Showing posts with label Hari Akhir. Show all posts
Showing posts with label Hari Akhir. Show all posts

Menjadi Orang Asing

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Islam pada saat kemunculannya dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang orang yang asing itu” (HR. Muslim).

Disebut asing pada awal munculnya agama Islam dipandang wajar. Sebab, pada saat itu Islam diturunkan dalam masyarakat jahiliyah. Masih sedikit orang yang menganut Islam, sehingga dianggap baru bagi orang kebanyakan. Namun bila Islam kembali menjadi asing bahkan di kalangan masyarakat Muslim sendiri yang jumlahnya sudah begitu banyak sekarang ini, patut direnungkan.

Asingnya Islam di kalangan masyarakat yang mengaku Muslim terjadi karena sedikit orang yang benar benar berpegang teguh pada ajaran Islam, tak terkecuali pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. 

Orang orang yang tak teguh pendiriannya menjadikan hari raya sebagai kesempatan bermegah megahan dengan memamerkan kekayaan. Sibuk mempersiapkan berbagai kemeriahan, sehingga shaf shalat berjamaah pun semakin sedikit. 

Juga ada yang kembali melanjutkan berbagai macam kemungkaran, yang sempat ditunda karena katanya menghormati bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, masih ada hamba hamba Allah yang tergolong asing dan beruntung di hari raya. Yaitu, hamba hamba yang istiqamah dalam ajaran Islam di saat banyak orang mulai berpaling. 

Hari raya Idul Fitri dijadikan momen untuk menyambut hari kemenangan, karena dosa dosa telah diampuni dan sudah kembali menjadi suci. 

Selain bertakbir dan melaksanakan shalat Id, orang orang beruntung ini saling berkunjung dan menjalin silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah. Juga saling memaafkan satu sama lain, juga karena Allah. Termasuk juga menjaga ketertiban dalam masyarakat, tak terkecuali tertib dalam berlalu lintas.

Bagaimana dengan saudara  ...? 

Sumber aceh tribun news

Kebangkitan Skala Kecil

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Selalu saja bagi sebahagian orang berharap akan munculnya kebangkitan skala besar atau kebangkitan umat, tetapi seringkali mengabaikan kebangkitan skala kecil. Padahal kebangkitan kecil menjadi pengungkit kebangkitan besar. Kebangkitan skala kecil yang terabaikan yang dimaksud adalah kebangkitan yang diupayakan dalam diri sendiri.

Tidak jarang didapati orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri dalam hidup ini. Pendidikan tinggi yang diraih hanya ditujukan agar dipandang pintar. Modal kepintaran diharapkan akan menjadi pancing untuk mengail kepercayaan (tinggi). Kepercayaan digunakan untuk meraih posisi-posisi tinggi, sehingga mudah menjangkau materi yang banyak. Kebiasaan menduduki posisi-posisi yang dipenuhi dengan materi yang banyak selanjutnya menghasilkan kecemasan besar dan panjang. Yaitu, kecemasan akan terjadi penurunan dari posisi puncak, yang berakibat pada hilangnya kesempatan menjangkau materi yang banyak.

Kecemasan inilah yang melahirkan keruntuhan umat. Sebab, untuk mengusir rasa cemas akan kehilangan jabatan, kebanyakan orang melakukan hal-hal yang sifatnya berlawanan arah dengan kebangkitan umat. Tak sedikit di antaranya tega melakukan hal-hal yang menganiaya orang-orang yang dianggap bisa menjatuhkan posisi tingginya.

Kecintaan yang berlebihan terhadap posisi duniawi seperti ini banyak menimbulkan keretakan umat. Silaturrahmi terputus. Dendam menggumpal. Hubungan buruk seringkali berlanjut, karena orang-orang selanjutnya juga berharap memperoleh kesempatan yang sama, sehingga ikut mencoba cara-cara yang digunakan pendahulunya. Akibatnya, kondisi umat semakin keropos dari dalam. Kebangkitan besar yang dicita-citakam terganjal oleh ketidakmauan untuk melakukan kebangkitan kecil dalam diri sendiri, dalam bentuk perubahan perilaku.

