Peran Ulama' Di Tengah Kehidupan Umat

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ulama memiliki peran sentral di tengah kehidupan umat Islam, untuk melanjutkan risalah kenabian sepeninggal Nabi Muhammad saw. Karena itu, semestinya, umat Islam memberikan perhatian yang sangat serius terhadap eksistensi dan kualitas ulama.

Pentingnya posisi ulama di tengah umat semacam ini, secara otomatis membawa konsekuensi, bahwa umat Islam seharusnya me­mikirkan dengan serius suatu program pengkaderan dan pemberdayaan ulama. Upaya ini wajib mendapat dukungan dari seluruh komponen umat, sebab bisa dikatakan, hidup-matinya umat sangat tergantung pada eksistensi dan kualitas ulamanya.

Namun kini, para pemuda memandang masa depan lebih dari sisi materialnya saja. Sehingga dalam menentukan pendidikan, cenderung memilih yang mudah mendapatkan pekerjaan penghasil uang. Melihat kenyataan ini, profesi ulama jelas masih belum menjadi pilihan di tengah kebutuhan ahli dakwah dalam kehidupan kita.

Dalam rangka melanjutkan tradisi perkaderan ulama dan menghadapi tantangan dakwah di bidang keilmuan semacam itulah, maka Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia meluncurkan program KADERISASI 1.000 ULAMA pada 2008 lalu. Pengkaderan dilakukan dengan cara memberikan beasiswa S2 dan S3 kepada para aktifis dakwah yang terekomendasi organisasi masyarakat islam. BAZNAS dan Dewan Da’wah berkomitmen untuk merancang program ini lebih tertata agar semakin banyak ulama yang memiliki intelektual tinggi sehingga makin terasa manfaatnya bagi umat muslim di seluruh nusantara.

Karena itu pada Selasa (28/2) lalu, kedua pihak melakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama untuk program Kaderisasi Seribu Ulama. BAZNAS diwakili oleh Direktur Pelaksana, Teten Kustiawan sementara Dewan Da’wah diwakili oleh Ketua Bidang Pendidikan, H. Muhammad Noer. Diharapkan nantinya para penerima manfaat program KSU dapat melahirkan pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan yang mampu membendung arus sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Sumer dewan dakwah

Mengenal Kepemimpinan Ilahi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Mengenal Kepemimpinan Ilahi (Kenabian dan Imamah) Hidayah ilahi yang disebut dengan kepemimpinan orang-orang yang diberi hidayah. Orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada hamba-hamba Allah adalah sunnatullah yang senantiasa ada bagi makhluk-Nya. Allah membekali mereka dengan akal, ilmu dan mempersenjatai mereka dengan iradah dan kehendak.

Sunnatullah yang berlaku kepada manusia ini dimulai dengan pemilihan Adam AS. sebagai sebaik-baik makhluk-Nya. Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah Subhanahu Wata'ala kemudian menurunkan Adam ke bumi setelah ia bertaubat agar ia memakmurkan dunia dengan anak keturunannya sekaligus menegakkan bukti Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak akan membiarkan mereka dalam kekosongan setelah memilih mereka dan menegaskan kepada makhluk-Nya akan bukti rububiah-Nya yang menjadi perantara antara makhluk-Nya dan pengetahuannya. Bahkan Allah Subhanahu Wata'ala telah mengadakan perjanjian dengan mereka lewat lisan manusia-manusia pilihan-Nya dari para Nabi dan mereka yang bertanggung jawab membawa amanat risalah-Nya dari abad ke abad. Allah Subhanahu Wata'ala meletakkan amanat tersebut kepada sebaik-baik orang yang mampu menjaga amanat-Nya. Keturunan-keturunan mulia inilah yang memegang amanat tersebut yang berpindah dari rahim yang suci ke rahim suci lainnya. Semua ini bak rantai yang tak berputus hingga sampai pada keturunan terakhir mereka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Keturunan termulia dari tambang ilmu dan keutamaan. Keturunan yang lahir dari pohon di mana para Nabi Allah berasal dari sana begitu juga mereka para pembawa amanat ilahi’.

Ali bin Abi Thalib menyifati kezuhudan para Nabi, keberanian, kerendahan hati dan bagaimana Allah melindungi dan mendidik mereka sekaligus menguji dan memberi cobaan kepada mereka dalam perjuangan di jalan Allah. Ali juga menjelaskan kewajiban-kewajiban para Nabi yang dapat dilihat dalam masalah tablig dan dakwah kepada Allah Subhanahu Wata'ala , memberi kabar gembira dan ancaman, menegakkan hukum Allah di bumi, memberi petunjuk manusia dengan mengeluarkan mereka dari kebodohan dan kesesatan dan berjuang menghadapi musuh-musuh Allah.

Jalan yang telah dipersiapkan Allah untuk memberikan petunjuk manusia akan berlangsung secara berkesinambungan hingga hari kiamat. Oleh karenanya, bumi tidak akan pernah kosong dari bukti Allah; baik itu tampak dan diketahui banyak orang atau tersembunyi. Karena yang terpenting adalah bagaimana bukti Allah Subhanahu Wata'ala tetap ada di muka bumi dan tidak lenyap. Ketika kenabian telah berakhir dengan Nabi Muhammad saw, maka perintah pemberian petunjuk berpindah kepada keluarganya yang dikenal sebagai keluarga terbaik. Orang-orang yang bisa berbicara pasti dilakukan dengan kejujuran dan bila berdiam diri tidak didahului. Mereka berasal dari pohon kenabian, dilingkupi oleh risalah kenabian, tempat lalu lalang para malaikat, tambang ilmu pengetahuan dan sumber kebijakan. Mereka orang-orang yang memiliki posisi yang mulia di sisi Allah. Dengan keberadaan mereka Allah Subhanahu Wata'ala menjaga bukti-bukti dan hujjah-Nya. Al-Quran dapat diketahui karena mereka dan dengan Al-Quran mereka dapat dikenal, pada mereka kemuliaan Al-Quran tersimpan dan khazanah kasih sayang Allah dan mereka orang-orang yang disebut dalam Al-Quran Ar-Rasikhun bil ‘Ilm (orang-orang yang menyatu dengan ilmu tentang Al-Quran).

