Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Menjadi Orang Asing

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Islam pada saat kemunculannya dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang orang yang asing itu” (HR. Muslim).

Disebut asing pada awal munculnya agama Islam dipandang wajar. Sebab, pada saat itu Islam diturunkan dalam masyarakat jahiliyah. Masih sedikit orang yang menganut Islam, sehingga dianggap baru bagi orang kebanyakan. Namun bila Islam kembali menjadi asing bahkan di kalangan masyarakat Muslim sendiri yang jumlahnya sudah begitu banyak sekarang ini, patut direnungkan.

Asingnya Islam di kalangan masyarakat yang mengaku Muslim terjadi karena sedikit orang yang benar benar berpegang teguh pada ajaran Islam, tak terkecuali pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. 

Orang orang yang tak teguh pendiriannya menjadikan hari raya sebagai kesempatan bermegah megahan dengan memamerkan kekayaan. Sibuk mempersiapkan berbagai kemeriahan, sehingga shaf shalat berjamaah pun semakin sedikit. 

Juga ada yang kembali melanjutkan berbagai macam kemungkaran, yang sempat ditunda karena katanya menghormati bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, masih ada hamba hamba Allah yang tergolong asing dan beruntung di hari raya. Yaitu, hamba hamba yang istiqamah dalam ajaran Islam di saat banyak orang mulai berpaling. 

Hari raya Idul Fitri dijadikan momen untuk menyambut hari kemenangan, karena dosa dosa telah diampuni dan sudah kembali menjadi suci. 

Selain bertakbir dan melaksanakan shalat Id, orang orang beruntung ini saling berkunjung dan menjalin silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah. Juga saling memaafkan satu sama lain, juga karena Allah. Termasuk juga menjaga ketertiban dalam masyarakat, tak terkecuali tertib dalam berlalu lintas.

Bagaimana dengan saudara  ...? 

Sumber aceh tribun news

Bahaya Meng - Adu Domba

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba” (HR. Muslim).

Sudah sejak daman dahulu kala banyak hal yang akan digunakan oleh orang seseorang dalam rangka untuk mencari keuntungan diri sendiri. mulai cara yang sedikit kotor hingga yang benar - benar jorok dan kotor dan berlebihan termasuk dengan cara mengadu domba antara satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. 

Akibatnya timbul perpecahan antar anggota keluarga, sanak saudara, atau masyarakat dalam satu kampung atau bahkan dalam suatu satu negeri. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh mereka baik pihak perseorangan maupun kelompok yang menginginkan orang lain lemah baik secara fisik , mental maupun materi.

Cara seperti ini banyak digunakan kaum penjajah di masa lampau dan bahkan masa sekarang untuk merebut suatu negeri / kekuasaan atau hasil alam negeri tersebut.

Dalam Kitab Durratun Nasihin juga diingatkan bagaimana bahayanya adu domba. Sebagaimana dikisahkan, seorang budak mendatangi isteri tuannya seraya mengatakan bahwa suaminya tidak menyukainya. Agar disukai, ia disuruh untuk mencukur jenggot suaminya tatkala tertidur. Setelah itu si budak mendatangi si tuannya seraya memberitahukan bahwa isterinya akan membunuhnya tatkala ia tertidur. Kalau tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, disuruh berpura-pura tidur.

Ternyata isteri tuannya benar-benar melaksanakan usul si budak sewaktu suaminya sedang tidur. Lantas suaminya yang sedang berpura-pura tidur merebut pisau yang sedang dipegang isterinya dan membunuhnya. Tak menerima perlakuan tersebut, keluarga isterinya lantas membunuh si suami tersebut. Lantas terjadilah bunuh-membunuh antar keluarga suami dan keluarga isteri.

Dari kisah tersebut dapat difahami betapa berbahayanya adu domba. Sebagai orang mukmin, apalagi di alam kemerdekaan, kita jangan sampai mewarisi siasat kaum penjajah. Bila mewarisi tukang adu domba, sama artinya dengan menuruti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diharamkan masuk surga.

Wallahu A'lam

Sumber Aceh Tribun News

Merindukan Mati Syahid

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.

Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.

Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"

Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."

Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)

Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."

Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."

Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.

Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Dari MMS

Membacakan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar

Janganlah kamu menzaliminya

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sungguh menyejukkan kata-kata yang disampaikan Rasulullah SAW tentang persaudaraan. Bukan hanya sebatas kata-kata indah, Rasulullah juga membina persaudaraan dalam kehidupan nyata semasa hidupnya, baik dengan sesama saudara seiman maupun yang bukan.

Begitu keras juga larangannya melakukan hal-hal yang merusak persaudaraan. Nabi SAW memperingatkan, “Setiap muslim atas muslim yang lain, haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Namun sayangnya, pesan-pesan itu bagaikan kehilangan makna saat ini, akibat ulah diri kita sendiri yang tega tidak menghargai pesan dan perjuangan Rasulullah.

Buktinya, dengan saudara seiman pun kadangkala suka menzalimi, menghina, merendahkan, dan sejenisnya. Hanya gara-gara pemilihan pemimpin, harta dan nyawa saudara seiman direnggut paksa dan martabatnya diinjak-injak. Padahal tujuan pemilihan pemimpin itu sebenarnya untuk membantu mewujudkan tatanan hidup manusia, tetapi mengapa dalam prosesnya malah menimbulkan keburukan terhadap sesama manusia.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita perlu berpikir kembali tentang bagaimana memaknai sekaligus memupuk persaudaraan. Tidak akan ada orang lain yang akan bersungguh-sungguh memikirkan nasib persaudaraan kita, kecuali kita sendiri. Apalagi persaudaraan adalah kekuatan umat yang penting, baik untuk pertahanan diri sendiri maupun pertahanan umat.

Semoga kita terketuk untuk memulai niat baru dengan cara bahu-membahu untuk menjadi hamba-hamba yang bersaudara. "Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan seorang Muslim yang lain. Janganlah kamu menzaliminya, jangan pula menghinanya dan juga jangan merendahkan mereka” (HR. Imam Muslim).

Berdo'a Dan Bermunajat Kepada Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Untuk dapat merasakan kedekatan dengan Allah, terutama ketika kita berdoa dan bermunajat, renungkanlah nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Dari yang terkecil, hingga yang terbesar. Renungkan pula saat-saat kita sakit atau terkena musibah, lalu kita sembuh atau selamat. Siapa yang menyembuhkan dan menyelamatkan kita..?

