaman berada dalam ketidakjujuran, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan terjerembab dalam kemaksiatan dan keterpurukan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat yang baru masuk Islam. Sebelumnya ia dikenal sebagai ahli maksiat; berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Rasulullah memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong !"

Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini. Namun ternyata, implikasinya begitu luar biasa karena mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa ia selalu teringat pada nasihat Rasulullah SAW. Sementara untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah SAW.

Kisah di atas memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya sebuah kejujuran. Rasulullah SAW. sudah bisa memprediksi kalau seseorang mempunyai sifat khianat, tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, ia akan jatuh dalam perbuatan dosa dan tenggelam dalam keterpurukan. Apalagi kalau sifat khianat, tidak jujur, dan gemar berdusta ini dilakukan secara kolektif oleh para pemegang kekuasaan di sebuah negara, sudah dapat dipastikan negara tersebut akan terjerembab ke dalam jurang keterpurukan yang luar biasa dahsyatnya. Apa yang dikhawatirkan Rasulullah ternyata sedang menimpa hampir seluruh lapisan masyarakat saat ini.

Diseluruh Dunia dan bukan hanya Indonesia sedang dirundung krisis multidimensi; krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis politik, dan berbagi krisis lainnya. Krisis multidimensi inilah yang menyebabkan bangsa bangsa terpuruk. Salah satu sumber keterpurukan tersebut adalah sifat tidak amanah, tidak jujur, dan gemar berdusta yang sudah mendarah daging dan berurat akar pada sebagian anak bangsa.

Sifat tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, curang, dan sifat rakus, diduga telah merasuki segala ranah kehidupan, mulai institusi negeri, swasta, hingga rakyat jelata. Lebih memprihatinkan lagi seolah telah menjadi tradisi. Dipicu oleh materi, terutama yang bernama uang, membuat orang sukar berpikir jernih dan berkata jujur. Institusi yang seharusnya bersih dan berwibawa, dicederai oknum di dalamnya, seakan terbenam dalam "permainan kotor", membuat kepercayaan publik kian memudar.

Di kalangan birokrat, gratifikasi telah membuat beberapa pejabat publik gamang mengutamakan nasib publik. Ada tradisi seolah hal lumrah, pegawai di lapangan, kalau tak ada "uang rokok", ajuan pembuatan KTP atau administrasi lebih sering jalan di tempat dari yang semestinya.

Di kalangan swasta, oknum kontraktor "biasa" mengerjakan projek jauh di bawah spek yang disepakati, akibatnya banyak bangunan roboh dengan umur jauh diperkirakan. Kontraktor beralasan, semua ini dilakukan untuk menutupi "biaya siluman" yang mesti dikeluarkan sebelumnya.

Kehidupan rakyat jelata pun turut terkontaminasi. Beberapa pedagang di pasar suka nakal mengoplos barang bagus dengan barang bermutu rendah, "bermain-main" dengan timbangan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani memperjualbelikan ayam tiren atau mencampurkan daging celeng untuk dijual tanpa lagi mempersoalkan halal-haram atau benar-salah.

Gurita ketidakjujuran kolektif yang disinyalir menjadi penyebab bangsa-bangsa didunia dan tidak hanya di Indonesia selalu berada dalam keterpurukan yang mustinya itulah yang harus kita putus sekarang juga. Hal itu tentu saja harus dilakukan mulai dari lingkungan terkecil. Mulai dari diri kita, keluarga, tetangga, lingkungan tempat kerja, dan seterusnya

Perubahan besar biasanya diawali dari hal-hal kecil, namun ... acapkali hal tersebut hanya akan menjadi isapan jempol semata, dan hanya akan berjalan beberapa waktu saja, dan seperti itulah adanya, manusia adalah umat yang satu dan satu sama lain saling mempengaruhi, apa yang orang lakukan di jawa , di sumatra, dikalimantan dan atau bahkan dinegara lain akan saling mempengaruhi, dan tidak bisa tidak terutama dimasa dan era globalisasi seperti sekarang ini.

