Minuman Keras Yang Bermanfaat

Posted by "membaca Al Quran 1 komentar
Minuman Keras (miras) atau Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Efek samping Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran Surah Al Maidah : 91

"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)"

Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi.

Efek samping terlalu banyak minuman beralkohol juga menumpulkan sistem kekebalan tubuh. Alkoholik kronis membuat jauh lebih rentan terhadap virus termasuk HIV. Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol. Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung, dan banyak berhalusinasi.

Sebenarnya masayarakat kita sudah banyak yang tahu tentang bahaya dari akibat minuman keras atau minuman beralkohol ini. Salah satunya adalah menimbulkan kecanduan yang luar biasa, karena minuman keras atau minuman beralkohol ini mengandung zat aditif, yaituzat yang jika masuk ke tubuh manusia walaupun dengan jumlah sedikit akan menimbulkan efek kecanduan yang luar biasa. Akibat Minuman Keras Terhadap Kesehatan diantaranya (1) Merusak Syaraf,(2) Penyakit Jantung,(3) Meningkatnya kemiskinan,(4) Gairah sexual menurun, (5) Turunnya tingkat kesadaran,(6) Metabolisme Tubuh Terganggu,(7) Gangguan terhadap Janin dan berbagai akibat buruk yang lain yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya, Namun demikian diantara sekian banyak akibat buruk dari minuman keras terdapat juga beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari minuman keras tersebut, sebagaimana Firman - Nya : Al Baqarah : 219

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir"

Diantaranya adalah : Dalam kehidupan sehari senayawa alkohol telah banyak dipergunakan, dibidang kesehatan alkohol 70% dipergunakan sebagai antiseptik, Dari berbagai penelitian juga disebutkan bahwa alkohol dalam jumlah besar bermanfaat bagi laki-laki namun tidak untuk kaum perempuan. Namun para ahli kesehatan memperingatkan bahwa minum berlebihan bisa meningkatkan resiko penyakit lain dan alkohol menjadi penyebab dari kematian 1,8 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya.

Selain dapat menyebabkan maraknya kejahatan demikian juga AlQohol bermanfaat termasuk untuk mengurangi kejahatan sebagaimana yang terjadi pada alkisah berikut ini :

Suatu Ketika seorang pria masuk ke sebuah toko dengan pistol dan meminta kasir meletakkan semua uang dari register ke dalam tas.
Perampok : "Toko Ini Kami Rampok , cepat masukkan seluruh uang yang ada dikasih ke dalam Tas ini.." pinta perampok sambil menodongkan Pistol.

Teller pun melakukannya dengan tenang , sambil mencari - cari ide dan mengulur waktu,

Kemudian Perampok tersebut melihat ke arah sebotol Vodka di atas meja dan mengatakan kepada kasir untuk memberikannya. 

Perampok : "Ambilkan Botol Vodka yang atas meja itu, cepat....!!"

Melihat ada kesempatan, kasir menolak secara halus dan berkata ia tidak percaya umurnya lebih dari 21 tahun. 

Teller / kasir : "Maaf minuman ini hanya untuk orang dewasa , saya lihat anda masih begitu muda dan gagah, apakah anda sudah berumur lebih dari 21 tahun..?

Lelaki itu kontan marah dan bersikeras bahwa dia berumur lebih dari itu "Saya berumur 26 tahun .., ayo cepat berikan minuman itu..!"

Kasir tetap ngotot dan bersikeras tidak percaya , seraya meminta sang perampok untuk menunjukkan identitas yang bisa membuktikan bahwa dia berumur lebih dari 21 tahun. 

Akhirnya, pria itu mengeluarkan SIM-nya dan menunjukkan itu padanya "Ini SIM saya silahkan periksa ..!"

Kasir itu melihatnya dengan hati-hati dan memperhatikan dengan detail , nama alamat dan umur yang tertera didalam SIM Perampok itu, setelah  cukup yakin. Dia memberinya Vodka dan membiarkan pria itu pergi. 