Kesabaran mereka akan menjelaskan seberapa luas ilmu yang dimiliki, bentuk dan perilaku lahiriah mereka akan menunjukkan batin mereka dan diamnya mereka menandakan kebijakan berpikir dan bertutur. Mereka tidak pernah menentang kebenaran dan tidak pernah berselisih dalam hal kebenaran. Mereka adalah tiang-tiang penguat agama dan bak sahabat karib yang menjaga agama. Dengan keberadaan mereka niscaya kebenaran kembali pada takarannya dan kebatilan akan sirna dan lenyap dari tempatnya. Mereka adalah asas agama dan pokok keyakinan. Orang yang telah melampaui batas akan menyesuaikan dirinya dengan menjadikan mereka sebagai tolok ukur dan orang yang tertinggal dapat menyesuaikan diri dengan menjadikan mereka sebagai patokan. Mereka memiliki kekhususan-kekhususan tertentu seperti hak memiliki wilayah (kepemimpinan) dan wasiat serta warisan Nabi tentang kepemimpinan adalah untuk mereka.

Ali bin Abi Thalib menegaskan kedudukan dan posisi Ahli Bayt AS. selaku pemimpin baik dalam bidang pemikiran maupun dalam bidang politik. Ali berusaha mendekatkan kepemimpinan yang terlanjur dijauhkan dari pemiliknya yang semestinya setelah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau mengkritik cara pandang dan kebijakan para khalifah sebelum dirinya baik secara global maupun detil. Sekalipun dengan kritik itu beliau telah merelakan, secara terpaksa, haknya sebagai khalifah dan berusaha mengajukan ide-ide murni yang bersumber dari Nabi tentang kepemimpinan setelah Rasulullah saw. Ali tetap berjuang untuk merealisasikan kebenaran dengan cara dan metode yang bijak dan sesuai dengan kondisi kritis yang sedang dialami negara dan umat Islam pada waktu itu. Beliau mampu mengajukan teori dan sistem yang sempurna dan menyiapkan sejumlah kader untuk menerapkannya ketika kondisi memungkinkan untuk itu.

Mengenal Imam Mahdi

Kajian tentang masalah Imam Mahdi afs. terpengaruh perhatian yang diberikan kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib sekalipun dalam kondisi yang sulit di mana masyarakat Islam yang baru dan belum stabil masih tetap memberikan perhatian yang cukup tentang masalah Imam Mahdi AF. Beliau berkata, ‘Ketahuilah bahwa pada suatu hari –dan hari itu akan datang sekalipun kalian tidak mengetahuinya kapan- di mana seorang pemimpin akan muncul dan bukan dari keluarga pemimpin yang ada sekarang. Ia akan menghukumi para pejabat pemerintahan sesuai dengan perbuatan buruk mereka. Bumi akan mengeluarkan barang tambangnya demi sang pemimpin. Ia akan menunjukkan bagaimana cara menjalankan roda pemerintahan dengan adil kepada kalian. Al-Quran dan Sunah Nabi yang sampai sebelum munculnya dipinggirkan dan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya akan dihidupkan kembali olehnya’.

Ucapan Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi AF. Adalah cara pandang yang detil dan pasti serta memberikan penerangan yang jelas mengenai tanda-tanda kemunculannya. Kemunculannya akan terlihat pada revolusi global yang kemudian memberikan kesempatan kembali kepada Islam memainkan peranannya di dunia Islam dan bahkan untuk manusia dan kemanusiaan. Ali tentang pemimpin revolusi global ini berkata, ‘Oleh Imam Mahdi AF. segala keinginan yang ada akan diikutkan sesuai dengan petunjuk wahyu setelah sebelumnya masyarakat menjadikan hidayah dan petunjuk senantiasa mengikuti hawa nafsunya. Masyarakat dengan segala macam teori yang ada dipaksakan kepada Al-Quran dan Al-Quran hanya dipakai sebagai bahan justifikasi pendapat mereka sementara Imam Mahdi AF. berusaha agar semua teori dan pandangan yang ada malah mengikuti Al-Quran dan bukan sebaliknya’.

Sebuah yayasan yang bernama Muassasah Nahjul Balaghah telah berhasil mengumpulkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi afs. Hadis-hadis tersebut telah terkumpul dalam satu volume dan hadis yang terkumpul sebanyak 291 hadis. Empat belas hadis berbicara tentang nama, sifat-sifat dan nama panggilan dari Imam Mahdi. Tujuh puluh tujuh hadis menjelaskan tentang keturunan Imam Mahdi AF. bahwa ia berasal dari keturunan Quraisy, Bani Hasyim, Ahli Bayt dan dari keturunan Ali bin Abi Thalib sendiri. Ia adalah keturunan dari Fathimah Az-Zahra a.s. juga keturunan dari Imam Husein a.s. dan salah satu imam kedua belas. Empat puluh lima hadis berhubungan dengan Imam Mahdi afs. dalam Al-Quran, Nahjul Balaghah dan syair yang diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib. Dua puluh tiga hadis berbicara tentang para penolong Imam Mahdi afs. dan riwayat-riwayat yang menyinggung tentang pemimpin. Dua belas hadis bercerita tentang masalah keluarga Sufyan dan Dajjal. Dua puluh enam hadis menjelaskan tentang kegaiban Imam Mahdi afs. dan ujian serta cobaan orang-orang Syi’ah semasa kegaiban Imam Mahdi dan keutamaan melakukan penantian kemunculan Imam Mahdi afs. Tujuh puluh lima hadis menceritakan tentang fitnah sebelum kemunculan Imam Mahdi afs. tanda-tanda kemunculannya, apa yang akan diperbuat dan akan terjadi setelah kemunculan Imam Mahdi afs. masalah hewan-hewan berkaki empat di bumi serta Ya’juj dan Ma’juj. Sembilan belas hadis berkaitan dengan keutamaan masjid Kufah dan akan keluarnya seorang dari Ahli Bayt dengan orang-orang dari timur yang membawa pedang di pundaknya selama delapan bulan sehingga orang-orang berkata, ‘Demi Allah! Orang ini dari keturunan Fathimah. Kemudian ia menjelaskan pemerintahan di muka bumi dengan munculnya Imam Mahdi afs. bagaimana ia memerintah dan terakhir bagaimana agama ditutup dengannya.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Wahai Kumail! Ilmu yang ada ini akulah pembukanya sementara rahasia yang ada diakhiri oleh Al-Mahdi afs. Wahai Kumail! Kalian perlu memperhatikan masa lalu kalian dan kami yang akan menang dibanding kalian’.

