Dari Tenaga Hingga Nyawa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dunia yang sengaja dijadikan indah dalam pandangan manusia, selalu menjadi rebutan bernafsu siang dan malam. Sampai-sampai ada yang memilih cara-cara yang tidak diridhai Allah untuk memuaskan hasrat merengkuh dunia dengan segala cara (menghalalkan segala cara). Karena itu, setiap orang diberikan tugas untuk memberi peringatan satu sama lain. Meskipun demikian, setelah memberi peringatan berkali-kali tidak ada perubahan, sebahagian orang merasa pasrah. Malah, ada yang memilih berhenti melakukannya. (sungguh jauh dari keteguhan hati yang seharusnya dimiliki oleh setiap aktivis dakwah)


Padahal kalau membuka kembali lembaran demi lembaran sejarah perjuangan Rasulullah, sungguh bukan suatu yang mudah menyampaikan peringatan. Beliau berjuang dengan apa yang dimiliki, mulai dari tenaga harta dan bahkan hingga nyawa. Satu orang demi satu orang beliau upayakan agar mau mendengarkan kebenaran yang disampaikannya. Tidak sedikit juga rintangan dan ancaman dihadapinya. Hingga akhirnya, apa yang disampaikannya mendapat sambutan orang banyak hingga kini....?

Sungguh suatu keberhasilan yang sangat mengesankan.

Kisah keberhasilan besar tersebut sepatutnya menggugah dan menginspirasi setiap orang untuk terus berusaha. Apalagi tidak akan pernah ada peringatan yang terbuang. Kalaupun tidak bermanfaat untuk merubah perilaku orang lain, peringatan akan bermanfaat sebagai pengingat bagi diri kita sendiri. Lebih-lebih Allah telah mengingatkan juga bahwa tugas manusia menyampaikan saja, adapun beriman atau tidak adalah terserah kepada masing - masing yang menerima.

Dan dijamin, setiap peringatan akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan bagi orang-orang yang ingkar, diperingatkan atau tidak, sama saja tidak akan mau berubah. Ukuran ini bisa menjadi alat penilai bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan orang lain: termasuk orang-orang yang mudah dan mau menerima peringatan kita atau kepada mereka yang memang tidak mau menerima peringatan dan atau golongan orang yang ingkar

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz Dzariyat: 55).

Wallahu A'lam

Kemauan Untuk Berubah Sampai Kapan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ketidak-adilan, keangkuhan, suka menghasut, gemar mencelakakan orang lain, dan kesewenang-wenangan, telah berlangsung sekian lama di dalam diri dan sekitar tempat kita berada. Dan bahkan hingga sekarang masih tak kurang dahsyatnya. Padahal sudah berulangkali kita membaca dan mendengar firman-firman Allah, juga hadits-hadits dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, serta nasehat-nasehat dari ulama, yang melarang semua sikap dan perbuatan tersebut. Namun, tidak sedikit dari kita yang masih bertahan, tidak juga mau berubah.

Berbeda dengan Umar bin Khattab yang sebelum menjadi muslim hanya sekali mendengar lantunan ayat Alquran, langsung berubah hatinya yang pada awalnya begitu keras menentang Islam dan Nabi Muhammad, seketika menjadi lembut dan menerima ajaran Islam dengan hati yang tulus. Bahkan, sejak saat itu beliau menjadi pejuang di garis depan yang senantiasa mau mengorbankan waktu hidupnya untuk memperjuangkan setiap ajaran Islam hingga akhir hayatnya.
Lalu bagi kita yang sejak lahir telah menjadi muslim, sampai kapan harus menunggu? 

Sebagaimana lazimnya, perubahan (ke arah yang lebih baik) adalah proses yang memerlukan ketekadan, harus dialami sendiri, dan juga mempunyai gradasi atau tingkatannya. Tingkatan-tingkatan itu yang harus diupayakan dilalui dan terus-menerus. Bukan naik turun sesuka hati, seperti perilaku orang-orang ingkar yang digambarkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits sebagai orang yang pada malamnya beriman, pada siangnya berubah menjadi sebaliknya. 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum kecuali mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. ar-Ra’du: 11).

Wallahu A'lam

Jangan Putus Asa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. al-Baqarah: 186).