Dua jam kemudian ia ditangkap setelah dia menelepon polisi dengan nama dan alamat lengkap dari si perampok.

Walhasil perampok bodoh itupun tertangkap ... 

"Pada keduanya (Miras dan judi) terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." 

Wallahu A'lam.

Shalat Subuh

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Seorang rasul yang sangat mulia dan kita semua paham bahwa perilakunya Tegas sampai mengatakan ingin membakar rumah-rumah mereka! Tentu ini bukan hal yang biasa. Rasul Muhammad SAW begitu sayang umatnya sehingga tidak rela melihat mereka pada nantinya masuk ke dalam neraka jahanam. Makanya beliau begitu bersemangat mengajak umatnya untuk melakukan shalat berjamaah , terlebih lagi shalat subuh dan shalat Isya', hal ini ditegaskan dalam sebuah hadist : 

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا

 وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي

 بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi seorang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan shalat, lalu shalat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat bersama orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, sehingga aku bakar rumah mereka. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Shalat subuh merupakan shalat yang agung lagi disaksikan oleh para malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari, karena pada saat shalat subuh itulah mereka bergantian, malakait malam naik ke langit dan malaikat siang turun ke bumi. Barangsiapa yang mengerjakannya secara berjamaah -dengan syarat dia juga mengerjakan shalat isya secara berjamaah- maka sungguh seakan-akan dia telah shalat semalam suntuk. Dan orang yang mengerjakan shalat subuh maka dia berada dalam tanggungan, jaminan, dan penjagaan dari Allah. Dialah yang akan mengambilkan haknya dari orang lain yang telah melanggar haknya dengan kezhaliman. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist :

Usman bin Affan berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ

 وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim)

Jundab bin Abdillah Al-Qasri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ

 فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim)


Semua keutamaan di atas hanya pantas didapatkan oleh seorang mukmin sejati. Karenanya shalat yang paling berat atas orang munafik adalah shalat subuh ini, karena mereka tidak pantas untuk mendapatkan semua keutamaan di atas. agar sekiranya kita bisa menjauhi sifat dan sikap yang demikian berikut ada beberapa tips agar bisa melaksanakan shalat isya' dan subuh secara berjama'ah :
  1. Tanamkan pada diri anda bahwa melakukan sholat itu suatu kebutuhan.
  2. Niatkan karena Allah. Bila niat sudah kuat, maka kemenangan akan tergapai.
  3. Selalu berdoa sebelum tidur, sebab doa itu adalah bagian dari ibadah.
  4. Usahakan jangan tidur terlalu malam agar tubuh cukup waktu istirahatnya.
  5. Lakukan dengan penuh komitmen dan hukumlah diri sendiri bila kesiangan sholat subuhnya.
  6. Sholat subuh itu akan membuat kita sehat. Apalagi bila kita telah mandi. Badan serasa segar.
  7. Tanamkan pada diri bahwa sholat berjamaah lebih baik daripada sholat sendirian

Semua adalah kembali kepada pribadi masing - masing orang, dengan niat tulus , ikhlas dan berserah diri serta bersungguh - sungguh , maka insya allah akan dimudahkan segala urusan baik ibadah duniawi maupun ukhrawi.

Wallahu A'lam

Cinta dan Kasih Sayang Menyelamatkan Sesama

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
KRISIS CINTA dan kasih sayang yang mewarnai relasi antarumat Islam dalam berbagai segi dan bidang kehidupan, seolah menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan pentingnya menyintai dan mengasihi sesama. Umat Islam pun seakan tidak memiliki figur sentral yang mampu meneladankan ketulusan untuk saling menyintai, mengasihi serta menyayangi. Akibatnya, di antara mereka, muncullah perasaan saling curiga, iri, pengkhianatan, saling merendahkan, memfitnah, menggibah, mendengki, mendendam, bertikai, menzalimi, menindas, bahkan saling mencelakakan.