Agama dibuka dan ditutup dengan kami. Karena kami orang-orang selamat dari kesesatan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana mereka telah diselamatkan dari kesesatan syirik. Allah swt mendekatkan hati kaum muslimin berkat kami setelah permusuhan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana hati dan agama mereka telah didekatkan setelah permusuhan yang berlandaskan kesyirikan’.Seandainya pemimpin kami, Al-Mahdi, telah muncul niscaya langit akan mengucurkan hujan dan bumi akan menumbuhkan tanaman. Permusuhan akan hilang dari hati manusia. Binatang-binatang liar akan menjadi jinak sehingga seorang wanita berjalan dari Irak hingga ke Syam dengan aman. Ia hanya meletakkan kakinya di atas tumbuh-tumbuhan dan perhiasan yang berada di atas kepalanya tetap karena binatang-binatang buas tidak mengganggu dan tidak menakuti-nakutinya’.

Bersambung Insya Allah 

Wallahu A'lam

Mau Berangkat Haji Sekarang.... ? Wani Piro ....!

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Teman-teman pasti tahu dengan iklan yang memopulerkan istilah “wani piro”. Ya, iklan yang jenaka itu seakan menyindir fenomena sosial yang sering terjadi di negeri ini, yakni “apa-apa duit”. Bila menerapkan prinsip ini, kita baru akan bersedia menjalankan sebuah tugas atau pekerjaan dengan baik jika imbalannya besar.

Sebenarnya tidak salah bila kita mengharapkan sebuah imbalan yang besar sebelum melakukan pekerjaan tertentu. Toh setiap usaha yang kita lakukan dengan sebaik-baiknya memang layak mendapatkan imbalan yang setimpal. Namun, bila terlalu terpaku akan harapan tersebut, perkembangan diri kita justru akan menjadi terhambat.

Misalnya begini. Kita merasa bahwa gaji yang kita dapat di perusahaan tempat kita bekerja terlalu sedikit, tidak sebanding dengan skill yang kita punya. Karena tidak puas, kita sengaja menurunkan kualitas kerja, dengan alasan, percuma bekerja sebaik-baiknya bila bayaran yang kita terima tidak sesuai dengan kualitas hasil pekerjaan kita.

Pada suatu ketika, Bos berniat menaikkan (jabatan) beberapa karyawannya untuk mengisi posisi setingkat manajer di perusahaan. Selama beberapa bulan, ia tekun mengamati dan menilai para bawahannya berdasarkan beberapa syarat, yakni punya kontribusi besar untuk perusahaan, rajin bekerja, hasil kerjanya bagus, penuh semangat, dan punya potensi untuk berkembang.

Lihatlah, bila menerapkan prinsip “wani piro”, sudah tentu kita tidak akan masuk daftar karyawan yang akan naik jabatan. Sebaliknya, bagi karyawan lain yang bekerja dengan ikhlas dan sebaik-baiknya, sudah tentu akan dilirik Bos untuk dinaikkan posisinya, yang berarti gajinya akan naik juga.

Ya, bekerja dengan sebaik-baiknya memang tidak ada ruginya. Kalaupun tidak mendapatkan imbalan materi yang menurut kita kurang pantas, paling tidak diri kita jadi bisa berkembang dengan baik sehingga kualitas pribadi kita pun semakin meningkat.

Kondisi bangsa Indonesia saat ini sungguh sangat menyedihkan. Krisis malu dan harga diri telah menyebabkan bobroknya mental para penguasa yang selalu mengatasnamakan rakyat. Mereka mengeruk keuangan negara dengan proyek-proyek bayangan. Manipulasi data, mark up anggaran hingga pada penyunatan bantuan sudah menjadi budaya di kalangan yang menamakan dirinya dengan sebutan elit ini. Imbasnya adalah kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan.

Budaya “wani piro?” begitu melekat di hati rakyat Indonesia. Siapa yang berani membayar tinggi maka itulah yang akan dipilihnya meskipun dia tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ironis memang, namun itulah kenyataan. Rakyat kita mungkin terlalu lama sengsara dan menderita, sehingga idealisme dan akal sehat tidak lagi mereka gunakan, yang bergaung dibenak mereka hanyalah uang…uang dan uang.

Jika proses awalnya saja salah, maka janganlah berharap akan tercipta suatu hasil yang positif.

Dalam kaidah fiqih dikatakan ” tashorruful Imam Ala Ro’yatihi Manuthun Bil maslahah ” Tindakan seorang imam terhadap rakyatnya haruslah berdasarkan kemaslahatan. Kita semua adalah Imam, setidaknya imam untuk anak cucu kita mendatang dan setidaknya juga kita adalah imam bagi keluarga kecil kita. Jika tindakan yang kita ambil salah sedikit saja, maka bisa jadi hal itu berakibat fatal dalam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita selanjutnya.

Dampak budaya "wani piro" yang berkaitan dengan Naik Haji atau berangkat haji yang pertama adalah Haji Plus 

Siapa yang tidak tahu dengan Ibadah Haji , semua orang islam pastinya ingin sekali menunaikan ibadah Haji yang notabenenya adalah salah satu syarat untuk diakui sebagai umat islam. namun Ibadah haji hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu saja, sedangkan mereka yang tidak mampu maka tidak diharuskan mengerjakan ibadah haji. Berkaitan dengan Wani Piro ini ONH Plus menurut admin mendapatkan peringkat yang utama , dimana bagi mereka yang mampu dan mau Membayar Lebih maka Quota Naik Haji akan terbuka meskipun jika kita tanyakan kepada pihak penyelenggara Quota Haji telah habis maka dengan Uang yang lebih banyak maka kursi / quota akan ada dan pintu pesawat terbuka lebar akan tetapi kembali lagi kepada permasalahan awal "WANI PIRO...?" "Sim Salabim" "Qun Fayaqun"

Amat sangat ironis sekali ketika hal tersebut kemudian dipolitisir dan dimanfaatkan sejumlah kalangan kembali untuk meraup keuntungan yang tidak seberapa, naas dan sungguh naas ketika aqidah dan akhlak manusia sudah tidak karuan Memang sejatinya hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwasanya mendekati hari kiamat hal - hal yang demikian adalah benar adanya dan tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut adalah benar adanya. 