Hidup akan terasa lebih hidup dan menyenangkan bila memiliki harapan-harapan. Sebaliknya, hidup menjadi hambar tak bersemangat bila tak punya harapan. Dan bahkan ada yang ingin segera mengakhiri hidupnya, bila putus harapan atau putus asa. Kalau mencermati ayat di atas, siapapun kiranya tak pantas merasa putus harapan.

Apalagi Allah senantiasa memberi harapan kepada manusia. Siang malam dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia untuk bermohon kepadaNya. Bagi orang beriman, akan merasa yakin bahwa pada Allah lah sumber segala rezeki. Bahkan dijanjikan akan dikabulkan, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Memang ada doa yang tidak atau belum dikabulkan. Bisa jadi doa itu belum memenuhi syarat untuk dikabulkan. Misalnya, tergopoh-gopoh, asal jadi, makan harta haram, tidak ikhlas, dan sejenisnya.

Juga bisa jadi saat itu doanya sudah memenuhi syarat, tetapi Allah masih ingin menguji sejauhmana hambaNya mampu bertahan dalam ujian. Maksudnya, ujian kesabaran, terutama ketika diuji lewat doanya yang sengaja belum dikabulkan dalam beberapa waktu. Dengan kata lain, kita diajak untuk belajar bersabar.

Bisa jadi juga karena belum membina hubungan baik dengan sesama manusia. Sebab, tidak jarang, suatu rezeki kadangkala dititipkan melalui mulut atau tangan orang lain. Sedikit kata yang dikeluarkan dari mulut orang lain, tak tertutup kemungkinan menjadi pembuka jalan bagi upaya meraih rezeki. Apalagi Rasulullah pernah mengingatkan bahwa apabila ingin mendapatkan rezeki, maka tebar salam dan jalin silaturrahim.

Wallahu A'lam

Shalat Taubat Bagi Pelaku Maksiat

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya yang berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman.

Allah adalah Tuhan semesta alam. Dia-lah penguasa langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dia menetapkan takdir bagi semua makhluk-Nya dan menetapkan syariat yang harus mereka jalankan. Dia menetapkan perintah dan larangan yang harus dipatuhi, dan juga menyiapkan balasan bagi keduanya. Siapa yang taat mendapat pahala sedangkan yang bermaksiat mendapat siksa. Sesungguhnya sejak awal Allah menciptakan manusia menyertakan kelemahan dalam diri mereka. Lemah untuk melaksanakan berbagai perintah Allah yang sangat banyak dan lemah dalam meninggalkan semua larangan karena banyaknya sarana yang memikat dan menarik. Orang yang merasa dirinya sempurna dan hebat, tidak akan mau bertaubat kepada Allah, karena merasa dirinya orang suci yang tidak memiliki dosa. Karenanya Allah berfirman:

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. Al Najm: 32)

Sesungguhnya taubat adalah kebutuhan seorang hamba yang memahami kewajibannya dan kelemahan dirinya dalam melaksanakan seluruh kewajiban tersebut. Maka banyak sekali kita dapatkan dari ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menganjurkan dan memotifasi seorang mukmin untuk bertaubat. Di antaranya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لاَ يُخْزِي اللهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya." (QS. At-Tahrim: 8)

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

أَفَلاَ يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Maidah : 74)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

"Sungguh Allah 'Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk merima taubat pelaku dosa di siang hari, dan akan membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat pelaku dosa di malam hari." (HR. Imam Muslim)

Diriwayatkan dari Rifa'ah Al-Juhni, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ مِنْ اللَّيْلِ نِصْفُهُ أَوْ ثُلُثَاهُ قَالَ لَا يَسْأَلَنَّ عِبَادِي غَيْرِي مَنْ يَدْعُنِي أَسْتَجِبْ لَهُ مَنْ يَسْأَلْنِي أُعْطِهِ مَنْ يَسْتَغْفِرْنِي أَغْفِرْ لَهُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

"Sungguh Allah akan memberi tangguh, sehingga berlalu setengah atau sepertiga malam, lalu berfirman: 'hambaku tidak meminta kepada selain-Ku, maka siapa saja yang berdoa kepada-Ku pasti kan Ku kabulkan, siapa saja yang meminta kepadaku pasti kan kupenuhi permintaannya, siapa saja yang memohon ampun pada-ku pasti kan kuampuni sehingga terbit faja'." (HR. Imam muslim dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

