Sejarah Ilmu Ushul Fiqih

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Allah Subhanahu wata’ala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul dengan membawa ajaran Islam untuk seluruh umat manusia. Seruan tersebut dimulai di negeri Arab, dan kitab suci al-Qur’an pun diturunkan dengan bahasa Arab. Ajaran Islam dengan kitab suci al-Qur’an al-Karim yang berbahasa Arab ini hadir di tengah-tengah masa keemasan bahasa Arab. Syair dan sastra Arab di masa ini berada di puncak kegemilangan, dan kabilah-kabilah Arab biasa bersaing menunjukkan kepiawaian mereka dalam sastra Arab.

Fase Pertama: Masa Shahabat dan Tabi’in

Di masa ini, orang-orang Arab bisa memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa kesulitan yang berarti, karena bahasa al-Qur’an dan al-Hadits adalah bahasa sehari-hari yang mereka gunakan dan telah mendarah daging dalam diri mereka. Mereka mengerti makna-makna lafazh dalam al-Qur’an dan al-Hadits, serta memahami gaya bahasanya. Oleh karena itu, mereka bisa mengambil hukum syara’ dari keduanya tanpa kesulitan.

Masa ini berlangsung selama masa shahabat dan tabi’in, atau hingga awal abad ke-2 hijriyah.

Fase Kedua: Sebelum Masa Imam asy-Syafi’i

Setelah itu, negara Islam meluas. Berbagai bangsa masuk ke dalam Islam, seperti bangsa Romawi, Persia, India dan Barbar. Orang-orang Arab kemudian berbaur, berkumpul dan berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kemampuan berbahasa orang Arab melemah, karena dipengaruhi oleh masuknya lafazh, dialek, dan gaya bahasa non Arab.Akibatnya, sebagian besar orang Arab tidak terlalu mampu lagi memahami nash-nash syar’i. Mereka akhirnya memerlukan kaidah-kaidah bahasa untuk bisa memahami al-Qur’an dan al-Hadits sebagaimana pemahaman kaum muslimin di masa awal.

Mengatasi masalah yang muncul, para ulama kemudian menetapkan beberapa metode untuk menjelaskan tatacara menggunakan dan menarik kesimpulan (beristidlal) dari al-Kitab dan as-Sunnah sehingga menjadi hukum syara’ yang bisa diamalkan. Dari kumpulan kaidah kebahasaan dan kaidah syar’i di atas, tersusunlah ilmu ushul fiqih. Ilmu ini pertama kali tersusun pada abad ke-2 hijriyah.

Yang pertama kali mengumpulkan sebagian kaidah ini dalam sebuah kitab adalah Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah, sebagaimana disebutkan oleh Ibn an-Nadim di kitabnya, al-Fahrasat. Sayangnya, kitab Abu Yusuf ini tidak sampai ke kita. Orang-orang syi’ah mengatakan bahwa yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ushul fiqih adalah Imam Abu Ja’far Muhammad al-Baqir. Namun pendapat ini tidak punya dasar yang kuat.

Fase Ketiga: Masa Imam asy-Syafi’i (150 – 204 H)

Ulama-ulama sebelum asy-Syafi’i memang sudah membicarakan pembahasan ushul fiqih, sekaligus beristidlal dan saling mengkritik antar mereka. Namun, belum ada kitab yang disusun secara khusus yang menjadi rujukan mereka. Imam asy-Syafi’i lah yang pertama kali menulis sebuah kitab dalam bidang ushul fiqih yang sampai kepada kita, yaitu kitab ar-Risalah.

Kitab ar-Risalah ini memuat pembahasan tentang dalil-dalil ijmali, yaitu Kitab, Sunnah, Qiyas dan Ijma’. Kitab ini juga memuat pembahasan tentang kaidah-kaidah kebahasaan, dan tata cara penggunaannya dalam penggalian hukum-hukum syara’.