Renungkan saat-saat kita membutuhkan sesuatu, lalu dengan satu dan lain cara kebutuhan itu pun terpenuhi. Siapa yang memenuhi kebutuhan kita itu?

Yang tidak kalah pentingnya, dalam berdoa hendaknya kita mengerti apa yang kita panjatkan, karena dengan mengerti apa yang kita panjatkan, kita akan terbawa ke dalam suasana dialog dengan Nya. Kita seolah-olah sedang berbicara kepada Nya. Maka tidak heran kalau banyak orang berdoa sambil meneteskan air mata, karena merasakan betul bahwa Allah Maha Mendengar, Melihat dan Maha Mengetahui , sehingga timbul keyakinan bahwasanya kita sedang berhadap - hadapan dengan-Nya.

"Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, senantiasalah hamba - hamba Allah yang shalih itu bangkit dari tidurnya untuk shalat malam , Berdo'a dan bermunajat kepada Allah"

Aku tahu ya Rabb, rizkiku tak mungkin diambil orang lain, maka hatiku tenang. Amal-amalku tak mungkin diambil orang, maka aku sibukkan diriku untuk beramal.

Aku tahu Engkau senantiasa melihat ku, dan Mengawasi ku  maka aku malu bila Engkau mendapatkanku senantiasa sedang maksiat.

Aku tahu bahwa kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal untuk berjumpa dengan Mu, maka aku bermunajat kepada-Mu, khusnul khatimahkan diakhir hayatku.

Ya Rabb, hamba memohon kepada-Mu agar mensucikan hati ini dari kotoran dengki dan iri hati, kecenderungan kepada keburukan dan nista, penyakit dendam dan benci,

Serta tanamkanlah rasa cinta dan kasih sayang ke dalam hati kami, penuhilah dengan kebaikan dan anugrah, serta segerakanlah dengan perasaan belas kasihan.

Aamiin.


"Ingatlah hari dimana Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. 
Itulah keberuntungan yang besar"

( At Taghaabun : 9)

Paling Berat Dan Paling Ringan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW., "Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam ?"

Nabi bersabda, "Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Sementara yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur." (HR. Ahmad Bazzar)

Yang menarik untuk kita ungkap dari hadits tersebut adalah mengapa posisi kejujuran jauh lebih berat dilakukan dibandingkan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain) ? Padahal sejarah mencatat, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW. rela berkorban menerima siksaan, baik secara fisik maupun psikis, sebagai akibat dari keberanian mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagai contoh, seorang budak Habsyi, Bilal bin Rabbah RA. yang dilempar di atas padang pasir yang sangat terik, merelakan dadanya ditindih dengan batu. Sumayyah binti Khayyath, istri Yasir RA., yang juga tercatat sebagai wanita pertama yang syahid dalam Islam mengikhlaskan untuk dipanggang hingga meningggal karena tidak mau kembali dari agama Islam kepada agama nenek moyang mereka.

Yang perlu digarisbawahi adalah dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh Sumayyah binti Khayyath, Bilal bin Rabbah, dan para sahabat nabi yang lain, tentu saja tidak lahir dengan spontan. Ada proses yang panjang yang mereka lewati sampai pada akhimya muncul kejujuran untuk mengakui bahwa Allah SWT. dan Muhammad SAW. sebagai Tuhan dan nabi mereka. Kejujuran itu mereka ungkapkan dengan dua kalimat syahadat.

Mengucapkan dua kalimat syahadat menuntut kejujuran dan keikhlasan. Ia bukan sekadar formalitas untuk menjadi Muslim, tetapi lebih jauh dan dalam adalah sebagai bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang dalam untuk menerima Islam sebagai sistem hidup. Bila seorang Muslim jujur dalam menerima syahadat ini, tidak akan terjadi penolakan terhadap hukum-hukum yang Allah sudah tetapkan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan Laa ilaaha illallah kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga." (HR. Bukhari)

Artinya, mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan amalan yang mudah untuk dilakukan. Yang sulit adalah menumbuhkan kejujuran dan keikhlasan ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Untuk memperkuat argumentasi bahwa kejujuran merupakan amalan yang paling berat dalam beragama Islam adalah karena kejujuran adalah kunci dari segala kebaikan. Artinya, ketika seseorang sudah bisa berlaku jujur, ia akan menjadi orang baik. Sebaliknya, jika seseorang sudah nyaman berada dalam ketidakjujuran, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan terjerembab dalam kemaksiatan dan keterpurukan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat yang baru masuk Islam. Sebelumnya ia dikenal sebagai ahli maksiat; berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Rasulullah memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong !"

Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini. Namun ternyata, implikasinya begitu luar biasa karena mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa ia selalu teringat pada nasihat Rasulullah SAW. Sementara untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah SAW.

Kisah di atas memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya sebuah kejujuran. Rasulullah SAW. sudah bisa memprediksi kalau seseorang mempunyai sifat khianat, tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, ia akan jatuh dalam perbuatan dosa dan tenggelam dalam keterpurukan. Apalagi kalau sifat khianat, tidak jujur, dan gemar berdusta ini dilakukan secara kolektif oleh para pemegang kekuasaan di sebuah negara, sudah dapat dipastikan negara tersebut akan terjerembab ke dalam jurang keterpurukan yang luar biasa dahsyatnya. Apa yang dikhawatirkan Rasulullah ternyata sedang menimpa hampir seluruh lapisan masyarakat saat ini.

Diseluruh Dunia dan bukan hanya Indonesia sedang dirundung krisis multidimensi; krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis politik, dan berbagi krisis lainnya. Krisis multidimensi inilah yang menyebabkan bangsa bangsa terpuruk. Salah satu sumber keterpurukan tersebut adalah sifat tidak amanah, tidak jujur, dan gemar berdusta yang sudah mendarah daging dan berurat akar pada sebagian anak bangsa.

Sifat tidak amanah, tidak jujur, gemar berdusta, curang, dan sifat rakus, diduga telah merasuki segala ranah kehidupan, mulai institusi negeri, swasta, hingga rakyat jelata. Lebih memprihatinkan lagi seolah telah menjadi tradisi. Dipicu oleh materi, terutama yang bernama uang, membuat orang sukar berpikir jernih dan berkata jujur. Institusi yang seharusnya bersih dan berwibawa, dicederai oknum di dalamnya, seakan terbenam dalam "permainan kotor", membuat kepercayaan publik kian memudar.