Bersatu ......!! atau tetap seperti sediakala....! dan biarlah....... ?

Fatimah az-Zahra

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Fatimah binti Muhammad (606/614 - 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah. Fatimah dilahirkan pada hari Jumat, 20 Jumadil akhir di Mekkah, tahun kelima setelah kerasulan Nabi Muhammad, atau sekitar tahun 614 M (menurut tradisi Syi'ah) atau tahun 606 M (menurut Sunni). Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayah dan ibunya. Ia AH wafat pada tahun ke-11 Hijriyah, enam bulan setelah wafatnya Rasulullah, dan dimakamkan secara rahasia di Pemakaman Baqi', Madinah.

Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupu, sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra memiliki 5 anak, 3 putra dan 2 putri. 3 putra yaitu Hasan, Husain, dan Muhassin. Sedangkan yang putri yaitu Zainab dan Ummu Kulsum. Hasan dan Husain sangat disayangi oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Waalihi Wassalam.

Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa Beliau. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata " Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia".

Fatimah Az-zahra tdk pernah lepas dari wudhu seperti yang diajarkan ayahnya. dia juga satu-satunya wanita yang tidak mengalami haid (datang bulan) dan Nifas waktu melahirkan.

Wallahu A'lam

Cinta dan Kasih Sayang Menyelamatkan Sesama

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
KRISIS CINTA dan kasih sayang yang mewarnai relasi antarumat Islam dalam berbagai segi dan bidang kehidupan, seolah menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan pentingnya menyintai dan mengasihi sesama. Umat Islam pun seakan tidak memiliki figur sentral yang mampu meneladankan ketulusan untuk saling menyintai, mengasihi serta menyayangi. Akibatnya, di antara mereka, muncullah perasaan saling curiga, iri, pengkhianatan, saling merendahkan, memfitnah, menggibah, mendengki, mendendam, bertikai, menzalimi, menindas, bahkan saling mencelakakan.

Munculnya gejala krisis cinta dan kasih sayang yang melanda kehidupan banyak kaum muslimin, kerap terjadi di mana-mana. Dari mulai di ruang keluarga, hingga di tempat-tempat kerja. Tidak terkecuali, di institusi-institusi yang mengusung label Islam, gejala krisis kasih sayang juga sering mewarnai hubungan antarpersonilnya. Sungguh ironi dan menyedihkan. Bagaimana mungkin ukhuwah islamiyah yang kerap digembar-gemborkan itu bisa terwujud secara solid dan kokoh, jika krisis ini tetap terjadi seolah tiada henti. Padahal Rasulullah SAW, pecinta agung yang mulia menegaskan:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai” (HR. Muslim)

Hal ini mungkin dikarenakan Lemahnya Peneladanan Terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan sekaligus terjebaknya mereka dalam pemahaman ayat dan atau hadist yang berkaitan dengan fitnah / ujian dan rusaknya islam di akhir zaman. Menggejalanya krisis cinta dan kasih sayang di kalangan komunitas umat Islam tentu saja bukan dikarenakan ajaran yang terkandung dalam agama yang dianutnya, dan bukan pula ketiadaan model yang patut dijadikan panutan. Persoalannya adalah lemahnya pengamalan terhadap Islam, serta “ketidakmauan” umat untuk betul-betul meneladani sang pecinta agung yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Utamanya dalam konteks ini adalah keteladanan dalam menyintai, mengasihi, dan atau menyayangi sesama.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai figur manusia terbaik. Beliau telah membuktikan kemampuannya dalam membawa manusia dari keterbelakangan pemikiran dan kerendahan akhlak menuju pencerahan dan kemuliaan. Dari kehidupan yang diselimuti kebencian, dendam, dan angkara murka, menuju kehidupan yang diberkahi dengan memaafkan, cinta dan kasih sayang.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107).