Jujur saja sebagai umat islam miris ketika melihat hal tersebut, karena Ibadah yang sejatinya dilaksanakan dan diniati semata - mata hanya dan hanya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu Wata'ala kemudian dimanfaatkan segelintir orang yang merusak dan menghancurkan citra dan nama baik ajaran islam.  Na'udzubillahi Min Dzalik. 

Dampak budaya "wani piro" yang kedua adalah masih berkaitan dengan Ibadah Haji

Namun kali ini berbeda dari sebelumnya karena , wani piro yang kedua adalah lebih kepada Nepotisme, Ibadah Haji kembali menjadi ajang untuk meraup keuntungan bagi segelintir orang, dengan modus operasi yang hampir sama dengan ONH Plus, budaya "Wani Piro" yang ada pada peringkat dua adalah adanya jatah kursi / quota bagi mereka yang bertindak / berposisi / memiliki jabatan. sebut saja ketua KUA, pimpinan KBIH,  Wakil Rakyat dan beberapa pejabat tinggi , masing masing mereka memiliki 2 hingga 5 jatah setiap tahun yang bisa mereka perjual belikan , naas...... naas....... dan naas........... !! Sungguh tragis nasib umat ini.

Sebenarnya masih ada banyak lagi budaya wani piro yang menjangkit di negeri ini, namun untuk bahan renungan di hari ini sabtu tertanggal 24 maret 2012 , cukup inilah dahulu... 

Semoga dan semoga kedepan hal - hal yang demikian bisa musnah dan kembali umat islam bisa meyaqini se-yaqin - yaqinnya bahwa , agama ini bukan untuk diperdagangkan. 

Harapan dan do'a semoga Allaah Subhanahu Wata'ala mengembalikan segala sesuatunya pada keadaan semula sehinggalah semua umat islam bisa kembali kepada-Nya dengan baik dan mendapatkan tempat yang terbaik. Aamiin ya Rabbal 'Alamin

Waktu Shalat Wajib dan Shalat Sunnah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalt fardu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi antara lain; Departemen Agama, PP Muhammadiyah, PP Persis, PP Nahdatul Ulama (NU) dsb. Namun kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu "Pergerakan Matahari " dilihat dari bumi.


“Sesungguhnya solat itu diwajibkan atas orang-orang yang beriman menurut waktu-waktu yang tertentu” ( Q.S. An-Nisa’ :103 )

“Dirikanlah solat ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”. ( Q.S. Al-Isra’ : 78 )

Sebelum manusia menemukan hisab / perhitungan falak / astronomi, pada zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung matahari. Lalu berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari serta Jam Istiwa atau seing disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari.

Dari sudut pandang Fiqih penentuan waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih adalah sebagi berikut :

Waktu Subuh Waktunya diawali saat Fajar Shiddiq sampai matahari terbit (syuruk). Fajar Shiddiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut Fajar Kidzib atau Fajar Semu yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Matahari. Setelah cahaya ini muncul beberapa menit kemudian cahaya ini hilang dan langit gelap kembali. Saat berikutnya barulah muncul cahaya menyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shiddiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari ( s° ) sebesar 18° di bawah horizon Timur atau disebut dengan "astronomical twilight" sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Hakiki / visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut s=20° dengan alasan kepekaan mata manusia lebih tinggi saat pagi hari karena perubahan terjadi dari gelap ke terang.

Waktu Zuhur Disebut juga waktu Istiwa (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa juga dikenal dengan sebutan Tengah Hari (midday/noon). Pada saat Istiwa, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah Istiwa, yakni ketika matahari telah condong ke arah Barat. Waktu tengah hari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (Istiwa). Secara teoretis, antara Istiwa dengan masuknya Zuhur ( z° ) membutuhkan waktu 2 menit, dan untuk faktor keamanan biasanya pada jadwal shalat waktu Zuhur adalah 4 menit setelah Istiwa terjadi atau z=1°.

Waktu Ashar Menurut Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar dapat dihitung dengan algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi. Secara astronomis ketinggian matahari saat awal waktu Ashar dapat bervariasi tergantung posisi gerak tahunan matahari/gerak musim. Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria waktu Ashar adalah saat panjang bayangan = panjang benda + panjang bayangan saat istiwa. Dengan demikian besarnya sudut tinggi matahari waktu Ashar ( a° ) bervariasi dari hari ke hari.

Waktu Maghrib Diawali saat matahari terbenam di ufuk sampai hilangnya cahaya merah di langit Barat. Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan matahari masuk ke horizon yang terlihat (ufuk Mar'i / visible horizon) sampai waktu Isya yaitu saat kedudukan matahari sebesar i° di bawah horizon Barat. Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut i=18° di bawah horison Barat.

Waktu ‘Isya Diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit Barat, hingga terbitnya Fajar Shiddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya merupakan kebalikan dari waktu Subuh yaitu dimulai saat kedudukan matahari sebesar i° di bawah horizon Barat sampai sebelum posisi matahari sebesar s° di bawah horizon Timur.

Waktu Imsak adalah awal waktu berpuasa. Diawali 10 menit sebelum Waktu Subuh dan berakhir saat Waktu Subuh. Ijtihad 10 menit adalah perkiraan waktu saat Rasulullah membaca Al Qur'an sebanyak 50 ayat waktu itu.

Demi menjaga "keamanan" terhadap jadwal waktu shalat yang biasanya diberlakukan untuk suatu kawasan tertentu, maka dalam hal ini setiap awal waktu shalat menggunakan kaidah "ihtiyati" yaitu menambahkan beberapa menit dari waktu yang sebenarnya. Besarnya ihtiyati ini biasanya ditambahkan 2 menit di awal waktu shalat dan dikurangkan 2 menit sebelum akhir waktu shalat.

Akibat pergerakan semu matahari 23,5° ke Utara dan 23,5° ke Selatan selama periode 1 tahun, waktu-waktu tersebut bergesar dari hari-kehari. Akibatnya saat waktu shalat juga mengalami perubahan. oleh sebab itulah jadwal waktu shalat disusun untuk kurun waktu selama 1 tahun dan dapat dipergunakan lagi pada tahun berikutnya. Selain itu posisi atau letak geografis serta ketinggian tempat juga mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut di atas.