"Sungguh Allah sangat gembira dengan taubat hambanya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi senangnya seorang hamba yang bepergian dengan kendaraannya di sebuah negeri yang gersang, lalu kendaraannya tadi hilang, padahal bekal makan dan minumnya berada di atasnya, lalu ia patah harapan untuk mendapatkannya, lalu ia berteduh di bawah pohon dengan diliputi kekecewaan. Ketika seperti itu, tiba-tiba kendaraannya berdiri di sampingnya, lalu ia pegang tali kendalinya, kemudian berkata dengan gembiranya : "Ya Allah, Engkau adalah hambaku sedangkan akku adalah tuhan-Mu!! Dia telah melakukan kesalahan karena terlalu gembira." (HR. Muslim)

Sebenarnya ia ingin berkata: "Ya Allah, Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu", tapi lidahnya terbalik seperti di atas karena kegembiraan yang luar biasa. Maka Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ

"Seandainya kalian semua melakukan kesalahan (dosa), sehingga dosa kalian mencapai setinggi langit, kemudian kalian bertaubat pasti Allah akan mengampuni kalian." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Shahihah: 2/604)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Misykah dan shahih sunan Ibni Majah)

. . . Sesungguhnya taubat adalah kebutuhan seorang hamba yang memahami kewajibannya dan kelemahan dirinya dalam melaksanakan seluruh kewajiban. . .

Syarat Pokok Taubat

Sementara syarat pokok bagi orang yang bertaubat: Pertama, benar-benar menyesali perbuatan maksiatnya. Kedua, meninggalkan kemaksiatan yang telah dikerjakannya. Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya jika kesempatan serupa datang kepadanya. Keempat, memperbanyak istighfar (meminta ampunan) kepada Allah Ta'ala. Kelima, mengikutinya dengan amal-amal shalih dengan harapan supaya amal kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukannya.

Disyariatkannya Shalat Taubat

Dengan rahmat Allah yang luas, Dia menjadikan perbuatan dosa sebagai titik tolak untuk mendapatkan ridha-Nya. Yaitu dengan bertaubat kepada-Nya. Bahkan Dia menjadikan kegiatan taubat dari dosa sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Karenanya, Dia Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan satu amal utama dalam Islam yang bisa dijadikan sarana oleh seorang mudznid (orang yang berdosa) dalam mengharap agar diterima taubatnya, yakni shalat taubat.

Empat Imam Madhab bersepakat atas disyariatkannya shalat taubat. Dasarnya adalah hadits dari Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

"Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya."

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [QS. Ali Imran: 1365]." (HR. Abu Dawud no. 1521. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Penulis Shahih Fiqih Sunnah dalam megomentari hadits di atas, "Dalam sanadnya terdapat kelemahan, hanya saja ayat tersebut menguatkan maknanya. Di samping itu, hadits ini juga dishahihkan oleh sebagian ulama." (Shahih Fiqih Sunnah: 2/95)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, lalu berdiri shalat dua rakaat atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu' dalam shalatnya, kemudian beristighfar (meminta ampun) kepada Allah 'Azza wa Jalla , pasti Allah megampuninya." (Para pentahqiq al-Musnad mengatakan: Isnadnya hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkannya dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 3398). Wallahu Ta'ala A'lam. 

[voa-islam.com]

Bertaubat Dan Minta Maaf

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Makna memberi maaf sebenarnya ialah engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. sedangkan makna meminta maaf adalah dalam dirimu ada hak orang lain dan atau engkau mempunyai hutang kepada orang lain, maka kamu harus melunasinya

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).

Belajar Memaafkan Dari Rasulullah

Setelah pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dihadapan orang-orang yang selama ini gigih memusuhinya, Rasulullah berkata : “Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka: “Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah.” Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: “Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas.” Begitu luruh jiwa Nabi, karena dengan ucapan itu kepada kaum Quraisy dan kepada seluruh penduduk Makkah, beliau telah memberikan amnesty (ampunan) umum. Padahal saat itu nyata mereka tergantung hanya di ujung bibirnya dan kepada wewenangnya atas ribuan bala tentara Muslim yang bersenjata lengkap yang ada bersamanya. Mereka dapat mengikis habis penduduk Makkah dalam sekejap hanya tinggal menurut perintah dari Nabi.

Dengan pengampunan dan pemberi maaf itu, jiwa Nabi telah melampaui kebesaran yang dimilikinya, melampaui rasa dengki dan dendam di hati, menunjukkan bahwa beliau bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Beliau bukan seorang tiran, yang mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. 

