Melalaikan Ayat - Ayat Kami

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Yunus: 7-8).

Berbagai kejahatan di dunia ini seringkali dilakukan oleh insan-insan yang mabuk dunia. Kejahatan-kejahatan itu dijadikan alat untuk merengkuh kenikmatan dunia, yang dijadikan indah dalam pandangan kita manusia. Sebagaimana orang mabuk, perilakunya tentunya tak terkontrol. Tak sadar akan apa yang sedang dilakukan. Tak akan mampu memikirkan segala dampak buruknya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Termasuk juga lupa mempersiapkan diri dengan bekal untuk menuju hari esok yang abadi di akhirat.

Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih mampu menghindari diri dari terjerumus dalam mabuk dunia. Sebab, orang-orang yang beruntung ini masih dianugerahkan pikiran dan hati yang terang dalam memahami dan menghayati perilaku-perilaku orang-orang yang sedang mabuk dunia. Timbul rasa ngeri sekali melihatnya, sehingga takut dan berusaha untuk tidak terjerumus ke dalamnya. Sedangkan sebahagian yang lain, tak sadar telah ikut terperosok ke dalamnya. Ikut-ikutan melakukan kejahatan untuk memenuhi keinginan orang-orang yang sedang mabuk dunia.

Bahkan, dalam melakukan kejahatan tak ubahnya perilaku orang-orang kafir. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, di antara ciri perilaku orang kafir ialah diberikan peringatan atau tidak, bagi mereka sama saja. Pintu hati dan telinga mereka sudah dikunci mati. Demikian juga penglihatan. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS. Al Baqarah: 6-7). 

Sama sekali tak takut berbuat dosa, karena menganggap dosa bagaikan melihat lalat yang melewati batang hidungnya, kata Nabi SAW. Bila sudah merasa seperti ini, siapapun di antara kita menjadi bagian dari golongan tersebut. Na’uzubillah.

Apakah Mereka Merasa Aman

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Mengetahui sesuatu itu salah tetapi merasa senang melakukan dan mengulanginya, itulah yang bisa menimpa (sebahagiaan) manusia. Hal ini lazimnya terjadi pada yang bersifat menyenangkan hati atau memuaskan hawa nafsu. Itulah sebabnya bagi yang terlanjur terjebak, akan merasa seolah-olah aman dengan perbuatan itu, sehingga sulit untuk kembali kepada kebenaran. Azab seperti ini jarang disadari dan azab tiba-tiba dalam bentuk lain pun kadang hanya menyadarkan sesaat.

Pada contoh yang paling biasa terjadi, sebahagian orang yang senang dengan menyombongkan diri, misalnya dengan kata-kata, akan punya kecenderungan untuk terus seperti itu. Bila disaring dari setiap kata-kata yang dikeluarkan setiap hari, kebanyakannya bercampur dengan aroma kejahatan. Bila aroma kejahatan yang mengisi kata-kata sudah terlalu banyak, maka perlahan namun akan terjadi pengempisan isi kebaikan.

Demikian juga pada contoh orang-orang yang suka memperkaya diri dengan yang bukan haknya, akan cenderung tertarik dengan perbuatan itu lagi. Sebab, akan terasa terus tidak cukup dengan apa yang telah diperoleh, walau diberikan dua gunung emas, demikian Rasul memberi umpama. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa orang yang demikian akan terus merasa tidak cukup hingga tubuhnya telah berkalang tanah

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf: 99).

Orangtua Harus Melek Technology

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kebanyakan orangtua cemas bila anak mereka terlalu lama bergelut dengan internet karena ketakutan dengan pornografi dan cyber bullying, karena mereka tidak tahu cara mengawasinya.

Masalahnya, jika orangtua lebih melek internet, maka keamanan berinternet bagi anak bisa lebih mudah dikontrol. Jadi kunci keamanan berselancar di dunia maya seorang anak berada di orangtuanya.

"Anak-anak jaman sekarang merupakan 'gen Z' (lahir setelah 1995), mereka sangat pintar dan sangat melek media elektronik terutama internet," ungkap General Manager Virtual Academy, Andi Primaretha, M.Si, dikutip Antara.

“Sementara para orangtua yang kebanyakan berasal dari 'gen X' atau yang lahir lebih awal tampaknya masih sedikit konservatif dan belum melek internet,” lanjutnya.

Sehingga, menurut Andi, hal tersebut membuat kebanyakan orangtua cemas bila anak mereka terlalu lama bergelut dengan internet karena ketakutan dengan pornografi dan cyber bullying, karena mereka tidak tahu cara mengawasinya.