Ada yang mengartikan bahwa “rahmat” di sini adalah pencurah kasih sayang. Diutusnya Nabi merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Rasulullah adalah manusia yang menebarkan kasih sayang.

“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Bukhari)

Upaya Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan dalam semua dimensi kehidupan, Nabi Muhammad SAW secara cukup gamblang telah menyontohkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya, bersikap dan berperilaku agar rahmat dan keberkahan hidup menyertai. Dari mulai ketika menjalani kehidupan dalam ranah keluarga dan kekerabatan, hubungan antara “tuan” dengan “pembantu”, atasan dengan bawahan, antar rekan (mitra) kerja atau bisnis, kehidupan bertetangga, persahabatan, dalam relasi sosial dengan non-muslim, sebagai pemimpin dakwah, militer, maupun sebagai pemimpin sosial dan politik (umat).

Ketika mengkaji kehidupan Rasul mulia di semua sisi kehidupannya itu, tampak sekali bahwa beliau menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai landasannya. Tulusnya cinta dan besarnya kasih sayang beliau, tercurah kepada siapa pun yang menjalin relasi dengannya. Lebih dari itu, manusia agung ini kerap menunjukkan kasih sayang terhadap orang-orang yang memusuhi serta menzaliminya. Malahan, di balik ketegasan memberikan “hukuman” terhadap musuh-musuh Islam, acapkali beliau pun memperlihatkan kasih sayangnya terhadap mereka. Hal ini antara lain tampak dari kemauan Sang Nabi untuk mengampuni bahkan mengangkat derajat mereka.

Mengingat begitu tulusnya cinta atau kasih sayang yang mendasari setiap pergaulan Nabi, termasuk kemampuannya menghadapi beragam persoalan melalui pendekatan perasaan tertinggi kemanusiaan ini, maka dapat dikatakan bahwa beliau telah menerapkan “manajemen cinta” yang dalam pengertian sederhana, “manajemen” dapat dipahami sebagai “seni melaksanakan dan mengatur”.

Dalam konteks filosofi, ada yang berpendapat bahwa cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi / kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Karena “cinta” yang dimaksud adalah cinta yang islami, tentunya pemahaman dari pengertian “cinta” ini juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah pemahaman cinta yang lebih luas, mendalam, serta bersifat hakiki.

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama dari Damaskus di abad ke-7, melihat pemahaman cinta dalam ruang lingkup yang luas. Bahkan beliau mengemukakan adanya 6 peringkat cinta, yang dua di antaranya adalah shababah dan ‘itfh. Shababah yaitu cinta yang mampu melahirkan ukhuwah islamiyah. ‘Itfh (simpati) adalah rasa cinta yang memunculkan kecenderungan untuk menyelamatkan dan membantu sesama. dengan demikian, mengacu pada kedua pemahaman tersebut; “manajemen” dan “cinta”, maka “manajemen cinta” yang dimaksud adalah seni melaksanakan dan mengatur hubungan (antar manusia) yang dilandasi oleh keinginan untuk melahirkan ukhuwah islamiyah, membantu serta menyelamatkan sesama.

Di dalam cinta atau kasih sayang yang diteladankan Nabi SAW terkandung nilai-nilai produktif dan konstruktif seperti: menyebarkan salam, menjaga dan melindungi kehormatan manusia, mengokohkan keimanan, berlaku adil, sabar, pemaaf, tegas, ulet, memberikan pendidikan dan bimbingan, mempererat hubungan, menghormati, rendah hati, senang membantu, dermawan, memuliakan, memberikan rasa nyaman, menunjukkan perhatian, menjaga nama baik, mendoakan kebaikan, tabah, konsisten, berkemauan kuat, menjauhi sikap egois, memberikan kepercayaan, berani, menjaga citra diri, memotivasi, dan masih banyak lagi. Semua nilai, sifat, sikap, atau perilaku yang baik-baik itu adalah cerminan atau konsekuensi dari rasa cinta terhadap kebenaran dan atau kasih sayang terhadap sesama.