Munculnya gejala krisis cinta dan kasih sayang yang melanda kehidupan banyak kaum muslimin, kerap terjadi di mana-mana. Dari mulai di ruang keluarga, hingga di tempat-tempat kerja. Tidak terkecuali, di institusi-institusi yang mengusung label Islam, gejala krisis kasih sayang juga sering mewarnai hubungan antarpersonilnya. Sungguh ironi dan menyedihkan. Bagaimana mungkin ukhuwah islamiyah yang kerap digembar-gemborkan itu bisa terwujud secara solid dan kokoh, jika krisis ini tetap terjadi seolah tiada henti. Padahal Rasulullah SAW, pecinta agung yang mulia menegaskan:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai” (HR. Muslim)

Hal ini mungkin dikarenakan Lemahnya Peneladanan Terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan sekaligus terjebaknya mereka dalam pemahaman ayat dan atau hadist yang berkaitan dengan fitnah / ujian dan rusaknya islam di akhir zaman. Menggejalanya krisis cinta dan kasih sayang di kalangan komunitas umat Islam tentu saja bukan dikarenakan ajaran yang terkandung dalam agama yang dianutnya, dan bukan pula ketiadaan model yang patut dijadikan panutan. Persoalannya adalah lemahnya pengamalan terhadap Islam, serta “ketidakmauan” umat untuk betul-betul meneladani sang pecinta agung yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Utamanya dalam konteks ini adalah keteladanan dalam menyintai, mengasihi, dan atau menyayangi sesama.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai figur manusia terbaik. Beliau telah membuktikan kemampuannya dalam membawa manusia dari keterbelakangan pemikiran dan kerendahan akhlak menuju pencerahan dan kemuliaan. Dari kehidupan yang diselimuti kebencian, dendam, dan angkara murka, menuju kehidupan yang diberkahi dengan memaafkan, cinta dan kasih sayang.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107).

Ada yang mengartikan bahwa “rahmat” di sini adalah pencurah kasih sayang. Diutusnya Nabi merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Rasulullah adalah manusia yang menebarkan kasih sayang.

“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Bukhari)

Upaya Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan dalam semua dimensi kehidupan, Nabi Muhammad SAW secara cukup gamblang telah menyontohkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya, bersikap dan berperilaku agar rahmat dan keberkahan hidup menyertai. Dari mulai ketika menjalani kehidupan dalam ranah keluarga dan kekerabatan, hubungan antara “tuan” dengan “pembantu”, atasan dengan bawahan, antar rekan (mitra) kerja atau bisnis, kehidupan bertetangga, persahabatan, dalam relasi sosial dengan non-muslim, sebagai pemimpin dakwah, militer, maupun sebagai pemimpin sosial dan politik (umat).

Ketika mengkaji kehidupan Rasul mulia di semua sisi kehidupannya itu, tampak sekali bahwa beliau menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai landasannya. Tulusnya cinta dan besarnya kasih sayang beliau, tercurah kepada siapa pun yang menjalin relasi dengannya. Lebih dari itu, manusia agung ini kerap menunjukkan kasih sayang terhadap orang-orang yang memusuhi serta menzaliminya. Malahan, di balik ketegasan memberikan “hukuman” terhadap musuh-musuh Islam, acapkali beliau pun memperlihatkan kasih sayangnya terhadap mereka. Hal ini antara lain tampak dari kemauan Sang Nabi untuk mengampuni bahkan mengangkat derajat mereka.

Mengingat begitu tulusnya cinta atau kasih sayang yang mendasari setiap pergaulan Nabi, termasuk kemampuannya menghadapi beragam persoalan melalui pendekatan perasaan tertinggi kemanusiaan ini, maka dapat dikatakan bahwa beliau telah menerapkan “manajemen cinta” yang dalam pengertian sederhana, “manajemen” dapat dipahami sebagai “seni melaksanakan dan mengatur”.