Jika orangtua yang melek media justru dengan mudah dapat mengawasi bahkan melindungi anak-anaknya melalui media internet, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Andi pun menyarankan agar orangtua sebaiknya tidak melarang anaknya untuk menggunakan internet, namun sebaliknya para orangtua yang seharusnya mampu mengimbangi kecanggihan anak-anak mereka.

"Bagaimana pun juga, internet itu penting dan anak-anak jelas membutuhkan internet sebagai sumber informasi yang melengkapi buku," pungkasnya

Hidayatullah.com

Mendidik Lahir dan Bathin

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Menurut beberapa orang Syariat dan Tasawuf adalah dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dua-duanya tidak berdiri sendiri-sendiri, semisal anda mau bersyariat dulu sampai sempurna baru anda memasuki dunia tasawuf. Itu salah kaprah. Karena sampai mati anda tidak akan sempurna syariat anda.

Syariat adalah menata kehidupan lahiriyah, dan ibadah yang bersifat lahiriyah semua. Batin anda juga harus beribadah, dan dunia tasawuf merupakan pengetahuan ubudiyahnya batin. Bayangkan ketika lahiriyah anda beribadah, tapi hati anda menyembah dunia, berhala nafsu dll?

Siapa yang bersyariat tetapi tidak bertasawuf adalah fasik, demikian kata Imam Malik ra. Dan siapa yang bertasawuf tidak bersyariat berarti zindiq (kebatinan).

Tasawuf tidak ada yang bertentangan dengan syariat, dan syariat tidak ada yang bertentangan dengan tasawuf. Jika tasawuf melanggar Kitab dan Sunnah maka dipastikan adalah Tasawuf sesat. Karena dasar semua Ilmu Tasawuf adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Hanya saja banyak orang menyesatkan Tasawuf karena tidak faham hakikat Qur’an dan Sunnah Nabi, yang dipahami hanya kulit belaka, jadika tergolong fasiqin (orang-orang fasik).

sumber : www.sufinews.com

Dunia di akhir-akhir zaman ini

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dunia di akhir-akhir zaman ini, manusia sudah tidak lagi merasa segan dan malu malahan seperti kemarukkan dikerasukkan nafsu diri sendiri jua, luntur iman dan lentur diri terikutan tunjukkan telunjukkan kebodohan, kejahilan, kemunafikan, kemaksiatan dan lain-lain kelakuan diri yg dapat menjerumuskan diri kedalam api kenerakaan.

Ingatlah pesan Nabi Muhammad S.A.W melalui hadis-hadits nya mengenai peristiwa Akhir Zaman...

Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula.

Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman kepada mereka. Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku ?.

Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim (cendikiawan) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)?.

Dari Berbagai sumber 

Mendoakan Kebaikan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
IBNU MAS’UD Radhiyallahu Anhu suatu saat berdagang di sebuah pasar dan menyimpan uang dirham di sorban beliau. Namun saat hendak mengambil uang dirham tersebut beliau tidak mendapatinya, padahal beliau tidak pergi ke mana-mana.

Orang-orang yang berada di sekitar Ibnu Mas’ud pun berdoa,”Ya Allah potonglah tangan pencuri yang telah mengambilnya.” 

Ibnu Mas’ud pun berdoa,”Ya Allah jika pencuri itu melakukan pencurian karena kebutuhan maka berkahilah ia. Namun jika ia melakukannya karena dorongan maksiat maka jadikanlah perbuatannya ini adalah perbuatan yang terakhir.” (Ihya’ Ulumuddin, 9/1671)

Meski orang yang terdzalimi doanya mustajab, Ibnu Mas’ud tidak menggunakannya untuk mendoakan keburukan kepada si pencuri yang telah mendzalimi beliau, bahkan justru berdoa untuk kebaikan si pencuri.

sumber : hidayatullah.com

70 Ribu Warga Italia Masuk Islam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
ROMA— Uni Komunitas Islam Italia (UCOI) menyatakan sebanyak 70 ribu warga Italia memeluk Islam. Menurut UCOI, meningkatnya jumlah warga Italia memeluk Islam karena krisis ekonomi dan nilai yang dialami mereka.

“Saat ini, begitu banyak warga Italia yang menghubungi kami untuk bertanya tentang Islam. Fakta ini benar-benar positif,” kata dia seperti dikutip agi.it, Ahad (6/5).