Langkah langkah teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai cinta atau kasih sayang sesuai kapasitas dan peran kita dalam semua aspek kehidupan. Baik dalam kehidupan berumahtangga dan berkeluarga, sosial, bisnis, dakwah, militer, hingga politik. beragam teori pengembangan diri (self development) dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW di semua aspek kehidupannya adalah sumber inspirasi dan motivasi dalam memenej kehidupan pribadi dan sosial kita agar meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa batas baik untuk diri sendiri , lingkungan dan seluruh alam semesta. 

Wallahu A'lam

Keledai Yang Pandai Membaca l Rahasia Qalbu l Bekasi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar

Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Sahabat Fillah yang Insya Allah selalu dalam limpahan -NYA…

Renungan pagi dini hari ini adalah tentang…“apakah “diri ini” termasuk “yang hanya BISA membaca”… atau… termasuk “yang BISA mengerti / memahami apa yang di baca”…?”

Allah SWT berfirman… “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat MEMAHAMI atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [QS. 22 – Al Hajj : 46]

“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Kamu tidak lain hanyalah orang- orang yang membuat kepalsuan belaka".Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) MEMAHAMI.” [QS. 30 – Ar Ruum : 58, 59]

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-NYA, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-NYA), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak MENGERTI apa-apa pun.” [QS. 8 – Al Anfaal : 20, 21, 22]

Sahabat Fillah… mudah-mudahan kisah jenaka yang berisi “sindiran yang santun” ini bermanfaat…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

“KELEDAI MEMBACA…”

Dikisahkan suatu hari… Nasrudin Sang Sufi yang sangat terkenal itu… di beri hadiah oleh Timur Lenk seekor “keledai”… Nasrudin menerima pemberian tersebut dengan senang hati… tetapi ketika Nasrudin hendak membawa “keledai” tersebut pulang… Timur Lenk berkata kepada Nasrudin… : "Hai Nasrudin… ajari keledai itu membaca…! dua minggu lagi… datanglah kembali ke mari… dan saya ingin “keledai” itu telah mampu membaca…!!!"

Setelah itu Nasrudin pun berlalu meninggalkan istana Timur Lenk…

Sua minggu kemudian sesuai waktu yang telah ditentukan oleh Timur Lenk… Nasrudin kembali ke istana sambil membawa “keledai” tersebut…

“Nasrudin… mana “keledai”nya…?” tanya Timur Lenk…

“Ada Tuanku… “keledai” tersebut ada di depan istana Tuan…” jawab Nasrudin…

“Coba kau bawa kemari “keledai” tersebut… aku ingin tahu apakah kau telah berhasil mengajarinya membaca…”

Nasrudinpun keluar mengambil “keledai” tersebut… Tak berapa lama Nasrudin masuk kembali sambil membawa “keledai”… “Tuanku… ini “keledai” yang Tuanku hadiahkan kepada ku…” kata Nasrudin…

Tanpa banyak bicara… Timur Lenk mengambil sebuah buku besar… dan menyerahkan buku besar tersebut kepada Nasrudin…

“sekarang coba kau tunjukkan kepadaku… apakah kau telah mampu mengajari “keledai” tersebut membaca…?” ujar Timur Lenk…

Nasrudinpun menggiring “keledai” itu menuju ke buku besar tersebut… kemudian Nasrudin membuka sampul buku tersebut… Si “keledai”pun menatap buku besar itu… dan tak lama kemudian “keledai” tersebut mulai membolak balik halaman buku tersebut dengan lidahnya… terus menerus hal itu dilakukan oleh “keledai” tersebut… dibolak-baliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir…

setelah selesai membolak-balik halaman buku milik Timur Lenk… si keledai menatap Nasrudin… "Demikianlah Tuanku…" kata Nasrudin… "”keledai”ku sudah selesai membaca buku besar milik Tuan…" lanjut Nasrudin…

karena tak puas dengan kata-kata Nasrudin… Timur Lenk pun mulai menginterogasi Nasrudin… : "Bagaimana caramu mengajari dia membaca…?" tanya Timur Lenk…

