Cercalah Dirimu Sendiri

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu” (QS. Ibrahim: 22).

Ayat di atas adalah suatu pengakuan setan yang dengan jelas sekali diungkapkan dalam kitab suci Alquran. Di akhirat kelak, makhluk yang telah dilaknat sejak masa Nabi Adam ‘alaihissalam itu akan mengakui sejujurnya bahwa sebenarnya mereka tak punya kekuatan untuk menjerumuskan manusia, selain hanya sekedar mengajak manusia ke jalan yang sesat.

Meskipun demikian, terbukti ajakan setan banyak diikuti manusia di mana-mana, tak terkecuali di tempat-tempat ibadah. Penerimaan ajakan ini menunjukkan manusia bisa mengalami kesadaran palsu sewaktu-waktu. Seakan-akan apa yang bersifat dilarang Allah, menyenangkan hati; sedangkan apa yang disuruhNya, memberatkan hati. Manusia bukan tidak sadar ketika mengambil hak orang lain, misalnya, tetapi tidak memiliki kesadaran untuk menyadari tentang kesadaran palsunya. Kesadaran inilah yang mengantar kita untuk benar-benar mengenali lagi dampak baik dan dampak buruk dari setiap perbuatan yang dilakukan.

Sejatinya, bila setan akan mengakui kesalahan dan ketidakberdayaannya, manusia yang menjadi target dari upaya penyesatannya menghindari diri dari mengikuti langkah-langkah setan. Bagi yang terlanjur terjerumus, sepatutnya berhenti. Apalagi sebenarnya ajakan setan dari segala penjuru itu berpeluang gagal, karena pilihannya ada pada manusia: menurutinya atau menolaknya. Apalagi dalam Alquran juga telah diingatkan, 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar” (QS. An-Nuur: 21).

Bacakanlah Kitab Tuhanmu Al Quran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;

Al Kahfi : 27 - 31

Tafsir Jalalain

027. (Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Rabb-Mu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan mendapatkan perlindungan selain perlindungan-Nya).

028. (Dan bersabarlah kamu) tahanlah dirimu (bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap) melalui ibadah mereka itu (keridaan-Nya) keridaan Allah swt., bukannya karena mengharapkan sesuatu daripada kebendaan duniawi sekali pun mereka adalah orang-orang miskin (dan janganlah berpaling) jangan kamu memalingkan (kedua matamu dari mereka) (karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami) maksudnya dilalaikan hatinya daripada Alquran, dan orang yang dimaksud adalah Uyaynah bin Hishn dan teman-temannya (serta memperturuti hawa nafsunya) yaitu melakukan perbuatan yang memusyrikkan (dan adalah keadaannya itu melewati batas) terlalu berlebih-lebihan.

029. (Dan katakanlah) kepadanya dan kepada teman-temannya, bahwa Alquran ini (adalah benar datang dari Rabb kalian, maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir). Kalimat ayat ini merupakan ancaman buat mereka. (Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu) yaitu bagi orang-orang kafir (neraka, yang gejolaknya mengepung mereka) yang melahap apa saja yang dikepungnya. (Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih) seperti minyak yang mendidih (yang menghanguskan muka) karena panasnya, jika seseorang mendekat kepadanya (seburuk-buruk minuman) adalah minuman itu (dan ia adalah sejelek-jelek) yakni neraka itu (tempat istirahat). Lafal Murtafaqan sebagai lawan makna yang telah disebutkan di dalam ayat yang lain sehubungan dengan gambaran surga, yaitu firman-Nya, "Dan surga itu adalah tempat istirahat yang paling indah" (Q.S, 18 Al-Kahfi, 31). Jika tidak diartikan demikian, maka tidaklah pantas neraka dikatakan sebagai tempat istirahat.

030. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang- orang yang mengerjakan amalnya dengan baik) Jumlah kalimat "Innaa Laa Nudhii'u" berkedudukan menjadi Khabar daripada "Innal Ladziina". Di dalam ungkapan ini terkandung pengertian meletakkan isim Zhahir pada tempat isim Mudhmar; makna yang dimaksud adalah Ajrahum atau pahalanya. Atau dengan kata lain, Kami akan memberi pahala kepada mereka sesuai dengan amal baik mereka.