Ilmu ushul fiqih yang ditetapkan oleh asy-Syafi’i menjadi dasar dan standar yang kokoh untuk membedakan pendapat yang shahih dan yang tidak shahih, sekaligus menentukan apakah pendapat tersebut berasal dari syara’ atau bukan. Dengan metode ini juga lah asy-Syafi’i melakukan penggalian hukum-hukum syara’, yang kemudian tersusun menjadi fiqih madzhabnya, yaitu madzhab asy-Syafi’i, yang termuat di kitab beliau, al-Umm.

Sebagai contoh, Imam asy-Syafi’i di kitabnya ar-Risalah telah menetapkan tingkatan dalil-dalil ijmali, dan menentukan derajatnya masing-masing, sebagaimana yang ia katakan, “Kami berhukum dengan al-Kitab dan as-Sunnah yang disepakati atasnya, yang tidak ada perbedaan pendapat tentang kedudukannya yang utama. Oleh karena itu, tidak ada qiyas ketika ada khabar (hadits).”

Salah satu ahli sejarah yang menyatakan bahwa asy-Syafi’i adalah orang yang pertama kali menulis buku tentang ushul fiqih adalah Ibn Khaldun. Dalam kitab Muqaddimah-nya, ketika membahas tentang ushul fiqih, beliau menyatakan, “Dan yang pertama kali menulis tentang ushul fiqih adalah asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendiktekannya dalam risalahnya yang masyhur. Beliau berbicara tentang perintah dan larangan, bayan, khabar, nasakh, hukum ‘illat manshush pada qiyas, …”.

Fase Keempat: Masa Setelah Imam asy-Syafi’i

Pasca asy-Syafi’i, banyak ulama dan fuqaha yang kemudian melakukan pengkajian dan pendalaman terhadap ushul fiqih yang telah disusun oleh asy-Syafi’i. Mereka juga memberikan tambahan, memperbaiki, dan menyusunnya berdasarkan bagian-bagian tertentu agar pembahasan dalam ushul fiqih ini bertambah jelas dan terang. Dan upaya mereka ini tetap mengacu dan berdasar pada ushul fiqih yang telah ditetapkan oleh asy-Syafi’i.

Ushul fiqih yang disusun oleh asy-Syafi’i belumlah lengkap sebagaimana pembahasan ushul fiqih di masa sekarang. Kemudian ulama setelah beliau menyempurnakan bangunan ushul fiqih yang dimulai oleh asy-Syafi’i. Ada ulama yang mengikuti metode asy-Syafi’i secara terperinci, ada juga yang memasukkan kaidah-kaidah baru, dan ada juga yang menentang dan mengkritik sebagian kaidah yang telah disebutkan asy-Syafi’i.

Pembahasan ushul fiqih di masa ini hanya terbatas pada pembahasan syarah terhadap ushul fiqih asy-Syafi’i, tambahan beberapa kaidah baru, dan kritik terhadap sebagian kaidah. Belum membahas kajian ushul fiqih secara keseluruhan, seperti yang dikenal di masa sekarang.

Kitab-kitab pada dasarnya hanya membatasi diri pada pembahasan penyelesaian masalah-masalah yang diperselisihkan. Ada yang mengokohkan ushul fiqih asy-Syafi’i sekaligus membantah pendapat-pendapat yang menyelisihinya, ada juga yang menguatkan madzhab si penulis kitab sekaligus membantah madzhab asy-Syafi’i.

Fase Kelima: Masa Setelah Berkembangnya dan Meluasnya Madzhab-Madzhab Fiqih

Setelah itu, negara Islam semakin meluas, sampai Cina di timur dan Andalusia di barat. Warga negara Islam terdiri dari berbagai bangsa, dan berkomunikasi menggunakan berbagai bahasa. Dalam keadaan ini, kebutuhan umat terhadap keberadaan ulama yang mampu menjelaskan berbagai persoalan kepada mereka semakin terasa. Di masa ini juga kemudian ushul fiqih semakin berkembang, seiring berkembang dan meluasnya madzhab-madzhab fiqih.