Nasrudin pun berkisah… "Sesampainya di rumah… aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku milik Tuanku… dan aku sisipkan biji-biji gandum di antara halamannya… untuk bisa memakan biji-biji gandum itu… “keledai” itu harus belajar membalik-balik halaman… sampai akhirnya ia benar-benar terlatih dan terbiasa untuk membolak-balik halaman buku itu dengan benar…"

"Tapi…!!!" tukas Timur Lenk tidak puas… "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya…?"

sambil tersenyum… Nasrudin pun menjawab… : "Memang demikianlah cara “keledai” membacanya Tuanku… dia hanya bisa membolak-balik halaman tanpa mengerti / memahami isinya…”

“sama saja dengan kita Tuanku… kalau kita hanya membuka-buka buku tanpa mengerti / memahami isinya…

Tidak salahkan bila kita disebut setolol keledai bahkan lebih tolol dari keledai…? bukan kah begitu Tuanku…?" Timur Lenk pun terdiam mendengar penjelasan Nasrudin…

Sahabat Fillah… sebuah kisah jenaka tetapi sekaligus berisi “sindiran yang santun…”… kini marilah sama-sama (terutama utk diri saya) qt renungkan kembali “diri ini”… apakah “diri ini” termasuk yang “hanya pandai membaca yang tersurat”… dari setiap peristiwa yang qt alami dalam hidup ini…? ataukah…

“diri ini” sudah mulai “belajar untuk mampu membaca dan memahami apa yang tersirat”.. dari setiap peristiwa yang qt alami dalam hidup ini…?

Mudah-mudahan bermanfaat… Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

salam santun fillah : “RQ / AA” bekasi…

Jangan Membaca Sampai Khatam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis serta tampilan komputer dapat pula dibaca, terlebih dizaman canggih seperti sekarang ini.

Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca dengan keras, Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. pada dasarnya membaca adalah kagiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari apa yang disampaikan penulis didalam tulisan. dikatakan kegiatan fisik karena , mata kita gunakan untuk melihat , terkadang mulut juga ikut bergerak meskipun ada juga yang hanya membaca dalam hati. dan dikatakan kegiatan mental karena beberapa bagian non fisik manusia juga ikut bekerja seperti halnya otak, perasaaan , naluri , persepsi dan ingatan.

Ada satu pelajaran penting dari membaca yang mungkin belum pernah diketahui oleh kebanyakan orang, yakni jangan pernah membaca sesuatu sampai halaman terakhir / khatam / tamat atau anda akan menyesal seperti halnya apa yang dialami oleh Syaiful.

Suatu hari Syaiful berniat ingin membeli buku cerita horor , karena sudah satu bulan lamanya menabung dan dirasa uangnya cukup untuk membeli buku, maka Syaiful pun melaksanakan niatnya untuk membeli beberapa komik cerita horor.

Sudah jadi adat kebiasaan mereka yang (maaf hanya memiliki dana sedikit) membeli buku ditempat yang grosir atau buku bekas dengan harapan agar bisa membeli lebih banyak buku, karena harganya yang lebih murah. begitu halnya dengan Syaiful yang mampir ke sebuah toko buku yang sudah tua, agak remang-remang dan pengunjungnya jarang, suasananya juga sedikit angker. Toko itu hanya dijaga oleh seorang kakek yang sudah tua sekali. Setelah dicari-cari, ketemulah buku yang berisi kumpulan cerita horor dan menarik serta tanpa pikir panjang Syaiful langsung menuju kasir untuk membayar.