Bertobat, Beriman Dan Mengerjakan Amal Shaleh

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah :

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira." (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur'an  Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar, dalam sebuah ayat Allah menyatakan :

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia." (Q.s. an-Nisa': 31).

Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan. Allah memberitahukan kita dalam al-Qur'an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, "Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni." Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

"Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.s. an-Nisa': 17-8).

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah. Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut :

"Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (Q.s. at-Taghabun: 9).

Dijelaskan lagi dalam Surah Al Furqaan :

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. al-Furqan: 70).

Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah "amal saleh". Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. 

"Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah"

Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. 

Karena neraka yang ada di sisi-Nya akan selalu mengingatkan mereka tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya. 

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan mereka yang bersegera dalam memohon ampunan dan meninggalkan segala keburukan dan kealpaan serta menggantinya dengan mengerjakan amal kebajikan. ingatlah bahwa kita hidup didunia ini hanya sebentar saja sedangkan di alam yang lain terdapat siksa yang kekal selamanya. 

Wallahu A'lam

Perjalanan Panjang Kehidupan Manusia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu.

Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. berfungsi untuk memberikan pedoman bagi umat manusia tentang perjalanan (rihlah) tersebut. Suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia, tanpa kecuali. Manusia yang diciptakan Allah swt. dari tidak ada menjadi ada akan terus mengalami proses panjang sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah swt.

Saat ini ada dua teori yang menyesatkan orang banyak. Al-Qur’an dengan tegas membantah teori itu. Pertama, teori yang mengatakan manusia ada dengan sendirinya. Dibantah Al-Qur’an dengan hujjah yang kuat, bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Allah swt. Kedua, teori yang mengatakan manusia ada dari proses evolusi panjang, yang bermula dari sebangsa kera kemudian berubah menjadi manusia. Teori ini pun dibantah dengan sangat pasti bahwa manusia pertama adalah Adam as. Kemudian selanjutkannya anak cucu Adam as. diciptakan Allah swt. dari jenis manusia itu sendiri yang berasal dari percampuran antara sperma lelaki dengan sel telur wanita, maka lahirlah manusia.

Rasulullah saw. semakin mengokohkan tentang kisah rihlatul insan. Disebutkan dalam beberapa haditsnya. “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari). Dalam hadits lain: ”Untuk apa dunia itu bagiku? Aku di dunia tidak lebih dari seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya” (HR At-Tirmidzi).

Alam Arwah

Manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. setelah sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.

Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).

Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuannya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR Bukhari)

Alam Rahim

Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah manusia ke dunia.

Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Seluruh manusia di dunia apapun kondisi sosialnya diingatkan tentang awal kejadiannya yang berasal dari benda yang hina, yaitu sperma lelaki dan sel telur wanita. Manusia sebelumnya belum dikenal, belum memiliki kemuliaan dan kehormatan. Lalu apakah manusia akan bangga, congkak, dan sombong dengan kondisi sosial yang dialami sekarang jika mengetahui asal muasal mereka?

Setelah mencapai 6 bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke dunia dalam keadaan telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.

Alam Dunia

Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.

Di dunia inilah manusia bersama dengan jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu ibadah. Dan dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat dimensi; dimensi tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai sebuah kesempatan atau target waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.

Allah Ta’ala telah melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan ingkar terhadap pedoman hidup tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya ketimbang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

Maka, orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.

Dunia dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian bagi manusia. Apakah yang dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan Allah swt. atau menyimpang dari ajaran-Nya? Apakah segala fasilitas yang diperoleh manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau tidak? Dunia merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan sesaat. Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana hidup di dunia. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah saw. tidur diatas tikar, ketika bangun ada bekasnya. Maka kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur.” Rasululah saw. bersabda: “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Perjalanan hidup manusia di dunia akan berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati, apakah itu pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan meninggalkan segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal shalihnya berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Kematian bukanlah akhir kesudahan manusia, bukan pula tempat istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup berikutnya.

Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia. Utopia belaka. Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka atau tidak suka.

Alam Barzakh

Fase berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka tinggal sendiri. Yang akan menemaninya adalah amal mereka sendiri. Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan mengetahui nasibnya ketika mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli surga atau ahli neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa surga akan mereka rasakan. Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya neraka.

Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan Allah memerintahkan pada malaikat: “Catatlah kitab hambaku ke dalam ’illiyiin dan kembalikan kedunia.” Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya: Siap Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan kuburnya, dan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik, dan aroma yang baik. Lelaki itu adalah amal perbuatannya.

Alam Akhirat (Hari Akhir)

Dan rihlah berikutnya adalah kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya. Kehidupan hari akhir didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa kerusakan total seluruh alam semesta. Peristiwa setelah kiamat adalah mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam as. sampai manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Saat itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar satu mil, sehingga mengalirlah keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada, bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.

Dalam kondisi yang berat ini manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan dari kesulitan yang maha berat itu. Tetapi semuanya tidak ada yang dapat menolong. Dan terakhir, hanya Rasulullah saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan mahsyar. Rasulullah saw. sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan memuji-muji-Nya. Kemudian Allah swt. berfirman: “Tegakkan kepalamu, mintalah niscaya dikabulkan. Mintalah syafaat, pasti diberikan.” Kemudian Rasululullah saw. mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Rabb, umatku.” Dan dikabulkanlah pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk kemudian melalui proses berikutnya.

Peristiwa berikutnya adalah hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi manusia. Ada yang mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan dengan sangat teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab yang mudah dan hanya sekadar formalitas. Bahkan sebagian kecil dari orang beriman bebas hisab.

Di antara pertanyaan yang akan diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan masalah prinsip dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan melangkah kaki anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya, dan apa yang diamalkan dari ilmunya.” (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga dilakukan proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang menzhalimi.

Kejadian selanjutnya manusia harus melalui shirath, yaitu sebuah jembatan yang sangat tipis dan mengerikan karena di bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati jembatan ini dari mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan manusia melewati jembatan itu sesuai dengan amalnya di dunia. Ada yang lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang lewat seperti kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi banyak juga yang berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka jahanam.

Bagi orang-orang yang beriman, akan minum telaga Rasulullah saw. yang disebut Al-Kautsar. Rasulullah saw. bersabda: “Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Surga dan Neraka

Pada fase yang terakhir dari rihlah manusia di hari akhir adalah sebagian mereka masuk surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan neraka tempat orang-orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah ada dan disediakan. Bahkan, surga sudah rindu pada penghuninya untuk siap menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan. Neraka pun sudah rindu dengan penghuninya dan siap menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan surga dan neraka secara detail. Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia tentang persinggahan akhir yang akan mereka diami.

Orang-orang kafir, baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik, jika meninggal dunia dan tidak bertobat, maka tempatnya adalah neraka. Neraka yang penuh dengan siksaan. Percikan apinya jika ditaruh di dunia dapat membakar semua penghuni dunia. Minuman penghuni neraka adalah nanah dan makanannya zaqum (buah berduri). Manusia di sana tidak hidup karena penderitaan yang luar biasa, dan juga tidak mati karena jika mati akan hilang penderitaannya. Di neraka manusia itu kekal abadi.

Orang-orang beriman akan mendapatkan surga dan kain sutra karena kesabaran mereka. Dalam surga mereka duduk-duduk bersandar di atas dipan, tidak merasakan panas teriknya matahari dan dingin yang sangat. Mereka dinaungi pohon-pohon surga dan buahnya sangat mudah untuk dipetik. Mereka juga mendapatkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala minuman yang sangat bening. Mereka akan minum minuman surga yang rasanya sangat nikmat seperti minuman jahe yang didatangkan dari mata air surga bernama Salsabila. Di surga juga ada banyak sungai yang berisi beraneka macam minuman, sungai mata air yang jernih, sungai susu, sungai khamr, dan sungai madu.