Dalam konteks filosofi, ada yang berpendapat bahwa cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi / kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Karena “cinta” yang dimaksud adalah cinta yang islami, tentunya pemahaman dari pengertian “cinta” ini juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah pemahaman cinta yang lebih luas, mendalam, serta bersifat hakiki.

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama dari Damaskus di abad ke-7, melihat pemahaman cinta dalam ruang lingkup yang luas. Bahkan beliau mengemukakan adanya 6 peringkat cinta, yang dua di antaranya adalah shababah dan ‘itfh. Shababah yaitu cinta yang mampu melahirkan ukhuwah islamiyah. ‘Itfh (simpati) adalah rasa cinta yang memunculkan kecenderungan untuk menyelamatkan dan membantu sesama. dengan demikian, mengacu pada kedua pemahaman tersebut; “manajemen” dan “cinta”, maka “manajemen cinta” yang dimaksud adalah seni melaksanakan dan mengatur hubungan (antar manusia) yang dilandasi oleh keinginan untuk melahirkan ukhuwah islamiyah, membantu serta menyelamatkan sesama.

Di dalam cinta atau kasih sayang yang diteladankan Nabi SAW terkandung nilai-nilai produktif dan konstruktif seperti: menyebarkan salam, menjaga dan melindungi kehormatan manusia, mengokohkan keimanan, berlaku adil, sabar, pemaaf, tegas, ulet, memberikan pendidikan dan bimbingan, mempererat hubungan, menghormati, rendah hati, senang membantu, dermawan, memuliakan, memberikan rasa nyaman, menunjukkan perhatian, menjaga nama baik, mendoakan kebaikan, tabah, konsisten, berkemauan kuat, menjauhi sikap egois, memberikan kepercayaan, berani, menjaga citra diri, memotivasi, dan masih banyak lagi. Semua nilai, sifat, sikap, atau perilaku yang baik-baik itu adalah cerminan atau konsekuensi dari rasa cinta terhadap kebenaran dan atau kasih sayang terhadap sesama.

Langkah langkah teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai cinta atau kasih sayang sesuai kapasitas dan peran kita dalam semua aspek kehidupan. Baik dalam kehidupan berumahtangga dan berkeluarga, sosial, bisnis, dakwah, militer, hingga politik. beragam teori pengembangan diri (self development) dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW di semua aspek kehidupannya adalah sumber inspirasi dan motivasi dalam memenej kehidupan pribadi dan sosial kita agar meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa batas baik untuk diri sendiri , lingkungan dan seluruh alam semesta. 

Wallahu A'lam

La Tahzan Jangan Bersedih

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
"Kami berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati'." (al-Baqarah: 38).

Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya.

Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat.

Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda.

Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.

Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini.

Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, "Seandainya saya tidak melakukan" atau "Seandainya saya tidak berkata ," dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang.

Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya, tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. 

Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur'an sebagai berikut:

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Q.s. Yunus: 62-4).

Keledai Yang Pandai Membaca l Rahasia Qalbu l Bekasi

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar

Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Sahabat Fillah yang Insya Allah selalu dalam limpahan -NYA…

Renungan pagi dini hari ini adalah tentang…“apakah “diri ini” termasuk “yang hanya BISA membaca”… atau… termasuk “yang BISA mengerti / memahami apa yang di baca”…?”

