Showing posts with label Sufi. Show all posts
Showing posts with label Sufi. Show all posts

Mendidik Lahir dan Bathin

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Menurut beberapa orang Syariat dan Tasawuf adalah dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dua-duanya tidak berdiri sendiri-sendiri, semisal anda mau bersyariat dulu sampai sempurna baru anda memasuki dunia tasawuf. Itu salah kaprah. Karena sampai mati anda tidak akan sempurna syariat anda.

Syariat adalah menata kehidupan lahiriyah, dan ibadah yang bersifat lahiriyah semua. Batin anda juga harus beribadah, dan dunia tasawuf merupakan pengetahuan ubudiyahnya batin. Bayangkan ketika lahiriyah anda beribadah, tapi hati anda menyembah dunia, berhala nafsu dll?

Siapa yang bersyariat tetapi tidak bertasawuf adalah fasik, demikian kata Imam Malik ra. Dan siapa yang bertasawuf tidak bersyariat berarti zindiq (kebatinan).

Tasawuf tidak ada yang bertentangan dengan syariat, dan syariat tidak ada yang bertentangan dengan tasawuf. Jika tasawuf melanggar Kitab dan Sunnah maka dipastikan adalah Tasawuf sesat. Karena dasar semua Ilmu Tasawuf adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Hanya saja banyak orang menyesatkan Tasawuf karena tidak faham hakikat Qur’an dan Sunnah Nabi, yang dipahami hanya kulit belaka, jadika tergolong fasiqin (orang-orang fasik).

sumber : www.sufinews.com

Memotong Rambut Dan Kuku Saat Haid

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Bukan Fatwa 

Memotong Kuku dan atau rambut pada saat haid , sampai saat ini memang masih banyak menyisakan kontroversi, terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama' karena sebagian ada yang melarang dan sebagian ada yang memperbolehkan, dengan catatan apabila rambut yang rontok, dianjurkan untuk menyimpannya hingga masa haid selesai. Setelah haid berakhir dan mau mandi besar maka rambut yang rontok dan kuku yang terpotong semasa haid harus disertakan waktu mandi agar ikut dibersihkan juga dengan air.

Sebagian yang lain menjelaskan / Berpendapat tidak ada larangan mengenai larangan memotong rambut dan kuku semasa haid, demikian pula tentang wajibnya mencuci rambut dan kuku yang tidak sengaja rontok saat haid, karena yang wajib adalah mandi janabah dengan meratakan air ke seluruh anggota badan saja. Adapun rambut dan kuku yang sudah rontok sebelumnya, maka tidak wajib dicuci, karena sudah bukan bagian dari badan kita saat melakukan mandi besar.

Hal lain yang lebih kepada nalar / logika sebagian ulama, bahwa wanita haidh itu wajib mandi dan bersuci sebelum dibolehkan shalat atau puasa atau mengerjakan jenis ibadah lainnya. secara logika apabila pada saat haidh itu seorang wanita memotong kuku dan rambut, lalu potongannya itu dibuang, maka ketika mandi janabah, potongan rambut dan kuku itu sudah tidak termasuk yang disucikan. Sehingga untuk menghindari hal itu, wanita dilarang memotong rambut dan kuku saat haid.

Sekali lagi, ini hanyalah logika dan nalar bukan dari nash Quran atau nash hadits, karena dari sekian banyak ajaran yang telah Rasulullah SAW sampaikan kepada kita, baik dalam hadits ataupun dalam ayat Al-Quran Al-Karim tak sekali pun beliau menyebutkan larangan itu.

Ada sebagian orang yang menyatakan bahwa orang yang memotong rambutnya atau kukunya ketika junub maka semua bagian tubuhnya ini akan kembali pada hari kiamat dan menuntut pemiliknya untuk memandikannya. 

Apakah ini benar ?

Tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan di Akhirat dan atau hari setelah kiamat nanti, kecuali Allaah Dan Rasullaah, adapun sebagian besar hukum yang saat ini diambil lebih kepada ijtihad para ulama, kesulitan terbesar yang ada saat ini dalam mengeluarkan hukum dan atau berfatwa adalah karena terlalu banyaknya sesuatu yang telah dibuat ada dan diada - adakan, yang justru membuat manusia itu sendiri kesulitan.

Hukum Islam tidak sulit dan atau mempersulit sebagaimana sabda Rasulullah SAW "Permudahlah urusan orang, jangan dipersulit. Gembirakan hati orang, jangan pula ditakut-takuti"


Sekiranya terdapat kesulitan maka Bertawakkallah kepada Allaah Subhanahu Wata'ala, Allaah Tidak hendak mendzalimi, mempersulit dan atau membebankan beban yang berat kepada Hamba - Hamba Nya. Justru manusia itu sendiri yang mempersulit dan mendzalimi dirinya sendiri (al ayat)


Silahkan di ikuti keyakinan yang ada didalam hati, ikut A atau Ikut B percayalah pada keyakinan saudara, sekiranya merasa bersalah / melakukan kesalahan dan berdosa / melakukan perbuatan dosa, Bersegeralah memohon Ampunan dan Allaah adalah Maha Pengampun.

Wallahu A'lam

Khalifah Telah Gila

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan sholat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwa Umar bin Kaththab sudah gila ?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan sholat Jumaat yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khutbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum sholat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mahu bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya, "Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu, bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan sholat fardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung dari tepung gandum dan kusembah-sembah seperti Tuhan, bila ku lapar ku makan 'Tuhan' ku itu".

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum boleh menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhutbah?

Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Iaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.

Komandor pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghentam kami dari berbagai penjuru. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat sholat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan ghaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tiga kali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melihatnya"

Wallahu A'lam
@@@---------------------------------------------------------@@@

Bertobat, Beriman Dan Mengerjakan Amal Shaleh

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah :

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira." (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur'an  Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar, dalam sebuah ayat Allah menyatakan :

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia." (Q.s. an-Nisa': 31).

Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan. Allah memberitahukan kita dalam al-Qur'an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, "Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni." Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

"Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.s. an-Nisa': 17-8).

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut :

"Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (Q.s. at-Taghabun: 9).

Dijelaskan lagi dalam Surah Al Furqaan :

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. al-Furqan: 70).

Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah "amal saleh". Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. 

"Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah"

Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. 

Karena neraka yang ada di sisi-Nya akan selalu mengingatkan mereka tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya. 

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan mereka yang bersegera dalam memohon ampunan dan meninggalkan segala keburukan dan kealpaan serta menggantinya dengan mengerjakan amal kebajikan. ingatlah bahwa kita hidup didunia ini hanya sebentar saja sedangkan di alam yang lain terdapat siksa yang kekal selamanya. 

Wallahu A'lam

Fatimah az-Zahra

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Fatimah binti Muhammad (606/614 - 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah. Fatimah dilahirkan pada hari Jumat, 20 Jumadil akhir di Mekkah, tahun kelima setelah kerasulan Nabi Muhammad, atau sekitar tahun 614 M (menurut tradisi Syi'ah) atau tahun 606 M (menurut Sunni). Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayah dan ibunya. Ia AH wafat pada tahun ke-11 Hijriyah, enam bulan setelah wafatnya Rasulullah, dan dimakamkan secara rahasia di Pemakaman Baqi', Madinah.

Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupu, sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra memiliki 5 anak, 3 putra dan 2 putri. 3 putra yaitu Hasan, Husain, dan Muhassin. Sedangkan yang putri yaitu Zainab dan Ummu Kulsum. Hasan dan Husain sangat disayangi oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Waalihi Wassalam.

Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa Beliau. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata " Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia".

Fatimah Az-zahra tdk pernah lepas dari wudhu seperti yang diajarkan ayahnya. dia juga satu-satunya wanita yang tidak mengalami haid (datang bulan) dan Nifas waktu melahirkan.

Wallahu A'lam

Zuhud Bukan Berarti Tidak Punya Harta l Sang Sufi

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. "

Pertama, karena sebesar apapun rumah kita, yang kita butuhkan hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, 

"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah sendiri dan lebih mandiri. 

Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"

Si anak bergumam dalam hati alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma / gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat  dan tidak lagi dipandang sebelah mata , serta dapat leluasa beribadah kepada Sang Pencipta dan tidak lagi diperbudak oleh keinginan yang mereka tidak bisa meraihnya.

Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja." 

Wallahu A'lam

Islam Agama Terbesar Kedua Di Rusia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Islam adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar 21 - 28 juta penduduk atau 15 - 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk. Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga kian membaik dibanding masa Komunis dahulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.