031. (Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka surga Adn) sebagai tempat tinggal mereka (mengalir sungai-sungai di bawahnya. Dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang) menurut suatu pendapat disebutkan, bahwa huruf Min di sini adalah Zaidah dan menurut pendapat yang lain dikatakan pula bahwa itu mengandung makna Tab'idh atau sebagian. Lafal Asaawira adalah bentuk jamak dari lafal Aswiratun yang wazannya sama dengan lafal Ahmiratun, dan lafal Aswiratun ini pun adalah bentuk jamak dari kata tunggal Siwaarun (emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus) sutra yang paling halus (dan sutra tebal) sutra yang paling tebal. Di dalam surah Ar-Rahman disebutkan, "Yang sebelah dalamnya dari sutra yang tebal." (Q.S. Ar-Rahman 54). (Sedangkan mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan) lafal Araaiki adalah bentuk jamak dari kata Ariikah, yaitu pelaminan yang dihiasi dengan berbagai macam pakaian dan kelambu buat pengantin. (Itulah sebaik-baik pahala) yaitu surga (dan tempat istirahat yang paling indah).

Wallahu A'lam

Apa Urusanmu Dengan Saya

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Urus dirimu sendiri, seperti apa yang harusnya kamu lakukan !!  kejahatan orang lain bukanlah tanggung jawab kita, Dakwahi Diri Sendiri dulu, Baru Orang Lain. Urus dulu keluarga sendiri baru orang lain. Demikianlah ungkapan yang berkembang di tengah umat. “..Benahi diri sendiri dulu, baru orang lain.. benahi keluarga sendiri dulu, baru keluarga orang lain..” seolah menjadi patokan untuk menilai seorang da’i. Mereka berkeyakinan, bahwa sebelum membenahi keluarga dan diri sendiri, maka tidak patut seseorang itu memperbaiki orang lain atau keluarga lain. Tidak ada tanggung jawab terhadap kerusakan orang lain selama diri sendiri masih rusak. Sebagian mereka bahkan merasa tidak bertanggungjawab atas dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, bahwa kerusakan serta kejahatan orang lain bukanlah tanggungjawab mereka.

Demikianlah kaum muslimin diselewengkan oleh syetan. Padahal alim ulama menjelaskan, bahwa berdasarkan Al Qur’an, ada lima tugas yang diemban oleh setiap diri umat Muhammad SAW, yaitu:

1. Tanggungjawab atas diri sendiri, firman Allah, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim 6) Setiap manusia dituntut untuk memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan keimanan serta ketaatannya kepada Allah, agar terhindar dari api neraka.

2. Tanggung jawab Keluarga. Firman Allah. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim 6) Selain diri sendiri, seorang mukmin juga bertanggungjawab menjauhkan keluarganya dari murka Allah, dan membawa mereka kepada ridha-Nya.

3. Tanggung jawab atas kaum kerabat dan sahabat dekat. Allah berfirman, “Dan peringatilah keluargamu dan kaum kerabatmu.” (QS. Asy syu’ara 214) Setiap mukmin bertanggungjawab untuk mengajak kaum kerabat dan saudara-saudaranya mentaati Allah.

4. Tanggungjawab atas sesama muslim di daerah. Allah berfirman, “Dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) “ibu negeri” (Mekkah) dan (orang-orang)yang di luar lingkungannya.” (QS. Al-An’am 92) Setiap mukmin pun dituntut utuk memberi peringatan dan menyampaikan agama kepada penduduk di sekitarnya dan di luar lingkungannya.

5. Tanggungjawab seluruh manusia. Firman Allah. “Kalian sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran 110)

Terakhir adalah tanggung jawab sebagai Khoiru Umat, yaitu sebaik-baik umat yang dipilih oleh Allah untuk menemui manusia untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menyelamatkan mereka dari murka Allah Ta’ala.

Kelima tanggungjawab tersebut adalah tanggung jawab setiap muslim, dan untuk menunaikannya tidak terikat, oleh salah satu diantara yang lima tersebut. Ketidak sempurnaan pada diri tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap keluarga. Dan ketidak sempurnaan pada keluarga tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap kaum kerabat. Dan ketidaksempurnaan terhadap kaum kerabat, tidak menghapuskan kewajiban seseorang beramar ma’ruf terhadap sesama muslim lainnya, demikian seterusnya.

Adalah keliru, jika seseorang menyaksikan kemungkaran di hadapannya, kemudian dia tidak mencegah dengan alasan bahwa ia atau keluarganya belum sepenuhnya baik. Tidak demikian. Ia tetap dituntut meramar ma’ruf nahi mungkar jika kesempatan itu ada di hadapannya, meskipun ia belum sepenuhnya baik.

