Mendaki Tebing Yang Terjal

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Saat mendaki kadang menemui tebing yang terjal, dan saat menurun berjumpa dengan lubang-lubang yang menganga. Kiri-kanan jalan pun bisa berupa sawah yang membentang atau jurang yang curam. Hidup itu selalu berhadapan dengan tantangan, besar atau kecil, mudah atau sulit. Perjalanan sebuah organisasi tak ubahnya seperti perjalanan hidup manusia, juga mengalami pasang surut dan berhadapan dengan rintangan dan tantangan.

Tantangan dan rintangan itu sejatinya adalah ujian sekaligus peluang untuk meningkatkan kapasitas personal dan komunal. “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut : 3) Bahwa ujian itu selalu ada dan terjadi. Kadang berbuah kesyukuran, kadang juga berbuah kekufuran. Saat berhadapan dengan ujian, ada yang mampu bersabar, yaitu Ash Shadiqin (orang-orang yang benar). Ada yang tidak mampu bersabar saat berhadapan dengan bala` dan tidak mampu bersyukur ketika memperoleh nikmat.

Tsabat bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan tsabat bagai benteng bagi pemimpin dan orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Ia sebagai daya tahan yang melahirkan sikap pantang menyerah. Tsabat itu ketahanan diri dalam menghadapi berbagai hal yang merintanginya, hingga organisasinya mampu meraih cita-cita dan merealisasikan tujuan-tujuannya. Dalam tsabat ada kemuliaan karena adanya konsistensi pada prinsip yang diyakininya serta tidak larut bersama arus.

Tsabat itu berarti senantiasa bekerja dan berjuang, menempuh perjalanan yang amat panjang sampai batas akhir terminal kehidupan, dengan kemenangan di dunia ataupun gugur di medan laga. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya”. (QS. Al Ahzab : 23).

Tantangan yang berkesinambungan berupa faktor-faktor internal maupun eksternal. Faktor eksternal adalah pihak-pihak luar yang tidak menginginkan organisasi tersebut tumbuh dan berkembang. Mereka berupaya untuk memangkas pertumbuhannya atau mematikannya. Sebab dengan tumbuhnya organisasi itu akan bertabrakan dengan kepentingannya. Adapun tantangan internal berupa sikap, perilaku, moral yang dimiliki para anggota atau kebijakan-kebijakan internal organisasi itu yang menyimpang dari idealitas.

Rasulullah Shallaallahu `Alaihi Wa sallama pernah mendapat tawaran menggiurkan dengan syarat meninggalkan dakwah yang beliau tekuni. Imbalannya cukup besar; kekuasaan, kekayaan atau wanita. Tetapi dengan tegar beliau menolak dan membaca firman Allah, “Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan…”. (QS. Fushilat : 1- sampai dengan ayat 13).

Pada perang Tabuk ada palajaran berharga tentang tsabat ini. Perang Tabuk atau dikenal juga dengan ghazwa al `usrah (peperangan sulit) adalah ujian bagi kaum muslimin. Yang beriman dipastikan turut serta dalam peperangan itu, sementara orang-orang munafik dipastikan tidak turut serta. Tapi ada tiga orang mukmin, dikarenakan udzur, tidak turut dalam peperangan yang tejadi di bulan Rajab tahun ke-9 hijriyah itu, yaitu Ka`ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi`.

Karena absen dari peperangan, Rasulullah menjatuhkan sanksi. Ka`ab dan dua sahabatnya dikucilkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Bahkan istri-istri mereka juga tidak menegur. Hukuman itu berlangsung sekitar 50 hari. Sanksi itu dirasa berat oleh ketiga sahabat itu hingga bumi yang luas terasa sempit. Ka`ab bin Malik bercerita, di saat merasakan pedihnya sanksi itu, datang utusan Raja Ghassan membawa surat untuknya. Surat itu sebagai bentuk solidaritas dari Raja Ghassan untuk Ka`ab dan teman-temannya yang tengah menjalani hukuman. Dalam suratnya Ghassan memberi tawaran kepada Ka`ab untuk meninggalkan Muhammad dan para sahabatnya, Ka`ab akan diberi kedudukan terhormat. Setelah membaca surat itu Ka`ab berkomentar, “Wa hadza aidlan min al bala`’, tawaran ini adalah musibah dan ujian juga. Ka`ab menolak, meskipun ia terbebani sanksi, godaan dan tawaran dari Raja Ghassan tidak mampu melunturkan keteguhan Ka`ab untuk tetap setia kepada Nabi Muhammad -shalla Allahu `alaihi wa sallama- dan kaumnya.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Taubah : 118)

Pada masa khalifah Al Ma`mun terjadi fitnah khalqu al Quran (Al Quran sebagai makhluk). Imam Ahmad bin Hambal sangat tegar menghadapi ujian tersebut dengan tegas ia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk sebagaimana yang diinginkan Khalifah. Dengan tuduhan sesat dan menyesatkan kaum muslimin, Imam Ahmad bin Hambal menerima hukuman penjara dan cambuk. Salah satu murid beliau datang dan meminta kepada sang Imam untuk menuruti saja apa yang diinginkan oleh khalifah. Imam Ahmad menjawab, “Lihatlah di luar! Masyarakat membawa kertas dan pena, mereka menanti apa jawabanku kemudian mereka akan menulisnya. (Bila aku katakan demikian), diriku selamat tapi aku membuat mereka tersesat.”