Syaiful : ”Buku yang ini berapa harganya...?”

Kakek : ”Sembilan puluh ribu nak”

Syaiful : ”Waduh, mahal bener kek, padahal bukunya tipis gini?”

Kakek : ”Kalau tidak ingin beli, kembalikan saja bukunya”

Syaiful : ”Waduh, mana duitku pas-pasan lagi”. (Kata Syaiful dalam hati)

Tapi karena sudah niat sekali, dan dia juga belum pernah melihat karya sastra horor seperti ini, akhirnya Syaiful membeli buku itu juga. Setelah membayar Syaiful langsung keluar dari toko, namun baru sampai di pintu toko kakek itu memanggil Syaiful dan berpesan kepada nya :

Kakek : ”Nak, jangan coba-coba membuka halaman terakhir dari buku itu kalau tidak ingin menyesal nantinya”

Dalam hati Syaiful berkata .... wah kakek ini nakut - nakutin saja , Syaiful merinding dan hanya bisa menelan ludah saja tanda kaget lalu segera ia meninggalkan toko buku yang angker itu.

Tengah malam, disaat sedang asik membaca buku itu, tiba-tiba hujan turun deras sekali disertai petir yang menggelagar dan angin kencang membuat jendela kamar Syaiful terbuka. Angin kencang yang bertiup masuk ke kamar Syaiful membuatnya teringat akan pesan kakek tadi siang, ditengah sedang terlena mengingat pesan kakek tiba-tiba Angin itu membuat buku horor yang dibelinya tadi siang membalikkan halamannya satu demi satu dengan cepat.

Syaiful langsung menahan buku itu agar tidak membalikkan halaman lagi, namun apa daya saat syaiful hendak mencegah tiupan angin dari membalikkan halaman demi halaman ternyata halaman terakhir dari buku itu sudah terbuka. Syaiful ketakutan dan dengan pelan-pelan ia membuka jari jemarinya karena dalam hati syaiful juga terdapat rasa penasaran yang mendalam ingin melihat isi dari halaman terakhir itu.

Isi dari halaman terakhir dari buku itu adalah :

”KUMPULAN CERITA-CERITA HOROR.. SELESAI..."

DAPATKAN JUGA KOLAKSI-KOLEKSI CERITA HOROR LAINNYA DI TOKO BUKU KESAYANGAN ANDA, HANYA SEHARGA

Rp. 15.000,- ”

Wallahu A'lam

Terima Kasih Perampok

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
"Dibumi itu terdapat tanda - tanda kekuasaan Allah Bagi orang yang yakin dan pada dirimu sendiri , maka apakah kamu tidak memperhatikan...? (al ayat) "

IMAM HUJJATUL ISLAM AL GHAZALI pernah dihadang oleh sekelompok perampok saat melakukan perjalanan dan mereka mengambil seluruh bawaan beliau. Namun ada hal yang penting dari barang yang dirampas oleh mereka yakni beberapa catatan ilmu, hingga Imam Al Ghazali mengejar kelompok itu. Ketika para perampok mengetahui bahwa mereka dikejar, pemimpin mereka mengatakan,”Kembalilah, jika tidak, engkau akan celaka!”

Imam Al Ghazali pun menjawab,”Aku hanya ingin kalian mengembalikan beberapa catatanku saja, hal itu tidak bermanfaat bagi kalian.”

Kepala perampok itu pun mengatakan,”Di mana catatanmu itu?” Imam Al Ghazali pun menjawab,” Beberapa buku di kantung itu, aku telah melakukan perjalanan untuk menyimak dan menulis ilmunya.”

Kepala perampok itu pun tertawa,”Bagaimana engkau mengaku mengetahui ilmunya? Sedangkan kami telah mengambilnya darimu dan kini engkau tidak memiliki ilmu lagi.” Kamudian ia memerintahkan anak buahnya untuk menyerahkan buku-buku itu.