Di kalangan birokrat, gratifikasi telah membuat beberapa pejabat publik gamang mengutamakan nasib publik. Ada tradisi seolah hal lumrah, pegawai di lapangan, kalau tak ada "uang rokok", ajuan pembuatan KTP atau administrasi lebih sering jalan di tempat dari yang semestinya.

Di kalangan swasta, oknum kontraktor "biasa" mengerjakan projek jauh di bawah spek yang disepakati, akibatnya banyak bangunan roboh dengan umur jauh diperkirakan. Kontraktor beralasan, semua ini dilakukan untuk menutupi "biaya siluman" yang mesti dikeluarkan sebelumnya.

Kehidupan rakyat jelata pun turut terkontaminasi. Beberapa pedagang di pasar suka nakal mengoplos barang bagus dengan barang bermutu rendah, "bermain-main" dengan timbangan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani memperjualbelikan ayam tiren atau mencampurkan daging celeng untuk dijual tanpa lagi mempersoalkan halal-haram atau benar-salah.

Gurita ketidakjujuran kolektif yang disinyalir menjadi penyebab bangsa-bangsa didunia dan tidak hanya di Indonesia selalu berada dalam keterpurukan yang mustinya itulah yang harus kita putus sekarang juga. Hal itu tentu saja harus dilakukan mulai dari lingkungan terkecil. Mulai dari diri kita, keluarga, tetangga, lingkungan tempat kerja, dan seterusnya

Perubahan besar biasanya diawali dari hal-hal kecil, namun ... acapkali hal tersebut hanya akan menjadi isapan jempol semata, dan hanya akan berjalan beberapa waktu saja, dan seperti itulah adanya, manusia adalah umat yang satu dan satu sama lain saling mempengaruhi, apa yang orang lakukan di jawa , di sumatra, dikalimantan dan atau bahkan dinegara lain akan saling mempengaruhi, dan tidak bisa tidak terutama dimasa dan era globalisasi seperti sekarang ini.

Bersatu ......!! atau tetap seperti sediakala....! dan biarlah....... ?

Bertobat, Beriman Dan Mengerjakan Amal Shaleh

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah :

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira." (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur'an  Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar, dalam sebuah ayat Allah menyatakan :

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia." (Q.s. an-Nisa': 31).

Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan. Allah memberitahukan kita dalam al-Qur'an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, "Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni." Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

"Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.s. an-Nisa': 17-8).

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut :

"Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (Q.s. at-Taghabun: 9).

Dijelaskan lagi dalam Surah Al Furqaan :

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. al-Furqan: 70).

Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah "amal saleh". Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. 

"Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah"

Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. 

Karena neraka yang ada di sisi-Nya akan selalu mengingatkan mereka tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya. 

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan mereka yang bersegera dalam memohon ampunan dan meninggalkan segala keburukan dan kealpaan serta menggantinya dengan mengerjakan amal kebajikan. ingatlah bahwa kita hidup didunia ini hanya sebentar saja sedangkan di alam yang lain terdapat siksa yang kekal selamanya. 

Wallahu A'lam

Yang berhak disembah hanya Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Yang berhak disembah hanya Allah SWT semata, dan ibadah digunakan atas dua hal;

Pengertian ibadah Pertama: menyembah, yaitu merendahkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya. Kedua: Yang disembah dengannya, yaitu meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhahi oleh Allah Subhanahu Wata'ala berupa perkataan dan perbuatan, yang nampak dan tersembunyi seperti, doa, zikir, shalat, cinta, dan yang semisalnya. Maka melakukan shalat misalnya adalah merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Maka kita hanya menyembah Allah Subhanahu Wata'ala semata dengan merendahkan diri kepada-Nya, karena cinta dan mengagungkan-Nya, dan kita tidak menyembahnya kecuali dengan cara yang telah disyari'atkan-Nya.

Hikmah Dari Penciptaan Jin dan Manusia Allah Subhanahu Wata'ala tidak menciptakan jin dan manusia sebagai suatu yang sia-sia dan tidak berguna. Dia juga tidak menciptakan mereka untuk makan, minum, senda gurau dan bermain serta tertawa. Dia menciptakan mereka tidak lain adalah untuk suatu perkara yang besar, untuk menyembah Allah Subhanahu Wata'ala, mengesakan, mengagungkan, membesarkan, dan mentaati-Nya, dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, berhenti pada batas-batas-Nya (dengan tidak melanggar larangan-Nya) dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Az-Zariyat :56)


Ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala dibangun di atas dua pondasi yang besar yaitu: cinta yang sempurna kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan ketundukan yang sempurna pada-Nya. Dan keduanya juga dibangun di atas dua dasar yang besar, yaitu : Merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wata'ala, dan mengingat nikmat, karunia, kebaikan, dan rahmat-Nya yang mengharuskan kita mencintai-Nya, Mengoreksi cacat dalam diri dan perbuatan yang menyebabkan kehinaan dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu Wata'ala

Pintu terdekat yang memasukkan hamba kepada Rabb-nya adalah pintu iftiqar (menghinakan diri) kepada Rabb-nya. Maka, dia tidak melihat dirinya kecuali seorang yang merugi, dan dia tidak melihat adanya kondisi, kedudukan, dan sebab pada dirinya yang dia bergantung padanya, tidak pula ada perantara yang bisa membantunya. Akan tetapi dia merasa sangat membutuhkan kepada Rabb-nya, dan jika dia meninggalkan hal tersebut diri darinya niscara dia rugi dan binasa. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ {53} ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ {54} لِيَكْفُرُوا بِمَآءَاتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ {55

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senaglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (QS. An-Nahl :53-55)


Orang yang paling sempurna dalam beribadah kepada Allah adalah para Nabi dan Rasul, karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Allah Subhanahu Wata'ala dan yang paling mengagungkan-Nya dibanding selain mereka, lalu Alah Subhanahu Wata'ala tambahkan kemuliaan mereka dengan menjadikannya sebagai rasul yang diutus kepada manusia, sehingga mereka memperoleh kemuliaan risalah dan kemulian khusus dalam beribadah.