Sejarah Muslim pertama di wilayah Rusia adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas penaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam. Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan yang lama, melebar ke seawal pada saat penaklukan kawasan Volga Tengah pada abad ke-16, yang membawa orang Tatar dan Orang Turki di Volga Tengah ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18 dan ke-19, penaklukan Rusia di Caucasus Utara membawa orang-orang Muslim dari kawasan Dagestan, Chechen, Circassia, Ingush, dan lain-lain ke dalam negara Rusia.

Kievan Rus juga telah dapat kesempatan untuk memeluk Islam dari misionaris Volga Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur menerima agama Kristen. Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar.

Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar) juga mayoritas dihuni oleh orang islam.

Masjid

Secara resmi jumlah masjid di Rusia mencapai 4750 masjid, namun jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan terus bertambah. Di Dagestan saja terdapat antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia dengan jumlah pemeluk Islam yang melebihi 1 juta orang terdapat 20 komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000 masjid di Rusia.

Organisasi

Menurut data register negara, kini telah tercatat 3345 organisasi keagamaan Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-organisasi keagamaan Muslim terdaftar di daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan jumlah organisasi keagamaan Muslim di daerah lainnya lebih kecil. Mayoritas Muslim di Rusia adalah Pengikut Sunni. Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu Mazhab Syafii di Kaukasus Utara dan Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.

Tiga organisasi Muslim menurut status dewan federal (pusat) adalah :
  1. Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa). Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan ini memimpin 1,686 komunitas.
  2. Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan mempersatukan 522 komunitas.
  3. Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.

Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara Muslim di Rusia dan Indonesia telah meningkat karena pekerjaan yang baik dan usaha yang dilakukan oleh Dubes Indonesia Bapak Hamid Awaludin dan diplomat M. Aji Surya dan Enjay Diana

Dari Berbagai Sumber : Wallahu A'lam

Republik Islam Afganistan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Republik Islam Afganistan (افغانستان) adalah sebuah negara di Asia Tengah.Afganistan berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di selatan dan timur, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan di utara, dan Republik Rakyat Cina di ujung timur. Afganistan juga berbatasan dengan Kashmir, wilayah yang dipersengketakan oleh India dan Pakistan. Pada kurun waktu antara tergulingnya rezim pemerintahan Taliban pada 2001 dan Loya jirga (sidang majelis Musyawarah Tradisional) tahun 2004, dunia Barat menyebut negara ini dengan nama Negara Islam Transisi Afganistan.

Afganistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia , Sekitar 99 persen warga Afghanistan adalah Muslim, dari mereka, 80-85% adalah Sunni Mazhab Hanafi, sedangkan 15-20% adalah Syi'ah, mayoritas dari mereka adalah Imamiyah bersama dengan sejumlah kecil Ismailiyah. Ada juga pengaruh yang kuat tasawuf di kalangan Sunni dan komunitas Syiah.

Afganistan adalah sebuah negara di persimpangan Asia Umumnya dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah, kadang-kadang dianggap berasal dari sebuah blok regional baik di Asia Selatan atau Timur Tengah, karena memiliki hubungan budaya, etno-linguistik, dan geografis dengan sebagian besar tetangganya. Afghanistan harfiah diterjemahkan menjadi 'tanah Afghan', tetapi kebanyakan dari nama-nama lainnya telah diterapkan pada lokasi umum di masa lalu. Nama Afghanistan berasal dari Afghanistan kata. Para Pushtuns tampaknya telah mulai menggunakan istilah Afghanistan sebagai nama untuk diri mereka sendiri dari periode Islam seterusnya.


Awal sejarah

Pada akhir abad ke-7, orang-orang Arab Umayyah masuk ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Afghanistan setelah mengalahkan tegas Sassanians di Nihawand. Setelah kekalahan ini kolosal, yang terakhir kaisar Sassania, Yazdegerd III, yang menjadi buronan diburu, melarikan diri ke timur jauh ke Asia Tengah. Dalam mengejar Yazdegerd, rute Arab yang dipilih untuk masuk kawasan itu dari Iran utara-timur[1] dan selanjutnya ke Herat di mana mereka ditempatkan sebagian besar pasukan mereka sebelum maju ke Afghanistan timur. Orang-orang Arab yang diberikan upaya besar terhadap menyebarkan Islam di kalangan penduduk setempat.

Sejumlah besar penduduk wilayah yang terdiri dari Afghanistan utara menerima Islam melalui upaya misionaris Umayyah terutama di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul-Malik dan Umar bin Abdul-Aziz. Selama masa pemerintahan Al-Mu'tashim, Islam pada umumnya dipraktekkan di antara sebagian besar penduduk wilayah ini dan akhirnya di bawah Yakub Laith-i Saffari, Islam sejauh ini, yang mendominasi agama Kabul bersama dengan kota-kota besar lainnya di Afganistan modern. Sisa-sisa kehadiran Shahi di perbatasan Afghanistan timur diusir oleh Mahmud dari Ghazni selama tahun 998 dan 1030.

Ada pandangan banyak, tentang asal usul nama Afghanistan, sebagian besar dari mereka yang murni spekulatif seperti dapat dilihat di bawah ini :

Makhzan-i-Afghni oleh Nematullah ditulis pada tahun 1612 Masehi, jejak asal Afghanistan atau Pakhtun dari super-Patriark Abraham ke satu bernama Raja Talut atau Saul. Ini menyatakan bahwa Saul memiliki seorang putra Irmia (Jeremia), yang memiliki seorang putra yang disebut Afghana. Setelah kematian Raja Saul, Afghana dibesarkan oleh David, dan kemudian dipromosikan ke perintah kepala tentara selama pemerintahan Raja Salomo. Keturunan dari Afghana dikalikan banyak sekali, dan kemudian disebut Bani Israel. Pada abad keenam SM, Bakhtunnasar, atau Nebukadnezar raja Babul, menyerang Yehuda dan diasingkan keturunan Afghana untuk Ghor terletak di pusat dari apa yang sekarang Afghanistan. Dalam perjalanan waktu, komunitas diasingkan datang harus ditangani sebagai Afghanistan setelah nama nenek moyang mereka, dan negara tersebut mendapat nama sebagai Afghanistan. Pandangan tradisional memiliki banyak perbedaan sejarah, dan karena itu tidak diterima oleh para ilmuwan modern --- yang pemohon terakhir untuk hipotesis Bani-Israel yang Raverty Walikota (The Pathan, 1958, Olaf Caroe).

Versi lain dari legenda Pashtun tempat Afghana, nenek moyang eponymous mengaku dari Afghanistan atau Pushtuns, sebagai Muslim kontemporer Nabi Muhammad. Setelah mendengar tentang iman baru Islam, Qais dari Aryana perjalanan ke Madinah untuk melihat Nabi Muhammad muslim, dan kembali ke Aryana sebagai seorang Muslim. Abdur Rasyid Qais konon memiliki banyak putra, salah satunya adalah Afghana. Afghana, pada gilirannya, memiliki empat anak yang berangkat ke timur untuk mendirikan garis keturunan masing-masing. Putra pertama pergi ke Swat, yang kedua ke Lahore dan India, yang ketiga untuk Multan, dan yang terakhir ke Quetta. Legenda ini adalah salah satu dari cerita tradisional di kalangan kaum Pashtun berkenaan dengan asal usul mereka yang berbeda. Sekali lagi, inilah Afghana legendaris yang dinyatakan telah diberi nama Pushtuns mereka saat ini. Perlu dicatat bahwa Afghanistan legenda ini dipisahkan dari Afghana kali Salomo oleh setidaknya 11 abad.

Dr H.W. Bellew, dalam bukunya An Enquiry ke Etnografi Afghanistan, percaya bahwa nama Afghanistan berasal dari istilah Latin Alban, digunakan oleh Armenia sebagai Alwan atau Alwan, yang mengacu pada pendaki gunung, dan dalam kasus karakter Armenia transliterasi, akan diucapkan sebagai Aghvan atau Aghwan. Untuk Persia, hal ini lebih lanjut akan diubah untuk Aoghan, Avghan, dan Afghanistan sebagai referensi ke dataran tinggi atau "pendaki gunung" dari dataran tinggi Iran timur.