Sebagai gambaran, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, para pengikut madzhab Syafi’i lebih fokus untuk melakukan syarah terhadap ushul fiqih asy-Syafi’i yang ada dalam kitab ar-Risalah. Sedangkan pengikut Madzhab Maliki menggunakan metode ushul fiqih asy-Syafi’i, namun mereka menambahkan ijma’ ahlil madinah, istihsan, mashalih mursalah, dan adz-dzarai’ sebagai dalil ijmali, yang ditolak oleh asy-Syafi’i.

Adapun madzhab Hanabilah, mereka menggunakan apa yang digunakan oleh asy-Syafi’i. Namun dalam hal ijma’, Imam Ahmad hanya menerima ijma’ shahabat, sedangkan asy-Syafi’i menerima ijma’ mujtahidin dari umat Islam di satu masa, tidak hanya membatasi pada masa shahabat. Setelah masa imam Ahmad, pengikut madzhab ini kemudian menerima kehujjahan ijma’ mujtahidin, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muwaffiquddin ibn Ahmad ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 630 H) dalam kitabnya Raudhah an-Nazhir wa Jannah al-Munazhir fi Ushul al-Fiqh.

Adapun pengikut madzhab Abu Hanifah membuat sendiri ushul fiqih untuk menguatkan fiqih mereka. Mereka memasukkan istihsan dan ‘urf sebagai dalil ijmali, selain al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Kitab fiqih yang pertama kali ditulis oleh pengikut madzhab ini adalah Risalah al-Karkhi fi al-Ushul yang ditulis oleh Abu al-Hasan ‘Ubaidullah ibn al-Hasan al-Karkhi (w. 340 H), kemudian kitab Ushul al-Jashshash karya al-Jashshash (w. 370 H). Metode mereka berbeda dengan metode yang dilakukan oleh Imam asy-Syafi’i.

Adapun pengikut madzhab Zhahiri, mereka menolak menggunakan qiyas, mereka hanya menggunakan zhahir nash. Madzhab ini didirikan oleh Dawud ibn Khalaf al-Ashfahani azh-Zhahiri. Salah satu ulama yang mengikuti metode zhahiri ini adalah Ibn Hazm al-Andalusi.

Sedangkan Syi’ah Imamiyah pengikut Imam Ja’far ash-Shadiq, sama seperti madzhab Zhahiri mereka juga menolak qiyas. Mereka juga membatasi penggalian fiqih hanya berdasarkan penggalian yang dilakukan oleh imam-imam mereka saja.

Jika dikaji lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa madzhab yang empat dan selainnya dari kalangan ahlus sunnah menggunakan dua metode ushul fiqih, yaitu metode asy-Syafi’i yang dikenal sebagai metode mutakallimin, dan metode pengikut Abu Hanifah yang dikenal sebagai metode fuqaha.

Dari berbagai Sumber

Perpecahan Umat Islam

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita banyak hal yang terjadi di masa lampau dan yang belum terjadi pada masa beliau. Sebagai orang yang telah berikrar untuk hanya beribadah kepada Allah dan mengikuti cara beliau dalam beribadah itu, seyogianya kita percaya kepada semua yang beliau kabarkan tentu saja, jika kabar itu sampai kepada kita lewat jalur (sanad) yang dapat dipertanggungjawabkan. Di antara yang beliau kabarkan itu adalah fenomena perpecahan umat Islam. Ini bukan berarti kita diperintahkan untuk berpecah-belah. Kita tetap diperintahkan untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali Allah.