Berdasarkan konsep waktu menggunakan posisi matahari secara astronomis para ahli kini berusaha membuat rumus waktu shalart berdasarkan letak geografis dan ketinggian suatu tempat di permukaan bumi dalam bentuk sebuah program komputer yang dapat menghasilkan sebuah tabulasi data secara akurat dalam sebuah "Jadwal Waktu Shalat". Kini software waktu shalat terus dibuat dan dikembangkan diantaranya: Accurate Times, Athan Software, Prayer Times, Mawaqit, Shalat Time dsb. serta software produksi BHR Departemen Agama yang disebarluaskan secara nasional yaitu Winhisab. Program ini masih terlalu sederhana untuk kelas Nasional dan saya yakin BHR bisa membuat yang lebih baik lagi.

Waktu Shalat Sunah

Tidak semua shalat sunah mempunyai waktu tertentu melainkan beberapa shalat sunah sudah diatur waktunya. Waktu-waktunya adalah mengikuti waktu shalat yang dianjarkan Nabi Muhammad s.a.w. Diantara shalat sunah yang dilakukan mengikuti waktu tertentu adalah:

Shalat Dhuha - dilakukan ketika waktu matahari baru naik (mengikut pandangan beberapa ulama, pada ketinggian segalah atau tujuh hasta) atau sekitar 3,5° ketinggian Matahari.

Shalat Ied - dilakukan pada waktu pagi hari raya yang pertama bagi kedu jenis hari raya tersebut, umumnya dilakukan pada waktu Dhuha yaitu waktu matahari baru naik (mengikut pandangan sebagian ulama, pada ketinggian segalah)

Shalat Tarawih - dilakukan pada waktu Isya' (umumnya dilakukan selepas Shalat Isya' sebelum kemunculan waktu imsak)

Shalat Sunat Gerhana - dilakukan pada waktu gerhana (matahari atau bulan) sedang terjadi.

Shalat Sunat Rawatib - dilakukan sebelum dan selepas solat fardhu. Tidak semua solat mempunyai kedua-dua solat sunat.

Waktu Haram Shalat

Berikut adalah waktu yang diharamkan solat (sebagian ulama mengatakan berlaku bagi selain tanah haram):

Waktu selepas shalat Subuh hingga terbit matahari.

Waktu mulai terbit matahari (syuruk) hingga matahari berada di kedudukan pada kadar segalah (tujuh hasta).

Waktu rambang (zawal, istiwa, rembah) atau waktu tengahari (matahari tegak) hingga gelincir matahari kecuali hari Jumaat.

Waktu selepas shalat Asar hingga matahari kekuningan.

Waktu matahari kekuningan hingga matahari terbenam.

Wallahu A'lam

Shalat Sunnah Dhuha

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Shalat Sunnah Dhuha adalah salah satu shalat sunat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa shalat Dhuha pada waktu pagi hari diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh muslim :

"Pada setiap pagi, pada tiap-tiap ruas persendian di antara kalian memiliki hak, yaitu shadaqoh. Setiap tasbih adalah shadaqoh, setiap tahmid adalah shadaqoh, setiap tahlil adalah shdaqoh, setiap takbir adalah shadaqoh, amar ma’ruf termasuk shadaqoh, mencegah dari kemungkaran termasuk shadaqoh, maka yang mencukupi demikian itu adalah shalat dhuha dua rokaat.” (HR. Muslim)

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2).

Jika kita hanya membacanya saja tanpa memikirkan dan memahami ayat diatas yang kita dapat hanyalah bacaan di mulut selepas itu hilanglah sudah , padahal didalam ayat diatas jelas - jelas Allah Subhanahu wata'ala bersumpah demi waktu sepenggalah naik dan malam yang jika kita mau memahami lebih dalam maka akan kita dapatkan dua waktu shalat yakni Dhuha dan Tahajjud.

Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya, disamping shalat wajib yang memang sudah ditentukan waktunya.

Sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha : “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).
Mukjizat Dhuha

Kalau kita amati disekitar kita, setiap pagi setiap orang di dunia disibukkan dengan usaha, aktivitas dan urusannya masing-masing. Entah itu bekerja di kantor yang jadi pegawai, ngajar disekolah yang berprofesi jadi guru, mencari penungpang yang jadi sopir atau becak, mencari berita bagi yang jadi wartawan, menaiki perahu bagi yang nelayan dan pergi kesawah sambil membawa cangkul bagi yang pekerjaannya hidupnya sebagai petani, ada yang ke pasar, ke took dan lain sebagainya. Semua itu adalah pekerjaan yang baik karena mau bekerja dan berkarya. Karena kalau kita baca sejarah, semua para Nabi bekerja keras. Tidak ada Nabi yang kerjanya hanya menunggu keajaiban rezeki yang datang dari langit. Tetapi ditengah kesibukannya – sebelum memulai usahanya – para utusan Allah itu melakukan permohonan kepada Allah untuk dilancarkan usahanya. Seperti melakukan shalat dhuha atau yang lainnya.

Waktu dhuha adalah waktu yang penuh dengan fadhilah, terutama untuk mengawali aktivitas, baik yang bersifat duniawi (bisnis) atau yang bersifat ukhrawi. Kenapa disebut waktu yang penuh fadilah? Karena saat itu manusia sibuk dengan usuhanya sendiri-sendiri dan terkadang lupa akan Tuhannya, sepertinya yang mereka lakukan adalah hasil jerih usuhanya sendiri. Mereka banyak yang lupa bahwa rezeki yang ia dapatkan adalah datang dan merupakan anugerah (memberian) dari Allah.

Sampai saat ini, shalat dhuha dikenal oleh banyak orang sebagai salah satu shalat untuk melancarkan rezeki dan bisa memperpanjang umur. Tidak sedikit orang yang sukses di dunia ini yang keluar dari (madrasah) shalat dhuha dan shalat sunnah lain seperti tahajjud. Karena Rasulullah menganjurkan bagi pengikutnya sebelum melakukan aktivitas seharus shalat dhuha terlebih dahulu. Shalat dhuha menjadi pintu awal untuk kesuksesan seseorang dalam aktivitasnya. selain itu Shalat merupakan media untuk minta sesuatu kepada Sang Rahman dan Sang Rahim. maka sudah sepantasnya dan sudah selayaknya kita memohon kepadanya terlebih dahulu sebagai perwujudan seorang hamba yang tiada daya dan upaya selain dari pertolongan-Nya.