Penghuni surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang jika dilihat sangat indah bagaikan mutiara yang bertaburan. Surga yang penuh dengan kenikmatan dan kerajaan yang besar. Orang beriman di surga memakai pakaian sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal, juga memakai gelang terbuat dari perak dan emas. Allah swt. memberikan minuman kepada mereka minuman yang bersih.

Dan yang tidak kalah nikmatnya yaitu istri-istri dan bidadari surga. Mereka berwarna putih bersih berseri, bermata bulat, pandangannya pendek, selalu gadis sebaya belum pernah disentuh manusia dan jin. Buah dadanya montok dan segar, tidak mengalami haidh, nifas, dan buang kotoran.

Puncak dari semua kenikmatan di surga adalah melihat sang pencipta Allah yang Maha Indah, Sempurna, dan Perkasa. Sebagaimana manusia dapat melihat bulan secara serentak, begitu juga manusia akan memandang Allah secara serentak. Indah, mempesona, takzim, dan suci. Allah Akbar.

Allah akan memasukkan hamba–Nya ke dalam surga dengan rahmat-Nya, dan surga adalah puncak dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala akan memasukan hamba-Nya ke dalam rahmat (surga) berdasarkan rahmat-Nya juga. Disebutkan dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin, manusia, dan binatang. Dengan itu mereka saling simpati dan kasih sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.” (Muttafaqun alaihi) .

Maka, sejatinya nikmat surga itu jauh dari apa yang dibayangkan manusia. Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berkata, “Aku telah siapkan bagi hambaKu yang shalih sesuatu yang belum dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terlintas pada hati manusia” (Muttafaqun ‘alaihi). Apakah akan kita hanya berpuas diri dengan mengejar satu rahmat Allah yang dibagi-bagi untuk seluruh penduduk dunia, sementara kita melalaikan 99 rahmat yang tersisa? 

Semoga kita termasuk dari sedikit orang yang berpikir.

Sistem Keadilan Ekonomi Ilahi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Pusaran krisis finansial dan ekonomi akibat penerapan sistem Kapitalisme menyebabkan membengkaknya angka kemiskinan dan pengangguran serta ketimpangan sosial di tingkat dunia. Fenomena ini menunjukkan bawah kinerja sistem Kapitalisme gagal mewujudkan keadilan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Sistem kapitalisme yang diterapkan di negara industri maju maupun di level dunia tidak hanya tidak mampu mengatasi masalah ekonomi dan sosial masyarakat dunia. Bahkan, lebih dari itu menjadi pemicu meningkatnya kesenjangan sosial karena kontradiksi dalam sistemnya sendiri.

Pandangan dunia materialisme sebagai ruh kapitalisme menyebabkan manusia modern, dengan seluruh potensinya, terhempas dari jalan kebahagiaan menuju penderitaan kemanusiaan. Aliran pemikiran materialisme yang berkembang di negara-negara Barat dan dipaksakan menjadi ruh modernisasi dewasa ini telah menjauhkan manusia dari kebahagiaan sejati, karena tidak menghantarkan manusia menuju pemahaman yang utuh terhadap realitas dunia.

Watak dasar pemikiran Barat dewasa ini hanya menggiring manusia pada pengetahuan yang berkeping-keping. Kapitalisme sebagai mazhab ekonomi mainstream justru menempatkan tujuan manusia hanya sebatas mencari kesenangan dan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya, tidak lebih dari itu. Dengan demikian, penumpukan harta dalam sistem pemikiran Kapitalisme merupakan tujuan final manusia meski tujuan itu berujung pada penghancuran jati diri, hingga menjadikan manusia terasing dengan dirinya sendiri.

Berbeda dengan Kapitalisme, Islam memandang tujuan utama ekonomi adalah meningkatkan moralitas manusia dan membimbingnya menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Dalam Islam, kepemimpinan dunia berdasarkan ajaran wahyu dan nilai-nilai religius di dunia. Sedangkan dalam sistem pemikiran lainnya, pemerintahan hanya didasarkan pada variabel material semata.