Setelah terjadi peristiwa itu, Imam Al Ghazali mengatakan,”Peristiwa ini merupakan nasihat dari Allah untukku, maka ketika aku sampai di kota Thus aku meluangkan diri selama 3 tahun hingga hafal seluruh catatanku itu, sehingga jika aku dirampok lagi aku tidak kehilangan ilmu.” (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 3/103)

Wallahu A'lam

Zuhud Bukan Berarti Tidak Punya Harta l Sang Sufi

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. "

Pertama, karena sebesar apapun rumah kita, yang kita butuhkan hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, 

"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah sendiri dan lebih mandiri. 

Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"

Si anak bergumam dalam hati alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma / gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat  dan tidak lagi dipandang sebelah mata , serta dapat leluasa beribadah kepada Sang Pencipta dan tidak lagi diperbudak oleh keinginan yang mereka tidak bisa meraihnya.

Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja." 

Wallahu A'lam

Jangan Salahkan Pencuri

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Suatu hari Syukro (penjaga masjid) mendapati masjid mereka telah dimasuki pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur sang pencuri, termasuk kotak amal dan segala peralatan elektronik yang ada, maklum kunci pintu Masjid sudah tua sehingga mudah untuk di bobol paksa , dan terjadi perdebatan panjang antara penjaga masjid dan semua anggota takmir.

"Ini semua salahmu karena kamu selalu merasa yakin bahwa semua pintu sudah terkunci sebelum pergi" kata pak Takmir

Para anggota takmir yang lain juga turut berkomentar "kamu sih tidak segera mengganti kunci pintu yang sudah tua"

"Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi..?" ujar yang lain.

"Kunci-kunci ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya," kata orang ketiga.

"Sebentar.... tentunya, aku bukan satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan." kata Syukron

"Lalu, siapa yang harus kami salahkan kalau bukan engkau, karena engkau yang bertugas menjaga keamanan di masjid ini..?" teriak orang-orang dengan gemas...

"Lho...? Kok bukan para pencuri itu?" kata Syukron

Setelah beberapa waktu terjadi perdebatan yang sengit akhirnya Nasyrudin datang untuk menengahi perdebatan mereka.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sabar, ......" kata nasrudin dengan santai nya sambil melangkahkan kaki menuju serambi.

"Tidak usah saling menyalahkan termasuk pencuri itu..., mungkin pencuri itu lagi butuh makanan, semestinya kita sadar, kalau warga kita masih jauh dibawah garis kemiskinan, dan didalam harta itu (zakat , infaq dan shadaqah) memang ada haq mereka" 

Ikhlaskan saja, semoga dapat menjadi amal baik dan pencuri itu segera diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu Wata'ala agar bertaubat dan tidak melakukan pencurian lagi. 

Ini semua tugas kita dan kita lalai untuk saling mengingatkan dan menasehati , juga untuk mengentaskan kemiskinan dan perbudakan. Bukannya begitu bapak - bapak semua.......? 

Kisah Inspirasi Al Quran Al 'Ashr , Adz Dzariaat, Al Baqarah , Al Balad, dan ayat - ayat yang lain.

Wallahu A'lam

Penjaga Masjid Naik Haji

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Alm H. SAMIN, Insya Allah nama itu tak akan pernah terlupakan. seorang penjaga masjid yang dengan ikhlas tanpa pamrih menjaga kebersihan masjid, melantunkan Adzan begitu waktu sholat tiba. keras memang wataknya tapi saya yakin apa yang dilakukannya benar. bahkan Ta'mir masjid pun pernah dimarahinya ^_^ (cerita dari orang tua / ayah) waktu itu bulan puasa seperti biasa, bertepatan dengan malam Nuzulul Qur'an di masjid / surau surau di adakan buka bersama, entah karena lelah karena baru saja membersihkan masjid atau karena sudah seringnya memperingatkan orang² agar buka bersama dilakukan di halaman luar masjid saja, H SAMIN (penjaga masjid) marah² dan membentak para jajaran pengurus Ta'mir dan para ulama'. 