Wallahu A'lam
Baca lebih lanjut disini atau Shalat Dhuha atau Do'a Shalat Dhuha

Budaya "Wani Piro?" Juga Berlaku Untuk ONH

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sungguh Terlalu ........!!

Kondisi bangsa Indonesia saat ini sungguh sangat menyedihkan. Krisis malu dan harga diri telah menyebabkan bobroknya mental para penguasa yang selalu mengatasnamakan rakyat. Mereka mengeruk keuangan negara dengan proyek-proyek bayangan. Manipulasi data, mark up anggaran hingga pada penyunatan bantuan sudah menjadi budaya di kalangan yang menamakan dirinya dengan sebutan elit ini. Imbasnya adalah kesengsaraan rakyat yang berkepanjangan. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh teman saya, bahwa para wakil rakyat kita telah benar-benar mewakili rakyat untuk makmur. jadi yang makmur cukup mereka saja, toh mereka kan sudah mewakili seluruh rakyat Indonesia. jika mereka makmur, maka rakyatpun kelihatannya juga sudah makmur.
Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh, kedhaliman para penguasa kita adalah andil dari kita juga. Sebenarnya rakyat sendirilah yang menyebabkan munculnya para pemimpin korup dan sewenang-wenang itu. Kenapa demikian ?. Budaya “wani piro?” begitu melekat di hati rakyat Indonesia. Siapa yang berani membayar tinggi maka itulah yang akan dipilihnya meskipun dia tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ironis memang, namun itulah kenyataan. Rakyat kita mungkin terlalu lama sengsara dan menderita, sehingga idealisme dan akal sehat tidak lagi mereka gunakan, yang bergaung dibenak mereka hanyalah uang…uang dan uang. (salah sendiri so... rasakan sendiri....)

Jika proses awalnya saja salah, maka janganlah berharap akan tercipta suatu hasil yang positif. Sejak semula rakyat tidak tulus ikhlas memilih wakil yang tepat yang akan menyuarakan aspirasinya. Receh yang mereka dapatkan di muka harus ditebus oleh anak cucu kita, mereka terpaksa harus menderita bertahun-tahun sebab anggaran yang mestinya digunakan untuk kesejahteraan mereka di garong dan di gasak oleh para copet profesional. Maka kadang terlintas dalam benak penulis, mungkin sebenarnya kitalah yang menyebabkan kesengsaraan anak cucu kita di masa yang akan datang.

Dalam kaidah fiqih dikatakan ” tashorruful Imam Ala Ro’yatihi Manuthun Bil maslahah ” Tindakan seorang imam terhadap rakyatnya haruslah berdasarkan kemaslahatan. Kita semua adalah Imam, setidaknya imam untuk anak cucu kita mendatang dan setidaknya juga kita adalah imam bagi keluarga kecil kita. Jika tindakan yang kita ambil salah sedikit saja, maka bisa jadi hal itu berakibat fatal dalam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita selanjutnya.

Mari mulai dari diri sendiri untuk membangun negeri ini, menghujat sudah tidak diperlukan lagi. Apa yang telah terjadi dimasa lalu adalah ibrah berharga untuk kita di masa depan. Ikhlaskan hati dan tuluskan niat dengan tanpa pamrih dan mengharap imbalan apapun, sebab imbalan Allah sungguh luar biasa. Sucikan hati dan bersihkan niat. Kalam inilah yang harusnya menjadi maskot bagi kita dalam melakukan aktifitas apapun hingga keberkahan dari seluruh penjuru langit dan bumi akan dibuka oleh Allah Subhanahu Wata'ala

Wallahu a’lam

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. Seringin dengan itu semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai ? ideologi peradaban ? dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia. Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni mereka terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban lahir dari perasaan Barat yang subyektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban dunia yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam dominasi peradaban Barat.

Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa warsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan ? mayoritas tetapi secara teknikal minoritas ? runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah mematangkan mereka buka saja secara mental, tapi juga secara intelektual. Dari mereka itulah lahir critical mass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan dan juga telah memperkuat tradisi inteletual melalui pergumulan ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku. Seiring dengan itu juga terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi.

ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondiri umat Islam, terutama kadena ?berserakannya? keadaan cendekiawan muslim, sehingga menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.

Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema ?Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas? yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September ? 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Kemudian para mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafi?i Anwar menghadap Menristek Prof. B.J. Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi beliau bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan B.J. Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.

Tanggal 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru, secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Bahharuddin Jusup Habibie sebagai Ketua Umum ICMI yang pertama. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia, karena itu juga merupakan tugas utama.

Falsafah Dasar ICMI
  1. Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya.
  2. Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu.
  3. Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan – permukaan temu.
  4. Rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukan temu terseut dengan ajaran kitab suci Al-Qur’an.
Prinsip Dasar ICMI


Adapun Prinsip Dasar ICMI yaitu 5 K :
  1. Meningkatkan Kwalitas Berpikir
  2. Meningkatkan Kwalitas Bekerja
  3. Meningkatkan Kwalitas Berkarya
  4. Mneingkatkan Kwalitas Iman dan Taqwa seimbang dengan penguasaan Kwalitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
  5. Meningkatkan Kwalitas Hidup.
Definisi Cendekiawan ICMI

Cendekiawan ICMI adalah siapa saja yang sangat peduli terhadap lingkungan dan tidak tergantung dari tingkat pendidikan ataupun tingkat pembudayaan yang pernah dialami. Cendekiawan ICMI menerima filsafat dasar dan prinsip dasar ICMI.

Majelis Mujahidin Indonesia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Majelis Mujahidin lahir berawal dari keprihatinan para tokoh gerakan Islam yang pernah digembleng di “pesantren Orde Baru” seperti Irfan Suryahardi, Deliar Noer, Syahirul Alim, Mursalin Dahlan, Mawardi Noor dan lain-lain. Mereka terdorong untuk mengadakan forum kecil, berdiskusi yang ujungnya menggagas lahirnya suatu lembaga yang bisa menyatukan visi kaum muslimin yang hendak memperjuangkan tegaknya syariat Islam, yaitu Majelis Mujahidin.