Sejatinya, kepemimpinan global yang berasaskan materialisme bertumpu pada prinsip penumpukan harta dan egoisme. Tidak mengherankan, jika produk budaya dan peradaban yang dibangunnya mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, moralitas dan agama. Sebaliknya Islam mengemukakan pandangan yang jauh berbeda dengan materialisme. Dalam pandangan Islam, keadilan, supremasi hukum, keamanan, kesejahteraan dan pembangunan ekonomi berporos pada monoteisme dalam sistem yang teratur dan sistematis.

Menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan memperhatikan kemuliaan manusia juga menjadi prinsip utama pemerintahan Islam. Dalam pemerintahan ideal di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, kekuasaan dan modal diatur dan dikendalikan serta didistribusikan secara adil, hingga tidak seorangpun yang merasa terzalimi. Di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, harta dan harga diri dilindungi dari setiap tindakan lalim.

Salah satu parameter ekonomi dalam perintahan Imam Mahdi adalah pembangunan. Tidak diragukan lagi, pembangunan berkaitan erat dengan pertumbuhan tingkat ilmu pengetahuan di masyarakat sebagai perangkat penting dalam mewujudkan kemajuan di berbagai sektor. Demikian pula, para ahli yang juga menjadi parameter pembangunan di era pemerintahan Imam Mahdi meningkat pesat dari sisi kualitas dan kuantitasnya.

Islam menekankan keutamaan menuntut ilmu, dan faktor ini menjadi salah satu karakteristik pemerintahan Imam Mahdi. Perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya kemajuan di berbagai bidang dari eksakta hingga ilmu agama. Ilmu dan pengetahuan di era Imam Mahdi menjadi faktor yang memudahkan manusia mendapatkan karunia Allah. Berkat kemajuan ilmu dan pengetahuan yang didampingi dengan bimbingan moralitas dan agama, akan terwujud kesejahteraan pada tingkat tertinggi. Imam Baqir berkata, "Ketika al-Mahdi bangkit, akal manusia menyempurna, pemahaman mereka meningkat mencapai kesempurnaan." (Bihar al-Anwar jilid 52 hal 328)

Lompatan perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan kemajuan teknologi yang ramah lingkungan serta produksi yang efisiensi dan efektifitas. Lebih penting dari itu, pengetahuan mampu menekan tingkat kerusakan seminimal mungkin. Dengan demikian dalam permerintahan di era Imam Mahdi, rasionalitas sains dan teknologi berdampingan dengan penghambaan kepada Allah swt dan moralitas. Tanpa bimbingan agama dan moralitas, teknologi yang merupakan produk manusia menjadi pemicu bencana kemanusiaan seperti yang terjadi di era industrialisasi dewasa ini.

Pada pemerintahan Imam Mahdi manusia berada dalam bimbingan ilahi lewat kepemimpinan manusia pilihan Tuhan itu. Imam Shadiq berkata, "Ilmu memiliki 27 bagian. Sebelum kemunculan Imam Mahdi hanya dua yang dipelajari, dan diterapkan, sisanya 25 bagian lainnya baru terbuka di era pemerintahan Imam Mahdi."(Bihal al-Anwar jilid 52 hal.336)

Pertumbuhan rasionalitas bersama dengan pendidikan moral akan membekali masyarakat dengan kedewasaan mengelola dunia di bawah kepemimpinan ilahi.

Kedewasaan dan kesadaran masyarakat itu dibuktikan di berbagai segi dengan penerapan sejumlah variabel. Di bidang ekonomi misalnya, keadilan ekonomi dalam masyarakat didasarkan pada empat variabel utama yaitu, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, pengurangan tingkat kesenjangan sosial, pengentasan kemiskinan dan konsumsi dalam batas kewajaran.

Variabel pembangunan yang berkelanjutan dalam pertumbuhan ekonomi dicapai dengan meningkatkan tingkat kepuasan individu dan masyarakat terhadap fasilitas publik dan layanan pemerintah serta peningkatan kualitas hidup. Sebagaimana sabda Rasulullah, pada masa pemerintahan Imam Mahdi manusia memperoleh karunia Allah yang tidak mereka peroleh sebelumnya.