Kemudian setelah mereka adalah para siddiqin yang sempurna dalam beriman kepada Allah dan para utusan-Nya serta istiqamah diatasnya, kemudian para syuhada dan orang-orang yang shaleh. Sebagaimana firman-Nya :

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(QS. An-Nisa :69)"


Hak AllahSubhanahu Wata'ala terhadap penduduk langit dan bumi adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dengan cara ditaati maka tidak didurhakai, diingat maka tidak dilupakan, disyukuri maka tidak dikufuri. Maka siapakah yang tidak muncul darinya sesuatu yang menyelisihi apa yang dia diciptakan dengannya, baik karena lemah, bodoh, atau karena berlebihan dan karena kekurangan (dalam menjalankan perintah atau meninggalkan larangan).

Oleh karena itu seandainya Allah Subhanahu Wata'ala mau menyiksa penduduk langit dan bumi, niscaya Dia menyiksanya dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka, dan jika Dia memberikan rahmat-Nya niscaya rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka sendiri.

Dari Mu'azd bin Jabal r.a, ia berkata, "Saya membonceng Nabi SAW di atas keledai yang dinamakan 'afir, lalu 'Beliau SAW bersabda, 'Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah Subhanahu Wata'ala terhadap hamba dan apa hak hamba kepada Allah Subhanahu Wata'ala? Saya menjawab. 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda,: 'Sesungguhnya hak Allah Subhanahu Wata'ala terhadap hamba adalah bahwa mereka menyembah Allah Subhanahu Wata'ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan hak hamba terhadap Allah Subhanahu Wata'ala adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, bolehlah saya memberitahukan kepada manusia?' Beliau menjawab, 'Jangan engkau beritakan kepada mereka, maka mereka menjadi enggan beramal (Muttafaqun 'alaih). Wallahu A'lam

Bersambung Ke Catatan Selanjutnya

Menyiksa Binatang

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kita tidak diperbolehkan menyiksa binatang dengan cara apa pun, membuatnya kelaparan, memukulinya, membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak mampu, menyiksa atau membakarnnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

"Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka dari itu ia masuk neraka gara-gara kucing tersebut disebabkan dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat mengurung nya, dan dia tidak membiarkannya (melepaskannya) supaya memakan serangga di bumi." (HR. al-Bukhari) 

Dan ketika beliau melewati sarang semut yang telah dibakar, beliau bersabda,  "Sesungguhnya tidak ada yang berhak menyiksa dengan api selain Rabb (Tuhan) pemilik api." (HR. Abu Dawud, hadits shahih)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. pernah melintas pada seseorang yang sedang meletakkan kakinya di atas badan hewan yang mau disembelih sementara ia sedang mengasah pisaunya dan hewan itu sendiri melihat apa yang dilakukan laki-laki itu. Lalu beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak asah pisaumu sebelumnya. Apakah kamu hendak mematikannya dua kali?" (Shahih, HR al-Baihaqi).

Dalam riwayat lain tercantum, "Apakah kamu akan mematikannya dua kali mengapa engkau tidak mengasah pisaumu terlebih dahulu sebelum kamu membaringkannya?" (Shahih, HR al-Hakim).

Kandungan Bab:

1. Larangan menganiaya hewan yang disembelih, misalnya dengan mengasah pisau sementara hewan yang akan disembelih melihatnya. Atau menyembelihnya sementara hewan yang disembelih tersebut melihat kepada hewan-hewan lainnya.

2. Barangsiapa menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan baik, hendaklah ia menajamkan pisau sebelum merebahkan sembelihannya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.

Bahkan untuk menyembelih hewan kurban dimana umat islam juga sangat di anjurkan untuk melaksanakannya pun kita di larang untuk menyakitinya dengan menyembelih mengggunakan pisau yang tajam.

Wallahu A'lam

Menafkahkan Harta

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun memadai. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat"

Sebaliknya / kebalikan dari ayat diatas adalah

"Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil.

Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya"

Al Baqarah : 265 - 266

Tidak Semua Bisa Teori

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tertentu yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya.

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “Yang Ditentukan / Ketentuan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan

Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala social maupun natural yang dijadikan pencermatan dan merupakan abstarksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil sebagai sebuah set dari proposisi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena yang sudah didefinisikan secara luas sesuai dengan hubungan unsur-unsur dalam proporsi tersebut secara jelas yang  menghubungankan antar variable, sehingga didapatkan pandangan yang sistematik dari fenomena yang diterangkan variabel-variabel tersebut dengan jelas.

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta . Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.

Sedangkan secara lebih spesifik di dalam ilmu sosial, terdapat pula teori sosial. Neuman mendefiniskan teori sosial adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaitan abstraksi atau ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial atau yang biasa disebut dengan idiologi

Sudah tidak asing dan bukan rahasia lagi jika kebanyakan orang berpendapat dan atau berpandangan bahwa Teori semua orang bisa yang mana kebanyakan mereka kemudian akan meremehkan teori dan atau menyepelekannya, hingga kemudian mereka akan banyak menyangkal dan atau berpikir serta berucap dan kemudian melaksanakan apa yang telah mereka anggap benar tersebut, biasanya mereka akan lebih banyak mengesampingkan standart dari apa yang seharusnya mereka ketahui terlebih dahulu. 

"Ah Teori.....!!" itulah kata yang sering mereka ungkapkan, padahal sejatinya didalam lubuk hati yang paling dalam mereka secara tidak langsung telah mengakui kelemahan mereka sendiri serta mengakui ketidaktahuan dan atau ketidakmampuan mereka dalam berteori dan berpedoman pada standart yang ada, yang kemudian akan membawa mereka kedalam suatu teori buta atau perbuatan tanpa dasar. Nah... inilah yang kita sebut kemudian dengan teori buta.

Setiap orang , setiap individu dan atau setiap kelompok dalam setiap kegiatan kehidupan pasti akan mengikuti dan atau menjalani serta atau membaca serta menemukan teori baik sadar atau tanpa sadar. dalam hidup kita selalu dan akan selalu memerlukan teori , membaca teori , menjalankan / mempraktekkan teori , karena hidup dan kehidupan adalah tentang menemukan teori dan atau menjalankan teori (ilmu pengetahuan). 

