Tanda Kehancuran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jika kita mau banyak banyak memperhatikan betapa banyak tanda kehancuran kecil maupun besar yang sedang dan akan terjadi terjadi negeri kita ini.

Pertama, sebagaimana disebutkan dalam ayat ayat al quran kehancuran itu bersumber dari sikap manusia yang melupakan Allah di saat diberikan kenikmatan.

Melupakan Allah adalah suatu keangkuhan besar, yang menyebabkan pelakunya terselimuti perasaan seakan-akan segala kenikmatan diraih sebagai hasil usaha sendiri.

Padahal telah diingatkan dari Allah lah sumber segala rezeki.

Yang kedua bersumber dari pemerintahan yang buruk.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “.jika Allah menghendaki kehancuran pada suatu kaum, maka akan dijadikan orang-orang kejam sebagai pemimpin-pemimpin mereka, dan orang-orang jahil akan dijadikan sebagai hakim-hakim mereka, dan harta-harta mereka akan berada di bawah kekuasaan orang-orang bakhil.

Semua ini sangat sering terjadi. Antara lain, hukum begitu mudah diperjualbelikan, pemimpin yang sewenang wenang dan tidak lagi mau memakai hukum dan atau aturan baku yang sejatinya sudah tidak boleh dirubah lagi.

Yang ketiga, meninggalnya para ulama yang banyak terjadi akhir-akhir ini.

Sebagaimana diingatkan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain” (HR. Imam Bukhari).

Wallahu A'lam

Sumber aceh tribun news

Akibat Tidak Mau Mencegah Kemungkaran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Telah disiksa penduduk suatu desa yang didiami delapan belas ribu ahli ibadah yang amal dan perbuatan baiknya seperti amal para Nabi. 

Seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa demikian?” 

Maka Nabi SAW menjawab: “Mereka tidak mau marah karena Allah taala, mereka tidak mau menyeru yang baik dan tidak melarang yang mungkar” (al Hadits).

Semakin modernnya zaman, semakin beragam kemungkaran dilakukan manusia. Bahkan, orang yang mencegah kemungkaran, tak jarang dicemooh. Dianggap sok alim, diancam, dan sejenisnya. Kenyataan ini membuat sebahagian orang yang selama ini ikut membantu mencegah kemungkaran, pasrah pada keadaan. Apa yang terjadi, terjadilah. Tidak mau lagi berusaha aktif mencegahnya, meskipun kemungkaran telah merusak sendi-sendi kehidupan. 

Bahkan bagi sebagian orang, jangankan mencegah kemungkaran orang lain, yang dilakukan anggota keluarga sendiri pun tak mau dicegah (lagi). Akibatnya, kemungkaran semakin merajalela.

Kalau mencermati hadits dari Siti Aisyah ra di atas, betapa besar resiko tak mau mencegah kemungkaran. Orang-orang yang gemar beribadah pun akan ditimpa azab, bila ikut membiarkan kemungkaran berlangsung di lingkungannya. 

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan, orang-orang yang mengetahui adanya kemungkaran tetapi tidak mau mencegahnya, dianggap sebagai sekutu bagi pelaku kemungkaran tersebut. Seperti seseorang yang mengetahui adanya korupsi, tetapi tak mau mencegahnya, akan dianggap sebagai bagian dari koruptor tersebut.

Memang tak mudah mencegah kemungkaran di zaman sekarang. Tak tertutup kemungkinan, pelapor kemungkaran malah balik dituduh sebagai pelaku kemungkaran. Namun demikian, Rasulullah telah memberikan penjelasan tentang tingkatan mencegah kemungkaran. Yaitu, dengan tangan atau kekuasaan, bila memang berkuasa. 

Bila tak mampu, maka dengan lidah. Bila juga tak kuasa, maka wajib mencegahnya dengan hati. Namun diingatkan, mencegah kemungkaran dengan hati atau membencinya, termasuk selemah-lemah iman.

Sumber Aceh Tribun News

Tidak Mau Menerima Ketentuan Dari Allah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Hidup menjadi sangat rumit dan meresahkan manakala seseorang tidak mau menerima ketentuan dari Allah Subhanahu Wata'ala. Sebab, mereka yang demikian tidak akan mau menerima adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. 

Padahal bila sahaja seseorang mau mempercayai dan kemudian mampu memahami adanya takdir mereka akan lebih siap , tenang serta tidak ada kekhawatiran maupun kesedihan dalam menjalani kehidupan, karena mereka akan menyadari bahwa manusia hanya berusaha sahaja sedang Allah Subhananu Wata'ala sahajalah yang menentukan.

Salah satu yang sikap yang merupakan ciri atau yang harus dimiliki oleh orang beriman ialah percaya adanya takdir. Dan di antara takdir itu ialah kematian. Kematian pasti menimpa setiap manusia, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Sebagaimana firman Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. 