“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk neraka, kecuali satu golongan.” Lalu sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Golongan itu adalah orang-orang yang berpegangan pada yang aku dan para sahabatku berpegang-teguh padanya.” (Sunan At-Tirmidzi)

Proses perpecahan umat itu tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Hudaifah bin Yaman RA. Beliau bertutur, “Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan. Namun, aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku. Kutanyakan, ‘Wahai Rasulullah saw, kami dahulu berada dalam jahiliyyah dan keburukan, kemudian Allah swt datangkan kebaikan ini (Islam), lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Kutanyakan, ‘Apakah setelah keburukan tesebut ada kebaikan lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan di masa itu ada kabut.’ Kutanyakan, ‘Apakah kabutnya?’ Beliau menjawab, ‘Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, kamu mengenali mereka dan mengingkarinya.’ Kutanyakan, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, para penyeru ke pintu-pintu neraka jahanam, siapa yang memenuhi seruan mereka maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya.’ Kutanyakan, ‘Gambarkanlah tentang mereka kepada kami wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Mereka adalah dari kalangan bangsa kita, berbicara dengan bahasa kita.’ Kutanyakan, ‘Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?’ Beliau menjawab, ‘Berpegang teguhlah terhadap jamaah kaum muslimin dan imam mereka.’ Kutanyakan, ‘Bagaimana jika mereka tidak lagi memiliki jamaah dan imam?’ Beliau menjawab, ‘Jauhilah kelompok-kelompok yang menyeru kepada kesesatan tersebut seluruhnya, sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kematian menjumpaimu sedangkan kamu dalam kondisi seperti itu!’ (HR. Bukhori)

Di antara faktor perpecahan umat yang terjadi adalah sebagai berikut :

Memahami al-Qur`an dan as-Sunnah tidak dengan cara yang dipesankan oleh Nabi saw. Al-Qur`an dan as-Sunnah adalah sumber hukum Islam yang telah pernah dipahami dan dipraktikkan oleh generasi terdahulu. Terbukti mereka meraih kejayaan dan kesuksesan hidup. Maka, memahami keduanya dengan cara mereka memberikan jaminan kesuksesan dan terhindar dari kesesatan. Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa menafsirkan al-Qur`an semaunya sendiri, hendaklah bersiap-siap mendapatkan tempat duduk dari api neraka.”

Meninggalkan sunnah / Islam sedikit demi sedikit. Terutama jika mereka yang meninggalkannya tidak merasa bersalah. Orang yang tidak merasa bersalah tidak akan menerima perbaikan yang diberikan oleh orang lain. Orang yang mengingatkan, karena tidak ditanggapi dengan baik, biasanya akan bersikap tidak baik pula. Dari sini, bermulalah perpecahan. Mengejawantahkan kewajiban al-wala` wal bara` dengan tidak benar. Mestinya al-wala` wal-bara` diterapkan dengan landasan yang benar: kebenaran, bukan kelompok, suku, atau institusi tertentu.

Setelah mengetahui faktor penyebabnya, kita pun dapat mengusahakan jalan selamat dengan karunia Allah tentunya Jalan selamat itu adalah :

Menjalani hidup dengan Al Quran dan Sunnah menempuh jalan aman jalan menuju ridha Allah dan surga. Allah berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.” (At-Taubah: 100)

Memahami dan mengejawantahkan Islam secara menyeluruh. Sejak dahulu setiap hamba diperintahkan oleh Allah untuk menerima ajaran Nabi mereka secara utuh. Tentang Bani Israil yang mengimani sebagian dan menerima sebagian, Allah berfirman,“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (Al-Baqarah: 85)

Memahami dan menyikapi ikhtilaf dan iftiraq dengan benar Seorang muslim mestinya bertoleransi pada perkara ikhtilaf-ijtihadi dan tidak bertoleransi dalam hal iftiraq-muttafaq ‘alaih. Namun yang banyak terjadi adalah sebaliknya semoga kita diselamatkan oleh Allah di zaman perpecahan ini,  rangkaian wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai kabut perpecahan di akhir zaman telah begitu nyata terlihat. Oleh karenanya, tiada pilihan bagi kita melainkan harus menjadikannya sebagai pegangan dalam menghadapi dan menyikapi perpecahan umat yang kian hari makin menjamur di tubuh kaum muslimin. Dan akhirnya, kita memohon semoga Alloh SWT menjaga kita semua dari belenggu setan yang selalu mengajak kepada jalan yang tiada Dia ridhoi. Amin