Setiap orang akan selalu belajar dan kemudian mendapatkan pengalaman < ini adalah apa yang kita sebut teori, hanya saja kemudian "Beberapa orang yang kemudian membaca apa yang telah orang lain dapatkan dan kemudian bukukan , menyebut catatan pengalaman dan atau perjalanan yang dibukukan dengan teori. padahal sejatinya teori adalah sebuah proses dari belajar tentang suatu permasalahan , tantangan , halangan , kesulitan maupun kemudahan serta kebahagiaan kedalam pengalaman yang tertulis atau tidak tertulis"

Suatu jalan keluar yang tentunya akan berbeda pada tiap - tiap orang "atas segala sesuatu baik mudah ataupun sulit baik senang maupun susah , baik sedih maupun bahagia" adalah apa yang disebut dengan teori. dan teori ini tidaklah sama jika digunakan pada individu yang berbeda , tempat yang berbeda , situasi serta kondisi yang berbeda, karena itulah kemudian ketika suatu teori digunakan akan menghasilkan sesuatu yang berbeda pula, dimana ada kalanya berhasil dan ada kalanya tidak berhasil atau dengan kata lain ada kalanya benar ada kalanya salah, yang pada hakekatnya adalah benar ....! 

Yang menjadikan suatu teori tidak berhasil dan atau salah adalah lebih kepada penempatan kondisi , lokasi dan atau keadaan , dimana setiap masa / waktu , setiap kondisi , setiap keadaan , setiap lingkungan akan membutuhkan dan atau memerlukan teori yang berbeda.

"Dan tidak semuanya bisa berteori dan apalagi menjalankan teori, apa yang kebanyakan orang bisa adalah meniru sebuah teori, dan hasilnya pun tidak sama persis seperti apa yang dikatakan , ditulis , ditemukan (atau dengan kata lain : tidak bisa menjalankan teori)"

Hanya sebagian kecil mereka yang beruntung saja yang bisa menemukan dan atau menjalankan teori, serta meniru sebuah teori,

Demikian halnya dengan Al Quran dan segala macam permasalahan yang ada , dimana didalamnya dijelaskan berbagai kondisi , keadaan dan atau lokasi yang berbeda dengan berbagai macam solusi / pemecahan masalah / jalan keluar yang berbeda, serta setiap masa ada kitabnya , maka biarkanlah masing - masing berbuat sesuai dengan keadaannya, karena Tuhan Mu lebih mengetahui siapa yang benar dijalan-Nya. Tentunya ..........! sesuai dengan aturan - aturan yang telah ditetapkan-Nya. (Al Ayat)

Karena sesungguhnya Al Qur-an adalah benar-benar Firman Allah Yang membedakan antara yang Haq dan Bathil. (Al Ayat)

Al Israa' , Al A'raaf, Ar Ra'd , dan surah yang lain.

Wallahu A'lam

Minuman Keras Yang Bermanfaat

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Minuman Keras (miras) atau Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Efek samping Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran Surah Al Maidah : 91

"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)"

Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi.

Efek samping terlalu banyak minuman beralkohol juga menumpulkan sistem kekebalan tubuh. Alkoholik kronis membuat jauh lebih rentan terhadap virus termasuk HIV. Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol. Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung, dan banyak berhalusinasi.

Sebenarnya masayarakat kita sudah banyak yang tahu tentang bahaya dari akibat minuman keras atau minuman beralkohol ini. Salah satunya adalah menimbulkan kecanduan yang luar biasa, karena minuman keras atau minuman beralkohol ini mengandung zat aditif, yaituzat yang jika masuk ke tubuh manusia walaupun dengan jumlah sedikit akan menimbulkan efek kecanduan yang luar biasa. Akibat Minuman Keras Terhadap Kesehatan diantaranya (1) Merusak Syaraf,(2) Penyakit Jantung,(3) Meningkatnya kemiskinan,(4) Gairah sexual menurun, (5) Turunnya tingkat kesadaran,(6) Metabolisme Tubuh Terganggu,(7) Gangguan terhadap Janin dan berbagai akibat buruk yang lain yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya, Namun demikian diantara sekian banyak akibat buruk dari minuman keras terdapat juga beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari minuman keras tersebut, sebagaimana Firman - Nya : Al Baqarah : 219

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir"

Diantaranya adalah : Dalam kehidupan sehari senayawa alkohol telah banyak dipergunakan, dibidang kesehatan alkohol 70% dipergunakan sebagai antiseptik, Dari berbagai penelitian juga disebutkan bahwa alkohol dalam jumlah besar bermanfaat bagi laki-laki namun tidak untuk kaum perempuan. Namun para ahli kesehatan memperingatkan bahwa minum berlebihan bisa meningkatkan resiko penyakit lain dan alkohol menjadi penyebab dari kematian 1,8 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya.

Selain dapat menyebabkan maraknya kejahatan demikian juga AlQohol bermanfaat termasuk untuk mengurangi kejahatan sebagaimana yang terjadi pada alkisah berikut ini :

Suatu Ketika seorang pria masuk ke sebuah toko dengan pistol dan meminta kasir meletakkan semua uang dari register ke dalam tas.
Perampok : "Toko Ini Kami Rampok , cepat masukkan seluruh uang yang ada dikasih ke dalam Tas ini.." pinta perampok sambil menodongkan Pistol.

Teller pun melakukannya dengan tenang , sambil mencari - cari ide dan mengulur waktu,

Kemudian Perampok tersebut melihat ke arah sebotol Vodka di atas meja dan mengatakan kepada kasir untuk memberikannya. 

Perampok : "Ambilkan Botol Vodka yang atas meja itu, cepat....!!"

Melihat ada kesempatan, kasir menolak secara halus dan berkata ia tidak percaya umurnya lebih dari 21 tahun. 

Teller / kasir : "Maaf minuman ini hanya untuk orang dewasa , saya lihat anda masih begitu muda dan gagah, apakah anda sudah berumur lebih dari 21 tahun..?

Lelaki itu kontan marah dan bersikeras bahwa dia berumur lebih dari itu "Saya berumur 26 tahun .., ayo cepat berikan minuman itu..!"

Kasir tetap ngotot dan bersikeras tidak percaya , seraya meminta sang perampok untuk menunjukkan identitas yang bisa membuktikan bahwa dia berumur lebih dari 21 tahun. 