Padahal Nabi mengenal betul, kejahatan orang-orang yang diampuninya itu. Siapa-siapa di antara mereka yang berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya para pengikutnya. Mereka melemparinya dengan kotoran bahkan dengan batu saat mengajak manusia ke jalan Allah. Begitu pemaafnya Rasulullah sekalipun itu kepada orang yang selalu menebar permusuhan, meneror dan mengancam keselamatannya. Rasulullah begitu pemaaf, Tuhan juga Maha mengampuni kesalahan hamba-Nya. 

Lantas apakah kita manusia susah dan atau sulit serta tidak mau memberikan ma’af  serta terus menerus dalam kebencian , kedengkian dan permusuhan ?

Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf “menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. 

Allah swt berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah mendzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya Aisyah yang juga istri Nabi. Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22).

Lantas bagaimana jika seandainya kita ingin meminta maaf kepada seseorang namun seseorang tersebut telah meninggal dunia...? Apakah Allah Mengampuni Kita Jika Kita Tidak Sempat Meminta Maaf Kepada Orang yang Sudah Meninggal ?

Kalau tidak sempat meminta maaf karena yang bersangkutan telah meninggal dunia, atau sebab lain, Anda mendoakannya merupakan salah satu cara yang semoga dapat meluluhkan hati yang teraniaya sehingga tidak menuntut. 

Hal itu bisa juga dilakukan dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan memperbanyak membaca istighfar dan memperbanyak amal shalih dan kebajikan sambil berdoa sebagaimana diajarkan Nabi Saw, yaitu, “Ya Allah, sesungguhnya ada dosa yang aku lakukan terhadap-Mu dan ada juga terhadap hamba-hamba-Mu. Apa yang terhadap-Mu kumohonkan kiranya Engkau ampuni, dan apa yang terhadap hamba-hamba-Mu kumohon kiranya Engkau ambil dariku.” 

Khusus kepada yang bersangkutan disini admin mengambil dasar sama halnya seperti hutang piutang, dimana jika kita memiliki hutang kepada seseorang sampai seseorang tersebut meninggal dunia maka haq harta tersebut adalah kemudian akan jatuh kepada ahli warisnya (keluarganya , baik istri , ayah , anak , saudara atau mereka yang masih dalam lingkaran muhrim).

Meskipun nantinya tidak otomatis menghapus dan atau mendapatkan ampunan dari yang bersangkutan (karena tidak ada dosa turunan)  setidaknya kita telah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya dan mengakui segala khilaf dan dosa yang pernah kita lakukan. dan barang siapa yang bersungguh sungguh bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan jeleknya Insya Allah , Allah Maha Penerima Taubat. 

Selain itu hal tersebut juga dapat mempererat tali silaturahmi yang mungkin dimasa sebelumnya terputus karena kesalahan antar keluarga , sehingga nantinya diharapkan ukhuwah islamiyah akan kembali terjaga setelah adanya pengakuan dan permohonan maaf yang tulus.

Wallaahu A’lam.

Ya Allah, sesungguhnya ada dosa yang aku lakukan terhadap-Mu dan ada juga terhadap hamba-hamba-Mu.

Apa yang terhadap-Mu kumohonkan kiranya Engkau ampuni, dan apa yang terhadap hamba-hamba-Mu kumohon kiranya Engkau ambil dariku,

Ya AllahTerimalah Taubatku dan Ampunilah Diriku, Engkau Maha Penerima Taubat  Engkaulah Sebaik - baiknya Pemberi Ampunan 

Kalau ada pendapat yang lebih berilmu…. tentu akan sangat bermaafat bagi kita semua…. silahkan mengomentarinya… menambahkannya… mengkoreksinya….

Seseorang Telah Meminta Adzab

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
"Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, yang datang dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik menghadap kepada Tuhan 
dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun (menurut perjalanan manusia) 
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. 

Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu jauh mustahil. 
Sedangkan Kami memandangnya dekat mungkin terjadi" 

Al Quran Surah Al Ma´aarij




Berdo'a Dan Bermunajat Kepada Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Untuk dapat merasakan kedekatan dengan Allah, terutama ketika kita berdoa dan bermunajat, renungkanlah nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Dari yang terkecil, hingga yang terbesar. Renungkan pula saat-saat kita sakit atau terkena musibah, lalu kita sembuh atau selamat. Siapa yang menyembuhkan dan menyelamatkan kita..?