Beberapa orang berpendapat bahwa nama itu berasal dari "Abagan" (yaitu tanpa Allah) yang istilah Persia dinyatakan telah diciptakan untuk Pushtuns untuk menggambarkan mereka sebagai Godless atau non-percaya. Hal ini menyatakan bahwa Abagan kata antonym dari kata Bagan (= percaya pada Tuhan) hanya sebagai kata apolitis adalah antonim dari politik dalam bahasa Inggris. Ada juga beberapa orang yang link "Afghanistan" untuk kata Uzbekistan "Avagan" kata berarti "asli". Yang lain percaya bahwa nama berasal dari bahasa Sanskerta upa-ganah, kata yang berarti "suku bersekutu".

Pandangan lain etimologis adalah bahwa Afghanistan nama jelas berasal dari bahasa Sanskerta Ashvaka atau Ashvakan (qv), yang Assakenoi dari Arrianus. Pandangan ini dikemukakan oleh JW McCrindle dan didukung oleh banyak sarjana modern (termasuk Lassen C, S. Martin, Uskup, Crooks, W. Crooke, JC Vidyalnar, MR Singh, P. Smith, NL Dey, Dr JL Kamboj, S Kirpal Singh. dan beberapa orang lainnya). Dalam bahasa Sanskerta, kata ashva (Iran Aspa, assa Prakrit) berarti "kuda", dan ashvaka (assaka Prakrit) berarti "penunggang kuda". Pra-Kristen kali tahu orang-orang timur Afghanistan sebagai Ashvakas (penunggang kuda), karena mereka mengangkat berkembang biak denda kuda dan memiliki reputasi untuk menyediakan pasukan kavaleri ahli. Kelima-abad-SM India tatabahasa Panini panggilan mereka Ashvayana dan Ashvakayana. Penulis klasik menggunakan setara Aspasios masing-masing (atau Aspasii, Hippasii) dan Assakenois (atau Assaceni / Assacani, Asscenus). Para Aspasios / Assakenois (= Ashvakas = pasukan kavaleri) yang dinyatakan sebagai nama lain untuk Kambojas karena karakteristik berkuda mereka (lihat Daftar etimologi nama negara).

Bagian terakhir dari nama Afghanistan berasal dari kata Persia stan (negara atau tanah). Para Afghanland kata bahasa Inggris yang muncul dalam berbagai perjanjian antara Qajar-Persia dan Inggris berurusan dengan tanah Timur kerajaan Persia (modern Afganistan) yang diadopsi oleh Afghanistan dan menjadi Afghanistan.

Sebelum dipanggil 'Afghanistan, wilayah itu sudah pergi melalui perubahan beberapa nama dalam sejarah panjang sekitar 5000 tahun. Salah satu nama yang paling kuno, menurut sejarawan dan sarjana, Ariana - pengucapan Yunani kuno Aryanam Avestan Vaeja atau Sanskerta "Aryavarta", Tanah bangsa Arya. Hari ini Lama-Persia, dan Avestan ekspresi yang diawetkan dalam nama Iran dan itu adalah dicatat dalam nama maskapai penerbangan nasional Afghanistan, Ariana Airlines. Istilah 'Ariana Afghanistan masih populer di kalangan pembicara Persia di negeri ini.

Berabad-abad kemudian, Afganistan adalah bagian dari Khorasan Raya, dan karenanya diakui dengan nama Khurasan (bersama dengan daerah berpusat di sekitar Merv dan Neishabur), yang dalam Pahlevi berarti "Tanah Timur" (خاور زمین ).

Afghanistan ada pada titik perhubungan-unik di mana banyak peradaban Eurasia telah berinteraksi dan sering bertempur dan merupakan situs penting dari aktivitas sejarah awal. Melalui usia, wilayah ini dikenal sebagai Afghanistan telah diserang oleh sejumlah orang, termasuk Arya, Media, Persia, Yunani, Mauryans, Kushan, Sassaniyah, Arab, Turki, Inggris, dan Soviet, namun jarang memiliki kelompok-kelompok ini berhasil untuk melakukan kontrol penuh atas wilayah tersebut.

Periode terpanjang stabilitas di Afghanistan antara tahun 1933 dan 1973, ketika negara itu di bawah kekuasaan Raja Zahir Shah. Namun, pada tahun 1973, yang Zahir kakak ipar, Sardar Mohammed Daoud melancarkan kudeta tak berdarah. Daoud dan seluruh keluarganya dibunuh pada tahun 1978 ketika Partai Rakyat Demokratik komunis Afghanistan melancarkan kudeta yang dikenal sebagai Revolusi Saur Besar dan mengambil alih pemerintah.

Amerika Serikat dan sekutu aksi militer untuk mendukung oposisi setelah 11 September, 2001 Serangan Teroris dipaksa kejatuhan Taliban. Pada akhir 2001, pemimpin utama dari kelompok oposisi Afghanistan dan diaspora bertemu di Bonn, dan menyetujui rencana untuk perumusan struktur pemerintahan baru yang mengakibatkan pelantikan Hamid Karzai sebagai Ketua Otoritas Interim Afganistan (AIA) pada Desember 2001. Setelah Loya Jirga nasional pada tahun 2002, Karzai terpilih sebagai presiden.

Pada tanggal 3 Maret dan 25 Maret 2002, serangkaian gempa bumi melanda Afghanistan, dengan hilangnya ribuan rumah dan lebih dari 1800 nyawa. Lebih dari 4000 orang lainnya luka-luka. Gempa bumi terjadi di Provinsi Samangan (3 Maret) dan Provinsi Baghlan (25 Maret). Yang terakhir adalah lebih buruk dari dua, dan menyebabkan sebagian besar korban. Otoritas internasional membantu pemerintah Afghanistan dalam menghadapi situasi.

Afghanistan saat ini dipimpin oleh presiden Hamid Karzai, yang terpilih pada Oktober 2004. Sebelum pemilihan, Karzai memimpin negara setelah telah terpilih oleh administrasi Amerika Serikat 'Presiden Bush untuk kepala pemerintah sementara, setelah jatuhnya Taliban. Kabinet saat ini termasuk anggota dari Aliansi Utara Afghanistan, dan campuran dari daerah dan kelompok etnis lainnya yang terbentuk dari pemerintahan transisi oleh Loya jirga (dewan agung). Mantan Raja Mohammed Zahir Shah kembali ke negara, tetapi tidak kembali sebagai raja, dan hanya latihan kekuatan seremonial terbatas.

Berdasarkan Perjanjian Bonn Komisi Konstitusi Afganistan didirikan untuk berkonsultasi dengan publik dan merumuskan rancangan konstitusi. Pertemuan loya jirga dari konstitusi diselenggarakan pada bulan Desember 2003, ketika sebuah konstitusi baru diadopsi menciptakan bentuk pemerintahan presiden dengan legislatif bikameral.

Pasukan dan dinas intelijen dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain hadir, beberapa untuk menjaga perdamaian, lainnya ditugaskan memburu sisa-sisa Taliban dan al Qaeda. Sebuah pasukan penjaga perdamaian PBB yang disebut Pasukan Bantuan Keamanan Internasional telah beroperasi di Kabul sejak Desember 2001. NATO mengambil kendali angkatan ini pada 11 Agustus 2003. Beberapa negara tetap di bawah kendali panglima perang.

Politik Afganistan

Kini, sebuah pemerintahan sementara telah didirikan. Diketuai oleh presiden Hamid Karzai, kebanyakan anggotanya dari Aliansi Utara, dan campuran dari daerah dan kelompok etnis lainnya yang terbentuk dari pemerintahan transisi oleh Loya jirga. Mantan raja Zahir Shah yang kembali ke negeri, namun tak dikembalikan lagi sebagai raja dan hanya menjalankan kekuatan seremonial terbatas.

Di bawah Persetujuan Perjanjian Bonn (Bonn Agreement), Komisi Konstitusi Afganistan didirikan untuk berkonsultasi dengan publik dan pembentukan konstitusi draft. Dijadwalkan meluncurkan draft pada 1 September 2003, komisi itu telah meminta penundaan agar mengerjakan konsultasi lebih lanjut. Pertemuan loya jirga (dewan agung) konstitusional diselenggarakan pada Desember 2003 saat konstitusi baru diadopsi yang menciptakan bentuk pemerintahan presiden.

Demografi

Afghanistan merupakan tempat dari sejumlah suku. Namun karena belum adanya pencacah jiwaan yang memadai, sehingga tidak diketahui pasti kondisi sebenarnya. Dan yang tersedia sekarang hanya berdasarkan perkiraan belaka. Berdasarkan catatan dari CIA World FactBook (diperbaharui tanggal 17 Mei 2005), demografi suku di Afghanistan adalah sebagai berikut : Pashto 42%, terpusat di bagian timur dan selatan Afghanistan; Tajik 27% berpusat di bagian utara dan Kabul; Hazara 9% berpusat di Afghanistan tengah termasuk Bamiyan; Uzbek 9%; Aimak4%; Turkmen 3%; Baluchi 2% dan sisanya 4% yang Mencius Wakhidan Kyrgyz.