Allah SWT berfirman… “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat MEMAHAMI atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [QS. 22 – Al Hajj : 46]

“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Kamu tidak lain hanyalah orang- orang yang membuat kepalsuan belaka".Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) MEMAHAMI.” [QS. 30 – Ar Ruum : 58, 59]

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-NYA, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-NYA), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak MENGERTI apa-apa pun.” [QS. 8 – Al Anfaal : 20, 21, 22]

Sahabat Fillah… mudah-mudahan kisah jenaka yang berisi “sindiran yang santun” ini bermanfaat…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

“KELEDAI MEMBACA…”

Dikisahkan suatu hari… Nasrudin Sang Sufi yang sangat terkenal itu… di beri hadiah oleh Timur Lenk seekor “keledai”… Nasrudin menerima pemberian tersebut dengan senang hati… tetapi ketika Nasrudin hendak membawa “keledai” tersebut pulang… Timur Lenk berkata kepada Nasrudin… : "Hai Nasrudin… ajari keledai itu membaca…! dua minggu lagi… datanglah kembali ke mari… dan saya ingin “keledai” itu telah mampu membaca…!!!"

Setelah itu Nasrudin pun berlalu meninggalkan istana Timur Lenk…

Sua minggu kemudian sesuai waktu yang telah ditentukan oleh Timur Lenk… Nasrudin kembali ke istana sambil membawa “keledai” tersebut…

“Nasrudin… mana “keledai”nya…?” tanya Timur Lenk…

“Ada Tuanku… “keledai” tersebut ada di depan istana Tuan…” jawab Nasrudin…

“Coba kau bawa kemari “keledai” tersebut… aku ingin tahu apakah kau telah berhasil mengajarinya membaca…”

Nasrudinpun keluar mengambil “keledai” tersebut… Tak berapa lama Nasrudin masuk kembali sambil membawa “keledai”… “Tuanku… ini “keledai” yang Tuanku hadiahkan kepada ku…” kata Nasrudin…

Tanpa banyak bicara… Timur Lenk mengambil sebuah buku besar… dan menyerahkan buku besar tersebut kepada Nasrudin…

“sekarang coba kau tunjukkan kepadaku… apakah kau telah mampu mengajari “keledai” tersebut membaca…?” ujar Timur Lenk…

Nasrudinpun menggiring “keledai” itu menuju ke buku besar tersebut… kemudian Nasrudin membuka sampul buku tersebut… Si “keledai”pun menatap buku besar itu… dan tak lama kemudian “keledai” tersebut mulai membolak balik halaman buku tersebut dengan lidahnya… terus menerus hal itu dilakukan oleh “keledai” tersebut… dibolak-baliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir…

setelah selesai membolak-balik halaman buku milik Timur Lenk… si keledai menatap Nasrudin… "Demikianlah Tuanku…" kata Nasrudin… "”keledai”ku sudah selesai membaca buku besar milik Tuan…" lanjut Nasrudin…

karena tak puas dengan kata-kata Nasrudin… Timur Lenk pun mulai menginterogasi Nasrudin… : "Bagaimana caramu mengajari dia membaca…?" tanya Timur Lenk…

Nasrudin pun berkisah… "Sesampainya di rumah… aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku milik Tuanku… dan aku sisipkan biji-biji gandum di antara halamannya… untuk bisa memakan biji-biji gandum itu… “keledai” itu harus belajar membalik-balik halaman… sampai akhirnya ia benar-benar terlatih dan terbiasa untuk membolak-balik halaman buku itu dengan benar…"

"Tapi…!!!" tukas Timur Lenk tidak puas… "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya…?"

sambil tersenyum… Nasrudin pun menjawab… : "Memang demikianlah cara “keledai” membacanya Tuanku… dia hanya bisa membolak-balik halaman tanpa mengerti / memahami isinya…”

“sama saja dengan kita Tuanku… kalau kita hanya membuka-buka buku tanpa mengerti / memahami isinya…

Tidak salahkan bila kita disebut setolol keledai bahkan lebih tolol dari keledai…? bukan kah begitu Tuanku…?" Timur Lenk pun terdiam mendengar penjelasan Nasrudin…

Sahabat Fillah… sebuah kisah jenaka tetapi sekaligus berisi “sindiran yang santun…”… kini marilah sama-sama (terutama utk diri saya) qt renungkan kembali “diri ini”… apakah “diri ini” termasuk yang “hanya pandai membaca yang tersurat”… dari setiap peristiwa yang qt alami dalam hidup ini…? ataukah…

“diri ini” sudah mulai “belajar untuk mampu membaca dan memahami apa yang tersirat”.. dari setiap peristiwa yang qt alami dalam hidup ini…?