Namun tidak sedikit orang yang kendur daya tahannya. Ada yang berguguran karena tekanan materi. Tergoda oleh rayuan harta benda, membuatnya berani mengkhianati hati nurani dan cita-cita organisasi. Bahkan ia akhirnya sangat haus dan rakus pada harta benda duniawi yang fana ini. Dan ia jadikan harta benda itu sebagai tuhannya. Ada pula yang rontok daya juangnya karena tekanan keluarga. Keluarganya menghendaki sikap hidup yang berbeda dengan nilai dan keyakinannya. Ada juga yang tidak tahan karena tekanan politik yang sangat keras.

Oleh karena itu sikap tsabat mesti berlandaskan istiqamah pada petunjuk- petunjuk suci (al istiqamah `ala al huda). Berpegang teguh pada ketaqwaan dan kebenaran hakiki, tidak mudah terbujuk oleh bisikan nafsu dan tekanan orang lain. Sehingga diri kukuh untuk memegang janji dan komitmen pada nilai-nilai kesucian. Ia tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk menyimpang.

Tsabat melahirkan keberanian menghadapi realita hidup. Ia tidak cengeng dengan beragam persoalan. Malah ia mampu mengendalikan permasalahan. “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu menghadapi satu pasukan maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. Al Anfal : 45).

Al Buhturi dalam baris syairnya mengungkapkan bahwa jiwa yang berani akan siap menghadapi resiko apapun dan akan tetap tegar berdiri di atas keyakinannya, ‘nafsun tudhi’u wa himmatun tatawaqqadu, jiwa yang menerangi dan cita-cita yang menggelora’. Sebab jiwa yang semacam itu menjadi bukti bahwa ia benar dalam mengarungi bahtera hidupnya.

Tsabat mengantarkan pada ketenangan hati. Ketenangan hati menumbuhkan kepercayaan. Kepercayaan menjadi modal utama dalam berinteraksi dengan banyak kalangan. Karena itu sikap tsabat menjadi cermin kepribadian. Dan cermin itu berada pada bagaimana sikap dan jiwanya dalam menjalani arah hidupnya, juga bagaimana ia menyelesaikan masalah-masalahnya.

Semua orang sangat membutuhkan cermin untuk memperbaiki dirinya. Dari cermin kita dapat mengarahkan sikap salah kepada sikap yang benar. Dan cermin amat membantu untuk mempermudah menemukan kelemahan diri sehingga dengan cepat mudah diperbaikinya. Rasulullah –Shalla Allahu `alaihi wa sallama- mendudukan peran seorang mukmin bagi cermin bagi mukmin lainnya.

Tsabat adalah cermin diri. Karena tsabat dapat menjadi mesin penggerak jiwa-jiwa yang rapuh. Ia dapat mengokohkannya. Tidak sedikit orang yang jiwanya mati, tapi hidup kembali karena mendapatkan energi dari ketsabatan seseorang. Ia bagai inspirasi yang mengalirkan udara segar terhadap jiwa yang limbung menghadapi segala kepahitan. Seorang ulama mengingatkan, “Berapa banyak orang yang jiwanya mati kemudian menjadi hidup, dan jiwa yang hidup menjadi layu karena daya tahan yang dimiliki seseorang”. Dan disitulah fungsi dan peran tsabat.

Setiap kesuksesan dan kejayaan memerlukan sikap tsabat dan istiqamah dalam mengarungi aneka ragam bentuk kehidupan. Tentu tidak akan ada kesuksesan dan kejayaan secara cuma-cuma. Ia hanya akan dapat dicapai manakala kita memiliki prasyaratnya. Yakni sikap tetap istiqamah menjalani hidup ini. Keteguhan hati merupakan benteng yang sesungguhnya. Bagi yang memperkokoh bentengnya niscaya ia tidak akan mudah goyah oleh badai sekencang apapun.

Kegemilangan organisasi hanya dapat diraih oleh sikap konsisten terhadap prinsip. Tidak mudah larut oleh desakan kepentingan yang mengarah pada kecenderungan duniawi. Tanpa sikap tsabat, akan mudah terseret pada putaran kehancuran dan kerugian dunia dan akhirat. “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat hatimu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di dunia ini dan begitu pula siksaan berlipat pula sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami”. (QS. Al Isra’ : 73 – 75). Sikap ini menjadi daya tahan terhadap tantangan apapun dan dari sanalah ia mencapai kejayaannya. Sebagaimana yang diingatkan Rasulullah -shalla Allahu `alaihi wa sallama- pada Khabab bin Al ‘Arts agar tetap bersabar dan berjiwa tegar menghadapi ujian, bukan dengan sikap yang tergesa-gesa. Apalagi dengan sikap yang menginginkan hidup ini tanpa hambatan dan sumbatan.