Ada dua bahasa resmi di Afghanistan yakni Persia Afgani yang sering disebut Dari (50%), dan Pashtun (35%). Beberapa bahasa lainnya yaitu bahasa-bahasa Turkik (Uzbek dan Turkmenistan yang digunakan oleh 11% rakyatnya), dan 30 bahasa-bahasa kecil, terutama Baluchi dan Pashai (4%). Banyak orang Afganistan yang mampu menggunakan dua bahasa atau lebih.

Menurut agama orang Afganistan kebanyakan adalah Muslim Sunni (80%), Muslim Syi'ah (19%), dan lainnya (1%).

Dari Berbagai Sumber   Wallahu A'lam

Berpikir Sebelum Bicara

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al Kisah Suatu ketika di wilayah Asia tengah, antara Iran dan Afganistan, hidup seorang ulama ahli bahasa yang amat terkenal. Suatu hari ia menasehati putranya: "Kalau kamu hendak membicarakan sesuatu, pakai dahulu otakmu. Pikirkan dengan matang; setelah itu, baru katakan dengan kalimat yang baik dan benar."

Pada suatu hari di musim hujan, keduanya sedang duduk-duduk santai di dekat api unggun di rumahnya. Tiba-tiba sepercik api mengenai jubah tenunan dari sutera yang dikenakan sang ayah. Peristiwa itu dilihat putranya, namun ia diam saja. Setelah berpikir beberapa saat barulah ia membuka mulut,

"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu, bolehkah?" tanyanya.

"Kalau menyangkut kebenaran katakan saja," jawab sang ayah.

"Ini memang menyangkut kebenaran," jawabnya.

"Silakan," kata sang ayah. Ia berkata,

"Aku melihat benda panas berwarna merah."

"Benda apa itu?," tanya sang ayah.

"Sepercik api mengenai jubah ayah," jawabnya.

Seketika itu sang ayah melihat jubah yang sebagian sudah hangus terbakar.

"Kenapa tidak segera kamu beritahukan kepadaku?," kata sang ayah. 

"Aku harus berpikir dahulu sebelum mengatakannya, seperti apa yang anda nasihatkan kepadaku tempo hari," jawab putranya dengan lugu.

Sejak itu ia berjanji akan lebih berhati-hati dalam memberikan nasihat pada putranya. Ia tidak ingin peristiwa pahit seperti itu terulang lagi.

Istri Atau Suami Lebih Mudah Dicari Dari Pada Keledai

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al Kisah Suatu hari Nasrudin yang periang dan selalu mempunyai jalan keluar akan setiap suatu permasalahan kali ini tengah dirudung masalah yang sulit karena kehilangan keledai kesayangannya.

sebagai orang yang telah banyak diberikan wejangan dan solusi cerdasnya warga kampung pun banyak berdatangan untuk menenangkan keadaan dan menghibur nasrudin.

"Engkau memang telah kehilangan keledaimu, Mullah. Tetapi tidak perlu bersedih, lebih sedih dibanding ketika engkau kehilangan istrimu." kata salah satu warga memberikan nasehat.

"Benar kata si ma'uun ,engkau tidak perlu bersedih hati hanya karena kehilangan se-ekor keledai" kata si Tha'un menambahkan.

"Ah....., kalau saja kalian ingat. Ketika aku kehilangan istriku, kalian semua warga kampung berkata: 'Kami akan mencari pengganti untukmu'. Tapi coba sekarang, ketika keledaiku mati tak seorang pun yang menawarkan penggantinya."

Warga kampung  : ~.~ .....

Jangan Salahkan Pencuri

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Suatu hari Syukro (penjaga masjid) mendapati masjid mereka telah dimasuki pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur sang pencuri, termasuk kotak amal dan segala peralatan elektronik yang ada, maklum kunci pintu Masjid sudah tua sehingga mudah untuk di bobol paksa , dan terjadi perdebatan panjang antara penjaga masjid dan semua anggota takmir.

"Ini semua salahmu karena kamu selalu merasa yakin bahwa semua pintu sudah terkunci sebelum pergi" kata pak Takmir

Para anggota takmir yang lain juga turut berkomentar "kamu sih tidak segera mengganti kunci pintu yang sudah tua"

"Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi..?" ujar yang lain.

"Kunci-kunci ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya," kata orang ketiga.

"Sebentar.... tentunya, aku bukan satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan." kata Syukron

"Lalu, siapa yang harus kami salahkan kalau bukan engkau, karena engkau yang bertugas menjaga keamanan di masjid ini..?" teriak orang-orang dengan gemas...

"Lho...? Kok bukan para pencuri itu?" kata Syukron

Setelah beberapa waktu terjadi perdebatan yang sengit akhirnya Nasyrudin datang untuk menengahi perdebatan mereka.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sabar, ......" kata nasrudin dengan santai nya sambil melangkahkan kaki menuju serambi.

"Tidak usah saling menyalahkan termasuk pencuri itu..., mungkin pencuri itu lagi butuh makanan, semestinya kita sadar, kalau warga kita masih jauh dibawah garis kemiskinan, dan didalam harta itu (zakat , infaq dan shadaqah) memang ada haq mereka" 

Ikhlaskan saja, semoga dapat menjadi amal baik dan pencuri itu segera diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu Wata'ala agar bertaubat dan tidak melakukan pencurian lagi. 

Ini semua tugas kita dan kita lalai untuk saling mengingatkan dan menasehati , juga untuk mengentaskan kemiskinan dan perbudakan. Bukannya begitu bapak - bapak semua.......? 

Kisah Inspirasi Al Quran Al 'Ashr , Adz Dzariaat, Al Baqarah , Al Balad, dan ayat - ayat yang lain.

Wallahu A'lam

Hukum Gantung Atau Hukum Pancung

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sudah bukan rahasia lagi kalau diantara Abu Nawas dan Raja Harun Al Rasyid terdapat permusuhan sengit yang seolah tidak pernah bisa didamaikan, sesekali damai beberapa waktu kemudian pun akan kembali terjadi permusuhan, ya.... kalau kita baca setiap kisah dari Abu Nawas memang tidak jauh dari kisah TOm And Jerry. 

Pun demikian halnya dengan saat ini dimana cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas. Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu Nawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri. Dan ulama dengan ulama.

Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat. Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu cara-cara yang paling jitu kepada Baginda Raja. Baginda Raja manggut-manggut setuju. Wajah Baginda tidak lagi murung. Apalagi ulama itu menegaskan bahwa ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak mempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.

Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuai rencana. Abu Nawas terjerembab ke pangkuan siasat sang ulama. Abu Nawas melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat pemancungan. Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset. Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ulama.

Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para pecinta dan pengagum Abu Nawas tak.akan mampu menghentikan hukuman mati yang akan dijatuhkan. Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kemenangannya. Belum pernah Baginda terlihat seriang sekarang. Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya satu orang yang tetap tidak yakin bahwa hidup Abu Nawas akan berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.

Bukankah Alla Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlak urusanNya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas; orang banyak semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya. Semakin dekat hukuman bagi dirinya, semakin tenang hatinya. Malah Abu Nawas nampak setenang air danau di pagi hari. Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalah merupakan bagian dari tipu dayanya Tetapi Baginda Raja telah bersumpah pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.

Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan akan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya. Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu. Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Baginda Raja memberi sambutan singkat tentang akan dilaksanakan hukuman mati atas Abu Nawas. Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan permintaan terakhir Abu Nawas.

Dan pertanyaan inilah yang paling dinanti-nantikan Abu Nawas. "Adakah permintaan yang terakhir"
"Ada Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas singkat.
"Sebutkan." kata Baginda.
"Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba anggap cocok wahai Baginda yang mulia." pinta Abu Nawas.
"Baiklah." kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas...
"Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka hamba dihukum gantung saja." kata Abu Nawas memohon.

"Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana." kata Baginda sambil tertawa.

"Hamba tidak bersenda gurau Raduka yang mulia." kata Abu Nawas bersungguh-sungguh. Baginda main terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.

"Hamba minta dihukum pancung!" Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai mendariak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas. Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan rakyatnya. Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati yang paling cocok untuk dirinya.