Menurut Izzedine, saat ini tercatat 150 ribu muslim berkewarganegaraan Italia dari satu juta penduduk muslim. “Dari data itu, dapat dipahami ada terjadi kejutan yang tak terduga. Alhamdulillah,” kata dia.

Bila dibanding dengan negara-negara Eropa lain, imigran Italia relatif pendatang baru, dan negara tersebut masih berjuang untuk menyesuaikan dengan populasi asing yang makin berkembang. Jika model Perancis, imigran berintegrasi melalui perilaku warga negara, dan di Inggris mengadopsi multikulturalisme dengan hasil majemuk, Italia masih terlihat tak mampu memutuskan bentuk paling sesuai.

Kebijakan pemerintah cenderung menyokong represif ketimbang integrasi. Setelah Senat Italia meloloskan undang-undang yang memperketat kebijakan imigrasi bulan lalu, Familia Cristiana salah satu majalah Katholik Roma berpengaruh menuduh Italia mencemplungkan diri dalam "samudera aturan berbau rasis", tak beda dengan serangkaian aturan anti-Semit yang diloloskan pada pemerintah 1938 silam.

"Italia tidak memilih model spesifik dan juga bagaimana negara ini menghadapi Islam," ujar Farian Sabahi, seorang guru besar sejarah negara Islam di Universitas Turin dan editor untuk Milan Daily Corriere della Sera, yang juga menulis buku Muslims di Eropa. "Hal ini masih bukan prioritas utama pemerintah, dan itu sangat memalukan karena berlawanan dengan apa yang coba dilakukan negara Eropa lain," imbuhnya.

[Sumber: www.republika.co.id]

Pendengaran, Penglihatan, dan Hati

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan ALLAH yang dilengkapi dengan jasad, akal, dan hati. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan ALLAH menciptakan kamu dengan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersukur,” dan beberapa ayat lain yang juga ikut menggambarkan bagaimana ALLAH memberikan kesempurnaan pada penciptaan manusia.

Dengan jasad yang menopang tubuhnya manusia dapat berdiri tegak di atas bumi, hidup dan berkembang biak serta menyelenggarakan kehidupannya dengan makan, minum serta berketurunan. Dengan akalnya manusia berfikir, menyaring informasi dan merekam memori yang dianggap penting bagi kehidupannya. Dengan hatinya manusia merasa, membeda dan membuat pilihan.

Ketiga bekal penciptaan manusia itu pula yang semestinya dijadikan modal untuk ia mengenal dirinya, hakikat penciptaannya di dunia, sebagai makhluk ALLAH yang di antara kaumnya kelak akan menjadi khalifah (pemimpin), entah itu pemimpin di bangsanya, sukunya, keluarganya, atau pemimpin untuk dirinya sendiri.

Untuk mengenal diri sendiri, manusia harus bisa memaksimalkan ketiga modal yang dibekalkan ALLAH tadi. Jasadnya, dengan menjaga dan memelihara kesehatannya. Akalnya, dengan memberi makanan yang sehat baginya dan menjaga kesinambungannya. Hatinya, dengan menjaga dan memeliharanya dari apa-apa saja yang bisa merusak hati itu.

Menjaga dan memelihara kesehatan bagi manusia adalah hal yang pertama harus dilakukan, karena jasad adalah modal dasar. Jasad yang sehat akan memudahkan manusia untuk beraktivitas, untuk melangsungkan kehidupannya, untuk melaksanakan fungsinya apakah dalam masyarakat dan terutama dalam keluarga. Menjaga dan memelihara jasad hendaknya dimulai sejak dari dini, yaitu dengan membiasakan mengkonsumsi makanan yang baik, bergizi dan halal. Karena sumber dari makanan, baik jenis maupun cara mendapatkannya akan berpengaruh pada sari pati pembentukan jasad manusia. Sebagaimana pernah dicontohkan antara seseorang yang terbiasa mengkonsumsi dading sapi dibandingkan dengan seseorang yang terbiasa mengkonsumsi daging babi.

Memberi makanan yang sehat dan menjaga kesinambungan akal adalah hal berikutnya yang harus diperhatikan. Makanan yang sehat bagi akal dimulai dengan membiasakan dan melatih akal untuk berpikir positif, memberi asupan informasi yang seimbang antara pengetahuan dunia dan akhirat agar kesinambungannya pula terpelihara. Pengetahuan dunia akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup di dunia (baik dalam berkelompok ataupun berkeluarga, mencari nafkah dan meningkatkan prestasi) sementara pengetahuan akhirat akan menjadi dasar pelaksanaan ibadah, muamalah, tuntunan akhlak yang berbuah pada keimanan.