Berbeda Tak Harus Bersengketa

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Menteri Agama H Suryadharma Ali mengatakan, perbedaan agama atau golongan bukanlah harus menjadi konflik yang berujung pada perpecahan umat. Setiap agama mengajarkan umatnya agar menjadi manusia yang baik, bersikap toleran, dan saling menghormati, walaupun dalam keragaman suku, bangsa, budaya, dan agama.

"Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan kebencian dan permusuhan," ucap Menag pada acara pengukuhan pengurus DPP Perti Periode 2011-2016 di Jalan Rawamangun Jakarta Pusat, Hadir Ketua Umum DPP Perti Tengku H Mohammad Faisal Amin, Sekjen DPP Perti Andi Haramein, dan sejumlah pejabat Kemenag dan Pemprov DKI Jakarta, pengurus DPP Perti dan undangan lainnya.

Menurut Menag, sikap keberagamaan seseorang tercermin dari perilakunya dalam kehidupan di masyarakat. Agama, papar Menag, bukan hanya mengandung aspek ritual belaka, tetapi juga mengajarkan aspek sosial. Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat bilamana ia mampu membangun hubungan yang baik kepada Tuhannya dan kepada manusia.

Para ulama dan ahli agama, kata Menag, juga berpendapat bahwa seitap ibadah dalam agama memiliki pesan mora, yakni menjadikan umatnya agar berperilaku akhlak mulia. Setiap orang yang menghayati dan mengajarkan ajaran agamanya secara benar, pasti terdorong untuk berperilaku santun dan berakhak mulia. Oleh karena itu, peran dakwah sangat signifikan dalam mewujudkan masyarakat yang beradab dan santun.

Dengan demikian, papar Menag, sebenarnya tidak ada kekerasan yang boleh dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Sebagai bangsa Indonesia yang religious, kita harus mampu bersikap mencintai kedamaian, toleran, yang dapat membangun persatuan dan kesatuan dalam rangka keutuhan NKRI. "Dengan ini, saya juga ingin menyatakan bahwa kita tidak menerima eksklusivisme, radikalisme, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya, karena hal itu sangat bertentangan dengan ajaran agama," ucapnya.

Untuk itu, kata Menag, sebagai bangsa Inonesia yang menganut keyakinan agama, kita harus mempu menampilkan corak keberagamaan yang mencintai kedamaian, toleran, saling menghormati antarumat beragama. Dengan kata lain, corak keberagamaan yang kita tampilkan adalah agama yang rahmatan lil alamin, yakni yang mampu mendatangkan rahmat dan kebaikan untuk semua manusia.

Wallahu A'lam 

Bertanya Kepada Tuhan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
MOMENTUM ‘humoris’ tidak kenal tempat dan suasana. Ia bisa datang tiba-tiba, tanpa rencana. Gus Mus adalah salah satu contoh kiai yang tidak ingin kehilangan momentum humor begitu saja.

Saat acara pelepasan jenazah almarhum KH Mujab Mahalli Bantul, Gus Mus melempar ‘humor’ di depan ribuan pelayat yang sedang berduka ditinggal tokoh panutannya. Di antara pelayat itu ada Gubernur Yogyakarta dan Wakilnya.

“Duh Gusti, mengapa Engkau memanggil Kyai Mujab yang masih muda, yang masih dibutuhkan umatnya? Mengapa Engkau tidak memanggil Kyai Mukarrom (bukan nama sebenarnya) yang sudah tua itu?”