Hal ini telah banyak dijelaskan melalui perjalanan Nabi SAW, beliau tidak membatasi dakwahnya kepada orang lain. Ketika ahli keluarganya sendiri, yaitu kaum Quraisy dan Bani Hasyim justru menolak ajakan beliau terhadap Isklam. Beliau terus mendakwahi manusia, orang terdekat maupun jauh, meskipun paman-pamannya, kaum kerabatnya, dan orang sekitarnya justru menolak ajakan beliau saw.

Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika Nabi saw mogok dakwah hanya karena beralasan akan mengurusi keluarganya dulu yang belun menerima Islam? Atau mengurusi kaum Quraisy dulu dan meninggalkan kaum yang lainnya? Tentu Islam tidak akan berkembang. Bisa jadi Islam hanya sampai pada diri Nabi saw saja. Dan kita sendiri tidak akan mengenal Islam.

Demikian juga untuk menyampaikan kebenaran Islam, seseorang tidak mesti menunggu dirinya menjadi baik, atau menunggu keluarga mejadi baik, atau kamu menjadi baik. Kapanpun seseorang berkesempatan untuk menjalankan dakwah ilallah maka pada saat itu ia mesti menyampaikannya.

Dari Anas ra., bahwa Rasulullah saw bersabda “Laa Ilaaha Illallaah selalu bermanfaat bagi siapapun yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya “. Sahabat bertanya “ya Rasulullah apakah yang dimaksud dengan mengabaikan hak-haknya?” jawab beliau,”kemaksiatan kepada Allah yang dilakukan secara terang terangan, tetapi tidak di ubah olehnya. (Al Ashbahani – At Tharghib)

Jika membenci kemaksiatan dengan hati adalah derajat terendah, maka tingkat yang utama adalah kesempurnaan dakwah sebagai kesempurnaan iman. Dari hadits diatas, dapat di ketahui bahwa meninggalnya amar ma’ruf nahi mungkar atau menunda nundanya akan menybabkan laknat dan murka Allah dan apabila umat Muhammad saw meninggalkan tugas ini maka mereka akan ditimpa berbagai musibah bencana kehinaan dan terjauh dari pertolongan Allah

Meninggalnya amar ma’ruf hanya karena kita belum mengamalkan yang ma’ruf tersebut, akan membuat yang ma’ruf tersebut semakin ditinggalkan oleh umat. Dan meninggalkan nahi mungkar hanya karena kita belum meninggalkan yang mungkar tersebut akan membuat kemungkaran tersebut semakin merajalela.

Untuk menegakkan dakwah maka tidak mesti memandang dulu bagaimana keluargana, bagaimana tetangganya, bagaimana orang kampungnya dan sebagainya. Kemudian ia menolak berdakwah karena ia merasa keluarganya belum benar , tetangganya belum benar, tetangganya belum benar dan sebagainya

Peringatan bagi para dai firman Allah

“Sangat besar murka kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” QS. Ash Shaff 3)

Adalah peringatan bagi dai yang sama sekali tidak berminat untuk mengamalkan apa yang di dakwahkan bukan bagi orang terhalang untuk mengamalkan apa yang di sampaikannya dan ayat tersebut bukan bermakna larangan untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Ketika diri sendiri belum bisa mengamalkan apa yang dia nasehatkan kerena suatu udzur ia tetap menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaaikan, ia tetap harus mengajak kepada sesuat yang bermanfaat bagi pelakunya da menjauhkan sesuatu yang berbahaya dari pelakunya.

Penekanan ayat diatas adalah kepada para dai agar intropeksi pada diri nya sendiri atas apa yang ia dakwahkan. Bukan seorang mad’u yang mengkritik seorang dai yang mengingatkannya. Bukan dalil bagi seorang murid untuk mengkritik gurunya, sehingga ia enggan menerima nasehat-nasehat kebaikan dari guru nya tersebut

Mendakwahkan suatu amalan yang belum kita amalkan dan kita tetap berniat dan berusaha untuk mengamalkannya, sedangkan amalan tersebut sangat penting untuk sampaikan maka tidaklah berdosa kita untuk menyampaikannya bahkan ia tetap di tuntut untuk menyampaikannya. Maka apakah berdosa jika seorang mengajarkan di majelisnya masalah haji sedangkan ia belum melaksanakan haji begitu juga dengan masalah zakat, waris mu’alamah nikah dan sebagainya.