Dilihat dari kacamata ekonomi, kader-kader Mujahidin adalah kaum yang masuk dalam strata ekonomi menengah kebawah. Jika dilihat dari jenis pekerjaan, maka memiliki variasi yang sangat banyak, ada pedagang, buruh bangunan, pedagang kaki lima dll.

Untuk menandai lahirnya institusi tersebut diadakan kongres I Majelis Mujahidin di Yogyakarta tanggal 5-7 Agustus 2000. Saat itu hadir kira-kira 1500 orang dari berbagai gerakan di seluruh tanah air, bahkan hadir pula beberapa perwakilan dari negara sahabat, seperti Moro, Malaysia, dan Arab Saudi.

Aliansi Gerakan

Pada Kongres I di Yogyakarta, diputuskan bahwa Majelis Mujahidin merupakan organisasi aliansi gerakan (tansiq amal) yang bersifat universal, tidak dibatasi suku, bangsa maupun negara. Memang format tansiq ini memang masih menjadi bahan perdebatan yang cukup panjang di antara aktivis Majelis Mujahidin. Namun yang pasti, tansiq ini bisa saja diikuti oleh organisasi maupun personal. Meskipun tidak atau belum ada aturan tertulis mengenai syarat menjadi anggota Majelis Mujahidin, namun cukup dimaklumi bahwa anggota Majelis Mujahidin adalah muslim yang taat.

Konsekuensi lain dari format aliansi adalah adanya kesiapan anggota-anggotanya untuk berbeda pendapat dengan anggota yang lainnya. Inilah barangkali yang menjadi ciri khusus Majelis Mujahidin, dibandingkan dengan kelompok muslim “fundamentalis” yang pada umumnya tertutup tetapi justru di sini kader-kadernya harus siap menghadapi perbedaan-perbedaan. Namun ternyata jika diselami lebih jauh, aliansi Mujahidin ini masih mempersyaratkan, yaitu keshahihan aqidah, dalam timbangan mujadihin, yaitu dalam prespektif aqidah salaf. Dengan mereka yang sama-sama beraqidah salaf bisa melakukan aliansi lebih terbuka, sedangkan dengan mereka yang tidak beraqidah salaf, aliansinya dilakukan hanya dalam wilayah perjuangan penegakan syariah. Jadi di sini semacam ada kaidah “kita beramal dalam masalah yang kita sepakati”

Selain konsekuensi tersebut, format keanggotaan seperti ini cukup rawan menghadapi penyusupan pihak luar yang tidak merasa nyaman dengan kehadiran majelis Mujahidin. Tahun 2000 – 2002 di Majelis Mujahidin bahkan telah disusupi pihak intelijen nasional, dan menjadi pengurus Lajnah Tanfidziyah bidang hubungan antar Mujahid. Diketahuinya satu orang telah menyusup ke tubuh Majelis Mujahidin berkaitan dengan hilangnya “pengurus” ini tanpa sebab setelah kasus bom Bali. Setelah diusut, dicari-cari, akhirnya diketahuilah bahwa Mr. X, tersebut aslinya adalah seorang perwira militer. Namun karena majelis Mujahidin tidak pernah memiliki niat untuk melakukan bughat (memberontak) maka penyusupan itupun tak ada gunanya. Kalau yang ditemukan hanya aktivitas kajian-kajian, di luar Mujahidin banyak juga kajian, bahkan yang radikal dibandingkan dengan Mujahidin.

Kajian-kajian untuk kader Majelis Mujahidin, umumnya metekankan pemahaman tauhid. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar Majelis Mujahidin, yang menjadikan tauhid sebagai dasar visi dan misinya. Selain materi tauhid disampaikan pula materi tafsir, hadis dan ahkam syar’iyyah. Materi-materi kajian umumnya cukup berbobot, mengingat aktivis Majelis Mujahidin rata-rata cukup berpendidikan dan memiliki semangat religiusitas tinggi. Kebanyakan di antara aktivisnya adalah sarjana, meskipun demikian ada juga yang hanya lulus tingkat SLTA.

Tuntutan formalisasi syari’ah di Indonesia bagi Majelis Mujahidin adalah final. Dalam sejarah perjuangan umat Islam, usaha menegakkan syariah ini telah ditempuh beberapa metode. Pertama adalah metode konstitusional yaitu perjuangan dengan masuk ke dalam lembaga seperti MPR dan DPR. Kedua dilakukan dengan da’wah, seperti yang dilakukan oleh DDII. Ketiga dengan pendidikan, seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Keempat, dengan bersenjata seperti yang dilakukan oleh Kartosuwiryo.

Sejauh ini Majelis Mujahidin berusaha mewujudkan cita citanya melalui da’wah, baik da’wah secara politik, ataupun dakwah kemasyarakatan. Da’wah politik dilakukan dengan mengirimkan surat kepada pejabat-pejabat dan lembaga-lembaga tinggi negara. Beberapa jenis surat yang dikirim kepada pejabat dan instansi bisa dilihad dalam buku Da’wah dan jihad Abu Bakar Ba’asyir. Selain mengirim surat, Mujahidin juga mengadakan audiens dengan pejabat tinggi, DPR atau organisasi massa untuk merealisasikan visi dan misinya itu.

Wallahu A'lam

Hidup Dan Mati Berdzikir

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hakekat Berdzikir berarti menyebut dan mengingat Dzikrullah menyebut dan mengingat Allah Subhanahu Wata'ala. dzikir yang baik mencakup dua makna di atas; menyebut dan mengingat. Dzikir dengan hanya menyebut dengan lisan tanpa menghadirkan hati tetap bisa mendatangkan pahala, namun tentu dzikir macam ini berada pada tingkat yang paling rendah. Dzikir dengan lisan tanpa menghadirkan hati dan pikiran bisa saja memberi pengaruh terhadap hati dan keimanan seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sebesar dzikir sambil menghadirkan hati. Paling baik adalah dzikir dengan lisan sambil menghadirkan hati dan kemudian mengaplikasikannya dalam tindakan didalam kehidupan.