Begitu Gus Mus bertanya kepada Sang Maha Pencipta, saat sambutan mewakili keluarga almarhum. Kyai Mukarrom yang berdiri tidak jauh dari Gus Mus, dan para pelayat tampak mesam-mesem mendengar ‘humor’ yang dilontarkan Gus Mus itu. Mereka tidak berani tertawa lepas.

Gus Mus melontar pertanyaan itu, kemungkinan besar karena Kyai Mukarrom sudah ‘ngerjain’ para pelayat. Kyai Mukarrom saat membuka acara, menyebut nama Gus Dur yang sudah pulang ke Jakarta, sehingga para pelayat mencari sosok Gus Dur.

Nahdlatul Ulama' Co.Id

Tidak Ada Ruku' Dan Sujud Dalam Sholat

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar- syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.


Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. ”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”

Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”

”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.

Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut de-ngan memutarbalikkan berita.

Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”

Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”

Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”

Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

Gus Dur Sampun Kundur

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Kyai Mabarun Bantul dan Gus Dur

Ketika acara pelepasan jenazah almarhum Kyai Mujab Mahalli, Kyai Mabarun Bantul bertindak sebagai pembaca acara. Acara dihadiri ribuan masyarakat Bantul, santri, para pejabat, para kyai dari Jogja dan sekitarnya, Gus Dur, juga Gubernur DIY Sri Sultan Hamangkubono X serta wakilnya, Sri Paku Alam IX, dan masih banyak lagi tokoh masyarakat. Saat acara dimulai, seperti lazimnya pembaca acara, Kyai Mabarun menyebut satu per satu tokoh yang layak disebut.

“Kepada yang kami cintai, shohibul mushibah keluarga almarhum dan keluarga besar Pesantren Al-Mahalli, kepada yang mulia Gubernur DIY Sri Sultan Hamangkubono X beserta wakilnya...”

Giliran Kyai Mabarun menyebut Gus Dur, nada suaranya dibesarkan dan lebih keras,”Kepada al-Mukarrom mantan Presiden Republik Indonesia Kyai Haji Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur...”

Setelah itu, Kyai Mabarun jeda, seperti menahan nafas. Para pelayat tengak-tengok ke kanan dan ke kiri, mencari Gus Dur, termasuk Sri Sultan juga menoleh-noleh. Bahkan orang-orang yang duduk di belakang berdiri: mencari posisi duduk Gus Dur.

“Kyai Haji Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur....... ingkang sampun kundur (yang sudah pulang),” Kyai Mabarun melanjutkan. Para pelayat menunduk senyum-senyum, menahan tawa, ada juga yang menggelengkan kepala.

“Kyai-kyai, acara pelepasan jenazah kok ngajak guyon,” mungkin begitu para pelayat bergunan, sambil menahan tawa.

Oalah.... alah .... wonge wes sedo kok tetep wae di sebut...... marahi wong dak dunyo bingung ...... 

Sumber Nahdlatul Ulama co id

Gus Dur dan Topi Yahudi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Tahun 80-an, Jalaluddin Rahmat bercerita, Gus Dur penah bikin Presiden Iran Rafsanjani tertawa. Tahun 80-an juga, Gus Dur pernah bikin Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt tertawa ngakak, yang cerita Nurcholis Madjid.

Kita tahu, Gus Dur juga bikin Presiden Clinton terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Presiden Prancis Jacques Chirac pernah tertawa juga mendengar Gus Dur bercerita tentang Anggur Mukti Ali. Ratu Beatrix juga pernah dibikin ketawa oleh Gus Dur.

Gus Dur, kata Gus Mus, berhasil membuat Raja Saudi yang terkenal serius dan pelit senyum, tertawa hingga kelihatan giginya. Melemper guyon pada Presiden Soeharto dan penggantinya, Habibie, juga Megawati, sudah biasa dilakukan Gus Dur.