Dari Anas ra. ia berkata, kami bertanya, “Ya Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW. bersabda, “Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.” (HR. Thabrani).

Inilah jalan hidup umat, Allah berfirman :

Katakanlah, Inilah jalan (hidup)ku, (yaitu) mengajak (manusia) kepada Allah di atas ketetapan hati, (sebagai tugas) aku dan orang-oang yang mengikutiku” (QS. Yusuf 108)

Wallahu A'lam

Shalat Mencegah Keji Dan Mungkar ....?

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Esensi shalat yaitu untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, akan tetapi kenyataan yang ada banyak diantara mereka yang shalat namun tetap saja mengerjakan kejahatan, kezaliman dan atau perbuatan tercela. Sebenarnya ribuan tafsir dan mungkin jutaan pandangan mengenai esensi shalat yang satu ini telah di bahas di berbagai tempat baik itu pengajian maupun majalah islami, atau majlis majlis taklim baik yang online maupun tidak. ada berbagai pendapat mengenai hal itu :

Tujuan sholat bagi diri seseorang itu agar dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar, maka apabila seseorang itu melakukan perbuatan keji dan mungkar artinya belum tercapai tujuan sholat itu. (orang itu belum dikatakan sholat). Seorang muslim tidak akan pernah merasa punya ruang atau waktu kosong tanpa pengawasan Allah, seperti yang telah dijelaskan dalam catatan Si Pulan

Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, jika ada orang  tetap melakukan kejahatan meskipun taat beribadah hal tersebut adalah wajar, karena perbuatan  pada dasarnya shalat dalam artian mengingat allah Subhanahu Wata'ala, tidak pernah terikat oleh tempat, waktu dan atau keadaaan dan sadar bahwa setiap perbuatan Allah Mengetahuinya. 

Firman Alllah Swt : Qs Al 'Ankabuut ayat 45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (٤٥

"bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa shalat (mengingat Allah)   ذِكْرُ اللَّهِ adalah lebih besar keutamaannya, serta ditambahkan lagi keterangan وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Umat Islam memang diwajibkan melakukan salat dengan menghadap kiblat yang dikerjakan pada waktu tertentu (subuh, dzuhur, ashar, magrib, isya') Tapi, Islam tidak menyuruh umatnya menyembah Ka'bah yang terbuat dari batu. Sebaliknya, umat Islam diwajibkan menyembah Allah yang tidak terikat dengan tempat, ruang, dan waktu, melainkan mengetahui semua tempat, ruang, dan waktu. Maka, seorang muslim yang benar-benar menghadap kiblat tidak akan pernah merasa punya ruang atau waktu kosong untuk melakukan keburukan, (shalat dalam arti selalu mengingat Allah).


Ada suatu kisah di suatu pondok pesantren yang menggambarkan dan atau mencontohkan seorang muslim yang lebih disayang oleh sang Kyai (pemimpin pesantren) bukan karena banyak nya Ilmu yang dimiliki dan atau lamanya dia mengabdi akan tetapi karena tingkat keimanan nya kepada Allah Swt (lebih lengkap baca Allah Maha Mengetahui)

Jika kita mau lebih mengerti tentang apa sebenarnya makna shalat serta menjalankannya niscaya tidak akan ada perbuatan keji dan mungkar. mau makan ingat Allah, mau tidur ingat allah, mau berangkat bekerja ingat allah, mau korupsi ingat allah, mau mencuri ingat allah, mau apapun selalu ingat allah. karena mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bagaimana shalatmu...? Bagaimana Dzikirmu....? Wallahu'alam

Baca Juga  Adab Qalbu Dalam Ibadah 

Bukan Berarti Diam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sangat menyenangkan hidup ini bila mampu merasa diri aman dari segala gangguan. Menyadari hal ini, banyak orang berusaha mencari tempat tinggal yang aman atau melengkapi diri dengan dengan berbagai alat pengamanan. Namun, yang demikian juga sebenarnya bukan kunci keamanan diri, bila belum mampu menyelamatkan diri dari gangguan diri sendiri.

Sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Rasulullah sallallu ‘alaihi wasallam, manusia sering tidak aman oleh lidahnya sendiri. Lidah bisa menjadi sumber banyak gangguan hidup manusia, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Kebanyakan kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya” (HR. Thabrani). Tak terbantahkan dalam kenyataan, lidah seringkali menjadi penyebab timbulnya sakit hati orang lain dan bahkan menjadi penyulut timbulnya perpecahan umat dalam skala besar. Tentunya, lidah yang dimaksud adalah yang dimiliki orang-orang yang tak (sepenuhnya) beriman kepada Allah.

Lidah orang-orang demikian digambarkan cenderung banyak dan gampang berbicara, tetapi sedikit atau bahkan tidak ada manfaatnya bagi kebaikan. Bila sedikit kebaikan, maka yang banyak adalah keburukan. Dalam ketiadaan kebaikan, yang ada adalah keburukan yang membahayakan. Sebab, keburukan adalah dosa, yang sebahagian balasannya ditimpakan di dunia.

Namun demikian, disebutkan dalam hadits bahwa menyelamatkan diri dari bahaya lidah bukan selamanya berarti diam. Bahkan, diam di saat penting berbicara juga merupakan tindakan berbahaya. Akan tetapi berbicara, asalkan mampu memastikan kebaikannya. Dengan cara demikian, insya Allah kita juga bisa mempertanggungjawabkan pemanfaatan lidah. 

Wallahu A'lam

Aku Memohon Kepada-Mu

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ya Allah, limpahkanlah malam-malam barakah kepada hamba-hamba-Mu. Malam dimana hamba-Mu senantiasa bersujud kepada-Mu, 

Malam dimana hamba-Mu menghadap-Mu dengan berharap ampunan dan ridho-Mu.

Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan hamba yang rendah, hina dan ketakutan, maafkanlah aku, sayangilah aku. Jadikan aku selalu rela dan puas dengan pemberian-Mu, 

selalu tunduk dan patuh kepada-Mu dalam segala keadaan.

Ya Allah, Ampunilah semua dosa yang telah kulakukan, semua kesalahan yang telah kuperbuat dan aku datang menghampiri-Mu dengan mengingat-Mu, 

aku memohon pertolongan Mu dan kemurahan-Mu, dekatkan aku keharibaan-Mu, 

sempatkan aku untuk bersyukur dan bimbinglah aku untuk selalu mengingat-Mu.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin

Waktu Shalat

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Shalat merupakan ibadah ummat Islam yang paling utama kepada Allah Subhanahu Wata'ala, Shalat adalah salah satu rukun Islam, Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab di hari akhir. Jika shalat seorang hamba itu baik, baik pula amal lainnya, dan demikian pula sebaliknya. Ada sejumlah ayat Al Quran yang berhubungan dengan waktu shalat salah satunya adalah Firman Allah Subhanahu Wata'ala Dalam Surah An Nisaa ayat 103 Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."dan surah Al Israa ayat 78 "Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."

Pada asalnya, cara menentukan waktu shalat adalah dengan melakukan observasi / pengamatan posisi matahari. Namun dengan kemajuan kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa melihat posisi matahari, manusia dapat mengetahui kapan datangnya waktu shalat lima waktu adalah sebagai berikut.

1. Zhuhur : Waktu zhuhur dimulai saat pertengahan hari, yaitu ketika matahari melewati garis meridian lingkaran besar langit yang menghubungkan utara dan selatan. Saat melewati garis meridian, ada tiga kemungkinan azimuth matahari dihitung dari arah utara. Pertama, azimuth matahari = 0 derajat, yaitu ketika matahari melewati garis meridian, posisinya di belahan langit utara. Kedua, azimuth = 180 derajat, ketika posisinya di belahan langit selatan. Ketiga, azimuthnya tidak dapat ditentukan, ketika posisinya benar-benar tepat di zenith atas kepala atau ketinggiannya tepat 90 derajat.. Untuk kemungkinan pertama dan kedua, sebuah benda memiliki panjang bayangan jika terkena sinar matahari. Adapun untuk kemungkinan ketiga, panjang bayangan sama dengan nol. Panjang bayangan saat datangnya waktu Zhuhur ini akan berpengaruh pula pada penentuan datangnya waktu shalat Ashar, karena waktu zhuhur berakhir saat datangnya waktu shalat ashar.

2. Ashar : ada dua pendapat mengenai kapan datangnya waktu shalat ashar. Ini berkaitan dengan bayangan benda yang ditegakkan di atas tanah. Menurut mazhab Syafii, waktu shalat ashar adalah ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda ditambah panjang bayangan saat Zhuhur. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, waktu shalat Ashar adalah ketika panjang bayangan sama dengan dua kali tinggi benda ditambah panjang bayangan saat Zhuhur. Waktu Ashar berakhir pada saat datangnya waktu shalat maghrib.