Allah juga mengingatkan: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa`: 78). Dan bila maut telah tiba, tak ada (manusia) yang bisa memajukan atau mengundurkannya.

Dalam suatu hadits qudsi, Allah mengingatkan siapa saja yang tidak mau menerima ketentuanNya, maka ia dipersilahkan keluar dari bumi Allah. Dan tentunya tak ada yang tidak mau menerima ketentuan Allah, kecuali orang-orang yang ingkar kepada Allah atau kufur. 

Sedangkan orang-orang beriman akan menerima segala ketentuan khususnya musibah dengan mengucapkan: “innalillahi wainna ilaihi raajiuun”, karena sesungguhnya setiap yang datang dari Allah, akan kembali kepada Allah.

Sumber aceh tribun news

Memetik Dan Menikmati Buahnya

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Wahai anakku, kalau sewaktu kecil kamu rajin belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, maka sewaktu dewasa kelak kamu akan memetik buahnya dan menikmatinya” (Luqman al-Hakim).

Betapa kecewa manusia bila pohon yang ditanam, apalagi sudah menghabiskan modal yang tak sedikit dan menunggu bertahun-tahun, tidak berbuah. Begitu perumpamaan dalam mencari ilmu. 

Umumnya manusia menghabiskan uang yang tak sedikit, umur yang banyak, dan kelelahan yang tiada terhingga, untuk menuntut ilmu. Namun ketika memperolehnya, ilmu tersebut kadangkala bagaikan pohon yang tak berbuah atau buah yang tak dapat dinikmati.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, buah dari ilmu menyebabkan seorang hamba dipuji Allah. Tentunya tak akan mendapat pujian dari Allah bila tidak mengamalkan ilmu dengan menunjukkan ketaatan dan ketakutan kepadaNya. Dalam Alquran disebutkan, yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu (QS. Fathir: 28).

Namun, ketaatan dan ketakutan seseorang hamba kepada Allah bukan hanya akan terlihat dari bagaimana ia memelihara hubungan baik denganNya, tetapi juga bagaimana memelihara hubungan baik dengan sesama manusia. Santun dalam berbicara, bijak dalam membuat keputusan, dan adil dalam membuat penilaian, merupakan di antara wujudnya.

Namun demikian, manusia kadang lupa terhadap ilmu yang telah disapih bertahun-tahun. Ilmu kadang dijadikan kotak pemisah dirinya dengan orang banyak, sehingga tidak memberi manfaat bagi perbaikan umat. Yang lebih parah, ilmu dijadikan lambang keangkuhan. 

An-Nawawi rahimahullah mengingatkan bahwa sungguh tercela orang yang menuntut ilmu karena menginginkan dunia seperti harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, supaya orang lain cenderung kepadanya, untuk mengalahkan lawan debat dan tujuan semacamnya.

Wallahu A'lam

Apabila Langit Terbelah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuh mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah dan mencatat pekerjaan-pekerjaanmu itu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan,

dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.

Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu ?

Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?

Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.

Al Infithaar : 1 - 19

Surat Al Infithaar ini menggambarkan kejadian-kejadian pada hari kiamat, dan menerangkan keingkaran manusia kepada karunia Allah dan bahwa segala amal perbuatan mereka itu akan mendapat pembalasan. Surat ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah dan diturunkan sesudah surat An Naazi'aat. Al Infithaar yang dijadikan nama untuk surat ini adalah kata asal dari kata Infatharat (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama.

Pokok-pokok isinya :

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat; peringatan kepada manusia agar tidak terpedaya sehingga durhaka kepada Allah; adanya malaikat yang selalu menjaga dan mencatat segala amal perbuatan manusia; pada hari kiamat manusia tak dapat menolong orang lain; hanya kekuasaan Allah-lah yang berlaku pada waktu itu.

Bahaya Meng - Adu Domba

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba” (HR. Muslim).

Sudah sejak daman dahulu kala banyak hal yang akan digunakan oleh orang seseorang dalam rangka untuk mencari keuntungan diri sendiri. mulai cara yang sedikit kotor hingga yang benar - benar jorok dan kotor dan berlebihan termasuk dengan cara mengadu domba antara satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. 

Akibatnya timbul perpecahan antar anggota keluarga, sanak saudara, atau masyarakat dalam satu kampung atau bahkan dalam suatu satu negeri. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh mereka baik pihak perseorangan maupun kelompok yang menginginkan orang lain lemah baik secara fisik , mental maupun materi.

Cara seperti ini banyak digunakan kaum penjajah di masa lampau dan bahkan masa sekarang untuk merebut suatu negeri / kekuasaan atau hasil alam negeri tersebut.