Menjaga dan memelihara hati adalah dengan menjauhkan diri dari perbuatan maksiyat, perbuatan yang dibenci ALLAH dan menghiasi hati dengan amalan-amalan dari hal terkecil yang bernilai kebaikan (meski sebesar biji dzarrah) sampai hal terbesar dan mulia yang bisa dilakukan. Pentingnya hati sebagai motor penggerak manusia sangatlah sering disebutkan Rasulullah (SAW) dalam haditsnya,
“Dalam tubuh manusia ada seonggok daging yang apabila baik daging itu maka baik pula manusianya dan apabila rusak daging itu maka rusak pula lah manusianya. Seonggok daging itu adalah hati.”HR. Bukhari – Muslim

“Setiap satu dosa kecil yang engkau kerjakan akan menyebabkan bertambahnya satu titik hitam dalam hatimu, sedemikian pula satu kebaikan sebesar apapun akan membuat hatimu lebih terang sehingga bisa melihat cahaya kebenaran.”HR. Bukhari – Muslim

Menjaga dan memelihara hati yang merupakan motor penggerak manusia, yang menjadi tumpuan dalam membedakan baik dan buruk, dapat dimulai dari hal-hal yang kecil. Tidak berbohong, menjauhkan diri dari yang makruh atau mubah (keduanya adalah hal yang ditengah-tengah/meragukan), menghindari dosa kecil dan tidak berbuat dosa besar, mencari dan memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk berbuat kebaikan, memelihara hak orang lain, menyantuni anak yatim atau fakir miskin, berbuat segala sesuatu hanya karena ALLAH.

“Sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung dari niatnya.” HR. Bukhari – Muslim

Wallaahu ‘alam bish shawab.

Sihir Dan Perdukunan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Segala puji hanya kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan umat, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tiada lagi Nabi sesudahnya.

Akhir-akhir ini banyak sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak menyebar di berbagai negeri; orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak menjadi korban pemerasan mereka.

Maka atas dasar nasihat (loyalitas) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada hamba-hambaNya, saya ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam adanya ketergantungan kepada selain Allah dan bahwa hal tersebut bertolak belakang dengan perintah Allah dan RasulNya.

Dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala saya katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim jika sakit hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar untuk diperiksa apa penyakit yang dideritanya. Kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syara’, sebagaimana yang dikenal dalam ilmu kedokteran.

Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakkal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Ada di antaranya yang sudah diketahui oleh manusia dan ada yang belum diketahui. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Oleh karena itu tidak dibenarkan bagi orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang mendakwakan dirinya mengetahui hal-hal ghaib, untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin-jin untuk meminta pertolongan kepada jin-jin tersebut sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan kufur dan sesat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagai berikut :

“Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab ‘Shahih Muslim’, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal)) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:‘Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud).

“Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh: ‘Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

“Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain),yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”(HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).

Hadits-hadits yang mulia di atas menunjukkan larangan mendatangi peramal, dukun dan sebangsanya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, dan ancaman bagi mereka yang melakukannya.

Oleh karena itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka.

Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek-praktek di pasar-pasar, mall-mall atau di tempat-tempat lainnya, dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya tidak tertipu oleh pengakuan segelintir orang tentang kebenaran apa yang mereka lakukan. Karena orang-orang tersebut tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan.

Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya mendatangi para peramal, dukun dan tukang tenung. Melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakan. Karena hal itu mengandung kemungkaran dan bahaya besar, juga berakibat negatif yang sangat besar pula. Sebab mereka itu adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa.

Hadits-hadits Rasulullah tersebut di atas membuktikan tentang kekufuran para dukun dan peramal. Karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat, dan menyembah jin-jin. Padahal ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan mereka meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari mereka.

Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan.

Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia, maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.

Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada para dukun, tukang tenung, tukang sihir dan semisalnya, lalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang cinta, kesetiaan, perselisihan atau perpecahan yang terjadi dan lain sebagainya. Sebab semua itu berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali oleh Allah Subhanahhu wa Ta’ala.

Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di Akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”(Al-Baqarah:102)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan ancaman berat yang menunjukkan betapa besar kerugian yang diderita oleh mereka di dunia ini dan di Akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memperjualbelikan diri mereka dengan harga yang sangat murah, itulah sebabnya Allah berfirman :

“Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui.”

Kita memohon kepada Allah kesejahteraan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepadaNya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah dengan segala sangsi-sangsinya kepada mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan dan segala praktek keji yang mereka lakukan.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About