Mudah-mudahan bermanfaat… Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

salam santun fillah : “RQ / AA” bekasi…

Keutamaan Dan Larangan Membaca Al Quran

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).

Para ahli Al-Qur’an adalah orang yang paling berhak untuk menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Yang) mengimami suatu kaum adalah yang paling qari bagi kitab Allah, maka jika mereka sama dalam bacaan maka yang paling ‘alim bagi sunnah (hadits), maka jika mereka dalam As-Sunnah juga sama maka yang paling dulu hijrah, maka jika mereka juga sama dalam hijrah maka yang lebih tua usianya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.
Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak membaca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya. Beberapa Peringatan bagi Ummat Islam tentang Al-Qur’an :

1. Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

Karena membaca Al-Qur’an merupakan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi was salam bersabda, artinya:

“Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka dibawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkannya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya) Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

Semoga kita terpelihara dari riya’.

2. Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu memandangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“…Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebahagianpun di akhirat.” (As-Syura: 20).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

3. Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum. Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut. Wallahu A’lam.

4. Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).

Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
* Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
* Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
* Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
* Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

5. Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam, dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas:
“Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Wallahu ‘a’lam bishshawab.

Rujukan:
- Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306
- Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).
- Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar
- At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth.
- Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.

Disadur dari : Berbagai Sumber

Damai Dan Tentram Menuju Ampunan

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
Berlomba-lombalah kamu sekalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada yang dikehendakiNya” (QS. Al Hadid: 21).

Begitu dahsyat perlombaan merebut hati manusia, sehingga tidak sedikit yang mengalami kekalahan dan kesengsaraan. Seperti kekalahan dalam merebut hati rakyat dalam pemilihan umum. Tak mungkin semuanya menang. Namun, tidak demikian dengan perlombaan menuju ampunan Allah.

Bila penduduk dunia ini berlomba menuju ampunan Allah, setiap jengkal bumi ini akan damai. Akan jauh dari pelanggaran, kekalahan, kesengsaraan, dan sejenisnya. Sebab, semakin banyak manusia berpartisipasi dalam menuju ampunan Allah, semakin tercipta rasa persaudaraan antar sesama manusia. Semakin banyak manusia yang merasa dirinya sama dengan orang lain sebagai makhluk Allah. Semua akan merasa tak punya ilmu, kecuali hanya setetes saja.

Dengan cara demikian, akan hilang kebencian antar sesama. Tak akan timbul keinginan untuk menganiaya orang lain. Akan tak ada pembunuhan. Sebab, setiap orang yang berlomba menuju ampunan Allah faham bahwa kebencian, menganiaya orang lain, membunuh, dan kejahatan lainnya, merupakan sikap dan perbuatan yang menjauhkan diri dari ampunan Allah.

Juga, tak ada kekalahan dalam berlomba menuju ampunan Allah. Kalau melakukan dengan benar, semua akan meraih kemenangan. Apalagi Allah berjanji mengampuni hamba-hambaNya, tanpa membeda-bedakan, yang benar-benar mencari ampunanNya.

Wallahu A'lam

Menepati Janji

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa`: 34).

SUNGGUH sempurna ajaran Islam, yang bukan hanya membahas hal-hal besar dari seluk-beluk kehidupan manusia, tetapi juga hal-hal kecil, termasuk di antaranya tentang janji. Tak terkecuali janji untuk memilih pemimpin dengan menjunjung tinggi perdamaian. Meskipun berjanji kepada sesama manusia, janji itu pasti disaksikan oleh Allah, karena Allah tak luput menyaksikan termasuk sehelai daun yang jatuh di rimba raya. Karena itu, janji damai itu wajib ditepati dengan berbagai cara.