Akhirnya, pria itu mengeluarkan SIM-nya dan menunjukkan itu padanya "Ini SIM saya silahkan periksa ..!"

Kasir itu melihatnya dengan hati-hati dan memperhatikan dengan detail , nama alamat dan umur yang tertera didalam SIM Perampok itu, setelah  cukup yakin. Dia memberinya Vodka dan membiarkan pria itu pergi. 

Dua jam kemudian ia ditangkap setelah dia menelepon polisi dengan nama dan alamat lengkap dari si perampok.

Walhasil perampok bodoh itupun tertangkap ... 

"Pada keduanya (Miras dan judi) terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." 

Wallahu A'lam.

Cinta dan Kasih Sayang Menyelamatkan Sesama

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
KRISIS CINTA dan kasih sayang yang mewarnai relasi antarumat Islam dalam berbagai segi dan bidang kehidupan, seolah menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan pentingnya menyintai dan mengasihi sesama. Umat Islam pun seakan tidak memiliki figur sentral yang mampu meneladankan ketulusan untuk saling menyintai, mengasihi serta menyayangi. Akibatnya, di antara mereka, muncullah perasaan saling curiga, iri, pengkhianatan, saling merendahkan, memfitnah, menggibah, mendengki, mendendam, bertikai, menzalimi, menindas, bahkan saling mencelakakan.

Munculnya gejala krisis cinta dan kasih sayang yang melanda kehidupan banyak kaum muslimin, kerap terjadi di mana-mana. Dari mulai di ruang keluarga, hingga di tempat-tempat kerja. Tidak terkecuali, di institusi-institusi yang mengusung label Islam, gejala krisis kasih sayang juga sering mewarnai hubungan antarpersonilnya. Sungguh ironi dan menyedihkan. Bagaimana mungkin ukhuwah islamiyah yang kerap digembar-gemborkan itu bisa terwujud secara solid dan kokoh, jika krisis ini tetap terjadi seolah tiada henti. Padahal Rasulullah SAW, pecinta agung yang mulia menegaskan:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai” (HR. Muslim)

Hal ini mungkin dikarenakan Lemahnya Peneladanan Terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan sekaligus terjebaknya mereka dalam pemahaman ayat dan atau hadist yang berkaitan dengan fitnah / ujian dan rusaknya islam di akhir zaman. Menggejalanya krisis cinta dan kasih sayang di kalangan komunitas umat Islam tentu saja bukan dikarenakan ajaran yang terkandung dalam agama yang dianutnya, dan bukan pula ketiadaan model yang patut dijadikan panutan. Persoalannya adalah lemahnya pengamalan terhadap Islam, serta “ketidakmauan” umat untuk betul-betul meneladani sang pecinta agung yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Utamanya dalam konteks ini adalah keteladanan dalam menyintai, mengasihi, dan atau menyayangi sesama.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai figur manusia terbaik. Beliau telah membuktikan kemampuannya dalam membawa manusia dari keterbelakangan pemikiran dan kerendahan akhlak menuju pencerahan dan kemuliaan. Dari kehidupan yang diselimuti kebencian, dendam, dan angkara murka, menuju kehidupan yang diberkahi dengan memaafkan, cinta dan kasih sayang.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107).

Ada yang mengartikan bahwa “rahmat” di sini adalah pencurah kasih sayang. Diutusnya Nabi merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Rasulullah adalah manusia yang menebarkan kasih sayang.

“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Bukhari)

Upaya Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan dalam semua dimensi kehidupan, Nabi Muhammad SAW secara cukup gamblang telah menyontohkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya, bersikap dan berperilaku agar rahmat dan keberkahan hidup menyertai. Dari mulai ketika menjalani kehidupan dalam ranah keluarga dan kekerabatan, hubungan antara “tuan” dengan “pembantu”, atasan dengan bawahan, antar rekan (mitra) kerja atau bisnis, kehidupan bertetangga, persahabatan, dalam relasi sosial dengan non-muslim, sebagai pemimpin dakwah, militer, maupun sebagai pemimpin sosial dan politik (umat).

Ketika mengkaji kehidupan Rasul mulia di semua sisi kehidupannya itu, tampak sekali bahwa beliau menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai landasannya. Tulusnya cinta dan besarnya kasih sayang beliau, tercurah kepada siapa pun yang menjalin relasi dengannya. Lebih dari itu, manusia agung ini kerap menunjukkan kasih sayang terhadap orang-orang yang memusuhi serta menzaliminya. Malahan, di balik ketegasan memberikan “hukuman” terhadap musuh-musuh Islam, acapkali beliau pun memperlihatkan kasih sayangnya terhadap mereka. Hal ini antara lain tampak dari kemauan Sang Nabi untuk mengampuni bahkan mengangkat derajat mereka.

Mengingat begitu tulusnya cinta atau kasih sayang yang mendasari setiap pergaulan Nabi, termasuk kemampuannya menghadapi beragam persoalan melalui pendekatan perasaan tertinggi kemanusiaan ini, maka dapat dikatakan bahwa beliau telah menerapkan “manajemen cinta” yang dalam pengertian sederhana, “manajemen” dapat dipahami sebagai “seni melaksanakan dan mengatur”.

Dalam konteks filosofi, ada yang berpendapat bahwa cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi / kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Karena “cinta” yang dimaksud adalah cinta yang islami, tentunya pemahaman dari pengertian “cinta” ini juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah pemahaman cinta yang lebih luas, mendalam, serta bersifat hakiki.

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama dari Damaskus di abad ke-7, melihat pemahaman cinta dalam ruang lingkup yang luas. Bahkan beliau mengemukakan adanya 6 peringkat cinta, yang dua di antaranya adalah shababah dan ‘itfh. Shababah yaitu cinta yang mampu melahirkan ukhuwah islamiyah. ‘Itfh (simpati) adalah rasa cinta yang memunculkan kecenderungan untuk menyelamatkan dan membantu sesama. dengan demikian, mengacu pada kedua pemahaman tersebut; “manajemen” dan “cinta”, maka “manajemen cinta” yang dimaksud adalah seni melaksanakan dan mengatur hubungan (antar manusia) yang dilandasi oleh keinginan untuk melahirkan ukhuwah islamiyah, membantu serta menyelamatkan sesama.