Untuk mencapai sasaran hidup yang dikehendaki tidak ada jalan lain kecuali dengan bermodal tsabat. Teguh meniti jalan yang sedang dilaluinya, meskipun perlahan-lahan. Dalam dunia fabel dikisahkan kura-kura dapat mengalahkan kancil mencapai suatu tempat. Kura-kura meski jalan pelan-pelan namun akhirnya menghantarkan dirinya pada tempat yang dituju.

Imam ‘Athaillah al Sakandary menasehati muridnya untuk selalu tekun dalam berbuat agar meraih harapannya dan tidak cepat lelah atau putus asa untuk mendapatkan hasilnya. ‘Barang siapa yang menggali sumur lalu berpindah pada tempat yang lain untuk menggali lagi dan seterusnya berpindah lagi maka selamanya ia tidak akan menemukan air dari lobang yang ia gali. Tapi bila kamu telah menggali lobang galilah terus hingga kamu dapatkan air darinya meski amat melelahkan’. Karenanya ketekunan dan ketelatenan menjdi alat bantu untuk mencapai cita-cita dan harapan yang dikehendakinya. Dan kedua hal itu merupakan pancaran sikap tsabat seseorang.

“Duhai pemilik hati, wahai pembolak balik jiwa, teguhkanlah hati dan jiwa kami untuk senantiasa berpegang teguh pada agama-Mu dan ketaatan di jalan-Mu”

Ikadi

Ikhwan Ash Shafa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ikhwan As-Shafa (اخوان الصفا) Persaudaraan Kemurnian adalah sebuah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basra, Irak -yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah di sekitar abad ke-10 Masehi. Ajaran dan filosofi mereka dijelaskan secara terperinci dalam Ensiklopedia Ikhwan As-Shafa. Banyak cendekiawan Barat dan Islam yang berusaha menyelidiki identitas dari anggota persaudaraan ini, dan kapan mereka aktif.

Ikhwan as-Shafa adalah kumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Kumpulan ini berkembang pada abad ke dua Hijriah di kota Basrah, Iraq. Ikhwan as-Shafa (Brethren of Purity atau The Pure Brethen) adalah nama sekelompok pemikir Muslim rahasia (filosofi-religius) berasal dari sekte Syiah Ismailiyyah yang lahir di tengah-tengah komuniti Sunni sekitar abad ke-4 H/ 10M di Basrah. Tokoh terkemuka sebagai pelopor organisasi ini ialah Ahmad ibnu Abdullah, Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr Al-Busti yang terkenal dengan sebutan Al-Muqaddasi, Zaid ibnu Rifa’ah dan Abu Al-Hasan Ali ibnu Harun Al-Zanjany.

Konsep Pendidikan Ikhwan as-Shafa

Menurut Ikhwan as-Shafa, bahwa perumpamaan orang yang belum dididik dengan ilmu akidah, ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak akan mudah untuk dihilangkan. Organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empirik, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang dapat diketahui di alam ini. Dengan kata lain ilmu yang dihasilkan oleh pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan-bahan informasi yang dikirim oleh pancaindera.

Ikhwan as-Shafa memandang bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dicapai melalui dua cara :

Pertama, dengan cara mengunakan panca indera terhadap objek alam semesta yang bersifat empirik. Ilmu model ini berkaitan dengan tempat dan waktu.

Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Ilmu yang dicapai dengan cara yang kedua ini hanya dapat dicapai oleh manusia, dan tidak dapat dicapai oleh binatang.

Dengan cara yang kedua ini pula manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib. Selain itu Ikhwan as-Shafa menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan dengan cara ini manusia dapat memahami kalimat, bahasa, dan bacaan.

Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.

1. Klasifikasi Ilmu

Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme. Subdivisi pertama (psiko-rasionalisme) meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.

2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa

a. Cara Mendapatkan Ilmu

Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:

1) Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.

2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.

3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir. Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.

Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Pandangan ini lebih dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.

Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.

Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar (kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong).Modal itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh kemajuan teknologi informasi (internet).

Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.

b. Sosok Ideal Guru

Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.

Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:

1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.

2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.

3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.

4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.

3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama

Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.

Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.

Wallahu A'lam 

Dari berbagai sumber

JIL (Jaringan Islam Liberal)

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jaringan Islam Liberal adalah forum intelektual terbuka yang mendiskusikan dan menyebarkan liberalisme Islam di Indonesia. Forum ini bersekretariat di Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu no. 68 H, Jakarta, sebidang tanah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad. Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur an dan sunnah.