Kini kesempatan Abu Nawas membela diri. "Baginda yang mulia, tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba harus dihukum gantung. Padahal paduka telah memilih hukuman pancung?" Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benar-benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.

"Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini. Berapa banyakkah bintang di langit?"
"Oh, gampang sekali Tuanku."
"lya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?" tanya Baginda.
"Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai."
"Kau ini... bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?"
"Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?"
"Hahahahaha...! Kau memang penggeli hati. Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan, sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar lelucon-leluconmu yang baru!"
"Siap Baginda...!" Lalu Baginda memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang kepada manusia terlucu di negerinya itu.

~.~ 

Tanda-tanda Hari Penghakiman

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Pertanda hari kiamat telah di sampaikan oleh Muhammad sekitar 1400 tahun yang lalu, dibawah adalah pertanda hari penghakiman yang dikutip dari Harun Yahya dan lainnya, berdasarkan hadits shahih.

Diutus dan wafatnya Muhammad.
Terbelahnya bulan pada masa penyebaran Islam.
Api dari tanah Hijaz yang menerangi punuk-punuk unta.
Terhapusnya jizyah dan pajak.
Munculnya Khawarij.
Penggembala menjadi kaya.
Dicabutnya nikmat waktu, maka waktu berputar serasa lebih cepat.
Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria.
Baitul Maqdis dikuasai umat Islam.
Perang antara Yahudi dan Islam.
Jazirah Arab kembali penuh dengan kebun-kebun & sungai-sungai.
Sungai Efrat mengeluarkan bukit emas.

Banyak terjadi al Harj yaitu pembunuhan massal.
Penghancuran kota-kota besar oleh tangan manusia (akibat perang) dan peristiwa alamiah.
Kemiskinan akan bertambah dan tinginya biaya hidup
Keuntungan bagi kaum kaya tanpa ada sedikitpun keuntungan bagi kaum miskin,
Tidak meratanya kesejahteraan dan kemakmuran,
Kemiskinan dan kelaparan di Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Eropa Timur.

Kehancuran nilai moral
Perzinahan dilakukan secara terbuka dan bebas,
Bermacam-macam kejahatan sex,
Pornografi meluas,
Homosex dan lesbian merajalela dan dianggap hal yang biasa,
Pria berperilaku seperti wanita dan wanita berperilaku seperti pria.

Pengingkaran terhadap agama
Agama sebagai simbol atau tameng untuk kepentingan pribadi,
Umat Islam berlomba membangun memperindah mesjid dan membangga-banggakannya,
Umat Islam banyak membaca Al Qur'an tetapi tidak mengamalkannya dengan benar dan menentang hadist dan sunnah,
Kemusyrikan merajalela dikalangan umat Islam dan mempercayai ramalan rasi bintang,
Mengingkari qadar (takdir atau ketetapan Allah).

Kehancuran tatanan masyarakat / dominannya fitnah.
Disia-siakannya amanat / segala urusan ditangani oleh yang bukan ahlinya,
Menyebarnya riba dan harta haram,
Meningkatnya perceraian,
Banyak anak terlahir diluar nikah,
Kecurangan/ banyak penguasa dan polisi kezhaliman,
Suap menyuap hal yang biasa,
Kebohongan merajalela,
Ketergantungan pada obat bius dan minuman keras.

Ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berkembang pesat
Penyanyi wanita dan alat-alat musik menjadi populer dan musik dianggap hal biasa oleh umat Islam,
Orang berlomba-lomba membangun gedung-gedung pencakar langit,
Umur manusia lebih panjang karena meningkatnya sarana kesehatan,
Penelitian genetika manusia,
Segala sesuatu bisa dilakukan dalam waktu singkat dan lebih baik,
Orang bisa mendengarkan suaranya sendiri (rekaman lagu),
Teknologi komunikasi yang semua orang mengerti dalam bahasa masing-masing berupa media cetak, radio, televisi dan internet.

Pertanda besar

Tanda kiamat besar adalah perkara yang sangat besar yang muncul dimana kiamat sudah sangat dekat sekali, kemunculannya tidak biasa terjadi dan mayoritas tanda-tandanya belum muncul, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Hudzaifah bin Arsyad al-Ghifari berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad kepada kami lalu bertanya, “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?” Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat.” Muhammad bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda.

Kesepuluh tanda besar yang telah diucapkan oleh Muhammad adalah sebagai berikut:

Muncul dukhan (asap) yang menutupi bumi selama 40 hari,
Muncul Dajal,
Munculnya Dabbatul Ard yaitu monster melata dari perut bumi,
Matahari terbit dari sebelah barat,
Turunnya Nabi Isa,
Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
Tiga gerhana terjadi di Timur, Barat dan Jazirah Arab,
Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka yaitu Mahsyar.

Kemudian tanda-tanda yang lainnya adalah sebagai berikut :

Hari tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab akan dipimpin oleh seorang dari keturunan Muhammad dengan nama yang telah banyak dikenal dan dinanti "Al Mahdi Al Qoim, Al Muntazar"
Muncul angin yang lebih lembut dari sutera dari Yaman,
Hilangnya Islam, Al Qur'an dan musnahnya orang-orang shaleh,
Manusia kembali ke zaman jahiliah dan penyebahan berhala,
Penghancuran Ka'bah oleh Dzus-Suwaiqatayn,

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah sebagai berikut

Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.
Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.
Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

Bersambung Ke Peniupan Sangkakala 

Mengenal Kepemimpinan Ilahi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Mengenal Kepemimpinan Ilahi (Kenabian dan Imamah) Hidayah ilahi yang disebut dengan kepemimpinan orang-orang yang diberi hidayah. Orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada hamba-hamba Allah adalah sunnatullah yang senantiasa ada bagi makhluk-Nya. Allah membekali mereka dengan akal, ilmu dan mempersenjatai mereka dengan iradah dan kehendak.

Sunnatullah yang berlaku kepada manusia ini dimulai dengan pemilihan Adam AS. sebagai sebaik-baik makhluk-Nya. Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah Subhanahu Wata'ala kemudian menurunkan Adam ke bumi setelah ia bertaubat agar ia memakmurkan dunia dengan anak keturunannya sekaligus menegakkan bukti Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak akan membiarkan mereka dalam kekosongan setelah memilih mereka dan menegaskan kepada makhluk-Nya akan bukti rububiah-Nya yang menjadi perantara antara makhluk-Nya dan pengetahuannya. Bahkan Allah Subhanahu Wata'ala telah mengadakan perjanjian dengan mereka lewat lisan manusia-manusia pilihan-Nya dari para Nabi dan mereka yang bertanggung jawab membawa amanat risalah-Nya dari abad ke abad. Allah Subhanahu Wata'ala meletakkan amanat tersebut kepada sebaik-baik orang yang mampu menjaga amanat-Nya. Keturunan-keturunan mulia inilah yang memegang amanat tersebut yang berpindah dari rahim yang suci ke rahim suci lainnya. Semua ini bak rantai yang tak berputus hingga sampai pada keturunan terakhir mereka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Keturunan termulia dari tambang ilmu dan keutamaan. Keturunan yang lahir dari pohon di mana para Nabi Allah berasal dari sana begitu juga mereka para pembawa amanat ilahi’.

Ali bin Abi Thalib menyifati kezuhudan para Nabi, keberanian, kerendahan hati dan bagaimana Allah melindungi dan mendidik mereka sekaligus menguji dan memberi cobaan kepada mereka dalam perjuangan di jalan Allah. Ali juga menjelaskan kewajiban-kewajiban para Nabi yang dapat dilihat dalam masalah tablig dan dakwah kepada Allah Subhanahu Wata'ala , memberi kabar gembira dan ancaman, menegakkan hukum Allah di bumi, memberi petunjuk manusia dengan mengeluarkan mereka dari kebodohan dan kesesatan dan berjuang menghadapi musuh-musuh Allah.