Di dalam cinta atau kasih sayang yang diteladankan Nabi SAW terkandung nilai-nilai produktif dan konstruktif seperti: menyebarkan salam, menjaga dan melindungi kehormatan manusia, mengokohkan keimanan, berlaku adil, sabar, pemaaf, tegas, ulet, memberikan pendidikan dan bimbingan, mempererat hubungan, menghormati, rendah hati, senang membantu, dermawan, memuliakan, memberikan rasa nyaman, menunjukkan perhatian, menjaga nama baik, mendoakan kebaikan, tabah, konsisten, berkemauan kuat, menjauhi sikap egois, memberikan kepercayaan, berani, menjaga citra diri, memotivasi, dan masih banyak lagi. Semua nilai, sifat, sikap, atau perilaku yang baik-baik itu adalah cerminan atau konsekuensi dari rasa cinta terhadap kebenaran dan atau kasih sayang terhadap sesama.

Langkah langkah teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai cinta atau kasih sayang sesuai kapasitas dan peran kita dalam semua aspek kehidupan. Baik dalam kehidupan berumahtangga dan berkeluarga, sosial, bisnis, dakwah, militer, hingga politik. beragam teori pengembangan diri (self development) dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW di semua aspek kehidupannya adalah sumber inspirasi dan motivasi dalam memenej kehidupan pribadi dan sosial kita agar meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa batas baik untuk diri sendiri , lingkungan dan seluruh alam semesta. 

Wallahu A'lam

La Tahzan Jangan Bersedih

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
"Kami berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati'." (al-Baqarah: 38).

Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya.

Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat.

Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda.

Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.

Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini.

Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, "Seandainya saya tidak melakukan" atau "Seandainya saya tidak berkata ," dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang.

Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya, tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. 

Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur'an sebagai berikut:

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Q.s. Yunus: 62-4).

Keutamaan Dan Larangan Membaca Al Quran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).

Para ahli Al-Qur’an adalah orang yang paling berhak untuk menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Yang) mengimami suatu kaum adalah yang paling qari bagi kitab Allah, maka jika mereka sama dalam bacaan maka yang paling ‘alim bagi sunnah (hadits), maka jika mereka dalam As-Sunnah juga sama maka yang paling dulu hijrah, maka jika mereka juga sama dalam hijrah maka yang lebih tua usianya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.
Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak membaca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya. Beberapa Peringatan bagi Ummat Islam tentang Al-Qur’an :

1. Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

Karena membaca Al-Qur’an merupakan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi was salam bersabda, artinya:

“Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka dibawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkannya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya) Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

Semoga kita terpelihara dari riya’.

2. Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu memandangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“…Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebahagianpun di akhirat.” (As-Syura: 20).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

3. Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum. Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut. Wallahu A’lam.

4. Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).

Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
* Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
* Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
* Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
* Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

5. Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam, dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas:
“Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Wallahu ‘a’lam bishshawab.

Rujukan:
- Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306
- Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).
- Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar
- At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth.
- Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.

Disadur dari : Berbagai Sumber

Menepati Janji

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa`: 34).

SUNGGUH sempurna ajaran Islam, yang bukan hanya membahas hal-hal besar dari seluk-beluk kehidupan manusia, tetapi juga hal-hal kecil, termasuk di antaranya tentang janji. Tak terkecuali janji untuk memilih pemimpin dengan menjunjung tinggi perdamaian. Meskipun berjanji kepada sesama manusia, janji itu pasti disaksikan oleh Allah, karena Allah tak luput menyaksikan termasuk sehelai daun yang jatuh di rimba raya. Karena itu, janji damai itu wajib ditepati dengan berbagai cara.

Pertama adalah menepati janji dengan hati. Sebagaimana diingatkan Rasulullah, bila hati baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dengan demikian, akan sulit memenuhi janji damai, bila tidak menjaga hati dari serangan penyakit hati, seperti iri hati.

Kedua adalah menepati janji dengan kata-kata. Sebagaimana umumnya terjadi, banyak ketidak-damaian terjadi karena kata-kata yang buruk. Apalagi kata-kata kadangkala jauh lebih melukai hati, ketimbang benda tajam. Karena itu, termasuk menepati janji ialah menjaga kata-kata yang mendamaikan.

Ketiga adalah menepati janji dengan sikap. Sikap mementingkan diri sendiri seringkali menjadi pemicu ketidakdamaian. Karena itu, sikap ini perlu segera diganti dengan sikap mementingkan kepentingan bersama atau umat.

Selanjutnya adalah menepati janji dengan perbuatan. Termasuk yang menghancurkan perdamaian adalah melakukan kejahatan dengan tangan atau kekuasaan. Karena itu, menjaga perbuatan yang sifat menghancurkan adalah wujud dari janji damai.

Jadi, tinggal menunggu siapa yang akan muncul sebagai pengkhianat sekaligus munafik. Sebagaimana kata Rasulullah, tanda-tanda orang munafik ialah apabila berbicara, ber dusta; apabila berjanji, mengingkari; dan apabila dipercaya, berkhianat (HR. Imam Muslim).

Tribun news

Memahami Ujian Dan Memaknai Musibah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku” (QS. Al Fajr: 15-16).

Bila dirundung kemiskinan sehingga terpaksa bekerja keras pontang-panting siang dan malam untuk menutupi kebutuhan hidup, ada di antara kita merasa bahwa itu suatu kehinaan atau rendah status sosialnya. Sebaliknya, bila dianugerahkan kekayaan yang banyak, jabatan yang bagus, atau ilmu yang tinggi, bisa jadi juga kita langsung merasa diri orang-orang mulia. Padahal sesungguhnya belum tentu demikian. Sepatutnya, dua-duanya difahami sebagai ujian.

Sebagaimana diingatkan dalam Alquran, kita manusia kadangkala diuji dengan banyaknya harta, kesempatan berkuasa, dan sejenisnya, untuk dilihat sejauhmana mampu bertahan dalam ketaatan kepada Allah. Harus diakui, tak sedikit yang gagal. Lebih-lebih di zaman sekarang, siapapun yang sempat menduduki suatu kekuasaan, akan berhadapan dengan para penggoda siang dan malam. Yang jujur pun kadangkala tak sanggup bertahan, sehingga perlahan namun pasti terjerumus ke dalam jurang kecurangan dan lupa diri di sana. Demikian juga orang berilmu, yang tak sedikit di antaranya mempergunakannya untuk membela orang-orang yang salah dan pada saat yang sama menganiaya orang-orang yang benar.