Tentang Jaringan Islam Liberal

1. Apa itu Islam liberal?

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

2. Mengapa disebut Islam Liberal?

Nama “Islam liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

3. Mengapa Jaringan Islam Liberal?

Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.

4. Apa misi JIL?

Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.

Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat.

Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

Sumber islamlib.com

Peniupan Sangkakala

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Ketika saatnya tiba yaitu pada hari kiamat, atas perintah Allah maka sangkakala akan ditiup oleh Israfil dalam tiga kala, yaitu tiupan :

Nafkhatul Faza' (Mengagetkan, menakutkan, menghancurkan),
Tiupan dahsyat yang pertama akan menggemparkan seluruh makhluk hidup. Allah memerintahkan Israfil memperpanjang tiupan itu tanpa berhenti. Maka gunung-gunung akan bergerak seperti awan, lalu luluh-lantak. Bumi berguncang hebat, penghuninya bagaikan anai-anai yang beterbangan, planet akan saling bertabrakan. Semua ciptaan-Nya di alam semesta hancur lebur.

Nafkhatus Sha'iq (Mematikan),
Jibril, Mikail, Israfil dan Hamalatul 'Arsy dimatikan oleh Allah. Malaikat terakhir yang dimatikan oleh Allah ialah 'Izrail sang Malaikat Maut. Sejak itu tak ada lagi yang hidup, kecuali Allah yang Maha Ahad, Maha Mengalahkan, Maha Sendiri, Tempat bergantung semua makhluk, Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir.

Nafkhatul Ba'ats/Qiyam (Menghidupkan kembali atau membangkitkan)
Miliaran manusia sejak Adam hingga manusia yang hidup terakhir kali saat alam semesta dihancurkan, mereka menunggu giliran diadili satu per satu di Padang Mahsyar, tak ada naungan dan perlindungan selain dari diri-Nya di hari itu. Menurut ajaran Islam lama waktu menunggu itu 50.000 tahun akhirat.

Jarak antara tiupan pertama dan selanjutnya dikatakan sejarak empat puluh tidak dijelaskan lebih rinci berupa sejumlah hari, bulan atau tahun.

Alam Baqa

Setelah kesemua alam semesta hancur dan makhluk mati, kemudian Allah menghidupkan kembali para makhluk-Nya untuk dikumpulkan dan diadili. Kesemua proses penciptaan sampai dengan penghancuran telah selesai, yang telah di tulis kesemuanya dalam Lauh Mahfuzh.

Yawm al-Qiyāmah

Yawm al-Qiyāmah ( يوم القيامة‎, Yawm al-Bats (يوم البث)) adalah "Hari Kebangkitan" seluruh makhluk dari kematian, dalam keadaan telanjang. Setelah kebangkitan selanjutnya akan memasuki fase kehidupan di mahsyar.


Yawm al-Mahsyar

Yaum al-Mahsyar (يومالمحشر,) adalah hari berkumpulnya seluruh makhluk dari awal zaman hingga akhir zaman, yang telah dibangkitkan dari mati / kuburnya, kemudian akan dihimpun ke Mahsyar. Pada masa ini orang akan sibuk dengan urusan masing-masing, menunggu keputusan yang seadil-adilnya. Masa Peradlian ini disebut sebagai Yawm al-Hisab ( يومالحسب‎) adalah perhitungan atau peradilan Tuhan yang sejati pada saat ini, segala amal ibadah dan dosa yang diperbuat semasa hidup di dunia. Berdasarkan Al-Qur'an surah Az Zumar, yang berbunyi:

“Dan terang benderanglah Bumi (padang mahsyar) dengan cahaya keadilan Tuhannya; dan diberikanlah buku perhitungan perbuatan masing-masing dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (Az Zumar 39:69) ”


Titian Jahannam

Selanjutnya akan diberangkatkan menuju jembatan yang menghubungkan Mahsyar dengan surga dan dibawah titian terdapat neraka. Bentuknya diyakini lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari mata pedang, untuk menyortir yang berhak masuk surga akan melewati jembatan tersebut dengan cepat atau lambat, sedangkan sebagian lagi akan jatuh kedasar neraka. Pada tahapan penyortiran inilah akhir dari perjalanan seorang makhluk, entah dia berada di surga atau neraka, kesemuanya berdasarkan amal perbuatan semasa hidupnya didunia. 

Wallahu A'lam

Eskatologi Dalam Islam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Eskatologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan setelah mati dialam akhirat dan al-Qiyāmah "Pengadilan Terakhir". Eskatologi sangat berhubungan dengan salah satu aqidah Islam, yaitu meyakini adanya hari akhir, kematian, kebangkitan (Yawm al-Qiyāmah), mahsyar, pengadilan akhir, surga, neraka, dan keputusan seluruh nasib umat manusia dan lainnya.