Dalam ajaran Islam, banyak kesempatan dan sarana yang Allah Subhanahu Wata'ala sediakan bagi Kaum Muslimin untuk melaksanakan ibadah dzikir ini. Dalam kehidupan Muslim, ada berbagai do'a yang bisa dibaca dalam beragam aktivitas dan kesempatan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, hampir seluruh satuan kegiatan ada do'a khusus. Paling tidak, dalam setiap aktivitas Muslim secara umum, seyogiyanya dimulai dengan membaca basmalah, yang juga mengandung makna dzikir; menyebut dan mengingat Allah Subhanahu Wata'ala,

 Rasul Saw bersabda: “Setiap amal yang tidak dimulai dengan nama Allah SWT, maka ia terputus dari keberkahan”. (HR. Abu Dawud).

Ibadah dzikir cukup simpel dan mudah dilakukan oleh siapa saja serta tidak harus berdiam diri di kegelapan malam serta semedi yang berminggu-minggu maupun dengan persiapan khusus, tempat khusus dan waktu khusus. Dalam kondisi apapun diperbolehkan, asal tidak pada tempat-tempat yang kotor dan menjijikkan. Seorang Muslim bisa memanfaatkan waktu yang senggang dan kosong untuk berdzikir. Berdzikir bisa dilakukan pada waktu menunggu antrian, menunggu lampu merah, maupun sambil menemani anak yang sedang bermain, karena Mengisi waktu kosong dengan dzikrullah, bisa membantu seseorang terhindar dari perbuatan sia-sia dan dosa serta membawa kebaikan dan tindakan positif.

Dzikrullah adalah satu ibadah yang sangat mulia dan begitu dianjurkan, keutamaan dan nilai dari ibadah ini begitu besar dan beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding antara upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah dzikir dengan keutamaan yang disediakan. Dzikir adalah ibadah yang tidak begitu memerlukan upaya dan pengorbanan besar.

Al-Qur’an dan Hadits sangat menganjurkan juga mengisyaratkan betapa mulia ibadah dzikir. Allah SWT memerintah Kaum Muslimin untuk banyak berdzikir, tanpa dibatasi jumlahnya. sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala “Wahai orang-orang yang beriman banyak-banyaklah berdzikir kepada Allah. (Al-Ahzab: 41).

Adapun dzikir muthlak (bebas ) boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dan adanya pembagian kepada dzikir muthlak (bebas ) ini memberikan peluang bagi Muslim untuk sering melakukan dzikrullah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala memotivasi hal tersebut seraya mengisyaratkan bahwa sering berdzikir adalah kebiasaan atau tradisi orang-orang yang “cerdas”. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk dan berbaring. (Ali Imran: 190-191).

Rasulullah juga menjelaskan bahwa dzikrullah menjadi pembeda seorang yang ‘hidup’ dan ‘mati’. Diriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan yang tidak pernah berdzikir kepadaNya bagai orang yang hidup dan mati”. (HR. Baihaqi). Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan batin. Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana besi bila dikenai air”. Rasul ditanya: “Apa penawarnya wahai Rasul?” Rasul bersabda: “Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an. (HR. Baihaqi). Dan membaca Al-Qur’an termasuk dzikrullah yang paling utama.

Siapa yang senantiasa melantunkan dzikir hatinya bisa hidup, dan sebaliknya siapa yang jauh dari dzikrullah, akan terancam mati hati. Hidup dan mati hati pada selanjutnya akan menentukan moral dan prilaku seorang Muslim. Selanjutnya juga akan menentukan nilai dan kualitas kehidupan seorang Muslim. Berarti bahwa dzikir bisa mempengaruhi kualitas hidup seorang Muslim.

Tentu ibadah ini dilakukan dengan tata cara dan adab yang tidak melanggar ajaran dan etika dalam Islam. Dua hal secara umum yang menjadi syarat agar ibadah dzikir diterima di sisi Allah SWT. Pertama, motivasi untuk mendapat ridha dan balasan baik dari Allah SWT. Kedua, tata cara pelaksanaannya sesuai tuntutan syariah. Tata caranya tidak berbau kesyirikan, tidak mendatangkan mafsadah (kerugian) baik terhadap pribadi maupun orang lain, tidak mengganggu kepentingan umum, dan sebagainya. Dan tentunya banyak berdzikir tidak sepatutnya mengganggu kewajiban lain, karena berdzikir adalah ibadah sunnah, yang tidak boleh mengganggu aktivitas yang wajib.

Demikian, begitu besar keutamaan dzikrullah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya berdzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya-.” (Al-’Ankabut: 45). Agar termotivasi untuk memperbanyak dzikrullah, Muslim perlu mengetahui manfaat dari ibadah ini. Satu kiat yang umum diketahui, bahwa agar seseorang termotivasi melakukan suatu hal, maka ia perlu mengetahui manfaat dari hal tersebut.

Selain manfaat yang bersifat bathini (non-fisik atau kejiwaan), di zaman modern ini banyak penelitian juga penemuan yang menjelaskan manfaat-manfaat dzikir secara fisik (kesehatan badan). Berbagai penemuan dan penelitian di Negara Muslim atau bahkan di Negara minoritas Muslim seperti di Amerika dan Inggris menjelaskan fakta bahwa berdzikir mampu menimbulkan ketenangan jiwa yang menyebabkan peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit.

Serta berguna untuk mengendurkan syaraf yang tegang dan selanjutnya menimbulkan ketenangan jiwa. Penemuan ilmiah tersebut menunjukan salah satu kemukjizatan sunnah Nabawiyah yang menyatakan: “Dan tiadalah suatu kaum berkumpul disalah satu rumah Allah (masjid) membaca kitabullah (Al-Quran) dan mempelajarinya kecuali akan dikelilingi Malaikat, dianugerahi ketenangan, diliputi rahmat dan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang dekat kepadanya “ (HR. Muslim).

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Wabil Ash Shayyib menyebutkan manfaat dari dzikrullah sebanyak tujuhpuluh tiga, diantaranya sebagai berikut :
  • Mengusir setan.
  • Mendatangkan ridha Ar Rahman.
  • Menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.
  • Hati menjadi gembira dan lapang.
  • Menguatkan hati dan badan.
  • Menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.
  • Mendatangkan rizki.
  • Orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.
  • Mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘Azza wa Jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.
  • Meraih apa yang Allah sebut dalam ayat: “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah:152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.
  • Hati akan semakin hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati seperti air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut berpisah dari air?”.
  • Dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.
  • Akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di Hari Kiamat.
  • Dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan Hari Kebangkitan.
  • Dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.
Wallahu A'lam

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About