Renungkan saat-saat kita membutuhkan sesuatu, lalu dengan satu dan lain cara kebutuhan itu pun terpenuhi. Siapa yang memenuhi kebutuhan kita itu?

Yang tidak kalah pentingnya, dalam berdoa hendaknya kita mengerti apa yang kita panjatkan, karena dengan mengerti apa yang kita panjatkan, kita akan terbawa ke dalam suasana dialog dengan Nya. Kita seolah-olah sedang berbicara kepada Nya. Maka tidak heran kalau banyak orang berdoa sambil meneteskan air mata, karena merasakan betul bahwa Allah Maha Mendengar, Melihat dan Maha Mengetahui , sehingga timbul keyakinan bahwasanya kita sedang berhadap - hadapan dengan-Nya.

"Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, senantiasalah hamba - hamba Allah yang shalih itu bangkit dari tidurnya untuk shalat malam , Berdo'a dan bermunajat kepada Allah"

Aku tahu ya Rabb, rizkiku tak mungkin diambil orang lain, maka hatiku tenang. Amal-amalku tak mungkin diambil orang, maka aku sibukkan diriku untuk beramal.

Aku tahu Engkau senantiasa melihat ku, dan Mengawasi ku  maka aku malu bila Engkau mendapatkanku senantiasa sedang maksiat.

Aku tahu bahwa kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal untuk berjumpa dengan Mu, maka aku bermunajat kepada-Mu, khusnul khatimahkan diakhir hayatku.

Ya Rabb, hamba memohon kepada-Mu agar mensucikan hati ini dari kotoran dengki dan iri hati, kecenderungan kepada keburukan dan nista, penyakit dendam dan benci,

Serta tanamkanlah rasa cinta dan kasih sayang ke dalam hati kami, penuhilah dengan kebaikan dan anugrah, serta segerakanlah dengan perasaan belas kasihan.

Aamiin.


"Ingatlah hari dimana Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. 
Itulah keberuntungan yang besar"

( At Taghaabun : 9)

Ya Allah, Janganlah Kau Putuskan Aku Dari Rahmat-Mu

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah. Maka Allah telah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampungnya dan sampai disuatu kawasan yang luas, dimana tidak seekor burung atau manusia pun di situ.

Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia keseorangan, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andaikata anak-anakku ada di sisi pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmat-Mu ya Allah."

Akhir sekali pemuda itu berkata: Ya Allah, janganlah Kau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu." Setelah berkata demikian maka matilah pemuda itu.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang wali-Ku telah meninggal. Mandikan, kapankan dan sembahyangkanlah dia." Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata: "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu." 

Allah berfirman: "Benar. Aku kasihan kepadanya disebabkan rintihan sakitnya dan berjauhan dari kaum keluarganya. Apabila seseorang yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis kerana kasihan kepadanya. Oleh kerana itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah zat Yang Maha Penyayang di antara penyayang."

Allah Maha Pengampun

Hukum dan Hal Hal Yang Dianjurkan Pada Shalat Jum'at

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hukum Salat Jumat

Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki. Hal ini tercantum dalam Al Qur'an dan Hadits berikut ini :

Al Qur'an Al Jumu'ah ayat 9 yang artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui."

"Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan salat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai." (HR. Muslim)

"Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) salat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan salat Jum’at.” (HR. Muslim)

"Salat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit." (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Tata Cara Shalat Jum’at Adapun tata cara pelaksanaan salat Jum’at, yaitu :
  • Pada beberapa masjid mengumandangkan Adzan Dzuhur sebagai adzan pertama
  • Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
  • Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur. Pada beberapa masjid adzan ini adalah adzan kedua.
  • Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasihat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta'ala.
  • Khatib duduk sebentar diantara dua khutbah
  • Khutbah kedua : Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
  • Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan salat. Kemudian memimpin salat berjama'ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan
Hal-hal yang dianjurkan Pada salat Jumat setiap muslim dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut :
  • Mandi, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggosok gigi).
  • Meninggalkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.
  • Menyegerakan pergi ke masjid.
  • Melakukan salat-salat sunnah di masjid sebelum salat Jum’at selama Imam belum datang.
  • Tidak melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan/menggeser mereka.
  • Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang.
  • Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW pada malam Jum’at dan siang harinya
  • Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena hari Jumat adalah waktu yang mustajab untuk dikabulkannya doa.
Sumber Hadist lainnya terkait shalat jum'at 

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About