Umat muslim meyakini bahwa kehancuran dunia terjadi dimana orang-orang beriman sudah tidak ada lagi dimuka bumi, yang tersisa hanya orang-orang jahat yang kembali dalam kondisi zaman jahiliyah. Kemudian terjadinya hari kiamat tersebut dikatakan akan terjadi pada hari Jum'at. Kiamat dikatakan tidak akan terjadi sehingga tidak ada lagi manusia yang menyebut nama Allah.

Seperti agama Abrahamik lainnya, Islam mengajarkan tentang kebangkitan para makhluk yang telah mati, sebagai salah satu rencana penyelesaian dari semua penciptaan Tuhan dan kekekalan dari roh-roh para makhluk. Bagi orang yang beriman akan di hadiahkan oleh Allah sebuah Surga sementara bagi orang yang tidak beriman maka akan dihukum di masukan kedalam Neraka.
Fase kehidupan manusia dan jin

Dalam fase kehidupan, manusia dan jin telah dan akan melewati beberapa alam kehidupan, kemudian di dalam alam terakhir-lah yang dianggap sebagai kehidupan alam yang abadi (kekal). Menurut syariat Islam, alam tersebut di antaranya adalah:

Alam Ruh, alam dimana sebelum jasad manusia dan jin diciptakan.
Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan dimana kita meninggal.
Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.
Alam Kubur, alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Allah menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur.
Alam Akhirat, alam tempat pembalasan amal-amal seluruh makhluk-Nya, di alam ini Allah menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Bersambung Ke Tanda - Tanda Hari Penghakiman

Tanda-tanda Hari Penghakiman

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Pertanda hari kiamat telah di sampaikan oleh Muhammad sekitar 1400 tahun yang lalu, dibawah adalah pertanda hari penghakiman yang dikutip dari Harun Yahya dan lainnya, berdasarkan hadits shahih.

Diutus dan wafatnya Muhammad.
Terbelahnya bulan pada masa penyebaran Islam.
Api dari tanah Hijaz yang menerangi punuk-punuk unta.
Terhapusnya jizyah dan pajak.
Munculnya Khawarij.
Penggembala menjadi kaya.
Dicabutnya nikmat waktu, maka waktu berputar serasa lebih cepat.
Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria.
Baitul Maqdis dikuasai umat Islam.
Perang antara Yahudi dan Islam.
Jazirah Arab kembali penuh dengan kebun-kebun & sungai-sungai.
Sungai Efrat mengeluarkan bukit emas.

Banyak terjadi al Harj yaitu pembunuhan massal.
Penghancuran kota-kota besar oleh tangan manusia (akibat perang) dan peristiwa alamiah.
Kemiskinan akan bertambah dan tinginya biaya hidup
Keuntungan bagi kaum kaya tanpa ada sedikitpun keuntungan bagi kaum miskin,
Tidak meratanya kesejahteraan dan kemakmuran,
Kemiskinan dan kelaparan di Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Eropa Timur.

Kehancuran nilai moral
Perzinahan dilakukan secara terbuka dan bebas,
Bermacam-macam kejahatan sex,
Pornografi meluas,
Homosex dan lesbian merajalela dan dianggap hal yang biasa,
Pria berperilaku seperti wanita dan wanita berperilaku seperti pria.

Pengingkaran terhadap agama
Agama sebagai simbol atau tameng untuk kepentingan pribadi,
Umat Islam berlomba membangun memperindah mesjid dan membangga-banggakannya,
Umat Islam banyak membaca Al Qur'an tetapi tidak mengamalkannya dengan benar dan menentang hadist dan sunnah,
Kemusyrikan merajalela dikalangan umat Islam dan mempercayai ramalan rasi bintang,
Mengingkari qadar (takdir atau ketetapan Allah).

Kehancuran tatanan masyarakat / dominannya fitnah.
Disia-siakannya amanat / segala urusan ditangani oleh yang bukan ahlinya,
Menyebarnya riba dan harta haram,
Meningkatnya perceraian,
Banyak anak terlahir diluar nikah,
Kecurangan/ banyak penguasa dan polisi kezhaliman,
Suap menyuap hal yang biasa,
Kebohongan merajalela,
Ketergantungan pada obat bius dan minuman keras.

Ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berkembang pesat
Penyanyi wanita dan alat-alat musik menjadi populer dan musik dianggap hal biasa oleh umat Islam,
Orang berlomba-lomba membangun gedung-gedung pencakar langit,
Umur manusia lebih panjang karena meningkatnya sarana kesehatan,
Penelitian genetika manusia,
Segala sesuatu bisa dilakukan dalam waktu singkat dan lebih baik,
Orang bisa mendengarkan suaranya sendiri (rekaman lagu),
Teknologi komunikasi yang semua orang mengerti dalam bahasa masing-masing berupa media cetak, radio, televisi dan internet.

Pertanda besar

Tanda kiamat besar adalah perkara yang sangat besar yang muncul dimana kiamat sudah sangat dekat sekali, kemunculannya tidak biasa terjadi dan mayoritas tanda-tandanya belum muncul, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Hudzaifah bin Arsyad al-Ghifari berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad kepada kami lalu bertanya, “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?” Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat.” Muhammad bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda.