Terjadi perdebatan antara H Samin dan jajaran pengurus Ta'mir masjid dengan mengeluarkan dalil dalil dan hadist "Rosululah SAW pernah berbuka puasa di masjid, dsb..." namun H Samin tetap bersikeras menentangnya, dan sebaiknya berbuka puasa di halaman luar masjid saja. perdebatan itu terhenti ketika salah seorang ulama menghentikannya. namun tetap saja buka puasa dilaksanakan di serambi masjid. karena kalah jumlah dan tidak ada yang membela akhirnya H Samin mengalah dia tetap berbuka puasa di halaman luar masjid meski sendirian.

Setelah berbuka puasa selesai seperti apa yang dikatakan H Samin di sana sini banyak berceceran bekas nasi, lauk pauk, kuah, dan minuman bekas orang berbuka puasa. dan sekali lagi H Samin harus mengepel lantai serambi masjid yang kotor.

Beberapa tahun kemudian perdebatan antara H samin itu di masukkan kedalam Syawir (musyawarah) yang biasa dilakukan 1 bulan sekali di PONPES RAUDLATUL ALFIYAH. singkat cerita ternyata di peroleh kesepakatan untuk tahun tahun ke depan berbuka puasa sebaiknya dilakukan di luar / di halaman masjid dengan alasan masjid menjadi kotor dan terkena Najis, berbeda dengan Zaman Rosulullah SAW makanan berbuka puasa hanya roti, kurma dan segelas minuman, sedangkan makanan berbuka puasa yang dilakukan di kampung saya sudah tercampur sambal, kuah kare, ayam pedas, yang kebanyakan memakai terasi, dll. Wallahu'alam. yang pasti apa yang disampaikan oleh H Samin kini dibenarkan dan berbuka puasa kini dilakukan di halaman luar masjid. (cerita sedikit tentang watak keras H Samin)

Di luar itu dia adalah sosok yang tabah, dan ikhlas menjalani hidup meski hanya di kasih upah kurang dari 100 ribu perbulan. H Samin tetap tegar menjaga kesucian Masjid dan Mengajak Penduduk kampung untuk melaksanakan Sholat tepat waktu. buku buku agama dan kitab suci Al Qur'an tak sedikitpun terdapat debu karena selalu dibersihkan dan di rawat olehnya. meski setiap kali habis dipakai / di baca buku² agama dan Al Qur'an berserakan, H Samin tetap dengan ikhlas merapikannya kembali. watak yang keras hilang di telan ke ikhlasan dan ketabahannya serta kesetiaannya menjaga, merawat dan membersihkan masjid, dan peralatan di dalamnya.

Hingga suatu ketika ... kabar gembira datang, dari tanah suci Makkah al Mukarromah, setiap penjaga masjid akan diberi Ongkos untuk naik haji, subhanalllah... Allah SWT maha kuasa dan berkehendak terhadap segala apapun yang ada di dunia dan akhirat, apa yang di dapatkan oleh H SAMIN adalah benar benar panggilan Illahi untuk datang memenuhi panggilan Nya. H Samin mendapatkan panggilan Allah SWT untuk hadir ke Tanah Suci Makkah, dengan tak disangka² seorang penjaga masjid yang berpenghasilan kurang dari 100 ribu, bisa memenuhi panggilan Illahi Rabbi hadir di tanah suci Makkah, itulah balasan Allah SWT atas hamba NYa yang selalu taat beribadah, ikhlas menerima serta mensyukuri nikmat dan karunia ALLAH SWT.

Kini H Samin telah tiada + 3 tahun sudah dia benar benar dipanggil Oleh Allah Subhanahu Wata'ala.  Semoga dia akan mendapat tempat yang layak nantinya di syurga. Amin.. ya rabbal 'alamin.


Wallahu A'lam

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About