Dan Shimon Peres, tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Saya mendapat cerita ledekan Gus Dur pada Peres dari sastrawan terkemuka Ahmad Tohari. “Sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk,” cerita Tohari pada saya.

“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis,” usul Gus Dur pada Shimon Peres.

“Kenapa, Pak Gus?” tanya Peres penasaran.

“Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua,” Gus Dur menjelaskan. Peres makin penasaran.

“Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” jelas Gus Dur tambah panjang.

“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” tanya Peres. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.

“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” terang Gus Dur enteng.

“Hahahaha...hahahahaha....hahahaha...” kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.

Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit.


Sumber : Nahdlatul Ulama' Co.Id

Mengaktifkan Bimbingan Batin

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Beberapa tahun terakhir, sejumlah guru spiritual telah mempromosikan diri dan menampilkan dengan terang - terangan dan atau sembunyi - sembunyi, baik secara langsung maupun tidak langsung, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengaku dapat mengaktifkan bimbingan batin masyarakat serta prestasi ajaib lainnya. Tidak tanggung - tanggung dan tidak ketinggalan para ustadz dan kyai pun banyak juga yang ikut menampilkan diri. 

Terjadi persaingan yang sehat antara mereka yang sepenuhnya percaya akan adanya Sang Pencipta dengan mereka yang menganggap bahwa manusia memiliki kelebihan yang lebih dan luar biasa, padahal sejatinya hal tersebut adalah sebagai godaan yang memang Allah Subhanahu Wata'ala turunkan dan karuniakan kepada seseorang untuk menjadikan ujian. (baca kisah para rasul khususnya kisah nabiyullah sulaiman tentang malaikat harut dan marut)

Saya disini tidak menulis artikel yang menjelaskan bahwa kekuatan batin itu tidak ada dan saya juga tidak menolak bahwa itu memang dimiliki sebagai karunia , namun perlu diketahui bahwa pada dasarnya tidak ada yang bisa mengaktifkan bimbingan batin meskipun sang pemiliki karunia Ilahi tersebut adalah ayah atau saudara dekat dari seseorang yang memiliki karunia dan kelebihan secara batiniah. karena hal tersebut adalah semata - mata dari Allah Subhanahu Wata'ala , dan kalaupun ada itu semua adalah semata - mata atas izin dan kehendak-Nya.

Saya tidak akan mengomentari dasar ilmiah dari ilmu pengetahuan dan filsafat karena saya akan meninggalkan hal itu dan telah menanggalkan semuanya dan meyakini bahwa apa yang selama ini saya pelajari adalah telah jauh dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah, dimana pada dasarnya mereka yang lebih mengedepankan hal yang demikian tidak diragukan dan tidak bisa disangkal lagi telah sedikit atau banyak mengingkari Kekuasaan Allah Subhanahu Wata'ala Yang Mutlak dan Tiada Banding, bahkan kalau kita mau jujur dengan ilmu pengetahuan tersebut kita telah Menentang Allah Subhanahu Wata'ala dan menyekutukannya. Sebut saja setiap orang sekarang lebih percaya kepada Tanggul dan atau Beton untuk menangkal Banjir dan Tsunami, baca Al Hasyr, Membuat Rumah Anti Gempa (baca al Ankabut) serta contoh - contoh lain yang pada dasarnya mereka menganggap bahwa mereka mampu menahan dan melawan kekuasaan Allah, padahal sejatinya para Rasulullah diutus adalah untuk meng-ESA-kan dan mengagungkan Dia semata dan memohon kepada-Nya.

Di era yang serba membingungkan ini , dimana segala sesuatunya telah begitu mudah diadakan , dengan berbagai fasilitas yang juga mendukung dan memperlancar (menurut beberapa orang) kegiatan manusia , kita telah banyak meninggalkan dan mengingkari Kekuasaan Allah , kita telah banyak menyekutukan , merpersamakan serta menomor duakan Dia dalam berbagai hal. sehingga hilanglah potensi Ruhani manusia yang  menghubungkan setiap orang ke sistem bimbingan batin dan atau transmisi energi "berkah", yang memang dihadirkan untuk manusia di Bumi saat ini. bahkan tidak sedikit dari kita menganggap bahwa hal yang demikian adalah sihir dan syirik serta kebohongan dan atau mengada-ada.