Variabel kedua adalah pengurangan tingkat kesenjangan sosial yang bermakna mengikis segala bentuk ketidakadilan ekonomi di tingkat nasional dan internasional.

Berbeda dengan kondisi saat ini, dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pada pemerintahan Imam Mahdi keadilan ditegakkan hingga tidak ada lagi diskriminasi dan kezaliman. Semua orang mendapat sesuai haknya. Imam Baqir berkata, "Di era pemerintahan al-Mahdi, keadilan ditegakkan secara penuh di seluruh sektor hingga tidak ada lagi diskriminasi atas baitul mal dan hak setiap orang dipenuhi."(Bihal al-Anwar jilid 52 hal 351)

Pemerintahan di masa Imam Mahdi secara total akan mengentaskan kemiskinan hingga ke akar-akarnya. Secara umum, jalan yang dilakukan dengan memanfaatkan dua faktor utama. Di satu sisi, modal material yang sangat besar dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di sisi lain, adanya potensi dan fasilitas yang pergunakan dan didistribusikan secara adil. Faktor tersebut menyebabkan hilangnya sikap tamak dalam dari masyarakat. Imam Baqir berkata,"Pembayar zakat kesulitan membayarkan zakatnya, karena mustahiq zakat pun mengatakan, kami tidak membutuhkan bantuanmu."(Bihal al-Anwar jilid 52 hal.347)

Islam memandang keadilan ekonomi tidak akan terwujud, jika variabel pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pengurangan kesenjangan sosial terwujud tidak disertai dengan konsumsi yang seimbang. Sebab, budaya hedonisme menyebabkan kesenjangan sosial di tengah masyarakat dan perlombaan menumpuk harta dan kemewahan.

Pemerintahan al-Mahdi memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang selama ini disamarkan oleh mesin-mesin propaganda industri modern.

Pada masa kemunculan Imam Mahdi, para penimbun harta, orang-orang rakus yang menyebabkan terjadinya kezaliman di muka bumi diperangi dan dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Apa yang terjadi di era pemerintahan al-Mahdi adalah janji Allah Swt yang dinyatakan berulangkali dalam al-Quran bahwa Allah akan memberikan anugerah yang melimpah berupa kehidupan yang aman, tenteram dan sentosa kepada mukmin yang beramal soleh. Inilah periode yang kita nanti-nantikan

Azazel, Izazil Nama Lain Iblis

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
'Azâzîl (عزازل) adalah nama asli dari Iblis yang merupakan pemimpin kelompok Syaitan. Menurut legenda sebelum diciptakannya Adam, Azâzîl pernah menjadi Imam para Malaikat atau Penghulu para Malaikat, Khazin al-Jannah (Bendaharawan Surga) dan Abu al-Jan (Bapak para Jin) gelar ini disematkan karena iblis menentang perintah Allah Subhanahu Wata'ala ketika disuruh bersujud kepada Adam.

Azâzîl terdiri atas al-‘azâz yang berarti 'hamba' dan al-îl yang berarti 'Allah' . Kata al-‘azâz berasal dari al-‘izzah yang berarti kebanggaan atau kesombongan. atau dapat diartikan sebagai mahluk yang membawa kesombongannya milik Allah dinamakan demikian karena ia tercipta dari api. Kata al-‘azâz (العزاز) terdiri dari empat huruf, yaitu huruf ‘ain, zây, alif, dan zây yang kedua. Masing-masing huruf menunjukkan sepak terjang iblis, karena setiap nama itu menunjukkan perbuatan pemiliknya.

Dari huruf ‘ain muncul kata ‘ulluw ‘kesombongan’, dari huruf zây muncul kata zuhw ‘sikap takabur’, dari huruf alif muncul kata ibâ’ ‘pembangkangan’ dan istikbâr ‘sifat angkuh’. Kesombongan, sikap takabur, pembangkangan, dan sifat angkuh merupakan sifat-sifat yang dimiliki iblis. Inilah tafsir nama asli iblis yaitu Azâzîl.