Kesepuluh tanda besar yang telah diucapkan oleh Muhammad adalah sebagai berikut:

Muncul dukhan (asap) yang menutupi bumi selama 40 hari,
Muncul Dajal,
Munculnya Dabbatul Ard yaitu monster melata dari perut bumi,
Matahari terbit dari sebelah barat,
Turunnya Nabi Isa,
Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
Tiga gerhana terjadi di Timur, Barat dan Jazirah Arab,
Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka yaitu Mahsyar.

Kemudian tanda-tanda yang lainnya adalah sebagai berikut :

Hari tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab akan dipimpin oleh seorang dari keturunan Muhammad dengan nama yang telah banyak dikenal dan dinanti "Al Mahdi Al Qoim, Al Muntazar"
Muncul angin yang lebih lembut dari sutera dari Yaman,
Hilangnya Islam, Al Qur'an dan musnahnya orang-orang shaleh,
Manusia kembali ke zaman jahiliah dan penyebahan berhala,
Penghancuran Ka'bah oleh Dzus-Suwaiqatayn,

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah sebagai berikut

Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.
Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.
Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

Bersambung Ke Peniupan Sangkakala 

Berjuang Menghadapi Kesulitan hidup

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Liku-liku kehidupan ini memang tidak bisa dikalkulasi , diprediksi dan atau direkayasa dengan hitungan matematis. Negeri yang katanya demikian makmur ini sedang terancam kekurangan sandang, pangan dan papan. Kegoncangan melanda di mana-mana. Musibah datang silih berganti. Kegelisahan menjadi selimut kehidupan yang tidak bisa ditanggalkan.

Mengapa kesulitan itu mesti ada ?

Sebuah pertanyaan yang mungkin kerapkali dilontarkan oleh sebagian orang yang akrab dengan kesulitan, seringkali hadir di hadapan manusia yang tentu tidak pernah menginginkannya, atau bahkan benci dengannya. Kesulitan bak tembok raksasa yang hadir menghimpit dan membatasi ruangnya untuk berkembang dan bergerak menuju sesuatu yang sedang diperjuangkan.

Atas segala sesuatu yang menyenangkan, manusia akan cenderung langsung berebut, tanpa terlebih dahulu berfikir tentang syarat untuk memperoleh kesenangan itu. Jika sudah bicara soal syarat-syarat, rata-rata akan segan untuk menerima, seolah-olah yang diinginkan hanyalah mendapat keuntungan tanpa menemui kesulitan apapun.

Manusia didesain oleh Allah untuk mampu berjuang menghadapi kesulitan. Banyak hal yang sebenarnya harus kita pahami dari kesulitan, memahami posisi kesulitan dalam kacamata yang benar, insya Allah akan meringankan kita dalam menyikapi kesulitan itu. "karena sesungguhnya sesudah kesulitan akan datang kemudahan"

Lantas bagaimana menyikapi kesulitan itu?

Ada empat sikap yang harus kita bangun dalam menyikapi pergulatan hidup yang penuh dengan kesulitan.

Pertama, kita harus menyadari bahwa realita hidup yang kita jalani adalah pergulatan menghadapi kesulitan. Siapapun orangnya, di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun, selama kita hidup pasti akan bertemu dengan berbagai macam kesulitan. Sebagian ada yang berhasil dan ada yang gagal melewatinya. Proses perjuangan untuk menaklukkkan kesulitan-kesulitan inilah yang kemudian disebut dengan hidup.

Kedua, kita harus menyadari bahwa kesulitan adalah milik semua orang, semua orang pasti akan menemui kesulitan dalam kehidupannya, semua orang akan mendapatkan jatah / agenda kesulitannya sendiri-sendiri. Hanya bentuk dan kadarnya saja yang berbeda-beda. Masing-masing kita mempunyai kelebihan dan kekurangan yang menjadi bukti bahwa hidup yang kita jalani berada di atas prinsip yang adil. Kita tidak perlu iri dengan kemudahan yang didapat oleh orang lain, apalagi harus berbangga diri dengan kesusahan yang menimpa orang lain.

Kesulitan adalah sunnatullah, hukum yang telah Allah tetapkan. Mau tidak mau, suka atau tidak, manusia pasti akan berhadapan dengan kesulitan, sebab ini semua telah Allah tetapkan sebagai bagian dari lika-liku kehidupan manusia.

Allah berfirman dalam Alqur’an: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah [2]: 155).

Kesulitan adalah untuk menguji kesabaran manusia, namun tidaklah bermuluk muluk jika dalam hidup ini kita memimpikan keadaan yang seutuhnya serba enak dan mapan.