Jalan yang telah dipersiapkan Allah untuk memberikan petunjuk manusia akan berlangsung secara berkesinambungan hingga hari kiamat. Oleh karenanya, bumi tidak akan pernah kosong dari bukti Allah; baik itu tampak dan diketahui banyak orang atau tersembunyi. Karena yang terpenting adalah bagaimana bukti Allah Subhanahu Wata'ala tetap ada di muka bumi dan tidak lenyap. Ketika kenabian telah berakhir dengan Nabi Muhammad saw, maka perintah pemberian petunjuk berpindah kepada keluarganya yang dikenal sebagai keluarga terbaik. Orang-orang yang bisa berbicara pasti dilakukan dengan kejujuran dan bila berdiam diri tidak didahului. Mereka berasal dari pohon kenabian, dilingkupi oleh risalah kenabian, tempat lalu lalang para malaikat, tambang ilmu pengetahuan dan sumber kebijakan. Mereka orang-orang yang memiliki posisi yang mulia di sisi Allah. Dengan keberadaan mereka Allah Subhanahu Wata'ala menjaga bukti-bukti dan hujjah-Nya. Al-Quran dapat diketahui karena mereka dan dengan Al-Quran mereka dapat dikenal, pada mereka kemuliaan Al-Quran tersimpan dan khazanah kasih sayang Allah dan mereka orang-orang yang disebut dalam Al-Quran Ar-Rasikhun bil ‘Ilm (orang-orang yang menyatu dengan ilmu tentang Al-Quran).

Kesabaran mereka akan menjelaskan seberapa luas ilmu yang dimiliki, bentuk dan perilaku lahiriah mereka akan menunjukkan batin mereka dan diamnya mereka menandakan kebijakan berpikir dan bertutur. Mereka tidak pernah menentang kebenaran dan tidak pernah berselisih dalam hal kebenaran. Mereka adalah tiang-tiang penguat agama dan bak sahabat karib yang menjaga agama. Dengan keberadaan mereka niscaya kebenaran kembali pada takarannya dan kebatilan akan sirna dan lenyap dari tempatnya. Mereka adalah asas agama dan pokok keyakinan. Orang yang telah melampaui batas akan menyesuaikan dirinya dengan menjadikan mereka sebagai tolok ukur dan orang yang tertinggal dapat menyesuaikan diri dengan menjadikan mereka sebagai patokan. Mereka memiliki kekhususan-kekhususan tertentu seperti hak memiliki wilayah (kepemimpinan) dan wasiat serta warisan Nabi tentang kepemimpinan adalah untuk mereka.

Ali bin Abi Thalib menegaskan kedudukan dan posisi Ahli Bayt AS. selaku pemimpin baik dalam bidang pemikiran maupun dalam bidang politik. Ali berusaha mendekatkan kepemimpinan yang terlanjur dijauhkan dari pemiliknya yang semestinya setelah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau mengkritik cara pandang dan kebijakan para khalifah sebelum dirinya baik secara global maupun detil. Sekalipun dengan kritik itu beliau telah merelakan, secara terpaksa, haknya sebagai khalifah dan berusaha mengajukan ide-ide murni yang bersumber dari Nabi tentang kepemimpinan setelah Rasulullah saw. Ali tetap berjuang untuk merealisasikan kebenaran dengan cara dan metode yang bijak dan sesuai dengan kondisi kritis yang sedang dialami negara dan umat Islam pada waktu itu. Beliau mampu mengajukan teori dan sistem yang sempurna dan menyiapkan sejumlah kader untuk menerapkannya ketika kondisi memungkinkan untuk itu.

Mengenal Imam Mahdi

Kajian tentang masalah Imam Mahdi afs. terpengaruh perhatian yang diberikan kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib sekalipun dalam kondisi yang sulit di mana masyarakat Islam yang baru dan belum stabil masih tetap memberikan perhatian yang cukup tentang masalah Imam Mahdi AF. Beliau berkata, ‘Ketahuilah bahwa pada suatu hari –dan hari itu akan datang sekalipun kalian tidak mengetahuinya kapan- di mana seorang pemimpin akan muncul dan bukan dari keluarga pemimpin yang ada sekarang. Ia akan menghukumi para pejabat pemerintahan sesuai dengan perbuatan buruk mereka. Bumi akan mengeluarkan barang tambangnya demi sang pemimpin. Ia akan menunjukkan bagaimana cara menjalankan roda pemerintahan dengan adil kepada kalian. Al-Quran dan Sunah Nabi yang sampai sebelum munculnya dipinggirkan dan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya akan dihidupkan kembali olehnya’.

Ucapan Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi AF. Adalah cara pandang yang detil dan pasti serta memberikan penerangan yang jelas mengenai tanda-tanda kemunculannya. Kemunculannya akan terlihat pada revolusi global yang kemudian memberikan kesempatan kembali kepada Islam memainkan peranannya di dunia Islam dan bahkan untuk manusia dan kemanusiaan. Ali tentang pemimpin revolusi global ini berkata, ‘Oleh Imam Mahdi AF. segala keinginan yang ada akan diikutkan sesuai dengan petunjuk wahyu setelah sebelumnya masyarakat menjadikan hidayah dan petunjuk senantiasa mengikuti hawa nafsunya. Masyarakat dengan segala macam teori yang ada dipaksakan kepada Al-Quran dan Al-Quran hanya dipakai sebagai bahan justifikasi pendapat mereka sementara Imam Mahdi AF. berusaha agar semua teori dan pandangan yang ada malah mengikuti Al-Quran dan bukan sebaliknya’.

Sebuah yayasan yang bernama Muassasah Nahjul Balaghah telah berhasil mengumpulkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi afs. Hadis-hadis tersebut telah terkumpul dalam satu volume dan hadis yang terkumpul sebanyak 291 hadis. Empat belas hadis berbicara tentang nama, sifat-sifat dan nama panggilan dari Imam Mahdi. Tujuh puluh tujuh hadis menjelaskan tentang keturunan Imam Mahdi AF. bahwa ia berasal dari keturunan Quraisy, Bani Hasyim, Ahli Bayt dan dari keturunan Ali bin Abi Thalib sendiri. Ia adalah keturunan dari Fathimah Az-Zahra a.s. juga keturunan dari Imam Husein a.s. dan salah satu imam kedua belas. Empat puluh lima hadis berhubungan dengan Imam Mahdi afs. dalam Al-Quran, Nahjul Balaghah dan syair yang diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib. Dua puluh tiga hadis berbicara tentang para penolong Imam Mahdi afs. dan riwayat-riwayat yang menyinggung tentang pemimpin. Dua belas hadis bercerita tentang masalah keluarga Sufyan dan Dajjal. Dua puluh enam hadis menjelaskan tentang kegaiban Imam Mahdi afs. dan ujian serta cobaan orang-orang Syi’ah semasa kegaiban Imam Mahdi dan keutamaan melakukan penantian kemunculan Imam Mahdi afs. Tujuh puluh lima hadis menceritakan tentang fitnah sebelum kemunculan Imam Mahdi afs. tanda-tanda kemunculannya, apa yang akan diperbuat dan akan terjadi setelah kemunculan Imam Mahdi afs. masalah hewan-hewan berkaki empat di bumi serta Ya’juj dan Ma’juj. Sembilan belas hadis berkaitan dengan keutamaan masjid Kufah dan akan keluarnya seorang dari Ahli Bayt dengan orang-orang dari timur yang membawa pedang di pundaknya selama delapan bulan sehingga orang-orang berkata, ‘Demi Allah! Orang ini dari keturunan Fathimah. Kemudian ia menjelaskan pemerintahan di muka bumi dengan munculnya Imam Mahdi afs. bagaimana ia memerintah dan terakhir bagaimana agama ditutup dengannya.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Wahai Kumail! Ilmu yang ada ini akulah pembukanya sementara rahasia yang ada diakhiri oleh Al-Mahdi afs. Wahai Kumail! Kalian perlu memperhatikan masa lalu kalian dan kami yang akan menang dibanding kalian’.

Agama dibuka dan ditutup dengan kami. Karena kami orang-orang selamat dari kesesatan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana mereka telah diselamatkan dari kesesatan syirik. Allah swt mendekatkan hati kaum muslimin berkat kami setelah permusuhan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana hati dan agama mereka telah didekatkan setelah permusuhan yang berlandaskan kesyirikan’.Seandainya pemimpin kami, Al-Mahdi, telah muncul niscaya langit akan mengucurkan hujan dan bumi akan menumbuhkan tanaman. Permusuhan akan hilang dari hati manusia. Binatang-binatang liar akan menjadi jinak sehingga seorang wanita berjalan dari Irak hingga ke Syam dengan aman. Ia hanya meletakkan kakinya di atas tumbuh-tumbuhan dan perhiasan yang berada di atas kepalanya tetap karena binatang-binatang buas tidak mengganggu dan tidak menakuti-nakutinya’.