Kekuatan batin pada dasarnya sudah ada dalam diri  setiap orang, adapun jika tidak terlihat dan tidak bisa ditampilkan adalah karena hal ini terbengkalai (off) dan menunggu untuk diaktifkan (on) oleh setiap orang itu sendiri, dengan memupuk hubungan yang lebih kuat dengan diri sendiri dan mendapatkan kepercayaan yang cukup dalam hubungan itu sehingga setiap orang bisa menindaklanjuti nya dengan bimbingan batin secara konsisten dan mengaktifkan koneksi dengan Sang Pencipta.

Orang lain dapat memandu Anda, mereka dapat memberikan nasihat , mereka dapat memberikan wawasan, mereka dapat membantu melalui beberapa hal tetapi mereka tidak dapat mengaktifkan bimbingan batin anda , Setiap Guruji / Syeikh / Wali / Kyai / Ahli karomah / bisa memandu anda tentang bagaimana cara untuk mengaktifkan bimbingan batin anda, tetapi aku tidak bisa memberikan peluru ajaib atau melakukannya untuk anda karena anda yang harus melakukannya sendiri.

Anda terlebih dahulu harus benar-benar mengenal siapa anda, ketika anda melakukan ini dan harus dilakukan serta diniati untuk diri sendiri. Jika seseorang melakukannya untuk anda maka anda tidak akan mengenal secara langsung dan merasakan koneksi batin dalam diri dan anda seterusnya akan berada dalam bayang - bayang perbudakan yang bahkan boleh dibilang menyalahi aturan Tauhid.

Kita tidak datang ke dunia ini berjuang begitu lama untuk kemudian tertipu dan keluar dari pengalaman yang paling luar biasa dalam kehidupan. kita datang ke sini tidak untuk pengalaman pribadi dan menjalani kehidupan pribadi tanpa mengalami "perubahan kesadaran" dalam kemuliaan penuh dalam rangka menjalani Aturan-aturan Sang Pencipta, kita datang kesini adalah dalam rangka untuk mencari jalan yang terbaik , menulis catatan hidup terbaik , berbuat yang terbaik , sehingga nantinya kita akan mendapatkan tempat kembali yang baik (syurga) (al ayat) 

Bersambung Insya Allah ......

Wallahu A'lam

Tentang Kematian Yang Ternyata Berbeda

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Dulu Ustadz ku bilang , Teman ku bilang , beberapa orang bilang dan hampir kebanyakan orang bilang dan bilang tentang hal yang sama ,


Kelak kalau kita mati toh begitu saja , kuburannya sama dan tidak bawa apa-apa, kaya atau miskin , tua atau muda , pria atau wanita . Tapi.......

Ternyata kini aku lihat ternyata semua berbeda dan jauh berbeda.

1) Di saat Kyai mati , Ustadz , presiden , pejabat , artis , atau orang yang terpandang Meninggal dunia. Ribuan , puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang melayat , menangisi , mendo'akan dan atau menghadiri prosesi pemakaman.

2) Diantar dengan kendaraan atau digotong rame-rame dan disambut sebagai pahlawan.

3) Lantunan ayat - ayat suci dan tahlil pun diperdengarkan.

4) Tak jarang di iringi dengan upacara penghormatan dan tabur bunga dan bela sungkawa sebagai ucapan.

5) Dan berbagai macam lagi kelebihan dan perbedaan

hm...... ternyata berbeda ..... ~.~ dan sekali lagi berbeda......~.~



hm...... ternyata berbeda ..... ~.~ dan sekali lagi berbeda......~.~

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About