Ketiga, kita juga harus mampu menyadari bahwa kadar kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kesanggupan untuk memikul kesulitan itu. Allah tidak berbuat dzalim dengan memberi kesulitan di luar batas kemapuan seorang hamba untuk memikulnya. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 286: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.

Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Allah telah berkenan memberi kesulitan yang banyak mengandung hikmah dan kebaikan, selain bahwa semua kesulitan iitu tidak pernah melampaui batas kekuatan manusia.

Keempat, kita harus belajar bahwa dalam setiap kesulitan ada karunia kemudahan, Islam mengajarkan, bahwa letak kemudahan itu ada di balik kesulitan, karena sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan. Allah berfirman dalam surat al-Insyirah ayat 5 – 6: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Dari kesulitan-lah kita akan mampu mengenal siapa diri kita. Ia akan memberikan gambaran yang jelas tentang siapa diri kita sebenarnya. Karena ia adalah cermin yang mampu memberikan gambaran utuh tentang kepribadian dan karakter kita. Kesulitan sudah menjadi bayangan yang akan terus melekat kepada manusia yang hidup di dunia ini. Ia tidak akan dapat disingkirkan dalam perjalanan manusia. Kesulitan diciptakan oleh Allah untuk mengetahui siapa-siapa dari hambaNya yang bersyukur dan juga menjelaskan siapa saja dari hambaNya yang kufur. Kesulitan juga menjadikan sarana bagi manusia untuk dekat kepada Tuhannya. Tatkala semua usaha manusia tidak mampu mengatasi, maka semua secara alami manusia akan menyebut Tuhannya agar diturunkan pertolongan. Itulah hikmah di balik kesulitan. Maka janganlah kita membenci kesulitan, karena terkadang melalui kehadirannya kita menjadi dekat kepada Pencipta kita, melaluinya kita menjadi manusia yang bersyukur.

Inilah realita hidup manusia. Kesulitan jika dipahami dengan bijaksana akan menumbuhkan kesadaran dalam diri bahwa kesulitan adalah bagian dari lembaran hidup yang sepanjang hayat akan digeluti. Jika demikian, maka tidak akan ada lagi perasaan gentar untuk menghadapinya. Selalu tanamkan dalam diri untuk selalu siap akan datangnya kesulitan apapun dan bagaimanapun bentuknya serta kapanpun datangnya. dan ingatlah... bahwa Allah Subhanahu Wata'ala tidak pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.

Wallahu A'lam

Potret Kemiskinan Di Indonesia

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar



Menghidupkan Kembali Jatidiri Dan Peran Ulama

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Jelas penting bagi ulama dan umat ini membangun kembali kesadaran kesadaran ideologis dan politis Islam. Dalam hal ini, tentu peran ulama sangatlah besar. Jika ulama sukses menanamkan kesadaran ideologis dan politis Islam pada diri umat, tanpa dikomando ulama pun, umat pasti akan selalu menjatuhkan pilihannya pada Islam, partai Islam maupun syariah Islam. Bahkan umat akan rela dan siap mati untuk itu. Untuk itu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan ulama.

Pertama, meneguhkan kembali jatidiri dan perannya sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya’). Dalam hal ini, peran ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut akidah maupun syariah. Lebih dari itu, bersama umat ulama harus berupaya menerapkan akidah dan syariah Islam itu secara total dalam seluruh aspek kehidupan (ekonomi, politik/pemerintahan, pendidikan, sosial, hukum/peradilan, politik luar negeri dll); bukan hanya dalam tataran spiritual, moral dan ritual belaka. Karena itu, ulama harus selalu terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan Nabi saw. Hal itu tidak mungkin terjadi jika syariah Islam tidak diterapkan oleh negara. Dalam hal ini, negara pasti mau menerapkan syariah Islam jika ada dukungan dan dorongan kuat dari para ulama.

Kedua, menjaga umat dari tindak kejahatan, pembodohan dan penyesatan yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-anteknya melalui gagasan, keyakinan dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam. Karena itu, ulama juga harus mampu menjelaskan kepada umat Islam kerusakan dan kebatilan semua pemikiran dan sistem kufur seperti demokrasi, HAM, nasionalisme, pluralisme, sekularisme dan paham-paham kufur lainnya. Ulama juga harus bisa mengungkap semua niat jahat di balik semua sepak terjang kaum kafir dan antek-anteknya. Ini ditujukan agar umat terjauhkan dari kejahatan musuh-musuh Islam.

Ketiga, menjadi pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Ulama juga harus mampu menyingkap makar dan permusuhan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum Muslim. Dengan ungkapan lain, ulama harus memiliki visi politis-ideologis yang kuat hingga fatwa-fatwa yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada ideologis-politis. Dengan demikian, fatwa-fatwa ulama mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran, bukan malah menjadi sebab malapetaka bagi kaum Muslim. Misalnya, fatwa yang dikeluarkan oleh syaikhul Islam mengenai bolehnya kaum Muslim mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan perundang-undangan Barat pada akhir Kekhilafahan Islam. Fatwa ini tidak hanya keliru, tetapi juga menjadi penyebab kehancuran Khilafah Islamiyah. Fatwa ini muncul karena lemahnya visi politis-ideologis ulama pada saat itu.