3. Maghrib : Waktu shalat maghrib dimulai saat matahari terbenam (sunset). Ketika matahari terbenam dimana posisinya di bawah ufuk, langit tidak langsung gelap. Hal ini disebabkan adanya atmosfer bumi yang membiaskan cahaya matahari. Karena itu, matahari harus tenggelam hingga belasan derajat di bawah ufuk supaya tidak ada lagi cahaya matahari yang dapat dibiaskan sehingga langit menjadi gelap. Waktu shalat maghrib berakhir saat datangnya waktu shalat Isya'.

4. Isya' : Waktu shalat Isya' dimulai saat langit gelap, atau berakhirnya mega merah (astronomical twilight) di langit barat. Waktu Isya' berakhir saat datangnya waktu shubuh.

5. Shubuh : Waktu shubuh dimulai ketika munculnya fajar (shidiq) atau cahaya secara merata di langit timur. Meskipun saat itu matahari masih belasan derajat di bawah ufuk, namun akibat pembiasan atmosfer cahaya matahari dapat dibiaskan sehingga langit tidak lagi gelap.

Diharapkan adanya landasan pemahaman yang kokoh jika suatu saat ditemui terjadinya perbedaan waktu jadwal shalat karena perbedaan waktu disuatu tempat dan atau perbedaan mazhab, janganlah lantas hal tersebut kemudian menjadikan perpecahan diantara umat, khususnya umat islam. 

Wallahu A'lam

Janganlah kamu menzaliminya

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Sungguh menyejukkan kata-kata yang disampaikan Rasulullah SAW tentang persaudaraan. Bukan hanya sebatas kata-kata indah, Rasulullah juga membina persaudaraan dalam kehidupan nyata semasa hidupnya, baik dengan sesama saudara seiman maupun yang bukan.

Begitu keras juga larangannya melakukan hal-hal yang merusak persaudaraan. Nabi SAW memperingatkan, “Setiap muslim atas muslim yang lain, haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Namun sayangnya, pesan-pesan itu bagaikan kehilangan makna saat ini, akibat ulah diri kita sendiri yang tega tidak menghargai pesan dan perjuangan Rasulullah.

Buktinya, dengan saudara seiman pun kadangkala suka menzalimi, menghina, merendahkan, dan sejenisnya. Hanya gara-gara pemilihan pemimpin, harta dan nyawa saudara seiman direnggut paksa dan martabatnya diinjak-injak. Padahal tujuan pemilihan pemimpin itu sebenarnya untuk membantu mewujudkan tatanan hidup manusia, tetapi mengapa dalam prosesnya malah menimbulkan keburukan terhadap sesama manusia.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa kita perlu berpikir kembali tentang bagaimana memaknai sekaligus memupuk persaudaraan. Tidak akan ada orang lain yang akan bersungguh-sungguh memikirkan nasib persaudaraan kita, kecuali kita sendiri. Apalagi persaudaraan adalah kekuatan umat yang penting, baik untuk pertahanan diri sendiri maupun pertahanan umat.

Semoga kita terketuk untuk memulai niat baru dengan cara bahu-membahu untuk menjadi hamba-hamba yang bersaudara. "Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan seorang Muslim yang lain. Janganlah kamu menzaliminya, jangan pula menghinanya dan juga jangan merendahkan mereka” (HR. Imam Muslim).

Madinah Al Munawwarah

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Madinah atau Madinah Al Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه, (juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.

Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. 

Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.

Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi. Dari sektor ekonomi, terdapat sektor pertanian dan perkebunan terlebih perkebunan kurma yang sudah dikenal sejak masa lampau, peternakan selayaknya penduduk Arab serta perdagangan ditambah dengan sektor jasa terutama jasa pelayanan para peziarah di antaranya adalah usaha perhotelan dan penginapan.

Selain dikenal sebagai kota pusat perkembangan Islam. Madinah juga merupakan pusat dari pendidikan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Juga banyak ulama-ulama dan Cendekiawan Islam yang muncul dari Madinah di antaranya adalah Imam Malik. Saat ini di Madinah terdapat berbagai Jami'ah (Universitas) dan perguruan perguruan tinggi Islam lainnya.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About