Begitu juga dengan dengan orang-orang yang diuji dengan kemiskinan, yang kadangkala cepat merasa lemah dan putus asa. Padahal tidak sedikit orang yang karena hidupnya miskin, tertantang untuk berpikir keras, belajar tekun, dan berusaha sekuat tenaga menemukan celah besar di antara celah sempit hidupnya. Hasilnya, tak sedikit di antaranya mampu mengukir prestasi mencengangkan atau melakukan perubahan yang luar biasa pada dirinya dan masyarakatnya. 

Fitrah hidup manusia akan selalu dihiasi kesedihan dan kesenangan. Menyikapi keadaan yang demikian tentunya membutuhkan kecerdasan mental supaya menghasilkan pola sikap dan pola tindak yang berkualitas untuk kebaikan di masa yang akan datang. Dalam pandangan Islam bencana dan nikmat merupakan ujian hidup yang diberikan Allah Azza wa Jalla sebagai pembelajaran agar manusia selalu mawas diri menjaga predikat mahluk yang diberikan kemuliaan. Ujian hidup pada hakikatnya bertujuan untuk menghasilkan nilai-nilai kepantasan diri supaya manusia memiliki pribadi yang paripurna seperti pribadi Rosulullah SAW.

Pencapaian pribadi paripurna hanya dapat diraih melalui proses ujian yang bertahap sesuai dengan kapasitas, dinamis dan berkelanjutan sehingga berakhir pada satu titik yaitu kepantasan diri mendapatkan kebahagiaan hakiki yakni bahagia dunia dan akhirat.

Tidak semua manusia bisa menempatkan diri sebagai pribadi yang pantas mendapat kebahagiaan salah satu penyebabnya adalah pola pandang yang salah tentang ujian hidup itu sendiri. Banyak manusia menganggap bahwa ujian hidup hanya dalam bentuk musibah yang buruk-buruk semata padahal nikmat yang baik-baik pun sebenarnya bentuk lain dari ujian hidup.

Dengan persepsi yang keliru mengakibatkan dangkalnya nilai hikmah yang bisa diambil dari setiap ujian hidup yang menimpa akibatnya tidak ada pembelajaran nilai untuk meningkatkan kualiatas iman dan amal. Padahal Allah Azza wa Jalla menghendaki dengan ujian hidup manusia berada pada jalan kebenaran agama, jalan yang diridha-Nya, jalan yang menempatkan manusia pada posisi kemuliaannya. Yaitu manusia yang berguna bagi manusia lain, manusia yang tidak melupakan Tuhannya, manusia yang taat kepada perintah-Nya, manusia yang selalu menjauhi larangan-Nya itulah yang dimaksud dengan jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang diberikan Kebahagiaan hakiki.

"Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali kepada kebenaran" (QS Al Araaf: 168)

Dalam ujian dan musibah, ada tujuh perkara yang perlu kita fahami sehingga kita dapat menyambut ujian atau musibah dengan jalan yang diredhai-Nya. Kaedah-kaedah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Merupakan sunnatullah bahwa di dunia ini ada perubahan, pergantian, perpindahan keadaan. Allah menetapkan dua hal yang berlawanan. Jika sesuatu telah mencapai batasnya, maka ia akan berbalik pada hal yang berlawanan dengannya. Apabila malam telah sampai batas dan telah selesai dalam putarannya maka fajar akan terbit untuk menggantikannya. Jadi kesulitan dalam hidup ini tidak berlangsung terus-menerus namun berubah menjadi kelapangan dan kemudahan.

2. Penderitaan pada awalnya besar, kemudian mengecil. Kepedihan yang diakibatkannya pun tidak berlangsung selamanya namun sakit pada awalnya dan berangsur-angsur memudar. Sikap sebagai hamba yang seharusnya adalah bersabar sejak benturan pertama, saat itulah ia mendapat pahala dan balasan. Allah memuliakan seseorang yang mampu berinteraksi dengan berbagai penderitaan karena musibah merupakan penyaringan, ujian, pengajaran, penyucian, pengampunan.

3. Seandainya bukan karena penderitaan, niscaya kenikmatan tidak dapat dirasakan. Orang yang tidak pernah ditimpa musibah hidupnya dalam gelisah resah karena larut dalam perputaran yang terus-menerus dan membosankan. Pergantian keadaan dengan adanya ujian menjadikan timbulnya kenikmatan. Ali Tamam berkata; ‘Sekalipun kepedihan berbagai peristiwa menimpamu, namun justru itu yang memberitahukanmu mengenai nikmatnya.’

4. Diantara yang dapat meringankan beban musibah adalah dalam setiap hari yang dilaluinya berarti ia telah melepaskan sebagian ujian yang menjadi tanggung jawabnya dan mendekati jalan keluar, ia menuju kepada kemudahan.

5. Allah memiliki hak mutlak mentukan apa yang terjadi pada hamba-Nya, Setiap yang ditentukan Allah itu adalah kebaikan walaupun terlihat buruk. Jadi kebaikan bukan selalu yang dianggap baik oleh seorang hamba dan keburukan bukan selalu pada hal yang disangka buruk oleh hamba. Bila demikian, maka seorang hamba dapat menyadari posisinya bahwa pengetahun tentang hal ini semuanya ada di tangan Allah SWT.

6. Jika musibah sangat berat dan sangat menyakitkan dan telah sampai puncaknya, maka datanglah jalan keluar. Segala sesuatu mengalami perubahan dan kepupusan kecuali Allah yang kekal. Jadi jika musibah telah membesar dan semakin parah, maka itu merupakan kabar gembira bahwa musibah itu akan sirna dan berlalu.

7. Jika seorang hamba menemui musibah sampai ditimpa keputusasaan serta tidak mampu menembus pemecahan masalah maka datanglah jalan keluar itu. Ketika itu seorang hamba dalam keadaan pasrah hanya pada Allah dan ketauhidannya inilah mendekatkannya pada pertolongan Allah. QS Yusuf 110, ‘Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.’

Pada kondisi ini manusia telah gagal dalam pencariannya pada manusia sehingga ia menemukan hasrat yang kuat menuju Allah, dan ketika ia memohon, maka Allah memberi karunia-Nya. QS An-Naml 62, ‘Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).’

Wallahu A'lam

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About