Pertama adalah menepati janji dengan hati. Sebagaimana diingatkan Rasulullah, bila hati baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dengan demikian, akan sulit memenuhi janji damai, bila tidak menjaga hati dari serangan penyakit hati, seperti iri hati.

Kedua adalah menepati janji dengan kata-kata. Sebagaimana umumnya terjadi, banyak ketidak-damaian terjadi karena kata-kata yang buruk. Apalagi kata-kata kadangkala jauh lebih melukai hati, ketimbang benda tajam. Karena itu, termasuk menepati janji ialah menjaga kata-kata yang mendamaikan.

Ketiga adalah menepati janji dengan sikap. Sikap mementingkan diri sendiri seringkali menjadi pemicu ketidakdamaian. Karena itu, sikap ini perlu segera diganti dengan sikap mementingkan kepentingan bersama atau umat.

Selanjutnya adalah menepati janji dengan perbuatan. Termasuk yang menghancurkan perdamaian adalah melakukan kejahatan dengan tangan atau kekuasaan. Karena itu, menjaga perbuatan yang sifat menghancurkan adalah wujud dari janji damai.

Jadi, tinggal menunggu siapa yang akan muncul sebagai pengkhianat sekaligus munafik. Sebagaimana kata Rasulullah, tanda-tanda orang munafik ialah apabila berbicara, ber dusta; apabila berjanji, mengingkari; dan apabila dipercaya, berkhianat (HR. Imam Muslim).

Tribun news

Memenuhi Janji Atau Nadzar

Posted by "membaca Al Quran 0 komentar
"Sesungguhnya binatang makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. Yaitu orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut akibat-akibatnya" Al Anfaal : 55 - 56

Benda-benda langit mengangkasa dan berputar sebagaimana janjinya untuk tunduk patuh kepada perintah Allah. Tak terhitung berapa juta tahun sudah mereka menunjukkan ketaatannya, sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahkan, hingga hari ini dan insya Allah hari-hari selanjutnya, tak akan pernah mengingkarinya karena takutnya kepada Allah. Berbeda dengan kita manusia, yang bagaikan tanpa beban terus berjanji untuk berbuat baik, tetapi tak takut mengingkarinya.
“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat” (HR. Muslim).

Lebih-lebih di masa-masa kampanye, berbagai kata manis dan janji untuk perbaikan dan kebaikan umat disebarkan, menghentak telinga jutaan orang yang mendengar. Bahkan, janji-janji itu ditebar dengan bantuan alat pengeras suara hingga membahana ke angkasa raya dan menyesak di berbagai pelosok daerah. Bukan hanya didengar oleh jutaan manusia dari berbagai usia, janji-janji indah itu juga didengar oleh makhluk-makhluk lain, seperti binatang, tumbuhan dan bahkan bumi tempat manusia menghuni. Tentunya semua ini tak luput dari perhatian Allah.

Karena itu, sebagai manusia yang senantiasa terawasi, siapapun wajib memenuhi janji-janji itu agar tidak mengundang kebencian Allah. Juga wajib dipenuhi janji itu agar tidak mendapatkan kutukan dari Allah seperti mengerasnya hati bagaikan batu sebagaimana ditimpakan kepada sebahagian manusia di kalangan umat-umat terdahulu dan bahkan umat di zaman sekarang. Apa makna janji bila hanya digunakan sebagai alat untuk memenuhi kecintaan yang berlebihan kepada dunia dan selanjutnya menjatuhkan diri ke dalam jurang kemunafikan dan kefasikan.

"Negeri-negeri yang telah Kami binasakan itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir, Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik " Al A'raaf : 101 - 102

Aceh tribun news.

Blogger news

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

About