Keempat, membina umat agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, umat memiliki kepribadian Islam yang kuat; mereka juga berani mengoreksi penyimpangan masyarakat dan penguasa.

Meneladani Ulama Dulu


Di samping perlu meneladani ulama dari generasi para Sahabat Nabi saw., ulama saat ini perlu meneladani para ulama setelah mereka. Kita, misalnya, bisa belajar dari dua ulama Ahlus-Sunnah, seperti Abu Hanifah dan Ibn Taimiyyah. Sejarah tidak pernah melupakan kedua sosok ulama mulia ini. Sebagaimana diketahui, kaum Muslim mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun, dan akhirnya dibawah pimpinan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem setelah dikuasai pasukan Salib selama 88 tahun. Menurut Dr. Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Zhahara Jîlu Shalahuddin wa Hakadza Adat al-Quds, Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang ‘turun dari langit’ dalam mengangkat keterpurukan umat Islam. Ia adalah produk dan bagian sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat.

Dalam lingkup nasional, sejarah juga tidak bisa melupakan peran ulama. Peristiwa 10 November 1945, misalnya, jelas tidak bisa dilepaskan dari peran KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Bung Tomo saat itu segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna meminta restu bagi dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris.

Akhirnya, ulama maupun umat ini harus kembali menyadari bahwa ‘kekalahan politik’ Islam yang terus-menerus terjadi dan keterpurukan umat ini tidak terlepas dari kelalaian kita untuk terus berjuang menegakkan syariah Islam dalam institusi negara. Itulah Khilafah Islam, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Hanya dengan syariah dan Khilafahlah kita benar-benar akan meraih kemenangan hakiki. Allah SWT berfirman:

Pada hari itu bergembiralah orang-orang Mukmin karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5)
Ulama adalah songgo buwono, penyangga bumi, atau penentu maju tidaknya peradaban justeru karena dia dekat dengan Allah SWT. Peradaban yang semakin maju, modern, dan sekaligus sekuler memunculkan berbagai dampak yang tiada disangka-sangka. Salah satu yang paling esensial adalah penjungkirbalikan tata nilai. Nilai holistik kemanusiaan ketuhanan di masa Rasulullah, Muhammad SAW, menjadi tercerai berai sehingga dengan mudah kita memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat, urusan negara terpisah dengan urusan agama, termasuk urusan ulama dan urusan umaro (pemimpin negara/daerah/kawasan). Pada titik ini, peran agama terreduksi menjadi hanya mengurusi urusan akhirat saja.

 
Raja (Umaro) mengatur urusan dunia, dan wali (ulama) memiliki urusan akhirat. Yang perlu dicatat bahwa pada masa wali songo ini, peran raja subordinat dengan para wali. Sedemikian hingga untuk urusan tertentu seperti suksesi kekuasaan, para keturunan raja ini harus meminta petunjuk dari para wali, untuk seterusnya oleh para wali diteruskan dengan berdo'a kepada Allah SWT untuk meminta wangsit, petunjuk dan hidayah siapa yang cocok menjadi pemimpin.

Kini, semuanya berubah. Terpaan budaya global telah meluluhlantakkan budaya asli Jawa, budaya sukuisme, budaya kita sampai ke yang paling privat di rumah kita. Pada skala massif, peradaban juga berubah, tata nilai berubah, penghayatan kita pada ajaran agama juga berubah, kerajaan berubah menjadi negara dengan kehendaknya yang supersekuler. Kemana arah perubahan itu?

Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa perubahan itu mengarah pada kerusakan. Hukum ini tidak hanya berlaku pada benda, tetapi juga pada aras moral, peradaban kebudayaan. Ini juga sesuai dengan ajaran agama kita bahwa pada saatnya nanti pergelaran alam semesta ini akan digulung, itulah hari akhir. Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) itu pasti akan datang. (Q.s. al-Hijr: 85).

Berbagai perubahan di atas mengharuskan kita untuk beranggapan bahwa suka tidak suka kita juga dituntut untuk merevolusi paradigma kita terhadap fakta, faktor, peran dan fungsi ulama dan umaro. Sehingga masing-masing individu apapun dia berperan akan mampu memposisikan diri sebagai hamba Allah SWT yang ikhlas.

Bukankah ini tugas yang berat namun mulia yang diemban tidak hanya oleh kalangan ulama?? Marilah kita mulai dari sekarang, di sini, di tempat yang mulia ini kita berubah untuk kembali berbenah dan ndandani bangsa dan negara ini. kita memulai perubahan menuju kebaikan bisa datang dari mana saja, dari titik mana saja, dari sudut dan bidang apa saja.

Wallahu A'lam

Dari Berbagai Sumber

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About