Julukan Azâzîl

Azâzîl sangat banyak memiliki julukan, seperti Sayidul Malaikat dan Khazinul Jannah. Di setiap langit ia memiliki julukan yang sangat bagus, adalah :

Langit Pertama (ar-Rafii'ah) al-Abid ahli ibadah, Dia akan akan selalu berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menggoda manusia agar tersesat dari jalan-Nya.

Langit Kedua (al-Maa'uun) ar-Raki ahli ruku, Dia mempunyai kaidah-kaidah atau tata cara yang pasti dan tertata rapih serta sistematis dalam menyesatkan seluruh umat manusia.

Langit Ketiga (al-Maziinah) as-Saajid ahli sujud, dia tidak akan pernah berpaling dan menyerah dari menggoda dan menyesatkan seluruh umat manusia
Langit Keempat (az-Zahirah) al-Khaasyi selalu merendah dan takluk kepada Allah, dia juga sangat menghinakan serta merendahkan manusia yang dapat tergoda oleh bujuk rayuannya.

Langit Kelima (al-Muniirah) al-Qaanit selalu ta'at, dia tidak akan pernah malas untuk menyesatkan dan menggoda seluruh umat manusia

Langit Keenam (al-Khaliishah) al-Mujtahid bersungguh-sungguh dalam beribadah, Dia akan senantasa bekerja dan berusaha untuk menyesatkan seluruh umat manusia

Langit Ketujuh (al-Ajiibah) az-Zahid sederhana , Dalam menggoda umat manusia dia menggunakan sarana dan prasarana kehidupan demi mencapai tujuannya dalam menyesatkan seluruh umat manusia

Wujud Azâzîl Sebelum Penciptaan Adam

Sebelum dilaknat oleh Allah, Azâzîl memiliki wajah rupawan cemerlang, mempunyai empat sayap, banyak ilmu, terbanyak dalam hal ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyyuun dan masih banyak lagi.

Setelah Penciptaan Adam

Setelah ia enggan untuk bersujud kepada Adam, Allah mengubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan menjadi bentuk seperti babi hutan. Allah mengubah kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Penangguhan Umur Azâzîl

Azâzîl diberi umur hingga hari akhir kiamat. Dengan janji untuk menyesatkan manusia sebanyak mungkin dan menemaninya di neraka Jahannam kelak.

Permintaan Azâzîl kepada Allah “ Berkata iblis: Ya Tuhanku, kalau begitu maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari manusia dibangkitkan.(Al-Hijr, 15:36) ”

Azazel dalam Perjanjian Lama adalah kambing jantan yang akan digunakan sebagai korban penghapus dosa. Upacara penyucian dosa ini pertama kali diberikan Allah kepada Adam setelah manusia jatuh ke dalam dosa, dan di lanjutkan kembali oleh Nabi Musa pada saat umat Israel keluar dari perbudakan bangsa Mesir. Imamat 16.

Karena pelanggaran pada hukum Allah menuntut nyawa dari si pelanggar. Darah yang melambangkan hutang nyawa orang yang berdosa yang kesalahannya ditanggungkan kepada korban, lalu dibawa imam ke dalam bilik yang kudus dan memercikannya di hadapan tirai penghubung, yang di belakangnya terdapat tabut perjanjian yang berisi hukum yang dilanggar oleh orang berdosa itu.

Dengan upacara ini dosa-dosa melalui darah, dipindahkan secara simbolis ke tempat kudus. Dalam beberapa kasus, darah tidak di dibawa ke bilik yang suci, tetapi dagingnya kemudian akan dimakan oleh imam, sebagaimana Musa memberi petunjuk kepada anak-anak Harun dengan mengatakan,"Tuhan memberikan kepadamu, supaya kamu mengangkut kesalahan umat." Imamat 10:17.

Dengan demikian dosa-dosa umat Israel dipindahkan. Sekali setahun, pada hari besar pendamaian, imam memasuki bilik yang maha kudus untuk membersihkan dan memulihkan tempat kudus. yang selalu memuliakan hukum Allah dan yang menguduskan dan mendamaikan manusia dari dosanya.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About