Bersambung Insya Allah 

Wallahu A'lam

Hidup Dan Mati Berdzikir

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hakekat Berdzikir berarti menyebut dan mengingat Dzikrullah menyebut dan mengingat Allah Subhanahu Wata'ala. dzikir yang baik mencakup dua makna di atas; menyebut dan mengingat. Dzikir dengan hanya menyebut dengan lisan tanpa menghadirkan hati tetap bisa mendatangkan pahala, namun tentu dzikir macam ini berada pada tingkat yang paling rendah. Dzikir dengan lisan tanpa menghadirkan hati dan pikiran bisa saja memberi pengaruh terhadap hati dan keimanan seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sebesar dzikir sambil menghadirkan hati. Paling baik adalah dzikir dengan lisan sambil menghadirkan hati dan kemudian mengaplikasikannya dalam tindakan didalam kehidupan.

Dalam ajaran Islam, banyak kesempatan dan sarana yang Allah Subhanahu Wata'ala sediakan bagi Kaum Muslimin untuk melaksanakan ibadah dzikir ini. Dalam kehidupan Muslim, ada berbagai do'a yang bisa dibaca dalam beragam aktivitas dan kesempatan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, hampir seluruh satuan kegiatan ada do'a khusus. Paling tidak, dalam setiap aktivitas Muslim secara umum, seyogiyanya dimulai dengan membaca basmalah, yang juga mengandung makna dzikir; menyebut dan mengingat Allah Subhanahu Wata'ala,

 Rasul Saw bersabda: “Setiap amal yang tidak dimulai dengan nama Allah SWT, maka ia terputus dari keberkahan”. (HR. Abu Dawud).

Ibadah dzikir cukup simpel dan mudah dilakukan oleh siapa saja serta tidak harus berdiam diri di kegelapan malam serta semedi yang berminggu-minggu maupun dengan persiapan khusus, tempat khusus dan waktu khusus. Dalam kondisi apapun diperbolehkan, asal tidak pada tempat-tempat yang kotor dan menjijikkan. Seorang Muslim bisa memanfaatkan waktu yang senggang dan kosong untuk berdzikir. Berdzikir bisa dilakukan pada waktu menunggu antrian, menunggu lampu merah, maupun sambil menemani anak yang sedang bermain, karena Mengisi waktu kosong dengan dzikrullah, bisa membantu seseorang terhindar dari perbuatan sia-sia dan dosa serta membawa kebaikan dan tindakan positif.

Dzikrullah adalah satu ibadah yang sangat mulia dan begitu dianjurkan, keutamaan dan nilai dari ibadah ini begitu besar dan beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding antara upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah dzikir dengan keutamaan yang disediakan. Dzikir adalah ibadah yang tidak begitu memerlukan upaya dan pengorbanan besar.

Al-Qur’an dan Hadits sangat menganjurkan juga mengisyaratkan betapa mulia ibadah dzikir. Allah SWT memerintah Kaum Muslimin untuk banyak berdzikir, tanpa dibatasi jumlahnya. sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala “Wahai orang-orang yang beriman banyak-banyaklah berdzikir kepada Allah. (Al-Ahzab: 41).

Adapun dzikir muthlak (bebas ) boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dan adanya pembagian kepada dzikir muthlak (bebas ) ini memberikan peluang bagi Muslim untuk sering melakukan dzikrullah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala memotivasi hal tersebut seraya mengisyaratkan bahwa sering berdzikir adalah kebiasaan atau tradisi orang-orang yang “cerdas”. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk dan berbaring. (Ali Imran: 190-191).

Rasulullah juga menjelaskan bahwa dzikrullah menjadi pembeda seorang yang ‘hidup’ dan ‘mati’. Diriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan yang tidak pernah berdzikir kepadaNya bagai orang yang hidup dan mati”. (HR. Baihaqi). Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan batin. Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana besi bila dikenai air”. Rasul ditanya: “Apa penawarnya wahai Rasul?” Rasul bersabda: “Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an. (HR. Baihaqi). Dan membaca Al-Qur’an termasuk dzikrullah yang paling utama.

Siapa yang senantiasa melantunkan dzikir hatinya bisa hidup, dan sebaliknya siapa yang jauh dari dzikrullah, akan terancam mati hati. Hidup dan mati hati pada selanjutnya akan menentukan moral dan prilaku seorang Muslim. Selanjutnya juga akan menentukan nilai dan kualitas kehidupan seorang Muslim. Berarti bahwa dzikir bisa mempengaruhi kualitas hidup seorang Muslim.

Tentu ibadah ini dilakukan dengan tata cara dan adab yang tidak melanggar ajaran dan etika dalam Islam. Dua hal secara umum yang menjadi syarat agar ibadah dzikir diterima di sisi Allah SWT. Pertama, motivasi untuk mendapat ridha dan balasan baik dari Allah SWT. Kedua, tata cara pelaksanaannya sesuai tuntutan syariah. Tata caranya tidak berbau kesyirikan, tidak mendatangkan mafsadah (kerugian) baik terhadap pribadi maupun orang lain, tidak mengganggu kepentingan umum, dan sebagainya. Dan tentunya banyak berdzikir tidak sepatutnya mengganggu kewajiban lain, karena berdzikir adalah ibadah sunnah, yang tidak boleh mengganggu aktivitas yang wajib.

Demikian, begitu besar keutamaan dzikrullah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya berdzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya-.” (Al-’Ankabut: 45). Agar termotivasi untuk memperbanyak dzikrullah, Muslim perlu mengetahui manfaat dari ibadah ini. Satu kiat yang umum diketahui, bahwa agar seseorang termotivasi melakukan suatu hal, maka ia perlu mengetahui manfaat dari hal tersebut.

Selain manfaat yang bersifat bathini (non-fisik atau kejiwaan), di zaman modern ini banyak penelitian juga penemuan yang menjelaskan manfaat-manfaat dzikir secara fisik (kesehatan badan). Berbagai penemuan dan penelitian di Negara Muslim atau bahkan di Negara minoritas Muslim seperti di Amerika dan Inggris menjelaskan fakta bahwa berdzikir mampu menimbulkan ketenangan jiwa yang menyebabkan peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit.

Serta berguna untuk mengendurkan syaraf yang tegang dan selanjutnya menimbulkan ketenangan jiwa. Penemuan ilmiah tersebut menunjukan salah satu kemukjizatan sunnah Nabawiyah yang menyatakan: “Dan tiadalah suatu kaum berkumpul disalah satu rumah Allah (masjid) membaca kitabullah (Al-Quran) dan mempelajarinya kecuali akan dikelilingi Malaikat, dianugerahi ketenangan, diliputi rahmat dan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang dekat kepadanya “ (HR. Muslim).

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Wabil Ash Shayyib menyebutkan manfaat dari dzikrullah sebanyak tujuhpuluh tiga, diantaranya sebagai berikut :
  • Mengusir setan.
  • Mendatangkan ridha Ar Rahman.
  • Menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.
  • Hati menjadi gembira dan lapang.
  • Menguatkan hati dan badan.
  • Menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.
  • Mendatangkan rizki.
  • Orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.
  • Mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘Azza wa Jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.
  • Meraih apa yang Allah sebut dalam ayat: “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah:152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.
  • Hati akan semakin hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati seperti air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut berpisah dari air?”.
  • Dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.
  • Akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di Hari Kiamat.
  • Dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan Hari Kebangkitan.
  • Dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.
Wallahu A'lam

Perbedaan Antara Ilah dan Rabb

Posted by "membaca Al Quran 2 komentar
Pendidikan dalam bahasa Arab adalah "Tarbiyah", sedang pendidik , pengatur adalah "murabbi". Tarbiyah dan murabbi ini memiliki akar kata yang sama dengan Ar-Rabb. Berikut ini beberapa penjelasannya,

والرب: المصلح والمدبر والجابر والقائم.
Dan “Ar-Rabb” artinya adalah yang melakukan perbaikan, yang mengelola, yang memaksa dan yang selalu mengurusi.

Makna “murabbi” jika diambil dari akar kata “ar-rabb”, yakni selalu melakukan perbaikan utamanya akhlaq pada peserta didiknya, dan untuk tujuan ini kadangkala ia melakukan tindakan pemaksaan. Memang “murabbi” hakiki hanyalah Allah Ta’ala, sedangkan manusia lebih tepat hanyalah seolah – olah “murabbi” atau “mutarabbi”.

قال الهروي وغيره: يقال لمن قام بإصلاح شئ وإتمامه: قد ربه يربه فهو رب له وراب، ومنه سمي الربانيون لقيامهم بالكتب.