Dalam Kitab Durratun Nasihin juga diingatkan bagaimana bahayanya adu domba. Sebagaimana dikisahkan, seorang budak mendatangi isteri tuannya seraya mengatakan bahwa suaminya tidak menyukainya. Agar disukai, ia disuruh untuk mencukur jenggot suaminya tatkala tertidur. Setelah itu si budak mendatangi si tuannya seraya memberitahukan bahwa isterinya akan membunuhnya tatkala ia tertidur. Kalau tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, disuruh berpura-pura tidur.

Ternyata isteri tuannya benar-benar melaksanakan usul si budak sewaktu suaminya sedang tidur. Lantas suaminya yang sedang berpura-pura tidur merebut pisau yang sedang dipegang isterinya dan membunuhnya. Tak menerima perlakuan tersebut, keluarga isterinya lantas membunuh si suami tersebut. Lantas terjadilah bunuh-membunuh antar keluarga suami dan keluarga isteri.

Dari kisah tersebut dapat difahami betapa berbahayanya adu domba. Sebagai orang mukmin, apalagi di alam kemerdekaan, kita jangan sampai mewarisi siasat kaum penjajah. Bila mewarisi tukang adu domba, sama artinya dengan menuruti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diharamkan masuk surga.

Wallahu A'lam

Sumber Aceh Tribun News

PERISTIWA BESAR PADA HARI KIAMAT

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Surat At Takwir terdiri atas 29 ayat dan termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Masadd. Kata At Takwir (terbelah) yang menjadi nama bagi surat ini adalah dari kata asal (mashdar) dari kata kerja kuwwirat (digulung) yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya :

Kegoncangan-kegoncangan yang terjadi pada hari kiamat; pada hari kiamat setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya waktu di dunia; Al Quran adalah firman Allah yang disampaikan oleh Jibril a.s.; penegasan atas kenabian Muhammad s.a.w.; Al Quran sumber petunjuk bagi umat manusia yang menginginkan hidup lurus; suksesnya manusia dalam mencapai kehidupan yang lurus itu tergantung kepada taufiq dari Allah.

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap

dan apabila ruh-ruh dipertemukan dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,

dan apabila catatan-catatan amal perbuatan manusia dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila syurga didekatkan,

maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,

sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.

Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.

Dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,

maka ke manakah kamu akan pergi ?

Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus

Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam

At Takwiir : 1 - 29

7 (Tujuh) Sifat Orang Mukmin

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Surat Al Mu'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai Al Mu'minuun, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu sebagaimana ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad yang juga mustinya dimiliki oleh umatnya.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu 1. orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan 2. orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan 3. orang-orang yang menunaikan zakat, dan 4. orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. 5. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan 6. janjinya. 7. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah para ahli waris yakni orang - orang yang akan mewarisi syurga Firdaus Mereka kekal di dalamnya. Al Mu'minuun : 1 - 11

secara garis besar pokok-pokok isi dari surah Al Mu'minuun

1. Keimanan:
Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat; Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

2. Hukum-hukum:
Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya; rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik; pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda-beda.

3. Kisah-kisah:
Kisah Nuh a.s.; kisah Hud a.s. kisah Musa a.s. dan Harun a.s.; kisah Isa a.s.

4. Dan lain-lain:
Tujuh perkara yang harus dipenuhi, oleh seorang mukmin yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat; proses kejadian manusia; tanda-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan; nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri. 

Berikanlah Upah Kepada Pekerja

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar

Allah telah berfirman : “Ada tiga jenis manusia di mana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat.

Pertama adalah orang yang telah membuat janji akan memberi atas nama-Ku, kemudian tidak memenuhinya.

Kedua, orang yang menjual manusia bebas, lalu memakan uangnya.

Ketiga, orang yang menyewakan seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya” (HR. Imam Bukhari).

Bagaimana perasaan diri kita sendiri bila setelah lelah bekerja seharian, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan, tetapi upahnya tak dibayar ? 

Tentunya sungguh sangat menyakitkan. 

Apalagi pekerjaan yang tak dibayar upahnya itu, satu-satunya sumber nafkah bagi penghidupan keluarga. Wajar sekali kalau orang-orang yang berkhianat tak mau membayar upah para pekerja sebagaimana mestinya, dimusuhi manusia, juga dimusuhi Allah.

Dalam suatu hadits, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan orang-orang yang tak mau membayar upah sebagai orang-orang zalim. Menundanya pun, di saat mampu membayarnya, termasuk kezaliman. Apalagi perbuatan menunda tersebut telah menunda kebutuhan banyak orang.

Dalam Alquran disebutkan, orang-orang yang suka berbuat zalim termasuk orang yang tidak akan mendapat hidayah Allah.

Rasulullah tidak ingin umatnya menjadi korban teraniaya atau menjadi penganiaya, terutama melalui jalur upah. Karena itu, beliau menyuruh untuk membayar upah pada waktunya. 

Sebagaimana sabdanya, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” Apalagi doa-doa orang-orang yang teraniaya, termasuk yang tidak dibayar upahnya, demikian mudah dikabulkan Allah.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About