Al-Harawiy dan yang lainnya berpendapat, “Kalimat ini dimaksudkan untuk pihak yang selalu melakukan perbaikan terhadap sesuatu dan menyempurnakannya, “Sungguh “rabb”-nya selalu mendidiknya, karena ia adalah “rabb” dan “rabb” baginya”, dan dari hal ini muncul istilah “rabbaniyun” bagi orang yang mengamalkan Al-Qur’an”.

Dan di dalam Ash-Shihah, Dan “rabb” Fulan adalah yang telah melahirkannya, mengasuhnya sebagai pengasuh, memelihara dan mendidiknya, dengan makna yakni mengasuhnya. Sehingga “al-marbub” artinya adalah “Al-murabbi (yang mengasuh)”

Sebagian ulama berpendapat, “Sesungguhnya ini adalah nama dari Nama Allah Yang Agung, karena kebanyakan doa orang yang berdoa adalah dengan Nama ini, serta inilah yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam akhir – akhir surat Ali Imran :

 رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, “Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian”, maka kami pun beriman, oleh karena itu, wahai Tuhan kami, ampunilah kami, dosa – dosa kami, tutuplah keburukan – keburukan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang – orang yang berbuat baik”. 

Serta dalam surat – surat yang lain, dan oleh karena itu shifat ini mengisyaratkan adanya hubungan antara “Ar-Rabb” dan “Al-Marbub”, yang terkandung di dalamnya di antaranya sifat – sifat belas kasihan, rasa sayang, dan berkehendak atas segala hal” Dan para ulama telah berselisih tentang pengambilannya, maka dikatakan, “Sesungguhnya ini diambil dari “at-tarbiyah”, sehingga Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah yang mengelola makhluk-Nya dan memelihara mereka, tentang hal ini adalah Firman-Nya Ta’ala,

Apabila huruf “alif” dan “lam” masuk pada kalimat “rabb” maka ini dikhususkan untuk Allah Ta’ala, karena sesungguhnya ini menunjukkan kesempurnaan, dan apabila kita buang darinya maka ini bisa disifatkan untuk Allah atau untuk hamba-Nya, maka dikatakan, “Allah adalah pemelihara para hamba-Nya”, sedang “Zaid adalah pemelihara negerinya” oleh karena itu Allah Yang Maha Suci adalah Tuhan para pemelihara, Maha Raja yang merajai para raja, dan Dia-lah yang menciptakan mereka semua dan memberi rezekinya, dan semua pemelihara selain-Nya adalah bukan Maha Pencipta serta bukan pula Maha Pemberi rezeki, dan semua para raja ketika sesudah tidak lagi menjadi raja maka akan dikuasai, serta kekuasaan akan dicabut dari tangannya.

Ada pun sandaran hakiki untuk mencapai tujuan tarbiyah maka ia adalah akhlaq suci yang lurus yang memancar dari jiwa – jiwa kalian para pendidik yang meresap kepada jiwa – jiwa murid kalian, para peserta didik, yang selalu dipegang oleh kalian di dalam tarbiyah, kemudian para murid mengambilnya dari kalian, dan inilah yang kalian tebarkan sebagai kekuatan cita – cita di dalam ruh – ruh mereka, sebagai sasaran dan koreksi di dalam pikiran mereka, sebagai perbaikan dan timbangan di dalam cita – cita mereka, serta sebagai tujuan pembicaraan dan penjelasannya di dalam lisan – lisan mereka.

Pelajaran yang bisa diambil adalah manusia sebagai “murabbi”, tetaplah bukan “Ar-Rabb”, sehingga sebagai pendidik niscaya terdapat banyak kekurangan sehingga selalu berhajat untuk meningkatkan pengetahuan, kualitas, skill dan kinerjanya. Kemudian perilaku mendidik adalah perilaku setiap orang, bukan monopoli para guru dan pengajar di sekolah – sekolah “organized”, karena setiap orang niscaya akan berkeluarga dan memiliki anak, atau paling tidak kita mesti mendidik “diri kita sendiri”. Selanjutnya sebagai “hamba Allah” harus menyadari bahwa perilaku dan motif, utamanya dalam proses pendidikan, mempunyai konsekwensi di akhirat kelak.

Dewasa ini berkembang pandangan pembagian Tauhid menjadi tiga, yakni Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid al-Asma’ wal al-Shifat. Bahkan pradigma Tauhid menjadi tiga tersebut, kini juga masuk dalam kurikulsekolah-sekolah agum akidah dan akhlak yang diajarkan di ama. Oleh karena itu, disini perlu dipaparkan bagaimana sebenarnya pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut.

Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ululiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum masa Ibn Taimiyah. Rasulullah Saw juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah.

Rasulullah Saw juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat. Bahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian tauhid tersebut. Hingga akhirnya datang Ibnu Taimiyah pada abad ketujuh Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.

Menurut Ibnu Taimiyah Tauhid itu terbagi tiga :

Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.

Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya.

Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia. Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab perintis ajaran Wahabi.

Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna Rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya. Sedangkan makna Ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah.

Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Ayat-ayat al-Qur’an , hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak ada yang membedakan antara makna Rabb dan makna Ilah. Bahkan dalil-dalil Al-qur’an dan Hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan tidak wajar pula baginya menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan)” (QS Ali-Imran : 80)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para Nabi. Dengan demikian berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah.

Konsep Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim yang artinya, “ Demi Allah, sungguh kita dahulu di dunia dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam” QS al Syu’ara :97-98)

Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di Akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan). Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini yang artinya, “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya” (QS. Yusuf : 39-40)

Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah-nyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Disamping itu, ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga dapat disimpulkan konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah.

Dalam surat al-Kahfi, mengisahkan pengakuan seorang Mukmin yang tidak melanggar Tauhid Rububiyyah dan seorang kafir yang mengakui telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Orang Mukmin tersebut berkata: yang artinya “tetapi aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” QS al Kahfi : 38)

Sedangkan orang kafir tersebut berkata, yang artinya: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” (QS al Kahfi : 42)

Kedua ayat di atas memberikan kesimpulan bahwa antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah ada keterkaitan talazum yang sangat erat. Disamping itu, ayat kedua di atas membatalkan pandangan Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah. Justru dalam ayat tersebut, orang Musyrik sendiri mengakui kalau telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi Saw. Misalnya dengan hadits shahih berikut ini, yang artinya. Dari al Barra’ bin Azib, Nabi Saw bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu” (QS. Ibrahim : 27). Nabi Saw bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu ?” Lalu dia menjawab, “Allah, Rabbku, dan Muhammad Saw Nabiku” H.R. Muslim).

Hadits diatas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir, akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb, bukan Ilah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Seandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahhabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?” atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man Rabbuka wa man Ilahuka?” 78

Sekarang apabila pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut batil, lalu apa sebenarnya makna yang tersembunyi di balik pembahgian Tauhid menjadi tiga tersebut ?

Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut, setidaknya mempunyai dua tujuan :

Pertama, Ibn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-praktek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi Saw adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran. Nah, untuk menjustifikasi (pembenaran) pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah. Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata, karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti Tawassul, Istighatsah, Tabarruk, Ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur. Ibn Taimiyah membuat kesalahan lagi, yaitu mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas, sehingga praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i.

Dari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah sehingga dia divonis syirik. Tentu saja pradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan. Dia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama.

Dia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan Rasulullah Saw dan para Sahabatnya. Dan secara tidak langsung pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berarti mengkafirkan Rasulullah, para Sahabat dan seluruh kaum Muslimin selain golongan / kelompok nya.

Kedua, berkaitan dengan teks-teks mutasyabihat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyangkut nama-nama dan sifat-sifat Allah, Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks tersebut secara literal (zhahir). Dalam upaya menjustifikasi (pembenaran) pandangannya yang cenderung menyerupakan Allah dengan mahlukNya. Ibn Taimiyah menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat. Dari sini dia kemudian mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang melakukan ta’wil terhadap teks-teks Mutasyabihat dan tidak mengartikannya secara literal, telah terjerumus dalam kebid’ahan dan kesesatan karena melanggar Tauhid al-Asma wa al-Shifat

Kedudukan Allah Subhanahu Wata'ala adalah sebagai Rabb (yang mengatur) Semesta Alam sedangkan kedudukan para Nabi dan rasul adalah Rabb (yang mengatur, melakukan perbaikan) daerah sekeliling mereka, khususnya dalam bidang akhlaq, namun terbatas pada mengingatkan dan mengajarkan saja. sebagaimana perintah Allah Subhanahu Wata'ala dalam Al Quran Surah Ali 'Imran : 79

" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi dia berkata: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" 

Wallahu A'lam

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About